Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Pencarian Sani dan Ken


__ADS_3

Aku adalah angan-angan, aku juga adalah harapan, aku bisa dikatakan adalah waktu, dan semua yang terjadi tergantung waktu.


Tidak ada aturan bagi setiap roh yang tinggal di dunia ini, satu-satunya perjanjian adalah waktu. Mereka diberi kesempatan kedua kali untuk hidup layak, untuk bisa sesuka hati, atau untuk hidup lagi?


Tidak ada yang bisa melawan takdir. Setiap roh memiliki waktu yang sudah ditentukan, semakin lama dia tinggal maka semakin banyak ingatannya sebagai manusia yang akan dilupakan. Pada saatnya nanti malaikat kematian menjemput untuk memintanya dua pertanyaan. Pergi dan reinkarnasi atau tetap tinggal dan tidak reinkarnasi.


Sani tidak bisa membayangkan betapa terasa sesaknya di dada saat itu. Perasaannya hancur seketika, namun apa daya tidak ada jalan lain untuk mengembalikan semua yang direnggut dari dirinya. Lagipula ini pun salahnya sendiri karena dia terlalu nyaman untuk tinggal dan mulai terbiasa di dunia roh.


"Apa kamu sanggup?" Tanya Ken menghentikan kesedihan Sani yang terlalu membuatnya terlarut.


Sani terperanjat seperti disadarkan kembali tentang kehidupannya yang nyata saat itu. Sorot matanya perlahan berubah memperlihatkan jika dirinya sudah siap dan bisa kembali menyeret kesadarannya.


Ken memperhatikannya dia tersenyum untuk Sani dan untuk ketegaran hatinya. Ken mengerti karena tidak ada jalan bagaimanapun Sani harus melewati semua yang sudah terjadi pada dirinya.


"Sekarang misi pertama kita apa?" Tanya Sani dengan nada bicara senang.


"Kita cari tahu tentang Tania dan kematiannya yang janggal." Jawab Ken membuat Sani untuk kedua kalinya terkejut.


Sani tak menyangka jika Ken mendengar keinginannya itu, dia ingin sekali kejelasan atas kematian Tania temannya.


"Pertama kamu berbaur dengan salah satu warga yang bisa dipercaya. Mulai bertanya tentang masalah kematian orang-orang yang misterius." Jelas Ken.

__ADS_1


Sani terdiam, dia terlihat tidak paham dengan jalan cerita Ken. Seperti dari mana Ken memiliki ide seperti itu. "Ada yang tidak aku ketahui kan?" Tanya Sani tidak paham.


Ken melihatnya dan memberinya jalan untuk melihat sendiri ke dalam ingatannya apa yang Ken dapat dari Rai pada waktu itu. Sani menatap dalam-dalam dan menangkap binar mata Ken saat itu juga dengan tidak sabar.


Hanya beberapa menit saja. Sani sampai tidak bisa mengatakan satu kata pun yang keluar dari mulutnya saat itu. Dia hanya menutup mulut dengan mata membulat tidak percaya.


Ken menghampirinya lagi dan menenangkan Sani dengan lembut.


"Itu terlalu mengejutkan karena kita tidak pernah diberitahu oleh informan sebelumnya tentang masalah di tempat ini." Ken mulai mencari alasan.


"Mengapa tidak ada satupun informan yang sampai menceritakan sebuah informasi sepenting ini." Tanya Sani tidak percaya.


"Apakah kita akan bernasib sama?" Sani mulai terlihat khawatir saat tahu kondisi yang sangat buruk dan tidak menjamin keselamatannya itu.


"Jangan sampai, kita bisa bekerja sama dengan Rai dan mencari perlindungannya. Mungkin akan ada satu cara yang belum kita temukan." Ken terllihat yakin saat menjelaskan, hal tersebut membuat Sani tidak ragu lagi untuk memulai nya dan menyelesaikannya.


Keduanya sepakat hanya akan bertemu setiap pagi pada pukul 07.00.


