
Perasaannya serasa runtuh seketika. Hyerin tidak kuat menahan kewarasannya saat melihat tubuh dari orang yang baru saja ia percayai sebagai teman sudah hancur terpisah menjadi beberapa bagian. Sangat ironis dan kejam. Tidak pernah ada yang membayangkan bentuk penyiksaan sadis yang dilakukan orang lain terhadap temannya itu. Hingga kesadaran Hyerin melayang tidak mendapatkan arah untuk berpikir waras lagi. Termasuk Rai, sangat terkejut melihat tubuh dari orang yang dikenalinya itu sudah tidak memiliki puing kemudian hancur melebur menjadi Abu seketika. Perasaannya hancur terkoyak oleh kenyataan yang langsung bisa ditebak nya itu. Pasti semua karena ulah iblis yang sudah lama tinggal di tempat ini. Rai sangat tidak menyangka iblis itu berani menampakkan sisi terburuk dari perbuatannya di hadapan dia sendiri dan di hadapan Hyerin. Namun kekuatan tidak membuatnya bisa lebih berani memperingatkan iblis untuk menghentikan semua kesadisan yang dilakukan di luar kendali.
Tubuh Hyerin segera dibawa ke luar dari gedung, Rai memilih keluar alasannya karena mungkin iblis itu bisa saja masih di dalam.
Dengan perasaan cemas dan bingung Rai berusaha menyadarkan Hyerin beberapa kali namun masih tidak ada responnya, seketika dia panik menatap Hyerin dengan penuh takut. Membayangkan jika Hyerin pergi lagi dari hidupnya untuk waktu yang lama sampai dia harus menunggu lagi. Rai tidak berharap hal itu akan terjadi karena dia tidak ingin usahanya tanpa membuahkan hasil.
Rai terus menatap Hyerin dengan optimis berharap Hyerin bisa segera sadar dan menerima semua yang sudah terjadi.
"AKEMI." Tiba-tiba teriak Hyerin langsung terbangun. Hyerin langsung menangkap satu pasang mata yang menatapinya dengan penuh khawatir. Bukan Akemi, yang ada di hadapannya adalah Rai. Dia segera terperanjat dan membenarkan posisi tubuhnya saat itu, melepaskan diri dari Rai dan bergerak sedikit menjauh.
Rai hanya membulat mendengarkan nama Akemi kembali disebut. Hyerin sudah sangat jauh mendapatkan ingatannya lagi. Mungkin kali ini dia bisa mengingat banyak hal lagi. Pikir Rai yang tidak pernah melepaskan pandangannya.
Sebaliknya Hyerin yang duduk lemas, tubuh yang masih merasakan gemetar membayangkan kejadian itu yang langsung merasuk ke dalam pikirannya, sesak yang memenuhi rongga dadanya sudah tidak bisa lagi dia keluhkan. Hyerin hanya bisa menahan semua ketir dengan mulut bungkam dan menatap nanar ke arah Rai. Dia tidak mengatakan apapun lagi, lidahnya terasa Kelu dan otaknya tidak bisa mengeluarkan setiap rincian hati yang ingin diungkapkannya.
Terlanjur tahu tentang orang yang mirip dengan Rai membuat Hyerin menumpahkan semua kekesalan dan rasa kecewanya pada Rai. Hatinya mengatakan jika Rai di balik semua kejadian ini.
Rai yang terus memandangi Hyerin masih terlihat menahan setiap kata yang meronta ingin keluar dari mulutnya. Dia bungkam membalas suasana bungkam dari Hyerin. Dia juga tahu jika akhirnya Hyerin akan menyalahkannya. Namun apa dayanya saat itu? Keadaan akan membuatnya semakin serba salah di mata Hyerin, apalagi jika dia menyangkal atau sedikit saja berbicara maka situasi akan lebih memburuk.
__ADS_1
"PEMBUNUH." Ucap Hyerin. Wajahnya sudah memerah menahan emosi yang semakin meluap-luap.
Rai terperanjat dia tidak menyangka jika Hyerin akan selesai itu sampai mengatainya sebagai pembunuh.
"Akan aku ceritakan." Ucap Rai tidak basa-basi.
Tapi Hyerin malah membalikan wajahnya, mengalihkan pandangan dari arah Rai. Dan dari arah yang berbeda Rai bisa langsung menyaksikan setiap bulir air mata yang akan memenuhi pipinya itu.
Sepenuh hatinya tersiksa menyaksikan Hyerin di depan matanya yang terpuruk menahan emosi.
Tiba-tiba Rai memeluk Hyerin dengan erat dan bertahan dari sikap penolakan Hyerin. Seperti tidak peduli, Rai membenamkan matanya sambil memeluk Hyerin mencari kenyamanan hingga sesuatu terjadi membuat ke dua mata Hyerin terbelalak dibuatnya. Rai tidak peduli, dia tidak akan terlalu bersalah jika kembali membawa Hyerin ke dunia nya, ke tempat dimana Hyerin tinggal di dunia manusia.
Tatapan Rai membalasnya dengan terheran, mendapati ekspresi Hyerin jauh dari yang dibayangkan seketika membuat Rai semakin panik. Rai hanya menundukkan wajah dan suasana seketika berubah lagi.
"Kenapa jadi berubah lagi?" Ketus Hyerin protes.
Namun Rai tidak bisa menjelaskannya, kekhawatirannya sangat tergambar jelas hingga dia tidak menghiraukan ucapan Hyerin hingga kekesalannya saat itu karena tidak mendapati Rai yang bisa segera menjawab pernyataannya.
__ADS_1
Sangat kesal dan Hyerin tidak bisa tahan, dia memilih melampiaskan kekesalannya dengan berlalu dari hadapan Rai saat itu juga. Entah berarti apa namun Rai tidak membiarkan Hyerin pergi dengan mudah, dia segera menahan tangan Hyerin tanpa berkata apapun.
Sebaliknya Hyerin yang juga membalas pandangan Rai dengan bungkam.
"Apa lagi?" Tanya Hyerin terdengar tegas karena marah.
"Tidak ada." Ucap Rai yang matanya sama sekali tidak bisa membalas tatapan Hyerin saat itu.
"Percuma saja." Protes lagi Hyerin yang langsung sekuat tenaga menjauhkan tangan Rai yang tidak mudah terlepas.
"Tunggu dulu!" Rai segera menahannya lagi. Namun lagi-lagi Rai masih menundukkan wajah, menunjukkan perasaan ragu yang benar-benar mengunci setiap alasan kata-kata dari mulutnya.
"Dasar pembohong!" Dengan mengabaikan Rai yang masih mematung.
"Tolong jangan pergi, semuanya akan ku jelaskan dari awal." Ucap Rai yang berusaha mencari alasan hingga sebuah kesimpulan meluncur dari mulutnya.
Namun pemandangan mengecewakan kembali membuat Rai akan putus asa jika saja Hyerin tahu tempat tadi adalah tempatnya mungkin Hyerin akan berekspresi lain. Tapi kenyataannya sama, meskipun Hyerin tidak menyadari tempatnya itu dia masih bersikap dingin kepada Rai.
__ADS_1
Rai tidak menahan lagi Hyerin dengan banyak alasan.
Ada sesuatu yang sudah terjadi dan di luar kendalinya.