
Rasanya harus sesedih ini. Setelah kenyataan yang menyadarkan bahwa dirinya hanya sendirian, ternyata kali ini dia harus menyesal jika sebenarnya dia tidak sendirian karena ada teman yang sangat menceritakannya dengan bangga kepada orang lain yang belum tentu menyukai dirinya dan ceritanya itu. Dan rasanya semua sudah terlambat. Sekarang yang membekas hanya sebuah ingatan saja.
Hyerin masih menangis sendirian karena hatinya benar-benar rapuh dan sakit menerima kenyataan saat dia sudah benar-benar berpisah dengan kedua sahabatnya itu.
Apakah dia lebih baik mencari kedua sahabatnya dulu di tempat ini, siapa yang tahu kan jika dia bertemu dan itu kabar baiknya.
Tapi bagaimana jika dia tidak lagi bertemu dengan mereka berdua? Apa jadinya?
Hyerin masih tidak mengerti dan bingung karena air matanya terus mengalir deras dan tidak memberinya kesempatan untuk tenang.
Sejenak saja seperti ini boleh. Karena tidak ada orang yang tahu tentang seberapa hebat rasa sedihnya yang terasa sesak di dadanya. Dan tidak akan ada orang yang mengerti juga kan.
Ding...ding...ding...Ding...
Tiba-tiba suara jam dinding berdenging memecah hening dan kesadarannya saat itu.
Secepat kilat suasana langsung berganti.
Dan sekarang apa artinya?
Hyerin pasti kembali lagi ke gedung menyeramkan yang sangat tidak ingin dia datangi lagi setelah harus mati dua kali.
Pemandangan gedung usang dengan dinding retak dan langit-langit kamar yang menyisakan reruntuhannya. Mata Hyerin terbelalak dan kesadarannya perlahan dan pasti mengingatkan dia tentang semua hal di gedung ini.
Ada rasa trauma yang menyadarkan Hyerin pada setiap kejadian di gedung ini.
Matanya sangat hati-hati meneliti ke setiap sudut ruangan. Padahal sudah cukup lama dia meninggalkan ruangannya itu dan mengapa sekarang dia harus kembali ke tempat yang tidak ingin pernah dilihatnya lagi. Tapi bagaimanapun saat waktu bergulir itu artinya dia akan kembali ke tempat asal terakhir dia mati.
Hyerin tertegun sekejap. Itu artinya dia kembali mati di rumah sakit itu kan? Karena jika terakhir setelah kecelakaan dia seharusnya dikembalikan waktu ke tempat itu. Tapi tidak terjadi.
Braakkk....
__ADS_1
Jantungnya langsung berpacu dengan kencang, sontak kedua mata Hyerin terbelalak melihat pintu yang sekaligus terbuka di depan matanya.
Sangat pelan sorot matanya mengabsen dari bawah kaki orang yang ada di depannya saat itu, hingga sorot mata Hyerin akhirnya bertemu dengan sosok orang yang membuatnya langsung membisu saat itu juga.
Rai. Sebutnya tidak percaya.
Hyerin masih diam tidak berkutik.
Padahal seharusnya dia sudah cukup senang melihat Rai ada di hadapannya saat itu.
Sebelum lanjut berpikir tiba-tiba sebuah tangan merangkul tubuhnya sangat erat. Hyerin masih terdiam tapi kali ini saatnya dia sadar bahwa Rai memang ada di hadapannya.
Masih dengan aroma dan kehangatan yang sama. Sorot mata dengan cahaya binarnya yang keluar terus mengingatkan Hyerin pada setiap waktu kebersamaan dulu sampai sekarang. Dan kehangatan ini yang selalu membuatnya tenang dalam penantian panjang yang sudah membawanya lagi kembali.
Hyerin masih menatap mata Rai dengan diam. Dia seperti masih tidak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rai. Dan sekarang dengan mudahnya dia bertemu lagi di tempat yang dari tadi membuatnya tidak bisa tenang. Rasanya semua perasaan yang menyiksa itu sudah hilang, rasanya semua sudah terbayarkan tuntas. Hyerin hanya butuh melihat sosok Rai di ujung penglihatannya dan ini sangat cukup baginya.
