
Ken berjalan kesana kemari karena gelisah pikirannya tidak bisa tenang, diapun tidak bisa diam.
Sesekali matanya mengintip ke arah Hyerin yang masih tidak berubah juga.
"Kau mau diam saja?" Tanya Ken pada Hyerin, satu-satunya orang yang ada di ruangan itu.
"Sekarang sudah tahu semua? Mau apa lagi? Iblis itu tidak akan tinggal diam sedangkan kita hanya santai saja." Ucap Ken mendekat ke arah wajah Hyerin yang masih tidak bereaksi. Ken bukan kesal berbicara dengan nada seperti itu, dia pikir caranya bisa menyadarkan meski mungkin saja tidak.
Beberapa saat Ken diam menunggu dan usahanya berakhir kecewa. Ken hanya berdecak kesal sambil langsung berdiri.
Dalam kondisi ini dia bisa saja meninggalkan Hyerin di ruangan itu dan tidak peduli dengan sesuatu yang akan terjadi, untuk apa? Yang terpenting sekarang dia harus selamat. Saat kembali melihat kondisi Hyerin lagi-lagi niatannya goyah, Ken manusia pernah hidup dan rohnya tetap manusia bukan iblis tidak berperasaan.
Ken kembali berjalan ke arah Hyerin dengan ekspresi yang masih menunjukkan kesan sama, antara kesal, bingung, dan tidak tahu. Dia membopong tubuh mungil Hyerin hingga kembali berpindah tempat lagi. Itu yang bisa dilakukannya tidak ada cara lain lagi, dia hanya bisa terus menghindar berpindah tempat ke mana saja yang terpenting aman.
Tiba di satu tempat dengan suasana terang dari cahaya lampu hingga nyaris mirip menunjukkan siang. Padahal langit di luar semuanya gelap dan tempat dimana-mana dari kejauhan juga menunjukkan pemandangan yang sama.
Ken sedikit ragu ketika dia masih menggendong Hyerin dengan kedua tangannya, sebab dia tidak tahu apakah kali ini pilihannya benar atau salah? Sudah lama memang Ken menyelidiki orang-orang di tempat itu, tidak ada campur tangan iblis di sana tapi sejak kejadian terakhir dengan orasi yang dilontarkan di tengah-tengah orang membuat Ken gemetar, dia takut jika tujuan orang-orang di sekolah ingin melenyapkan Hyerin bukan hanya bertanya seperti yang terdengar sebagai alibi.
Ken tetap diam berdiri dengan pikiran yang terus menimbang setiap alasan dia datang ke gedung sekolah itu. Tapi tidak ada tempat lagi yang bisa ia datangi kan?
Tak tahan dengan perasaannya yang masih ragu, Ken berniat untuk kembali membawa Hyerin ke tempat lain. Dia tinggal berpindah tempat lagi. Sebelumnya Ken sudah memastikan jika tidak ada orang yang melihat karena tempat ini saat malam tiba semua orang tidak pernah datang dengan alasan apapun.
Merasa sudah aman Ken berbalik, dan dia langsung tercengang. Tak pernah menyangka jika seseorang sudah berdiri di belakang tubuhnya dan kini dengan tatapan orang itu yang menyelidik ke arahnya membuat Ken gugup tidak yakin dia mendapatkan kesempatan untuk pergi.
"Dia Hyerin kan? Cepat bawa ke tempat yang aman!" Tiba-tiba pinta wanita itu dan satu lagi laki-laki yang berdiri di samping terus memandangi Ken dengan tatapan yang tajam, membuat Ken tidak bisa melihat ke arahnya dan merasa risih.
__ADS_1
"Tunggu apalagi cepat!" Pinta lagi wanita itu.
Ken tidak tahu apakah kali ini dia sudah benar. Dengan sikapnya yang spontan menerima itikad baik orang lain membuat Ken mengikuti arahannya, selain dari cara berbicara uang ramah Ken juga lebih merasa yakin jika dia tidak sedang berhadapan dengan orang yang akan membahayakannya.
Ada sebuah ruangan di gedung sekolah itu, hanya tempatnya berada di pintu lain yang sepertinya tidak diketahui secara umum.
