Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kehilangan


__ADS_3

Rere berjalan terhuyung mengikuti ujung kakinya kemanapun, tapi seketika kakinya berhenti seolah hapal sekarang dia ada dimana. Perlahan matanya bergerak hingga sepasang mata itu bertemu dengan wajah yang membuat hati Rere langsung tersentak kaget. Hyerin yang juga memandanginya saat itu, seolah dari pandangannya memburu kedatangan Rere dengan banyak pertanyaan. Rere langsung memalingkan pandangan, terdiam seperti linglung. Tapi perasaan cemas bergemuruh di dalam dadanya.


"Udah pulang lagi Re?" Cetus Hyerin bernada santai mendekati Rere.


"Kemana Yora ya?" Hyerin mencari ke setiap sisi, ke belakang dan ke arah lain.


"Ah anak itu pasti jalan-jalan, kamu tinggalin dia sendiri Re?" Hyerin terlihat khawatir masih terus mempertanyakan Yora yang tidak terlihat.


Rere diam seribu bahasa, bahkan saat Hyerin berbicara padanya seolah kata-kata itu tidak terdengar, pikiran tentang Yora yang mendominasi sudah membuat mentalnya jatuh untuk menghadapi Hyerin.


"Yora hilang ya? Kemana sih, kita cari yu!" Ajak Hyerin sambil menarik lengan Rere bermaksud mengajaknya pergi.


Tapi Rere tidak merespon ajakan itu, tidak mengindahkan setiap pertanyaan yang terus terlontar dari mulut Hyerin. Dan sikapnya membuat pertanyaan besar yang sangat janggal dipikiran Hyerin.


"Yerin! Yora gak hilang kok." Ucap Rere terdengar nada gemetar di mulutnya.


"Terus dia mampir kemana dulu?" Hyerin masih menanyai Rere menggoyangkan tubuh Rere yang kaku.


"Kita jangan cari dia lagi ya!" Balas Rere terdengar nada bicaranya yang rendah.


Hyerin langsung berbalik melihat ke arah Rere dengan serius, mencari semakin yakin jawaban apa yang akan dia dapatkan. Namun sorot mata Rere memperlihatkannya sesuatu yang membuat hati Hyerin tenggelam dalam perasaan takut.


"Ada apa sih ini Re? Jelasin dong!" Pinta Hyerin sudah setengah memaksa. Hyerin semakin gusar tidak bisa lagi menunggu jawaban pasti yang akan didengarnya.


Tapi Rere masih diam seperti yang tidak diharapkan, membuat Hyerin harus menelan kecewa menerka lagi dugaan buruk yang masih menjadi bayangan suram di dalam pikirannya. Hyerin tidak bisa mengeluh atau protes karena hatinya semakin yakin tentang dugaan buruk yang sudah dipikirkan dari tadi.

__ADS_1


Rere masih tidak kuasa menjelaskan semua yang terjadi tadi, bibirnya kelu, dan kewarasannya seperti hilang meninggalkan dia sendirian dengan perasaan bersalah.


"Kita cari Yora yu! Kamu bisa bantu aku kan." Pinta Hyerin yang terus menahan perasaan gusar.


Sebaliknya Rere malah terlihat seperti orang linglung, pikirannya yang entah dimana tidak bisa melihat ke arah Hyerin dengan fokus.


Hyerin harus kecewa lagi, dia masih berharap Rere akan berbicara sedikit dan membuat dirinya mengerti.


"Stop!" Teriak Rere.


Mendengarnya seketika Hyerin langsung diam dan menarik napas, menahan setiap cemas yang dirasakan dan menyisakan sesak di dadanya.


"Ku mohon tolong jangan cari lagi Yora ya! Sekarang kita pergi saja." Ucap Rere dan pandangannya masih kosong.


"Aku gak bisa Re, tolong jelaskan dulu!" Setengah mati Hyerin memohon hingga dia rasa sudah merasa kehilangan semua tenaganya.


"Aku gak mau Re, tolong jelasin Re." Akhirnya tangisan itu sudah membanjiri kedua pipinya.


Rere diam tidak bicara lagi, tapi dia masih berusaha menarik Hyerin untuk berdiri.


"Stop Re! Udah berhenti!" Bentak Hyerin menaikan satu oktaf suaranya. "Tolong sekarang pergi!" Dalam-dalam Hyerin menarik napas. "Pergi!!" Bentaknya lagi di luar kendali.


