Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Rahasia Hyerin 1


__ADS_3

"Akhirnya sekarang akan ada orang yang selalu menjadi teman terhebat." Puji Hyerin yang masih tersenyum. "Tania bisa kita mulai sekarang? Ayo ceritakan semua yang tidak ku ketahui." Lanjutnya terlihat tidak sabar.


Tania memperhatikan Hyerin, lalu bola matanya bergerak mengamati ke sekitar. "Sebaiknya tidak di sini. Pergi ke tempat yang aman." Sarannya berbisik.


Hyerin mengalihkan lagi penglihatannya dan dia terperanjat, sekarang dia baru sadar jika di tempatnya itu sangat ramai. Untuk hal rahasia ini tidak mungkin diceritakan di sembarang tempat. "Baiklah pendapatmu kemana kita harus pergi?" Tanya Hyerin.


"Ke tempat mu. Di gedung rumah sakit saja." Saran Tania.


Hyerin tidak langsung menyetujui, dia merasa sedikit ragu jika memilih tempat itu lagi. "Apa tidak ada tempat lain?"


"Jika waktu berganti lagi kita tidak akan berpisah, sebaiknya ke tempat mu saja!" Terdengar nada suara Tania yang terus memaksa.


Hyerin bingung, tapi benar juga menurutnya memang itu adalah jalan terbaik untuk saat ini. Mengingat ancaman dari orang yang mirip dengan Rai, mungkin nanti bisa dipikirkan lagi yang terpenting sekarang dia bisa menjalankan rencana pertamanya itu. "Baiklah sekarang kita pergi!" Terang Hyerin yang langsung membuat Tania senang.


Keduanya memilih mengambil jalan cepat, Tania menggunakan kekuatannya untuk berpindah tempat hingga langsung membawa keduanya dengan singkat ke halaman rumah sakit itu.


Binar mata Hyerin terlihat kagum, semudah itu untuk berpergian, andai saja dia juga bisa melakukannya.


Menyadari di depan matanya hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu masuk rumah sakit, Hyerin tidak menunggu waktu dia bersiap masuk melewati pintu dengan sangat hati-hati.


"Sudah aman ayo cepat!!" Pinta Hyerin tergesa.


Keduanya sampai di sebuah ruangan yang sudah lama menjadi tempat ternyaman bagi Hyerin. Karena tidak ada tempat yang paling aman di luar sana orang-orang bebas menghakiminya dengan tidak adil, sedangkan di tempat ini tidak ada satupun orang yang akan berani masuk ke dalam.


"Kita sudah sampai di kamar ku. Sebaiknya harus hati-hati dan tidak terlalu gaduh." Saran Hyerin menjelaskan, namun perkataannya terhenti saat melihat Tania yang terus memandangi ke arah tempat tidurnya dengan serius.


"Apa itu terlihat menarik perhatian?" Tanya Hyerin penasaran yang langsung bisa membuyarkan perhatian Tania.

__ADS_1


"Tidak ada. Sekarang ayo kita ceritakan semuanya." Jawab Tania mengalihkan pembicaraan.


Hyerin tidak begitu penasaran, dia menunjukkan tempat ternyaman untuk bercerita. Sebuah tempat tidur yang usang dan cukup menampung untuk dua orang ramping di atasnya.


####


"Apa kau yakin bisa percaya dengan apa yang akan ku katakan?" Tania mulai bertanya.


Mendengarkan sebuah pertanyaan yang menurut Hyerin sendiri seharusnya Tania tidak bertanya seperti itu. "Kenapa aku harus tidak percaya? Semua orang di sini sama, hanya orang asing." Jawab Hyerin ketus.


"Karena sia-sia saja jika aku sudah menerangkan panjang lebar tapi tidak bisa diterima dengan baik." Ucap Tania menjadi alasannya. "Pertama akan ku ceritakan hal yang sama dan baru saja terjadi." Tatapannya semakin serius terhadap Hyerin yang masih tidak bisa konsisten dengan perasaannya sendiri, tergambar jelas bagaimana Hyerin yang melihat ke sembarang arah saat Tania berusaha mengajaknya untuk serius dan fokus memperhatikannya. "Aku benar-benar melihatmu di kasur ini, waktunya saat pergantian waktu. Awalnya aku ingin langsung menceritakannya tapi tertahan karena melihat reaksi mu dulu." Terang Tania masih tetap khawatir jika Hyerin akan menganggapnya itu adalah sebuah lelucon.


Hyerin tidak langsung menjawab, pikirannya berusaha mencerna setiap pernyataan yang masuk ke dalam Indra pendengarannya. Dia melamun beberapa saat hingga wajahnya bergerak dan tegas membalas tatapan Tania. "Aku tidak pernah melihat ada seorang gadis di sini, sejak awal aku tidak pernah melihatnya." Terang Hyerin membalas pernyataan Tania.


