Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Asumsi Ken


__ADS_3

Saat itu juga dia merasa sangat dijatuhkan, padahal sangat jelas Hyerin tidak merasa sudah bertingkah seperti yang dijelaskan oleh seseorang di depan kelas.


Kakinya mulai bergerak dan tubuhnya bersiap untuk berdiri, tapi tanpa diketahui jelasnya tangan Ken sudah sigap menahan Hyerin, dia berdiri di samping mejanya.


"Sekarang misi kita mencari Rai, kita akan tanyakan langsung kebenaran nya. Jika sudah setuju kalian bisa meninggalkan ruangan."


Dan hitungan detik berlalu ternyata orang-orang langsung hilang menyisakan Ken juga Hyerin yang saling diam.


"Apa sih? Padahal aku tidak bisa diam saja kan?" Bentak Hyerin tak terima.


Ken tidak menjawab, dia masih bungkam dan terlihat matanya bergerak ke kiri dan kanan seperti sedang memastikan situasi di sekelilingnya. Dan Ken langsung membawa Hyerin ke suatu tempat.


"Selalu seenaknya saja, memangnya kamu merasa diuntungkan?" Ucap Hyerin berusaha melepaskan tangannya.


"Kau sudah dengar sendiri kan, semua orang dimana pun membicarakan hal yang sama dan itu belum cukup memperingatkan mu untuk hati-hati?" Balas Ken terlihat tak mau kalah.


"Memangnya itu penting? Yang ku tahu kamu sudah mengacau, seharusnya tadi semua aku jelaskan di hadapan orang-orang so tahu seperti tadi." Sebaliknya Hyerin sudah merasa benar dengan apa yang dipikirkannya.


"Lalu kamu pikir orang-orang akan percaya dengan begitu masalah selesai? Apa semudah itu?" Tekan Ken yang masih teguh dengan pendiriannya. Ken terkesan sangat ingin memperingatkan Hyerin dengan kenyataan yang tidak ia ketahui itu.


Hyerin terdiam dia tidak langsung membalas perkataan Ken. Hatinya sedikit tersinggung kebenaran yang terus diutarakan Ken.


"Mau lihat lagi yang lebih? Apa tadi belum cukup?" Sambung Ken yang tidak bisa sabar karena Hyerin hanya terus diam saja.


Beberapa saat Ken langsung diam, dia juga sedikit membiarkan jarak antara dirinya dan Hyerin yang masih saja diam.

__ADS_1


Sepertinya kesabaran Ken sudah habis, dengan sedikit amarahnya Ken menarik tangan Hyerin hingga dia mendapatkan perlawanan dari Hyerin, tapi hal itu tidak dipedulikannya. Ken terus menarik tangan Hyerin dan sekali lagi berhasil membawa Hyerin ke suatu tempat. Hyerin hanya bisa tercengang saat menyadari dirinya berada di suatu ruangan yang sudah tidak asing lagi.


Sebuah ruangan yang mempertemukan Hyerin dengan wanita menyebalkan itu. Apa maksudnya Ken membawa dia ke tempat ini. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari Ken, tapi sepanjang penglihatan Hyerin sudah kehilangan sosok Ken. Dia kesal merasa dijebak sampai harus kembali lagi ke tempat ini.


Hyerin berbalik berniat untuk pergi dari tempat itu.


"Wanita itu, dia orangnya!" Seru seseorang hingga mata Hyerin membulat.


Dengan sigap Hyerin langsung berusaha pergi dari tempat itu tanpa menoleh, nalurinya menyuruh Hyerin untuk segera pergi.


Hyerin berlari menuju pintu di belakang tubuhnya.


"Sudah ku bilang kan!" Seseorang langsung memaki Hyerin dan menyeret tangannya.


"Kau sengaja membawaku ke tempat itu kan? Ada yang ingin kau tunjukkan?" Teriak Hyerin kesal hingga dia tidak peduli lagi tentang keberadaan nya saat itu.


"Sekarang sudah cukup sadar? Situasinya di sini dan di semua tempat akan sama. Sekarang masih mau pergi ke semua tempat sendirian?" Ucap Ken sangat terlihat kesal.


