Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Orang yang menyebut "Yerin"


__ADS_3

"Sial apalagi." Gumam Hyerin sendiri. Dia kesal karena kembali menemui orang asing yang berulangkali menyebut nama dan berbicara padanya.


"Aku tidak menyangka menemui mu di tempat seperti ini." Tegasnya lagi.


"Apa peduliku? Pergi sana!" Ucap Hyerin kesal.


Hyerin segera menyeret kakinya berjalan ke arah lain.


"Aku tahu semuanya." Ucapnya berhasil menghentikan langkah Hyerin. "Aku tahu kau Hyerin." Lanjutnya.


Seperti mendengarkan sesuatu yang tidak diinginkan, dan menambah rasa kesal saja. Hyerin kembali melanjutkan berjalan ke arah seterusnya.


"Hyerin temannya Yora dan Rei!" Teriaknya.


Hyerin bingung dan hanya bisa melongo mendengar nama kedua sahabatnya disebut. Apakah kedua sahabatnya juga baru saja datang ke tempat ini? Tanya Hyerin dalam hatinya. Hyerin segera membalikkan tubuh dan membalas tatapan orang yang ada di hadapannya.


Sorot mata yang menyiratkan banyak pertanyaan itu. Hyerin ingin sekali bertanya banyak.


"Rei selalu membicarakan semuanya, kau sahabat berharga Rei!" Ucapnya.


Hyerin masih menatapnya tak mengerti, karena itu dia hanya bisa diam saja tanpa merespon.


"Rei sangat banyak bercerita tentang mu, hampir setiap hari dan aku mulai berpikir ingin sekali menemui mu. Ternyata sekarang kita bertemu." Ungkapnya tanpa jeda berterus terang.


Hyerin terdiam dan mulai mencerna setiap kalimat yang didengarnya. Rei menceritakan semua tentangnya hampir setiap hari? Apa maksudnya?


Beberapa saat Hyerin seperti sudah ada di dalam dunianya sendiri, jauh dalam pikirannya yang terus memperdebatkan pernyataan itu dan membuat dia tidak lagi memperhatikan orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Apa aku akan berbicara sendiri?" Sebuah tepukan tangan pada bahu Hyerin berhasil menyeret kesadaran Hyerin kembali.


"Apa maksudnya?" Tanya Hyerin masih tidak mengerti. "Kau siapa bisa tahu tentang sahabatku?" Tanya Hyerin cetus.


"Aku adalah teman roh nya Rei. Rei selalu melihatku dan berbicara denganku." Ucapnya terdengar bangga.


Hyerin melotot tidak percaya, dia tidak tahu setelah lama berteman pun dia tidak tahu jika Rei ternyata bisa melihat roh. Apakah saat kejadian itu dia sebenarnya sudah tahu juga? Teringat kejadian terakhir di dalam bus sebelum kecelakaan hingga akhirnya Hyerin mati dan menjadi roh di tempat ini.


"Kemana Rei sekarang?" Tanya Hyerin segera saat diingatkan tentang kejadian itu.


Hyerin tak mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaannya. Sialnya perasaannya mengatakan jika roh itu tidak tahu apapun tentang kejadian terakhir yang mungkin bisa langsung merenggut nyawa kedua sahabatnya.


"Rei mungkin sudah menjadi roh sama seperti ku. Aku kira dia juga pergi ke tempat ini." Ucap Hyerin pelan dan dengan nada yang sedih.


"Apa yang kau katakan? Aku baru saja berbicara dengan Rei." Jelasnya.


Hyerin melihat orang itu terdiam dan tampak terkejut dengan kata-kata yang dia ucapkan. Mungkin memang benar dia tidak tahu tentang kejadian itu. Tapi apalagi semua tidak bisa diulangi lagi dari awal dan dihentikan.


"Aku pergi!" Ucap Hyerin pamit.


"Tunggu! Kau bilang Rei, itu artinya sesuatu sudah terjadi dan kau?" Tanyanya.


"Kecelakaan sudah menewaskan ku dan mungkin kedua sahabatku juga." Jelas Hyerin. "Aku pergi sekarang!" Ucap lagi Hyerin pamit.


"Tidak. Ku mohon jangan pergi!" Balasnya.