"Kenapa aku harus bohong, aku sendiri tidak bisa percaya tapi setelah berulangkali menegaskan jika ternyata yang tertidur di tempat ini adalah kamu. Dan apa dayaku setelah melihatnya dengan panik aku sendiri tidak bisa berkata apapun." Tania masih bersikeras menjelaskan.


"Aku benar melihatnya, dan kali ini aku baru sadar jika sebenarnya dari penglihatan itu menjelaskan bahwa kamu belum benar-benar mati, bisa saja sedang koma atau..."


"Sudah Tania. Aku tidak melihatnya apakah sekarang itu mudah untuk mempercayainya." Cela Hyerin di tengah-tengah perkataan Tania yang belum selesai.


Mendengarkan sebuah jawaban dari Hyerin membuat Tania menyimpulkan sesuatu, jika sudah tidak ada cara lagi untuk menjelaskannya dan membuat Hyerin percaya. Alih-alih Tania hanya menghela napas dan membuangnya dengan perlahan. Dia ingin membuang perasaan bergejolak yang memenuhi dadanya. Rasanya sesak tujuannya hanya ingin membantu Hyerin untuk hidup, tapi ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. "Baiklah. Anggap saja aku tidak pernah menceritakannya." Ucap Tania santai.


"Sekarang giliran mu, bertanyalah atau ceritakan lagi masalahnya." Masih lanjutnya berbicara.


Hyerin menatapnya tajam, tapi kemudian dia membuang wajahnya ke sisi lain. "Aku ingin mendengarnya dari kamu dulu." Ucap Hyerin dari nada suaranya masih belum mereda. Perasaan kesal yang bercampur dengan bingung.


"Ingin ku ceritakan tentang Rai? Pasti kau akan sangat penasaran." Goda Tania sambil tersenyum.

__ADS_1


Hyerin tidak bisa tahan jika mendengar Rai di otaknya langsung tertarik dengan mudah. Tidak bisa menampiknya lagi, jika dia sudah mulai penasaran tentang Rai. "Cepat sebutkan saja!" Pinta Hyerin antusias.


"Sepertinya ada yang sangat tertarik." Tania masih menggoda Hyerin.


"Apa yang kau katakan itu? Sangat tidak benar. Ceritakan saja yang lain." Kesal dengan godaan Tania atau Hyerin tidak ingin jika rasa tertariknya terhadap Rai lebih diungkap oleh Tania.


"Rai adalah seorang dewa kematian dan dia sudah menjadikannya dewa kematian di dunia ini."


"Apa yang kau katakan? Hanya itu? Aku sudah tahu." Protes Hyerin.


Tania masih menahan sanggahannya. Dia menatap Hyerin yang masih sedikit kesal.


"DIA BUKAN DEWA KEMATIAN." Terang Tania setengah berbisik.


Mendengarkannya Hyerin sedikit terperanjat. "Ngarang saja, perkataan mu tidak konsisten. Jangan-jangan kau sebenarnya tidak tahu apapun kan?"


"DIA BUKAN DEWA KEMATIAN. Tapi membuat dirinya menjadi dewa kematian. Apa kau belum mendengarkan rahasia ini?" Selidik Tania yang tidak menyangka jika Hyerin belum tahu apapun.


Ekspresi Hyerin sudah sepenuhnya berubah, menyadari perkataan Tania yang langsung mengganggu fokusnya saat itu membuat Hyerin kesal lagi. Seperti mendengarkan sebuah kebohongan yang kedua kalinya.


"Sebaiknya jangan diteruskan, kau tidak akan mudah percaya dengan orang asing seperti ku, dan aku rasa kau sendirian sudah cukup bisa mengatasi semuanya." Tiba-tiba Tania bersiap turun dari atas kasur. Seharusnya seperti itu dari tadi karena melihat Hyerin yang tidak percaya terhadapnya hanya menyiksa dirinya saja.


Tanpa disangka Hyerin menghentikannya lagi. Dia menatap Tania dan menemukan binar dari bola matanya yang kesal. Garis wajahnya juga lebih menegaskan. Apakah sikapnya sudah sangat keterlaluan? Tapi jika dia memutuskan sendirian untuk menyelesaikan masalahnya mungkin tidak akan ada yang berubah, semuanya akan berjalan sama. Memilih mempercayai Tania sebagai percobaan baru yang hasilnya masih teka teki.


Hyerin terus menimbang dengan hati-hati semua yang berkecamuk di pikirannya saat itu. "Tidak. Dan maaf sudah keterlaluan, aku hanya tidak bisa menerima jika kau mengatakan aku belum mati, itu seperti sesuatu yang akan menyakitkan." Ucap Hyerin terus terang.


Hyerin menunduk dengan tangan yang menahan lengan Tania.

__ADS_1


Tania melihatnya iba, dia seharusnya tahu jika kenyataan itu terdengar lebih menjelaskan sebuah fakta buruk yang dalam satu kondisi Hyerin masih kehilangan sebagian ingatannya.


__ADS_2