
"Kak!" Panggilnya lirih hampir tak terdengar. Hyerin melihat mata sayu seolah berbicara padanya, meminta sebuah pertolongan dari orang asing yang berharap bisa membantu.
"Cerita sekarang?" Tanya Hyerin memastikan.
Anak kecil diam lagi, keraguannya mungkin karena rasa bingungnya sendiri untuk mengawali pembicaraan dari bagian mana.
"Aku cerita sama Kakak?" Ucapnya masih memperlihatkan ragu.
"Semua akan baik-baik saja, kita akan melewati masalah dan menyelesaikannya. Kamu akan baik-baik saja." Hyerin seolah memberinya inspirasi sekaligus keyakinan untuk anak yang sedang memandanginya.
"Ibu, dia pergi. Aku sendiri mencari Ibu tapi tidak ada " Ucapnya terlihat sedih.
"Pergi? Dia sendirian pergi?" Tanya Hyerin selidik.
Anak itu menggelengkan kepala pertanda mungkin saja seseorang bersama Ibunya atau orang lain membawa Ibunya.
"Apa ada om jahat? Lelaki atau perempuan yang tidak Adik kenal?"
"Iya." Jawab Adik singkat.
Hyerin mulai khawatir jika masalah itu tidak biasa. Bukan orang yang membawa Ibunya pergi, melainkan iblis. Cukup masuk akal karena mana mungkin anak kecil bisa langsung melakukan perjanjian iblis itu.
"Dia jahat menyeramkan? Monster?" Tanya Hyerin.
Tiba-tiba anak kecil itu menangis membuat Hyerin kaget. Apa mungkin artinya benar?
"Udah yang penting Adik gak akan ketemu lagi sama orang jahat." Hyerin mencoba menenangkannya.
"Aku takut Kak." Isak tangisnya.
"Memangnya Mama Adik udah pergi lama banget ya?" Tanya Hyerin.
Adik menganggukkan kepala hampir tidak bisa dipercaya.
__ADS_1
Hyerin menatap waktu yang terus bergulir, detik demi detik dia tidak bisa terus mengobrol seperti ini. Nanti setelah waktu berganti apa yang akan terjadi? Dia sendiri tidak tahu.
"Adik mau tetap di sini kan?" Tanya Hyerin.
Anak kecil itu menganggukkan kepala lagi.
"Sekarang cerita ya sama kakak, apa di sana banyak om jahat?" Hyerin masih terus bertanya dan hampir sedikit lagi menemukan jawaban yang dia harapkan.
"Banyak." Jawabnya singkat. Hyerin semakin gusar dia tidak bisa berdiam diri dan hanya sekedar ngobrol saja.
"Sekarang ikut kakak ya!" Ajak Hyerin tiba-tiba. "Kita cari Kakak yang tadi dan akan ikut Adik juga, kita cari Ibu sama-sama." Bujuk Hyerin. Tanpa harus mencari setelah memikirkannya saja langsung muncul Rere menghampiri setelah menatap Hyerin heran.
"Kenapa?" Tanya Rere khawatir.
"Kita pergi, Re. Ke tempat sebelumnya." Hyerin memang terbilang terlalu terburu-buru mengambil keputusan.
"Ke sana? Lagi?" Rere nampak kaget. "Kamu gak bercanda? Gimana kalau waktu kita sebenarnya sebentar lagi, mepet Re. Aku gak berani ke sana lah." Rere berterus terang, dia memang sangat takut setelah melihat satu persatu roh itu lemah ketika kabut itu datang lagi, dan bagaimana dengan dirinya? Jika kembali taruhannya terlalu besar.
"Kita harus kesana sekarang. Aku tahu di sana banyak iblis Re, kemungkinannya di sana sudah banyak orang yang melakukan perjanjian dengan iblis." Terang Hyerin menjelaskan kekhawatirannya.
"Kamu jangan bercanda, dia anak kecil dan kamu langsung percaya?" Rere masih bersikeras dengan keputusannya.
"Kita gak akan pernah tahu kalau kita terus diam saja di sini. Kita harus memastikannya sekarang." Sengit Hyerin, dia memang tidak bisa sabar lagi. Tapi melihat Rere yang keberatan dengan keputusannya Hyerin segera memutuskan caranya agar cepat pergi ke tempat itu. "Aku pergi sendiri. Kamu baik-baik saja di sini." Ucap Hyerin jutek, dia sangat kesal karena sebenarnya tujuan mereka sama tapi Rere selalu keberatan tanpa mencobanya dulu.