Ha...haha...ha...
Mata Hyerin langsung membulat, kali ini dia bisa mengenali sosok sebenarnya yang sedang berdiri sebagai Rai itu.
Senyum dan tawa khas yang didengar baru saja berhasil mengubah kesadaran Hyerin sepenuhnya. Apalagi setelah melihat tatapan sinis dengan senyum yang menyungging di sudut bibir itu. Semua yang terekam jelas oleh indera penglihatannya saat itu membangkitkan rasa benci yang perlahan langsung sesak memenuhi kewarasannya. Bahkan rasanya sangat susah untuk bernapas di ruangan yang sama dengan sosok tidak terpikirkan sebelumnya. Iblis itu berhasil membuat mata Hyerin berubah saat melihatnya, hingga dia merasa sudah melihat Rai. Apa yang terjadi? Hyerin tidak bisa membedakannya.
Saat kemarahannya yang sudah merah padam, tapi tubuhnya lagi-lagi tidak bisa berkutik sedikitpun. Trauma itu masih terus menghantuinya. Hingga sosok iblis itu pergi dari hadapannya tanpa mengatakan apapun dan melakukan apapun.
Tadi masih sempat Hyerin berpikir bahwa ucapan orang-orang sudah salah terhadapnya dan termasuk ucapan wanita di gedung itu.
Tapi setelah kejadian ini pikirannya berubah drastis.
Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi padanya?
Hyerin sangat kesal.
__ADS_1
Kesadarannya langsung membawa Hyerin pergi dari gedung itu. Dan sekejap kilat lagi semua kengerian terpampang jelas di depan matanya. Dia berjalan di tengah ruangan yang sangat mengganggu pikirannya, bukan hanya tidak ingin lagi datang ke tempat ini tapi rasanya sudah sangat tidak Sudi lagi.
Hyerin mempercepat langkah kakinya dan berhasil membuat dia lolos dari dalam gedung itu.
"Kau tidak apa-apa? Apa sesuatu sudah terjadi?" Sebuah suara membuat perhatiannya teralihkan.
Ken. Tebak Hyerin.
Lelaki itu datang lagi ke tempat yang seharusnya dia jauhi ini.
Dengan raut wajah cemas dan terus terang mengkhawatirkannya.
"Ayo sebaiknya kita menjauh dari tempat ini secepatnya!" Ucap Ken sambil menarik tangan Hyerin.
Tapi Hyerin menahannya meski dia masih tetap diam.
"Cepat kita pergi sekarang dan itu untuk keselamatan mu!" Jelas Ken yang masih memperlihatkan kekhawatirannya itu.
"Apa saja yang kamu ketahui?" Tanya Hyerin terdengar penasaran.
Ken diam tidak menjawab tapi dia langsung membawa Hyerin dengan energi nya ke suatu tempat.
Hyerin kembali tercengang saat melihat sebuah gedung sekolah di hadapannya, dan tak lain gedung itu adalah tempat pertama dia datangi setelah berada di tempat ini. Dan apa artinya itu? Hatinya terus bertanya-tanya.
"Semua orang ada di gedung ini, sebaiknya kita ke dalam saja!" Pinta Ken.
Hyerin melihat sikap Ken yang sangat hati-hati. Hati-hati dengan ucapannya seperti sengaja mencari tempat aman dan menunjukkan suatu tempat yang akan membuat Hyerin mengerti dengan maksud Ken.
"Tolong, hanya satu kali saja percaya. Semua orang di sini aku tidak bohong." Ucapnya lagi.
Hyerin memang tidak mendengar kebohongan dengan ucapan Ken, tapi dia juga tidak merasakan hatinya yang mulai sangat yakin. Keraguan itu masih tersisa dan membekas saja.
__ADS_1
Dari arah belakang Hyerin melihat punggung Ken dan memperhatikan tubuhnya yang mulai berjalan menyebrangi lapang menuju kelas di gedung sekolah itu. Hyerin masih heran tapi dia tidak punya alasan lain lagi, yang dilakukannya cukup satu kali saja untuk menerima dan menyaksikan rencana Ken juga untuk membuktikan setiap ucapannya itu. Jika terjadi sesuatu dia bisa melarikan diri kan.