
Mata Hyerin yang tidak pernah lolos menatap langit cerah di atasnya. Angin yang berhembus seketika menyapu dan menerbangkan daun-daun ringan berjatuhan di jalanan. Ada juga pemandangan orang-orang yang sudah mulai terhitung satu, dua, dan puluhan orang di alun-alun kota. Ketika wajahnya menghadap ke depan pemandangan gedung bertingkat dan menara gereja di sampingnya yang sangat megah. Sekilas keindahan terlukis, namun secepat cahaya juga terhapus dari pandangan.
Waktu singkat berganti tanpa pamit dan aba-aba. Bagi dua dunia yang berbeda dengan adil membagi waktu dan ingatan menjadi bagian yang kontras. Hidup menjadi manusia dan hidup menjadi roh bukanlah pilihan, namun takdir yang membagi kehidupan dan melanjutkannya.
Tiba-tiba suara jam memecah lamunan panjang Hyerin. Sekilas dia membalikkan wajah dan mendapati sosok Rai terdiam membisu di sampingnya yang terhalang beberapa jarak. Apa yang akan dilakukan dirinya? Hyerin tidak bisa membayangkan untuk menaklukan lelaki yang sangat dingin dan tidak berekspresi itu.
Dengan hitungan detik pemandangan rumah sakit sudah ada di depan mata. Dia terperanjat saat mendapatkan kesadarannya.
Yang terlihat masih tempat dan dekorasi ruangan yang sama. Dengan lunglai tak bersemangat lagi Hyerin menyeret kakinya menuju ruangan yang akan dia tuju. Namun pergerakannya terhenti saat matanya kembali melihat Akemi yang sudah berdiri memandangi dengan serius ke arahnya.
Hyerin hanya tercengang kaget, tapi dia masih tidak bisa berkata-kata lagi... entah apa yang akan dikatakan pada Akemi hatinya terlampau merasa tidak nyaman.
Tanpa berpikir panjang Hyerin menutup wajah dengan tangan dan mengubah arah jalannya.
"Eh... orang itu, Hey... Yerin... Yerin." Teriak Akemi spontan mengejar dan menangkap lengannya.
Hyerin yang mendengarkan beberapa kali namanya dipanggil dia hanya bisa tersenyum canggung.
"Kemana saja? Sangat lama perginya dan sekarang mau melarikan diri lagi?" Akemi setengah kesal.
Hyerin masih terdiam. Tapi dengan tegas melepaskan tangannya dan segera bersiap berlari mengambil kesempatan yang lengah dari Akemi. Dia berlari berusaha menghindar... atau sebenarnya karena terlanjur malu.
"Buka Hyerin, seperti anak kecil saja." Teriak Akemi di balik pintu.
Hatinya sangat berdebar, entah mengapa rasanya sangat tidak sanggup hanya sekedar untuk bertemu di waktu yang tidak tepat. Hyerin memilih mengendap dan menahan pintu dengan tubuhnya.
__ADS_1
Tapi keadaan berbalik, tubuhnya rubuh hingga tersungkur, dengan kesal langsung meneriaki Akemi yang malah senang hingga tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Salah siapa coba?" Ejeknya yang semakin menambah kesal.
Tidak disengaja keadaan menjadi akrab. Kali ini Hyerin yang terduduk dan bersandar ke tembok, begitupun Akemi yang duduk di sampingnya juga.
Masih tidak terdengar obrolan dari keduanya.
"Hey... Kau tahu apa yang ku lakukan hari ini?" Tanya Akemi ketus.
"Tidak ... Tidak mau tahu!" Tegas Hyerin masih terdengar jutek.
Melihat reaksi Hyerin yang seperti anak kecil malah membuat Akemi tersenyum sendiri lagi.
"Kau tahu, seharian aku hanya mondar-mandir di sini menunggu anak kecil."
"Mengejek saja."
Berulangkali Akemi kembali tersenyum mendengar setiap respon yang diucapkan Hyerin terhadapnya.
"Kau tahu, baru kali ini aku mendapatkan teman lagi... bisa berbicara, bercanda, dan bisa terus bertemu lagi." Ucapnya yang tanpa sadar Hyerin sedikit menahan malu, dia tersindir dengan kata-katanya. Padahal jika diingat-ingat Hyerin tidak pernah berlaku baik sebaik Akemi yang selalu tersenyum dan menerima dengan mudah sikap dirinya.
