Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Pilihan Hyerin


__ADS_3

"Jangan egois, wanita ini harus tetap selamat!" Tegas lelaki itu semakin memperkeruh suasana karena emosi Ken akan melonjak.


Ken memandanginya dingin dan melihat sebelah tangannya sudah dicegah oleh kedua orang asing yang wajar saja Ken tidak bisa menerima sikap mereka.


"Ada alasannya?" Tanya Ken singkat yang masih berusaha tidak mengalihkan perhatian pada Hyerin.


Rere, sikapnya mulai berubah dari penglihatannya Ken dia pasti sangat banyak tahu tapi lelaki itu tidak menginginkan Rere untuk berterus terang, padahal jika yang mereka sembunyikan itu sesuatu yang baik untuk apa mereka tetap diam dan merahasiakan dari Ken? Itu kabar baik kan bukan sesuatu niat buruk?


"Diam saja! Yasudah tidak ada lagi alasan!" Ucap Ken tegas dan terdengar dia akan cepat pergi.


"Aku dan semua orang berencana membawa Hyerin sebagai jaminan.!" Cetus Rere yang langsung terdiam. Mungkin dia tidak percaya sudah mengatakannya.


"Apa yang sudah kau katakan?" Laki-laki yang selalu bersamanya langsung membentak Rere kesal.


Ken tersenyum sinis, dia sekarang sudah yakin jika tujuan mereka dan orang-orang di belakangnya sangat tidak baik.


Tanpa berbicara lagi Ken melepaskan tangan mereka dengan kasar seperti sedang mengungkapkan kekecewaan dan rasa marahnya.


"Kalian sama saja dengan iblis itu, kalian akan menyesal!" Tekan Ken sangat yakin.


"Jangan pergi! Tolong! Baiklah kau ikut aku akan mengatakan semuanya." Jelas Rere melanjutkan usahanya.

__ADS_1


Lagi-lagi Ken hanya bisa tertawa. Jelas sekali kan apa yang dipikirkan Ken saat itu, dia tidak bisa mempercayai perkataan mereka walaupun hanya sedikit, mereka sudah berbohong dan bagaimana itu bisa mudah untuk kembali percaya dan mengikuti rencana mereka?


Saat tangan Ken menyentuh tangan Hyerin tanpa basa-basi dan tanpa tanda apapun yang diperlihatkan Ken langsung menghilang dari pandangan mereka berdua. Setidaknya dia sudah berhasil bebas dengan mengalihkan perhatian melalui sikap Rere yang terus memohon hingga mereka lengah dengan sendirinya.


Setidaknya ini yang bisa Ken lakukan, dia sudah berhasil kembali bersama Hyerin dengan kondisinya yang belum stabil. Ken sangat tertekan dan bingung dengan semua yang akan dilakukannya dari sekarang. Bagaimana caranya menghadapi orang-orang seperti mereka, mungkin tidak menutup kemungkinan dia akan menemui orang yang sama dengan niat serupa tapi cara yang lebih membutakan mata, dan bagaimana dia menghadapi anggota kelompok iblis yang terus mengincarnya. Apa yang harus dilakukannya untuk keluar dari masalah terbesar itu? Ken duduk dan Hyerin yang tidak jauh duduk dan bertumpu pada bahunya. Mata Ken bergerak dan kembali mengamati Hyerin.


"Aku bingung, sekarang dengan cara apa kita hidup? Tidak ada jalan lagi!" Keluh Ken.


"Aku ingin mati saja!" Ucapan Hyerin langsung menyeberang ke telinga Ken.


Mendengarnya Ken terperanjat sadar dan langsung memperhatikan ke arah Hyerin. Ken memegang kedua lengan Hyerin dengan tatapan kaget.


Ken merangkul tubuh Hyerin dan menenangkannya. Bagi Ken dia bisa membayangkan bagaimana luka itu tertanam dalam di hati Hyerin dan membuatnya seperti sekarang. Sayangnya Ken tidak bisa mengembalikan Rai dan membuatnya hidup lagi. Satu-satunya cara hanya harus menyadarkan Hyerin dengan cara apapun itu.


