
"Rai!" Ucap Hyerin terdengar lirih.
"Dari tadi menguping? Sampai hapal gitu." Cetusnya.
Hyerin terperanjat segera saat lelaki itu semakin dekat jaraknya. "Ngapain malah deket-deket?" Teriak Hyerin tak terima, dia sampai segera menjauh.
"Dari tadi juga udah disuruh pulang, nah malah melamun terus. Pasti banyak banget beban ya!" Ucapnya asal.
Hyerin terdiam lagi, tapi sekarang dia harus bisa yakin jika orang yang sedang berdiri di hadapannya bukanlah Rai yang sama. "Suka-suka ku dong protes terus." Hyerin segera memalingkan wajah dan kembali berjalan menjauh dari lelaki itu.
"Aneh banget gitu aja langsung pergi." Gerutunya.
Namun saat Hyerin mulai melangkah semakin jauh tiba-tiba lelaki itu yang bernama Rai sudah kembali berdiri di hadapan Hyerin dan terus berusaha menghalangi Hyerin untuk berjalan.
Hyerin masih terdiam, tapi bukan karena dia sudah mengalah hal itu hanya karena pikirannya tadi benar-benar langsung kembali membayangkan Rai yang sangat dia kenal.
"Udahlah sekarang ikut ya!" Tanpa sebuah persetujuan dari Hyerin, lelaki itu langsung menyeret tangan Hyerin hingga tanpa perlawanan Hyerin sudah pergi bersamanya.
Secepat seperti satu tarikan napas dan satu hentakan kaki saat melangkah, atau seperti satu kedipan mata. Hyerin sudah berada di tengah-tengah banyak orang yang berdiri memperhatikan ke arahnya.
Hyerin tak pernah membayangkan sebelumnya jika dia akan pergi ke tempat asing bersama orang asing dan menemui banyak orang Benar-benar sebuah kejutan yang tak terduga.
"Wah sudah bawa masalah baru lagi ya." Celoteh seseorang tepat saat Hyerin baru saja tiba bersama Rai.
"Gak apa-apa kan, lagian dia masih waras masih bisa kita andalkan." Jawab Rai membuat Hyerin langsung mengerutkan dahinya.
Rai sekejap membalas tatapan Hyerin, yang dari sorot matanya Hyerin memperlihatkan amarah yang begitu besar. Tapi tidak ada satu kesempatan yang akan membuat Hyerin meluapkan semuanya. Sekarang bukan waktunya yang tepat untuk bisa membuat Hyerin mengatakan makiannya di hadapan semua orang, bagaimanapun Hyerin masih mempunyai harga dirinya.
__ADS_1
"Udah gabung sana!" Rai tiba-tiba mendorong tubuh Hyerin hingga dia berdiri sendiri di depan dengan perasaan kikuk.
Hyerin ingin sekali protes setelah diperlakukan tanpa adil dan kali ini dia dipaksa untuk mempermalukan dirinya sendiri.
"Kamu mending gabung sini!" Hyerin terperanjat lagi saat seorang perempuan yang langsung menghampirinya dan menariknya untuk bisa berbaur dengan semua orang di sana. Sedikit membantu juga, karena Hyerin tidak perlu terlalu pusing akan berbuat apa.
Sedangkan Rai, lelaki itu sudah asyik mengobrol dengan para lelaki yang duduk memisahkan diri.
Untuk kali ini Hyerin hanya bisa diam saja, dia memang orang asing dan tak mungkin bisa langsung berbaur dengan semua orang.
Dari matanya Hyerin mulai melihat tawa orang-orang, rasanya semua suasana ini masih sama persis seperti suasana di dunianya. Tapi kenyataannya Hyerin sudah duduk di dimensi berbeda yaitu dunia manusia seutuhnya. Hyerin masih tidak menyangka jika dengan cara ini dia masih bertahan, memilih pergi meninggalkan dunianya dan datang ke dimensi manusia yang dia sendiri tidak tahu akan bagaimana. Itu artinya Hyerin akan kembali mempelajari banyak hal dari awal.
Hyerin masih menundukkan wajah, rasanya beruntung sekali karena dia tidak banyak ditanyai oleh orang-orang itu, Hyerin tidak terlalu diajak mengobrol. Hal tersebut sangat membantu.