"Kamu jangan gitu dong!" Rere tak kalah lebih galak. Nada bicaranya bahkan cukup membuat Hyerin tersinggung.
"Kamu kan mau disini, udah silahkan boleh kok di sini aku gak keberatan. Lagian hanya aku kan yang bisa melewati dan mengusahakan semuanya sendiri. Aku akan membereskannya." Balas Hyerin, meski sangat marah tapi sekuat tenaga dia tetap menenangkan hatinya.
"Bisa kamu sendirian?" Tanya Rere terdengar menantang. Hyerin tak berharap Rere seperti itu, dia ingin Rere sedikit saja bisa diajak kerjasama dan ikut dengan rencananya.
Alih-alih menjawab Hyerin langsung pergi saja tanpa pamit, bahkan Hyerin tidak butuh persetujuan Rere lagi untuk rencananya sekarang.
****
__ADS_1
"Kakak marah-marah." Celoteh Adik saat sampai di tempat sebelumnya.
"Gak kok, kakak tadi dan Kakak hanya sedang saling memperingatkan. Kalau sama temen emang kadang bisa seperti itu kan." Jawab Hyerin.
"Sekarang kamu bawa kakak ke rumah, ya!" Saran Hyerin langsung tanpa basa-basi lagi.
"Ke rumah Ibu?" Tanyanya.
"Ia, kita ke rumah. Kakak pikir harus cari sesuatu dari sana sebelum kita cari ibu." Kilah Hyerin, sebenarnya dia ingin tahu lokasi pasti asal anak kecil itu, kemungkinan di sana pasti ada iblis kan?
"Baik, Kakak ikut aku ya!" Ucapnya dengan cara bicara yang sudah berubah. Bahkan satu detik ini dia terlihat ramah.
"Kita pergi sekarang!" Seru Hyerin sedikit senang.
Di sepanjang jalan tidak ada pikiran apapun yang bisa meragukan rencananya ini. Hyerin butuh semua informasi yang mungkin orang lain tak pernah memikirkannya, tapi dia juga tidak bisa terus hidup dan menunggu waktu saja karena dari waktu ke waktu keadaan semakin membuat jantungnya berdebar saja.
"Kamu biasa lewat sini?" Tanya Hyerin saat masih berjalan, dan selama itu Adik tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk berhenti.
"Adik gak tahu jalan lain, makanya Adik jalan lewat sini." Alasannya memang masuk akal. Hanya anak kecil, jika mengharapkan agar sesuai dengan ekspektasi nya itu tidak mungkin.
"Banyak banget orang di sini." Komentar Adik.
"Disini ramai sekali, Adik suka kalau lewat sini karena banyak teman." Ucapnya.
Hyerin terlihat mengangkat sebelah alisnya, menatap heran lagi.
"Teman? Banyak banget ya teman kamu?" Cetus Hyerin.
"Itu. itu!" Tunjuk Adik menunjuk satu persatu manusia di tempat itu. Hyerin terbelalak melihatnya. Adik berteman dengan manusia? Manusia di sini bisa melihat roh?
"Mereka bisa lihat kamu?" Hyerin semakin antusias mengajaknya bicara, dan pertanyaan Hyerin dibalas dengan sebuah anggukkan lagi.
Jika diamati di tempat ini antara kehidupan manusia dan roh terasa seimbang, jumlahnya juga mungkin sama. Karena dari tadi Hyerin memperhatikan banyak sekali manusia dan roh yang tak kalah banyak. Apa itu artinya di tempat ini tidak mengalami insiden itu? Pikir Hyerin teringat dengan seragam kabut itu.
__ADS_1
"Selain mereka yang lihat kamu, apa mereka juga lihat om jahat?" Pertanyaan Hyerin memang tidak masuk akal, mana bisa manusia melihat iblis langsung, kecuali jika manusia yang terlahir dengan kemampuannya.
Tak disangka Adik menganggukkan kepala berarti benar. Hal itu seolah langsung membuatnya susah bernapas saja, baru kali ini Hyerin tahu sesuatu di luar nalarnya jika saja semua yang dikatakan Adik benar. Tapi jika melihatnya sebagai anak kecil Hyerin harus lebih memastikannya lagi.