"Kau melamun saja tidak menjawab, apa Rai masih mengikuti mu?" Tanya Akemi lebih terdengar serius.
Hyerin yang mendengarkan pertanyaan itu langsung terkejut, dia tidak tahan rasanya ingin saja dia ceritakan semua yang dihadapinya saat ini, toh Akemi sama sepertinya.
__ADS_1
"Em... Apa aku salah?"
"Maksud nya?" Respon Akemi.
"Orang-orang satu persatu hilang saat bersama ku, semuanya panik. Bahkan sebagian menyalahkan ku karena kejadian di masalalu. Padahal aku benar-benar tidak mengerti dan tidak mengetahuinya, tapi orang-orang mengatakan hal yang sama." Jelas Hyerin dengan ragu-ragu.
"Sudah ku duga. Ini semua karena Rai itu."
"Maksud mu?" Hyerin langsung bertanya mendengar kata-kata itu.
"Rai adalah dewa kematian itu yang ku tahu, dia menurutku sangat berbahaya dan kamu jangan sampai dekat dengannya!" Jelas Akemi yang terdengar nada bicaranya sedikit meninggi.
Hyerin tidak melanjutkan, dia terheran dengan sikap Akemi yang kesal setiap kali Rai disebut-sebut.
"Apa kamu tidak percaya?" Tanya Akemi.
"Bukan. Tapi... Seseorang dapat melihat Rai, aku hanya ragu."
Mendengar penjelasan Hyerin yang cetus membuat Akemi terperanjat dia berdiri tanpa berkata apapun, namun Hyerin bisa memastikan raut wajahnya yang kesal. Tanpa pamit Akemi berlalu membuka pintu dan meninggalkannya di ruangan sendiri. Hyerin tidak mencegah dia sangat tidak mengerti mengapa Akemi tidak pernah suka dengan cerita Rai, padahal dia kan sudah bercerita dan berterus terang padanya bukankah itu terdengar lebih seperti seorang teman? Hyerin tak mengerti dengan sikapnya.
Hyerin yang sendirian terlihat gusar dan tidak pernah terlihat nyaman dengan posisi duduk, berdiri, dan apapun yang dilakukannya. Ekspresinya kadang kesal dan lebih sering terlihat bingung. Dia sangat yakin bahwa antara ke dua orang itu pasti ada hubungannya, jika tidak kenapa dengan sikap Akemi? dan hanya dia seorang yang menurutnya memiliki posisi aman. Tidak ada akibat yang berimbas apapun kepada Akemi meski dia dekat, tapi apa mungkin sebabnya karena Akemi tidak terlihat oleh orang lain? Pikirannya sangat bimbang, Hyerin tidak menemukan keyakinannya. Antara orang-orang ataupun Akemi dia tidak merasa yakin. Lantas bagaimana dia akan menjalankan rencananya? Di satu sisi semua orang mengharapkan hal yang sama namun di sisi lain Akemi sangat tidak senang.
Pikirannya berhenti, seketika dia sadar dengan sikap pedulinya pada Akemi. Dan kembali mengutuk dirinya salah, egonya mengatakan untuk tidak memperdulikan Akemi untuk apa tidak ada rugi dan untungnya juga.
Hyerin menghabiskan waktu yang panjang dengan berpikir, menimbang, bahkan sampai dia lupa bagian terpentingnya untuk beristirahat. Waktu malah cepat berganti lagi ditandai dengan suara jam dinding yang menggema memecah keheningan di rumah sakit.
__ADS_1
Bahkan waktu berganti pun tidak ada bedanya, dia tidak bisa kemana-mana lagi karena seperti yang sudah diceritakan bahwa orang-orang semakin tidak bisa dihentikan. Bisa saja Hyerin mengalami keadaan yang lebih buruk dibanding kejadian di depan gedung pada waktu itu. Dia tidak bisa memikirkan hal apa yang akan terjadi lagi selanjutnya, rasanya dia sangat tidak sanggup menerka pikirannya lagi karena terlalu banyak pikiran yang sekaligus menyerangnya dengan tidak adil. Hyerin hanya bersedia kesal sambil meninggalkan tempat.