Dengan perasaan baru Sani mulai meyakinkan diri bahwa dirinya bisa, sama halnya dengan Ken dia cukup stress memikirkan keselamatan Sani karena sejujurnya dia tidak bisa memprediksi hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sani pergi ke tempat yang berbeda dengan Ken, matanya mulai mengamati setiap hiruk pikuk pemandangan alun-alun kota. Tiba-tiba dia mulai mengingat sesuatu. Sekelompok orang itu yang dia temui di sebuah gedung yang berjajar setelah alun-alun kota. Ada sebuah rencana yang langsung terbersit dipikirannya, mungkin jika bertanya kepada yang bekuk dia temui sebelumnya cukup beresiko bagaimana jika dia bertanya pada orang-orang di gedung itu yang kemungkinan untuk hal sepele seperti ini tidak akan menyulitkan Sani untuk mendapatkan informasi nya. Dia hanya cukup bertanya tentang sebuah insiden yang Ken sebutkan itu.

__ADS_1


Sani menemukan solusi yang menurutnya sendiri bisa mempermudah tugasnya untuk selesai lebih cepat.


Dari pertigaan jalan Sani menyusuri jalan menuju gedung yang sudah ada dalam pikirannya saat itu. Saat jaraknya semakin dekat Sani merasa gugup melihat keramaian orang-orang dan suasananya yang sudah berubah. Kali ini dia harus masuk dan mencari sendiri diantara manusia yang ada di tempat itu.


Tidak ada alasan untuk mundur sekarang, asumsi itu selalu menjadi motivasinya saat merasa gugup dan tidak yakin.


Ruangan yang tadinya terlihat luas dan kosong kini hampir setengahnya penuh oleh orang-orang yang ada. Sani hanya menelan ludah dan terus menekan dalam-dalam rasa gugup yang terus menghantui.


Memang tidak mudah, itulah yang dipikirkan Sani. Dia perlu berjalan diantara semua orang yang tidak akan menyadari kedatangannya, pergi dari satu ruangan ke ruangan lain memastikan jika salah satu orang-orang dari yang dia temui sebelumnya memang ada.


Pencarian melelahkan terus berlanjut, Sani tidak bisa melewatkan satu ruangan pun di tempat itu, namun rasa lelahnya memang bisa menghentikan semangat yang sudah dia kumpulkan sejak awal untuk melakukan tugas seperti ini. Hasilnya nihil, tidak ada satu orang pun yang Sani temui. Lantas kemanakah perginya orang-orang? Dia tidak menemukan satu jawaban yang tersirat di dalam pikirannya. Memang waktu yang cocok untuk menyerah.


Di tempat lain Ken mengawali tugas yang dia rencanakan di satu tempat yang tidak akan pernah Sani duga sekalipun. Yaitu gedung rumah sakit yang selalu menjadi rumit menakutkan oleh roh sekalipun. Ken menyaksikan banyak orang-orang yang keluar masuk di gedung itu, beruntung karena kedatangannya di waktu ketika semua orang termasuk manusia menghuni asli gedung itu ada. Hal itu sedikit mengikis perasaan takutnya yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.


Perlahan langkahnya masuk ke dalam gedung yang menjadi inti dari semua permasalahan. Ken sengaja memberikan perintah kepada Sani untuk bertanya kepada orang atau mencari informasi di luar sana, karena ini yang akan dilakukannya. Selain itu, tempat ini akan lebih berbahaya lagi jika waktu berganti kemudian. Ken masih tidak bisa terbiasa ketika hidup menjadi roh dan dalam satu waktu dia harus berbagi waktunya dengan manusia, hidup berbaur menjadi sesuatu yang tidak kasat mata. Tapi itu takdirnya.


Pemandangan pada umumnya, Ken melihat semua pasien di setiap ruangan. Dia sendiri tidak yakin apa yang akan dicarinya itu, tapi nalurinya mengatakan untuk mengawali pencarian di tempat itu, entah apa yang akan didapatkan dan membuat Ken bisa seberani ini.


Satu persatu ruangan telah ia datangi, Ken masih tidak menemukan sesuatu yang membuatnya menarik.


Dalam hitungan waktu yang terus berlalu membuat hatinya merasa jenuh dan setengah putus asa. Apalagi sekarang?

__ADS_1


__ADS_2