Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Daerah asing


__ADS_3

Semua pasang mata seolah sedang memperhatikannya dengan teliti, melihat setiap inci bagian yang menempel ditubuhnya. Saat suara angin terdengar seolah sedang menghardik keberadaannya saat itu. Hyerin melangkahkan kaki yang tidak lagi bisa tenang untuk sejengkal pun pergi.


Wajahnya tertunduk berusaha bersembunyi dari semua yang bahkan tidak melihat ke arahnya sedikitpun.


Matahari terik tidak menghentikan tekad Hyerin untuk keluar ruangan mencari keberadaan Rai dengan sengaja. Dia tidak bisa begitu saja melupakan perjanjian dan harapan semua orang.


Dengan hati-hati semua pandangan ia bagikan ke setiap sudut dan tak hentinya kembali membalikan tubuh berharap ada Rai seperti biasa yang mengekor langkahnya. Namun kali ini raut kecewa nya menjelaskan bahwa Hyerin belum bisa menemukan Rai. Perasaan gelisah terus menyerang membuatnya gusar. Pikiran tentang nasib orag-orang terus menghantui, sampai Hyerin tidak bisa menentukan sendiri ke mana dia akan pergi sekarang.


Orang-orang mulai berkerumun di ruas-ruas jalan.


Diantara banyak orang dia tidak menemukan satupun yang dikenal sebelumnya, bukan kabar baik bagaimana jika dia sampai menjadi pusat perhatian di tengah keramaian orang dan insiden sebelumnya kembali menyerang.


Panas dingin hingga membuat ke dua tangannya gemetar, Hyerin tertunduk menahan diri merasa sudah sangat serba salah pergi ke semua tempat. Dia merasa ragu dan tidak aman.


Saat di alun-alun kota Hyerin mulai terpikirkan sebuah gedung tempat pertemuan sebelumnya, seketika dia berniat untuk pergi ke sana mungkin di sana tempatnya lebih aman. Simpulnya sambil dengan bersiap pergi. Tapi saat membalikkan wajah Hyerin sudah melihat seorang wanita tepat berdiri menghadap ke arahnya. Bagaikan menemukan seorang hantu di siang hari. Hyerin tidak bisa menahan hati nya terkejut, tapi saat wanita itu menyunggingkan sedikit senyum dengan ragu dengan tingkahnya yang hati-hati melihat ke sana kemari. Hyerin bisa menduganya jika wanita itu adalah salah satu orang yang pernah dia temui di tempat sebelumnya. Dengan isyarat wanita itu mengajak Hyerin untuk berjalan mengikutinya namun dengan langkah yang terjaga beberapa langkah.


Di sepanjang jalan Hyerin tidak melihat arah jalan yang sama, dia diarahkan ke jalan yang berbeda.


Apakah hal itu cukup aman? Pikirnya yang juga tidak melepaskan sedikitpun perhatian ke semua tempat.

__ADS_1


Sangat dalam memasuki hutan kota. Ketika hatinya bertanya-tanya tentang kemana sebenarnya dia akan pergi, hatinya menduga ada seseorang yang juga berjalan di arah yang sama, kakinya berhenti sejenak menoleh ke arah samping dari sudut mata dengan jelas melihat sosok Rai yang juga menghentikan langkahnya itu. Hyerin hanya bisa mematung membulatkan mata kali ini dia yakin Rai sebenarnya mungkin sudah mengikuti mereka sejak awal.


Rasanya ingin berteriak seketika tapi bibirnya benar-benar terkunci karena rasa takutnya lebih besar. Hyerin hanya melihat wanita itu yang masih berjalan memandu di depan. Tanpa berpikir lain Hyerin menghentikan kakinya berniat menahan Rai, dia membiarkan wanita itu yang terus berjalan mungkin masih mengira jika Hyerin mengikuti dari arah belakang. Dengan sigap Hyerin berlari ke arah yang berbeda, dia berlari ke arah sebaliknya berniat untuk menghampiri Rai yang sudah terlanjur basah ditemukan. Tapi dari penglihatannya Hyerin kembali kehilangan sosok Rai. Dia kemudian berlari ke sembarang arah dengan frustrasi dan mengira jika Rai sudah melakukan sesuatu hal tanpa sepengetahuannya. Tanpa aba-aba secepatnya Hyerin berlari ke arah dimana dia terakhir kali melihat wanita itu, mungkin sudah sangat jauh ke depan sana jejaknya sampai tidak terlihat sama sekali.


Tanpa diharapkan suara jam dinding kembali berdentang seolah menjadi penanda menyeramkan di tengah hutan yang tidak menyisakan satu orang pun.


Matanya menangkap bagaimana hutan lebat tadi yang di penuhi pohon hampir tidak terlihat batasnya, tiba-tiba berubah dengan langit biru yang luas. Hyerin menatapnya bagaikan melihat pertunjukkan film 3 dimensi dimana perubahan yang sangat kontras terjadi dan dapat dilihat dengan jelas. Sekarang di sekelilingnya hanya sebidang tanah luas saja kosong tidak ada lagi pohon rimbun yang menusuk ke langit.


Dari telinganya terdengar suara gemuruh dari mesin besar, benar seperti dugaannya Hyerin melihat sebuah mesin besar seperti mobil sedang menggilas bebatuan hingga rata menjadi jalan. Akhirnya dia menyimpulkan jika hutan yang dia lihat sekarang sudah menjadi lintas jalanan yang sedang dikerjakan oleh tukang.