"Kau harus hidup, kita harus menyelesaikan semuanya dan jangan meninggalkan masalah sebesar ini. Kau tahu, orang-orang akan tersiksa karena kita tidak melakukan apapun. Di luar yang tidak kau ketahui iblis itu sudah banyak berulah hingga semua orang akhirnya akan menyalahkan Rai!" Jelas Ken panjang lebar dan semakin gigih untuk meyakinkan.


Hyerin tertegun nampak sangat berpikir keras.


"Setidaknya ini yang terakhir." Ucap Hyerin.


"Kita harus menyelesaikannya." Sambung Ken.

__ADS_1


Keduanya sudah menyepakati tekad yang begitu saja terwujud. Hyerin dia sudah berubah dalam waktu yang singkat. Meski jauh dari dalam sorot matanya masih nampak kosong dan frustasi. Hyerin juga masih banyak diam tidak tertarik untuk berbicara banyak. Yang dia butuhkan sebuah ruang dan kesadaran yang hanya bisa dia kumpulkan sendiri.


Ken mematung diantara ruangan yang hanya ada dia dan Hyerin di dalam, meski keduanya hanya diam saja tapi tidak membuat Ken berhenti untuk berpikir agar bisa keluar dari masalah yang sudah menyeretnya. Kata-kata terakhir dari wanita di gedung sekolah sudah membuat kepercayaannya luntur. Sekarang, dimana pun kapanpun Ken tidak bisa percaya pada orang yang baru dia temui lagi. Ini untuk Hyerin dan keselamatannya juga. Entah apa yang akan terjadi lagi setelah ini rasanya ruang untuk bernapas pun semakin sempit.


Ken yang bingung merasa sudah menanggung beban dan menerima tanggung jawab yang sangat besar. Matanya terus melihat ke arah Hyerin, seorang wanita yang bisa dikatakan asing baginya. Tapi seperti apa yang dikatakan Hyerin, ini untuk yang terakhir kalinya dan dia harus bertekad untuk menang meski jalan yang akan ditempuh belum tergambar jelas akan seperti apa dan akan dimulai dari mana, setidaknya dengan tekad yang sudah Hyerin kumpulkan dengan susah payah harus dia dukung sepenuh hati.


Hyerin langsung menundukkan wajah, kemudian terdengar Isak tangis yang sangat dalam menyayat. Kem hanya bisa memejamkan mata, lagi-lagi dia merasa seperti ada dalam kondisi itu. Sejujurnya kehilangan akan terus membekas dan menjadi ingatan permanen.


Ken tahu ini sangat berat, tapi sekali lagi dia akan mencari jalan juga untuk Hyerin agar bisa menemukan cara, mungkin setidaknya dia akan melihat kenyataan dan kebenaran yang ditemukan sendiri.


Ken tak tahan, dia langsung menghampiri. Duduk menyandarkan punggung di tembok yang sejajar dengan Hyerin. Isak tangis itu terus terngiang jelas dan baginya akan terbiasa. Tak peduli mendengarnya setiap.hari jika dengan cara itu Hyerin bisa melupakan semuanya dan tetap teguh menjalankan rencana yang dia ucapkan dalam kesedihannya itu. Ken berharap tidak ada yang berubah.


"Kita akan pergi, hilang dan terus pergi kemanapun hingga dari pelarian ini keadaan semakin membaik. Kita butuh waktu untuk memulai dan mencari relasi dengan orang yang bisa dipercaya." Ucap Ken pada Hyerin.


Hyerin masih menangis.


Tapi Ken tidak ingin menunggu waktu terus berlalu hingga orang-orang itu menemukannya lagi.


Ken sudah mengatakan akan pergi, dia tidak butuh sebuah persetujuan. Dengan satu kali menyentuh tangan Hyerin yang masih bertahan di posisi duduknya. Mereka berdua langsung hilang dari edaran, kembali pergi ke tempat yang sementara akan membuat aman. Tidak butuh lama dia hanya ingin beristirahat sekejap mata itulah tujuan Ken.


"Kamu harus segera menyelesaikan masalah itu, cukup bersedih tapi tidak baik jika terus larut dalam kesedihan." Terang Ken di depan Hyerin yang masih menahan diri diam duduk dan tidak peduli dengan semua Yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2