Dan tanpa diduga Rere berlalu menyeret satu persatu kakinya untuk semakin jauh pergi dari hadapan Hyerin.


Padahal tidak ada angin dan hujan yang memberinya mimpi buruk, tapi tanpa semua pertanda Hyerin harus yakin, meyakini sesuatu yang tidak ingin didengarnya lagi. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Pikiran terburuknya terus menerka-nerka hingga dia bisa saja kehilangan semua kewarasannya. Apa yang sudah didapatkan selama ini? Mengapa perasaan kehilangan terus membayangi hidupnya.

__ADS_1


Terkadang semua yang dia pilih sekarang malah menyuguhkannya rasa sesal yang sangat dalam, hingga Hyerin lupa bagaimana merasakan keinginan hatinya sendiri untuk hidup dan menjalani semua seperti yang dia harapkan, hingga lupa bagaimana caranya tersenyum tenang .


Tapi tetap saja dia tidak bisa diam dan melupakannya sebagai tragedi, tidak semudah itu Hyerin mengabaikan hal terkecil di sekelilingnya.


Padahal tidak akan ada yang tahu seberapa besar perasaannya menanggung semua beban dari kehilangan satu persatu orang yang paling berharga dalam hidupnya setelah keluarga dan semua kenangan yang sudah pergi lebih dulu.


Hyerin terus menangis membiarkan semua air mata tumpah dan banjir ke pipinya, dia tidak peduli meski harus berapa lama menikmati setiap detik perasaan yang sangat menyakitkan dan paling menyakitkan lagi. Karena tidak ada orang yang tahu, Hyerin tidak perlu beralasan untuk menangis seperti anak kecil atau seperti orang gila.


Dan orang-orang mungkin sedang memandanginya aneh, melihatnya dia dari sudut pandangnya masing-masing, tapi itu tidak sedikit membuat hatinya gentar. Hyerin tak malu harus menangis sejadinya atau dijadikan tontonan anak kecil.


Ding...Ding...dong ...


Suara jam dinding terngiang mengudara.


Sebuah tanda pergantian waktu sudah didengar, dengan sendirinya semua roh teratur pergi atau akan datang di tempat kematiannya dulu. Terkecuali Hyerin yang masih terisak. Sekarang bukan saja bagian hidupnya yang sudah diambil, tapi hidupnya sendiripun sudah direnggut sejak awal. Karena perjanjian itu Hyerin merubah dirinya menjadi dewa kematian tanpa pilihan lain mengikuti jejak yang dilakukan Rai, sebab itulah Hyerin tidak berpindah tempat seperti dulu.


Dan inilah hidupnya, bukan satu-satunya yang dia inginkan saat ini.


Setiap masalah yang bertepi lagi dalam waktunya mengingatkan Hyerin untuk terus memikirkan cara agar bisa hidup tenang, tapi kenyataannya masalah belum selesai, kadang masih terasa satu jam yang lalu kecemasannya karena kehilangan Sani teman Ken masih terasa nyata, dan seperti satu menit yang lalu Rai pergi tanpa jejak apapun dari hidupnya, sekarang satu detik sekejap mata teman berharganya juga pergi tanpa kabar. Semua kejadian yang datang dan pergi masing-masing masih membekas dan tidak pernah bisa dilupakannya.


Apa yang bisa dilakukan? Hidup pun tak berarti, untuk apa dia hidup sekarang? Semua tak beralasan, yang ada hanya satu persatu orang hilang dalam kesaksiannya.


Hyerin menarik napas dalam, mengatur hatinya untuk tenang. Sulit rasanya karena sekejap mata lagi air mata datang tanpa diundang membuat Hyerin harus terus menarik napas menyadarkan dirinya sendiri pada semua kenyataan yang tidak bisa diperbaiki itu.


Ini bukan tujuannya, masalah ini hanya tentang perasaannya uang suatu saat pasti hilang ditelan waktu. Sedangkan bagian terbesar dari tujuannya adalah untuk pergi lebih jauh dan bertemu dengan Rai yang sudah berada di tempat jauh.

__ADS_1


Berulangkali Hyerin terus menyadarkan dirinya sendiri, mengobati luka dengan tekadnya, melupakan sakit dengan ambisinya.


__ADS_2