Hyerin menarik kembali kesadarannya yang sedikit terlena dengan pemandangan asing di depan mata, dia ingat harus kemana mencari wanita itu yang sudah hilang dari pandangan begitu pun dengan Rai yang masih belum kembali.


Tubuhnya terhentikan lagi, Hyerin sangat bingung karena dia merasa sudah melangkah lebih jauh namun masih tidak juga menemukan wanita itu maupun orang-orang yang mengutusnya juga.


"Orang bodoh pergi kemana saja seenaknya." Gerutu seseorang yang langsung bisa dikenali Hyerin dari suaranya.


Pupil matanya melebar seolah tidak percaya jika Rai sudah ada di belakang tubuhnya dengan jarak yang tidak jauh.


Hyerin menoleh dan melihat Rai dengan ekspresi seperti biasanya.

__ADS_1


"Apakah tidak ada ekspresi wajah yang lain?" Keluhnya dalam hati. Rai hanya semakin mempertahan tatapannya, jika sekilas melihat tatapan itu akan langsung membuat Hyerin bergidik ngeri.


Hyerin berhasil keluar dari dalam hutan. Di depannya sudah ada sebuah jalanan utama yang sangat bersih dan di pinggiran jalan penuh dengan rumput hijau dilengkapi beberapa kursi di setiap sisinya.


Pemandangan yang sangat asri, membuat dia tergoda untuk segera duduk di bawah pohon rindang dengan daun yang akan berjatuhan diterpa angin. Namun tanpa diduganya lagi sebuah tangan dingin mencengkram tangannya kuat, dengan setengah menyeret menggandeng Hyerin memasuki jalan utama dan berjalan di sepanjang jalanan.


Ada garis wajah yang rumit, tidak cendrung lonjong atau bulat. Proporsi wajahnya yang ideal untuk lelaki dengan rambut panjang sebahu. Pakaian kuno serba hitam tidak membuatnya menjadi kuno juga.


Ekspresi wajahnya yang mengesalkan sebenarnya tidak salah, jika dilihat semakin dekat hal itu malah menjadi nilai tambah tersendiri. Hyerin sedikit tertegun melihat wajah Rai untuk pertama kalinya dalam jarak sedekat ini. Seperti baru saja menemukan keindahan rona senang terpancar dari matanya. Saat berbalik menoleh sekelompok roh lebih banyak di tempat itu. Ada yang bergerombol berjalan dan berkerumun di beberapa bagian.


Matanya mengabsen satu persatu yang spontan membuat mentalnya kembali turun dan rasa takutnya mengambil kendali. Tangannya sedikit ditarik Hyerin berniat untuk membawa Rai ke tempat lain selain tempat itu. Namun Rai yang percaya diri balas menatap ke arah Hyerin dan memberikan perintah untuk tetap berjalan. Apakah mungkin itu maksudnya? Rai tiba-tiba menggandeng tangannya karena tahu di sekitar tempat tadi dan dari arah jalan mana pun lebih banyak roh yang berkeliaran. Hatinya menebak tanpa ragu.


Hyerin hanya bisa sedikit mengangkat wajahnya meski dengan ragu-ragu, mungkin juga kali ini kakinya sudah tidak benar melangkah. Entahlah... banyak sekali pikiran yang tiba-tiba kembali berkecamuk di ingatannya.


Dengan hati yang berdebar satu persatu dengan mulus Hyerin melangkah kan kakinya melewati orang-orang. Dia berjalan layaknya roh lain yang santai berjalan dan berlalu lalang di tempat tersebut. Pikirnya pun memberikan saran untuk tetap berjalan dan menjaga sikapnya agar lebih leluasa dan tidak menimbulkan kecurigaan pada setiap pasang mata yang sekilas melihat ke arahnya.


"Hah... Syukurlah." Sebutnya setelah berhasil melewati beberapa adegan yang mempertaruhkan seluruh penentuan hidupnya. Seolah seperti sudah berjalan lari maraton Hyerin menghembuskan napasnya dengan berat. Rai langsung melepaskan tangannya dia masih terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata pun meski di beberapa waktu singkat itu padahal dirinya dan Hyerin sudah sangat dekat.


Hyerin hanya menatapnya dengan terheran. Rai yang tidak merasakan kelelahan sepertinya kembali melanjutkan jalan tanpa memperhatikan ke arah Hyerin lagi.

__ADS_1


Hyerin hanya tercengang melihat sikap Rai, dia segera berlari menyusul karena jaraknya sudah sangat jauh. Ketika bersiap untuk berlari seseorang kembali melambaikan tangan dengan isyarat agar Hyerin segera mendekat. Hyerin tidak merasa bingung lagi, dia langsung bisa menebak jika orang itu sama seperti wanita tadi. Hyerin sedikit mengawasi Rai yang masih jauh berjalan di depannya, lalu sigap menghampiri orang tersebut dan bergegas pergi lagi ke dalam kawasan yang sudah dengan susah payah Hyerin tinggalkan tadi.


"Ini adalah tempat yang sama dan langsung akan menghubungkan ke gedung sebelumnya. Bagi roh biasa dia langsung bisa menyadarinya tapi bagi dewa kematian dia tidak akan pernah bisa ke tempat ini." Jelasnya sambil memasuki daerah yang menurut mata Hyerin tidak ada gambaran kejanggalan yang terlihat.


__ADS_2