
Angin berhembus dari satu arah, ada suara ranting pohon yang saling beradu, dan suara burung saling menjawab. Hyerin menatap ke arah lain, matahari tampak cerah. Namun penglihatannya terus kabur, detik berlalu tiba-tiba telinganya berdenging dan matanya benar-benar kehilangan semua penglihatan tadi berubah menjadi bayangan hitam.
****
Hyerin terbangun lagi, nampak panik karena sekelilingnya sudah berubah. Tubuhnya gemetar takut, apalagi ketika kembali mengartikan dimana dia sekarang membuat Hyerin tak bisa percaya.
Dunia yang pernah dia tinggalkan, tempat dimana semua roh di sana tinggal. Namun entah karena hal apa kemudian batas antara dimensi itu hilang bahkan kini roh yang tak seharusnya datang ke tempat manusia sudah ada di sana termasuk dengan iblis yang menyerupai roh manusia.
Hyerin masih mematung diam, dia tidak mengerti mengapa bisa kembali ke dunia roh itu. Tak lama roh lain yang tinggal di tempat itu mulai berdatangan dan kini di sekelilingnya sudah tak terhitung ada begitu banyak.
Hyerin berdiri matanya masih terus mengabsen seluruh sudut yang tampak sama, seolah tidak ada ujungnya di tempat itu.
Dia diam sebentar mengingat apa yang dilakukannya sebelum bisa datang ke tempat ini.
Tapi sebelum pikiran itu berhasil membuatnya sadar, tiba-tiba sesuatu terjadi membuat seluruh pasang mata menatap ke arah langit.
Kejadian itu pernah mengingatkan Hyerin pada kejadian yang sama seperti dulu. Langit mulai retak dan sesuatu akan muncul dari sana.
Matanya penasaran hingga dia tidak melepaskan pandangannya ke arah langit. Benar seperti apa yang dia pikirkan sesuatu keluar dari sana dengan asap hitam yang menebal juga mulai menyebar dari arah langit itu.
Terdengar kepanikan di mana-mana, Hyerin melihat semua orang menghindari asap itu, dia yakin semuanya adalah roh yang pernah mengalami insiden serupa, awal mula semuanya menjadi kacau.
__ADS_1
Tidak seperti yang lain, Hyerin tidak pergi kemanapun dia terlalu bingung harus pergi kemana dan seharusnya asap itu tidak akan membuatnya terpengaruh kan?
Ragu-ragu dia berjalan semakin dekat ke arah sesuatu yang muncul lagi. Ada bayangan yang membuat mata Hyerin tidak bisa berpaling saat itu. Sangat penasaran siapa yang datang kini, dia yakin seseorang tampak seperti roh yang datang dari atas sana.
Hyerin mulai memberanikan diri menerobos masuk ke dalam asap setebal kabut yang sangat menghitam. Ketika berada di dalam kabut itu penglihatannya langsung hilang, dia tidak bisa melihat apapun. Panik, cemas, perasaan yang tidak bisa dia hindari. Sebisanya Hyerin terus berjalan ke arah mana saja asalkan dia bisa keluar dari tempat yang menjebaknya. Pantas saja semua orang begitu panik dan berlarian menjauh, mungkin inilah alasannya.
Hyerin masih terus berusaha, hingga sesuatu tak sengaja dipegang tangannya. Hyerin dapat merasakan jika yang dia pegang jika terus semakin ditegaskan lagi terasa seperti batu, teksturnya seperti itu. Hyerin penasaran dan tidak berpikir apa yang akan terjadi jika dia terus melakukan hal gegabah. Perlahan Hyerin merasakan jika patung itu di ujungnya seperti telapak tangan, kemudian Hyerin berpikir jika patung itu mungkin memiliki badan. Ketika terus meraba ternyata dugaannya benar.
Patung yang tampak seperti orang. Hyerin mematung diam, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Setahunya tidak ada patung seperti itu karena yang tampak olehnya tadi hanya orang-orang yang berjalan kesana kemari.