"Kamu udah lama disini?" Saat melamun Hyerin mendengar suara yang seperti tertuju padanya. Hyerin berbalik dan melihat seseorang sedang bertanya padanya.
Hyerin tersenyum singkat dan kembali berbalik menyembunyikan wajahnya.
"Lumayan lama." Jawab Hyerin singkat seolah perkataannya itu ketus.
"Dari kapan bertemu Rai?" Tanyanya lagi.
Hyerin sedikit tertegun, hatinya merasa ada maksud lain dari pertanyaan orang yang masih dekat menghadap ke arahnya.
"Baru tadi ketemu." Jawab Hyerin, dia masih berusaha agar bisa menjawab pertanyaan orang lain meski memang Hyerin tak bisa menyembunyikan perasaan tidak nyamannya.
"Oh baru tadi. Udah tahu siapa Rai? Pernah mendengar ceritanya?" Tanyanya lagi kembali mengundang rasa penasaran.
__ADS_1
Hyerin mulai tampak tertarik untuk mencari tahu tentang Rai. Dia tak berharap jika Rai tadi adalah Rai yang sama, tapi entah mengapa untuk saat ini Hyerin sedikit terganggu dengan kenyataan.
"Rai katanya udah lama banget di sini. Dia satu-satunya dewa kematian disini dan selain dirinya katanya Rai adalah iblis juga. Aneh banget kan ceritanya." Terangnya yang entah mengapa Hyerin harus mendengar banyak pernyataan dari orang lain yang membingungkan.
"Dia iblis tapi dewa kematian juga?" Ucap Hyerin seolah tak percaya.
"Begitulah katanya. Padahal itu bukan sesuatu yang aneh lagi kan? Kau saja tampak seperti dia."
Hyerin langsung memutar bola matanya menatap lawan bicaranya dengan tajam hingga orang itu menjadi diam. "Sama? Kau pikir sama?" Tukas Hyerin berbicara dengan nada bicara seolah tak terima.
"Sepertinya sih. Kalau kau iblis juga tenang saja selama bersama dia kau bisa aman!" Tak mengindahkan perkataan Hyerin orang itu malah membuatnya menjadi benar-benar marah. Siapa yang bisa menerima jika ada seseorang yang mengatakan jika dirinya adalah iblis.
Hyerin diam saja tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah tanda dia tak ingin bicara lagi.
"Gak biasanya loh Rai bawa orang segampang itu. Aku gak setuju juga dia bawa kamu kesini." Pernyataan ketusnya membuat telinga Hyerin memanas, dia tidak bisa terima dan benar-benar ingin marah.
Hyerin berbalik lagi menatap orang itu yang dimatanya sangat angkuh, entah apa maksudnya padahal Hyerin tak memulai sesuatu yang buruk tapi kenapa dia harus berurusan dengan orang sepertinya.
Tak lama menahan amarah yang sudah mendesak di dadanya tiba-tiba Hyerin merasa seseorang sudah menarik lengan tangannya. Saat berbalik Hyerin melihat seorang lelaki lagi, jika dia tegaskan lagi dan kembali melihat dalam jarak yang dekat Hyerin merasa seperti bukan sesuatu yang asing lagi.
Di satu sisi Hyerin merasa sedikit beruntung dengan cara yang tak diduga dia berhasil tak berurusan dengan wanita itu.
"Kau Ras campuran jadi sebaiknya cepat pergi!" Lelaki yang dia duga sudah menolongnya malah melontarkan kata-kata yang membuat Hyerin langsung membulatkan matanya.
"Cepat pergi sekarang! Jangan harap kita mau berurusan dan dekat dengan iblis." Ucapnya lagi setengah membentak.
Hyerin tak mengerti apa yang salah dengan dirinya? Orang-orang mengatakan dia adalah iblis, apakah memang seperti itu?
__ADS_1
Saat la berpikir tak disangkanya lelaki itu langsung mendorong tubuh Hyerin hingga terpental cukup jauh, beruntung seseorang langsung menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke tanah.
Hyerin diam dalam bingung, dia berbalik dan melihat orang yang menangkap tubuh ya adalah orang yang mereka katakan adalah Rai.