Sebenarnya dari kata-katanya itu mengingatkan sekali tentang Rai, membuat ingatan Hyerin semakin dalam kembali mencari sosok Rai yang sudah lama tidak dilihatnya.


Satu detik kemudian wajah Hyerin berubah lebih murung. Bahkan kata-kata Ken seperti melintas begitu saja melewati celah telinga dan tidak dicerna oleh pikirannya. Hyerin tidak peduli tentang semua masalah, dia tidak ingin menjadi lebih rumit, itu cukup menambah beban pada waktu yang tidak tepat ini.


"Yerin... Yerin!" Ken berusaha berulangkali memanggil nama wanita yang masih berdiri dan mematung di hadapannya itu.


Mata Ken semakin penasaran dan saat melihat ekspresi wajah Hyerin dia langsung merasa heran. Sebaiknya Hyerin butuh waktu untuk sendiri, karena jika dia berlaga peduli itu akan membuat Hyerin semakin kesal padanya.

__ADS_1


Alih-alih Ken juga ikut diam tidak mau kalah dengan ego Hyerin yang membuat orang melihatnya bisa serba salah, entah apa yang dipikirkan Hyerin sikapnya yang tak acuh itu sebenarnya bisa membuat orang lain sekilas merasa benci tapi bagi Ken tidak perlu berlebihan.


"Kau tahu Ken semua tentang Rai?" Tanya Hyerin lirih dan sorot matanya masih sayu seolah sudah kehilangan fokusnya.


Ken merubah posisi tubuhnya dan berdiri tidak jauh dari Hyerin.


"Rai sudah sangat lama menungguku di sini, entah kenapa dia begitu keras kepala terus menunggu di tempat ini."


Ken terlihat mengangkat sebelah alisnya, reaksi dia wajar karena kenyataannya Ken memang tidak tahu menahu tentang Rai dan Hyerin.


"Dia hidup sudah sangat lama di sini dan tidak.pernah bereinkarnasi, tapi dia masih percaya bahwa aku akan terus datang." Ucap Hyerin terus mengulang resah di dalam hatinya. "Dia sangat bodoh karena sudah melakukan perjanjian dengan iblis. Aku tidak tahu dia akan senekat itu. Aku sangat menyesal kenapa terus datang ke sisi Rai padahal tempatku hanya membuatnya hilang akal dan melakukan semua yang tidak boleh dilakukan." Kata-kata yang terdengar sangat berat seperti kenyataan itu sudah sangat lama dipendam di dasar hatinya. Hyerin terus berusaha mengungkapkan apa yang dia ketahui dengan sangat berat.


"Tolong hentikan Rai, aku tidak tahu caranya." Tangis Hyerin diujung kalimat yang meluncur dari mulutnya. Hingga beberapa saat dia langsung bungkam mungkin karena beban itu Hyerin tidak sanggup lagi mengingat semua kesedihan yang lama dikuburnya dalam-dalam.


Hyerin langsung ambruk dan terus menangis sejadinya, tidak peduli jika saat itu ada orang yang memperhatikan dan sangat dekat jarak dengannya.


Ken melihatnya sangat terkejut, dia tidak percaya jika Hyerin di hadapannya bisa seperti sekarang. Dia memang tidak tahu tapi seperti yang dikatakan Hyerin, dirinya harus bisa menghentikan Rai.


Ken kemudian duduk dan meraih kedua pundak Hyerin dengan lengannya.


"Aku tidak tahu pasti. Tapi dari orang-orang di gedung itu aku mendengar jika Rai sudah tiada dan semua orang mulai mengikuti jejak Rai." Cetus Ken yang saat itu seperti bingung ketika mengatakannya.


Hyerin langsung terhenti dari tangis yang hampir membuat dadanya terasa sesak. Baginya kenyataan itu seperti sebuah rahasia besar yang dia dengar langsung dari iblis.


Mata Hyerin hanya membulat, mulutnya bungkam seperti enggan berkomentar. Tapi dari semuanya hal yang paling membuat dia terkejut adalah tentang Rai yang sudah tiada. Baginya mengapa terdengar begitu sangat enteng tapi hatinya sangat berat untuk menerima kenyataan yang entah benar atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2