Pikirannya benar-benar bingung.
Seketika terjadi lagi sesuatu yang membuat nalar dan logikanya tidak bisa berkomentar. Kabur tadi menghilang sekejap mata lalu sekarang pemandangan berangsur nampak termasuk Hyerin bisa melihat ke sekeliling. Tapi saat itu juga dia merasa sesuatu yang salah sudah terjadi. Kedua kakinya gemetar takut bahkan tubuhnya mendadak lemas. Bagaimana ada begitu banyak batu ornamen yang tampak seperti orang-orang dalam waktu sesingkat itu?
Sekali lagi dia kembali memastikan ke segala arah, tidak ada yang tersisa di sana semuanya sudah berubah menjadi patung. Lantas hanya tinggal dirinya lagi sendiri?
Tampak frustasi, memikirkan hal itu hanya membuat dia tidak bisa apapun juga. Kenapa dia harus terjebak di tempat seperti ini? Pikiran dan hatinya terus bertanya-tanya, dia sangat ingin kembali. "Lebih baik kembali dan menjadi manusia." Batinnya.
"Yerin!"
"Bangun!"
__ADS_1
Hyerin membukakan mata, dia langsung melihat Rai di hadapannya. Tanpa ragu lagi Hyerin segera memeluknya sangat ketakutan.
"Kau pingsan? Beruntung sekali ada seseorang yang tiba-tiba datang dan menolong." Ucap Rai menjelaskan.
Hyerin tampak sadar sesuatu, dia langsung duduk dan melihat ke arah Rai dengan bertanya-tanya. "Seseorang? Yang menolong? Kemana sekarang dia perginya?" Tanya Hyerin mulai mencari-cari.
"Tadi dia di sini!" Jawab Rai sambil menunjuk ke satu arah yang tidak tampak siapapun.
Rai tampak bingung. "Tadi dia ada di sini." Ucap lagi Rai yang masih tak bisa percaya karena sekejap mata orang itu sudah tidak ada.
"Astaga!" Keluh Hyerin. Sekilas melihatnya Rai bisa menebak jika telah terjadi sesuatu dan kejanggalan itu pasti Hyerin sudah mengalaminya.
"Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini, kita harus mencari bantuan para roh dan tidak bisa asal mengambil pilihan." Hyerin mengatakannya dengan serius.
Rai menatap matanya lagi. "Apa kita harus melakukannya?" Tanya Rai.
"Aku yakin sesuatu yang buruk pasti akan terjadi lagi. Aku melihatnya sendiri." Keluh Hyerin yang ketakutan ketika kembali mengingat sesuatu yang sudah terjadi di alam bawah sadarnya.
Rai menatap ke sekeliling, apa semudah itu mendapatkan kepercayaan roh di dunia manusia? Siapa yang akan dia percayai selain teman-temannya yang tidak ada di sini.
"Kita harus cepat, kau bisa mencarinya kan?" Sekali lagi Hyerin mengoceh hal yang sama.
__ADS_1
Rai tidak tahu apa alasannya dia menginginkan hal itu. "Aku penasaran, sebenarnya apa yang kau rencanakan lagi? Perjalanan kita saja belum sampai, sekarang malah ditambah dengan sesuatu yang harus dikerjakan lagi." Rai mengeluh. Tentu saja dia sangat tidak ingin jika usahanya hanya sia-sia. Bayangkan saja dalam setiap detik waktu berganti dia harus menanggung ketakutan yang tidak bisa dirasakan orang lain. Dia takut dan dalam bersamaan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, seolah sudah kehilangan arah Rai hanya mengikuti Hyerin karena dia pikir akan mengerjakan sesuatu yang berguna untuk mengurangi rasa takutnya. Namun, dugaannya itu salah, kenyataan yang ada dia malah mengalami banyak hal sulit namun semua yang dia kerjakan belum juga memperlihatkan kenyataan yang pasti untuk kehidupannya.