
Seorang wanita muncul di hadapan Hyerin. Tatapannya langsung membalas sorot mata Hyerin saat tak sengaja langsung melihat wanita itu terlihat oleh sudut matanya.
"Ada perlu apa ke sini?" Tanyanya dingin.
Hyerin diam mencoba memahami karakter wanita yang ada di hadapannya itu.
Tidak lama perhatiannya teralihkan lagi saat melihat kemunculan kedua dari seorang wanita yang membuat matanya terbelalak. Orang yang sedang menghakimi tatapan Hyerin saat itu tidak salah lagi dia yang selama ini mengganggu ketika Hyerin masih menjadi manusia biasa.
Mata Hyerin langsung menilai sesuatu yang sudah berubah. Mulai dari kemunculan orang berbeda dari tempat itu dan juga obrolan yang dikatakan lelaki tadi. Dia sedikit berpikir mungkin lelaki tadi tidak asal bicara juga.
"Mau bertemu Rai?" Cetus seorang wanita yang lebih terbiasa nampak centil dan percaya diri.
Hyerin hanya mengangkat sebelah alisnya, dia tidak bisa diam saja jika sekarang nama Rai sudah disebut-sebut.
Dan wanita itu siapa? Mengapa selalu menjadi penguntit hidupnya sekarang, bahkan wanita itu menyinggung tentang Rai. Dia sebenarnya wanita seperti itu?
Batin Hyerin hanya bisa bertanya-tanya. Dia memang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rai, tapi dengan mendengarkan perkataan dari orang asing tidak menjamin jika kata-katanya itu bukan kebohongan.
Hyerin menyikapi wanita itu dengan hati-hati, kali ini dia bukan lagi Hyerin yang ceroboh, dengan banyak ingatan yang bisa diingatnya sudah cukup membuat Hyerin lebih banyak tahu tentang orang-orang terutama orang asing yang baru saja dia temui.
Alih-alih menjawab Hyerin malah membalikkan tubuh bersikap seperti tidak terlalu tertarik dengan obrolan cetus dari wanita itu.
"Baiklah untuk bertemu Rai bisa dilakukan nanti." Ucap wanita itu masih terdengar angkuh. "Dan itu semua tidak akan terjadi tanpa seizin dari ku!" Sambungnya lagi.
Hyerin hanya bisa terkejut mendengar kata-kata yang sedikit menyinggung hatinya. Memangnya siapa dia? Mengapa semua harus atas izin dari wanita asing itu? Pikir Hyerin mulai merasa kesal.
Hyerin masih tidak menggubris ucapan wanita itu yang terdengar seperti sedang memancingnya untuk percaya atau hal lain di luar dugaan.
__ADS_1
Dengan perasaan terpaksa Hyerin hanya bisa melangkahkan kaki pelan menuju ke arah pintu.
"Aku mau bertemu Rai dulu ya!" Terdengar lagi sebuah perkataan yang tampak memanaskan perasaan Hyerin.
Hingga langkah Hyerin terhenti dan tidak tahan. Mendengar kata-kata dari wanita asing itu membuatnya sudah bisa hilang kendali dan marah.
Saat membalikkan tubuhnya ke arah dimna wanita itu berdiri, ternyata sekarang di sana sudah tidak ada siapapun lagi. Dengan berat hati Hyerin harus pergi dari tempat itu secepatnya. Kemanapun membawa hatinya yang sangat kesal dan cemburu.
Hyerin tiba di sebuah tempat yang lebih sepi dari orang-orang. Di sana tidak ada siapapun selain dirinya sendiri dan semua pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.
Dia menghela napasnya lagi. menghembuskan nya pelan.
Sekarang tidak ada orang yang bisa dia percayai, Hyerin perlu memikirkannya sendiri tentang semua fakta dan ucapan dari orang-orang yang membingungkan.
Kenapa harus seperti ini alurnya? Batinnya menghardik kesal.