Hyerin terheran mengapa wanita itu begitu sangat bersedih bukankah hal baik jika Rei sudah menjadi roh dan lebih baik lagi kalau dia menemuinya di sini.

__ADS_1


"Sudahlah semua sudah terjadi, dan aku ingin pergi karena ada sesuatu yang lebih penting lagi." Jelas Hyerin bersusah payah meskipun perasaannya tidak begitu sedang baik tapi dia berusaha memberikan penjelasan semampunya. Dan dia tidak bisa terus menunda waktu dan menunda tujuannya.


"Kau tahu kan dimana Rei?" Tanyanya terlihat sangat lebih sedih.


Hyerin hanya menghela napas dan berusaha menahan perasaan kesalnya saat itu juga.


"Cari saja, aku bahkan belum menemui mereka." Ucap Hyerin. Dia sudah sangat kesal dan tidak bisa menunda lagi waktu.


"Lalu kemana kau akan pergi? Apa kau terburu-buru mencari kedua sahabat mu kan?"


Hyerin terdiam seperti tersadarkan sesuatu. Memang wajarnya dia langsung mencari kedua sahabatnya itu karena bagaimanapun dia harus memastikan apakah sahabatnya ada di tempat ini atau tidak. Tapi dia tidak melakukannya. Terdengar sedikit egois dan tidak berperasaan, karena hatinya lebih hancur ketika dia belum juga bertemu dengan Rai. Satu-satunya alasan yang membuat dia kembali lagi ke tempat ini.


"Tidak. Dan tolong ada sesuatu yang lebih penting!" Ucap Hyerin sekali lagi memberikan pengertiannya. Dia berharap kali ini terakhir dia berdebar lagi.


"Kau bukan sahabatnya!" Tiba-tiba sebuah kata-kata langsung membuat rasa kesalnya semakin memuncak.


Hyerin tidak bisa marah dia harus menahan rasa marahnya ini, karena memang kenyataannya tidak akan ada satupun orang lain yang memahami kesulitannya sekarang, artinya sangat percuma jika dia harus mengeluarkan amarahnya yang juga tidak akan dipahami baik di hadapan orang lain.


Hyerin memutuskan pergi tanpa mengatakan apapun.


"Kau bukan sahabat Rei. Rei sangat baik dan kau sebaliknya!" Hardik orang itu yang tidak membuat Hyerin bergeming.


Hyerin terus berjalan dan berusaha mengahalau jauh-jauh ucapan atau teriakkan dari orang itu. Saat ini dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya karena tidak akan ada satupun orang yang bisa membantu masalahnya ini, hanya dirinya sendiri yang bisa. Untuk kejadian kedua sahabatnya dia akan meminta maaf setelah masalahnya ini selesai, dia juga akan menemui mereka berdua jika mereka memang ada di tempat ini, Hyerin tidak mungkin tinggal diam saja jika setelah masalahnya ini selesai.


Padahal hatinya sangat hancur dan kesal, rasanya kewarasannya saat itu terus ditekan untuk menghadapi semua masalah di luar kuasanya ini.


Dan sekarang dia harus bertemu dengan kenyataan baru. Ternyata sahabatnya ini bisa melihat roh, Hyerin sangat terganggu apakah kejadian di dalam bus juga dia tahu dan melihatnya? Tapi mengapa sahabatnya tidak pernah bercerita tentang rahasia sebesar ini. Dan apa itu? Mengapa dia sangat suka sekali menceritakan tentang dirinya kepada orang lain. Mengapa baru sekarang dia tahu dan mengapa harus sekarang? Seperti semuanya sudah terlanjur terlambat, karena Hyerin tidak bisa lebih dalam lagi menyayangi kedua sahabatnya dan lebih memberikannya waktu yang lama ketika dia diberi kesempatan hidup sesaat setelah kejadian itu, dan rasanya sangat bersalah.

__ADS_1


Hyerin terhenti di sebuah gedung dan dia duduk termenung sendirian. Buliran air mata yang tidak terasa langsung membanjiri matanya kemudian mengalir deras menuruni pipi. Wajar memang jika dia harus merasa sesedih ini kan? Pertemuan yang sangat singkat itu masih belum apa-apa dan belum memberinya arti apa-apa. Semua perasaan itu harusnya lebih membekas jika dirinya memiliki keluarga dan sahabat yang sangat berharga.


__ADS_2