Ken membaringkan Hyerin yang masih menyedihkan dengan kondisi dan kesadarannya itu. Matanya tidak pernah tenang dan bisa berpaling, bagaimanapun secara naluri Ken cukup merasa bertanggungjawab dengan kondisi Hyerin saat ini, dia tidak bisa membiarkannya.
"Di sini aman, kenapa mondar-mandir di luar? Aku tidak bisa menjamin jika orang-orang itu datang." Jelas wanita itu yang sepertinya memiliki rasa khawatir yang sama pada Hyerin.
"Rere!" Sapa lelaki tadi, tapi perkataannya hanya memberikan tanda agar Rere tidak berbicara kemana saja.
Suasana seperti ini bisa langsung disadari oleh Ken. Baginya wanita itu dan lelaki yang ada di sampingnya seperti teman kerja dekat di sekolah ini, pastinya ada rahasia yang dijaga baik oleh kedua orang itu atau orang-orang di belakangnya. Dan lelaki itu lebih terlihat waspada dengan keberadaannya, mungkin karena yang mereka kenal adalah Hyerin dan dirinya hanya sebagai orang asing.
Ken hanya bisa menundukkan kepala dan menyaksikan kedua orang itu yang langsung mengurus Hyerin dengan telaten.
Sepertinya di sini aman.
Pikir Ken yang masih tidak mendapatkan keyakinannya secara utuh.
"Pokoknya keadaan dimana-mana sudah kacau. Beruntung saja kalian sudah kemari, tadinya kami akan melakukan pencarian dan mengamankan Hyerin." Terang lagi wanita itu yang mengungkapkan rasa senangnya karena kedatangan Ken dan Hyerin tanpa harus bersusah payah mencari.
"Rere!" Ucap lagi lelaki itu.
Rere melihat ke arahnya dan membalas tatapan lelaki itu.
__ADS_1
Ken tidak mau tahu dia sudah risih sejak awal karena terus diperhatikan dengan tatapan seperti itu. Tapi apalagi? Dia hanya bersikap seperti tidak tahu apa-apa saja.
"Yasudah kamu boleh pergi!" Punya wanita itu yang terus disebutkan namanya dengan panggilan Rere.
Spontan Ken tercengang mendengar permintaan itu. Sudah jelas dia tidak bisa meninggalkan Hyerin dan mereka berdua meminta hak yang sama agar dirinya cepat pergi. "Pergi dari sini?" Tegas Ken dengan ekspresi tidak percaya.
Rere terlihat ragu-ragu meski akhirnya dia membenarkan pertanyaan Ken.
Ken langsung diam karena kesal lagi, mengapa dia harus pergi?
Ken berdiri dan diam. Suasana juga canggung.
Tanpa basa-basi Ken kembali menjulurkan kedua tangannya bersiap untuk membawa Hyerin.
"Tidak jangan!" Cegah wanita itu bersamaan dengan lelaki yang menyebalkan.
"Bagaimana bisa aku pergi dan mempercayakan Hyerin pada kalian? Semudah itu?" Cetus Ken dengan nada kesal yang diperdengarkannya.
Rere tidak menjawab dia hanya menoleh lagi pada lelaki itu seperti menunggu perintah untuk keputusannya.
"Kamu sebaiknya pergi, kami hanya butuh wanita ini untuk tetap aman di sini." Lelaki itu akhirnya berbicara dengan nada tegas. Tentu saja mendengarkannya membuat Ken tidak senang.
Ken diam lagi, dia tidak bisa langsung menerima permintaan orang asing seperti mereka. Ken tidak bisa percaya dengan mudah dan harus menyerahkan Hyerin. Cukup jelaskan!
"Tolong Hyerin tetap di sini!" Cegah lagi Rere.
__ADS_1
Ken tidak bisa mengabulkan permintaan itu. Dia bisa membayangkan bagaimana bahaya mengintai di luar, kemanapun dia pergi dengan Hyerin mungkin tetap akan berakhir menjadi pelarian baginya, setiap waktu berlalu iblis tidak akan peduli dan akan terus mencari jejak Hyerin. Ken yakin iblis menginginkan Hyerin dan jiwa dirinya.