Ken muncul dan mengatakan semua tentang orang-orang di gedung itu yang sudah berubah. Sebaliknya penghuni gedung tidak mengatakan apapun meski seharusnya kedatangan Hyerin menjadi satu-satunya alasan yang akan mereka tahan karena setelah insiden itu. Mengapa kali ini tiba-tiba hati Hyerin memihak kepada Ken? Batinnya sedikit percaya dan sedikit ragu tentang Ken. Tapi apa daya kan? Dia tidak bisa menjadi ceroboh dengan mempercayai Ken begitu saja.
"Kamu sudah bertemu dengan orang-orang?" Tiba-tiba sebuah suara menghalau lamunan Hyerin.
Ken sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah ku jelaskan orang-orang berubah, di sini semua keadaan sudah berubah termasuk Rai. Kamu tidak akan menemuinya lagi dimana pun." Ucap Ken.
Hyerin sedikit tertarik dengan pernyataannya itu.
"Lancang!" Ucap Hyerin kesal.
__ADS_1
"Itu kenyataannya. Silahkan cari sendiri Rai dimana saja, Rai sudah tidak ada."
Hyerin tidak ingin mendengar kata-kata dari siapapun yang akan membuat batinnya sakit. Dia segera pergi ke tempat lain dan tidak berniat untuk ditemukan dengan mudah.
"Mengapa orang-orang mengatakan seolah Rai tidak bisa dia temui lagi?" Batin Hyerin yang tidak bisa menampik jika pikirannya terus memutar teka-teki yang sangat mengganggu.
Hyerin tampak bingung menatap tanah dan langkah kakinya. Dia bingung kemana seharusnya dia pergi? Dan apa ada orang yang bisa dia temui? Perasaan ini kembali terulang, dimana dia harus bingung sendiri menghadapi banyak pertanyaan batinnya dan semua kenyataan yang dia rasakan sama seperti dulu. Kenyataan itu sama seperti ketika dia tidak mempunyai satupun teman yang bisa dipercaya bahkan teman untuk bertanya.
Langkah kakinya terhenti lagi, Hyerin mengingat gedung rumah sakit itu yang belum dia datangi lagi, seharusnya cukup aman untuk menghindari iblis di sana.
Hatinya ragu lagi, Hyerin tidak bisa tahu mengapa sekarang dia ragu untuk mendatangi tempat itu. Perasaan takut setelah kejadian terakhir ketika iblis itu menghabisi Sani di depan matanya. Dan rasanya kejadian itu belum lama terjadi, seperti baru saja terjadi di depan matanya.
Akhirnya Hyerin hanya bisa duduk diam dengan hati yang sangat tertekan. Dia tidak bisa diam dan dia juga tidak bisa melakukan apapun. Setengah frustrasi perasaan yang membuatnya ingin menangis.
Ketika semua kejadian seperti tidak memberinya sebuah tempat dan bernapas, perasaan yang seolah mengubur dalam-dalam pikirannya ke dasar yang paling gelap. Menyudutkan dirinya dalam keadaan serba salah. Dan waktu seperti sudah meninggalkannya sendirian dengan semua masalah yang harus dia selesaikan.
"Yerin aku tidak berharap bertemu di tempat ini." Terdengar sebuah suara yang kembali menghalau lamunannya.
Hyerin mengalihkan penglihatannya dan mendapati sebuah wajah asing di depan matanya.
Sebelah alisnya terangkat menatap heran seseorang yang berdiri percaya diri di hadapannya saat itu. Hyerin terus memaksa otaknya untuk menggali dalam-dalam semua ingatan yang akan mendeskripsikan asal-usul orang yang ada di hadapannya sekarang. Tapi ternyata tidak ada satupun ingatan tersisa tentang orang itu. Hyerin tidak tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya dan mengatakan namanya itu dengan sebutan akrab.
"Ternyata kau benar Yerin, kan?" Ucapnya lagi.
Hyerin masih tidak merespon. Dia menghindari kontak mata langsung dan percakapan dengan orang yang menurutnya so kenal itu.
Sekarang apa lagi? Dan siapa lagi? Kenyataan apa yang akan membawanya dalam situasi seperti ini?
__ADS_1