Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Kejadian yang sama


__ADS_3

Jantungnya berdegup tak menentu, perasaannya naik turun tak tenang. Hyerin menatap lekat wajah Rere dan Ken yang ada di hadapannya. Perasaan paling ditakutinya langsung merasuk ke dalam pikiran Hyerin yang paling dalam, bagaimana jika Ken dan Rere langsung tiada karena sebab yang tidak bisa dicernanya.


Tak lama setelah berpindah tempat mungkin hanya butuh 3 detik untuk sampai ke tempat yang dipilih Hyerin, yaitu gedung sekolah. Terakhir kabar yang dia ketahui jika gedung sekolah ini tidak aman karena terlalu banyak orang di dalamnya yang berpihak dengan iblis, ditambah orang-orang pada waktu itu fokus menjadikan Hyerin dan Ken sebagai buronan mereka. Tapi entah bagaimana bisa Hyerin tak bisa memastikan karena belum pernah bertanya pada Rere, gedung sekolah ini menjadi tempat singgah kelompoknya dan menjadi salah satu tempat penyelidikan.


Setelah menyudahi rasa penasarannya tentang gedung ini Hyerin langsung mencari ke arah lain bahkan ke semua arah yang terlihat di depannya masih lapangan luas terbentang dan menghijau. Beruntung ada orang dari pengawasan Hyerin, dengan sigap dia langsung menghampiri seorang lelaki yang tak lain adalah teman Rere. Rasanya suatu kebetulan ini sedang berpihak pada keberuntungannya. Hyerin tak sabar lagi dia langsung menjelaskan jika Rere dan Ken pingsan diseberang gedung.


Bola mata lelaki yang menjadi teman Rere langsung fokus mencari Rere seperti yang disebutkan. Beruntung Rere masih di tempat semula.


"Gimana ceritanya ini?" Dengan perasaan panik dia bertanya pada Hyerin yang mematung. Tentu saja Hyerin tak bisa langsung menjawab karena dia masih merasa shock hingga akhirnya bungkam.


"Kamu sengaja ya membuat Rere seperti ini?" Tuduhnya yang langsung membuat Hyerin membulatkan mata.


"Tidak seperti itu, aku tidak pernah berniat jahat pada Rere, jika tak percaya lihat sekarang! Bahkan Ken juga pingsan." Terang Hyerin sangit, dia tidak terima jika dituduh mencelakakan Rere.


"Lantas kenapa Rere bisa pingsan seperti ini, jelaskan sekarang!" Tak kalah dengan nada bicara Hyerin dia bahkan lebih menaikkan nada bicaranya lebih dari Hyerin. Kalau Hyerin wajar saja dia karena merasa tak terima dituduh sesuatu yang tidak benar, tapi untuk teman Rere yang bertanya satu kepastian padanya tentu saja itu dirasa tidak baik. Bukannya semangat untuk menjawab menghadapi sikapnya saja yang menyebalkan membuat Hyerin terasa malas meladeni orang seperti itu.


Hyerin mendekat dan membulatkan matanya, di tatapnya dalam-dalam sepasang mata yang balas melihat ke arahnya. Tanpa mengatakan apapun, itulah cara yang dilakukan oleh roh maupun dewa kematian di tempat itu untuk memberitahu apa yang sudah dilihatnya pada orang lain.


Hyerin langsung memalingkan wajah saat dirasa cukup memberikan sebuah informasi penting tanpa harus bertele-tele dan membuang waktu.


"Sudah paham sekarang?" Tukas Hyerin yang menatap malas. "Tolong jangan pergi dari tempat ini, beritahu yang lain!" Saran Hyerin dan tanpa basa-basi atau menunggu satu kata yang diucapkan oleh lelaki di hadapannya, Hyerin memilih langsung pergi dari tempat itu karena merasa dia tidak dibutuhkan dan keberadaannya hanya seperti orang asing saja.

__ADS_1


"Kok bisa ya maen tuduh orang seenaknya." Gerutu Hyerin yang sepertinya sudah kehilangan sabar. Mau tidak mau Hyerin pergi ke tempat lain dengan membawa Ken bersamanya, dia merasa jengah dan tidak tenang jika harus terus berdiam diri di tempat itu.


"Kita ada dimana lagi?" Ucap Ken berusaha duduk membetulkan posisi tubuhnya, dia masih terlihat meringis menahan kepala dengan tangan kanannya, berpikir sesuatu terasa sakit di bagian dalam kepala seperti sensasi pusing.


Hyerin menatap Ken, di wajahnya masih tersisa rasa kesal yang tadi. "Di tempat aman." Jawab Hyerin singkat. Setelah melihat Ken yang sudah sadar sedikit membuat ruang tenang di dadanya, setidaknya Hyerin sekarang tidak memikirkan segala sesuatunya sendirian. Siapa juga yang sanggup sendirian kan?


"Si Rere gak ada?" Tanya Ken saat melihat di sekitarnya tak ada Rere.


"Udah sama temannya." Jawab Hyerin malas.


"Tadi kenapa sih kita sampe ada di sini?" Tanya Ken membuka pertanyaan yang dari awal langsung terpikirkan.


Hyerin diam tidak menjawab, wajahnya murung dan sudah sangat sesak menahan kesal yang menyelimuti hatinya.


Hyerin langsung menatap Ken tajam. "Terserah!" Balas Hyerin yang semakin tambah kesal. Lagipula siapa yang mau datang lagi ke tempat mereka, benar saja jika dipikir-pikir Hyerin merasa tenang dan nyaman jika hanya berdua dengan Ken. Tapi dalam kenyataan mana bisa mereka berdua menghadapi setiap perubahan dan banyak kejutan yang disuguhkan di dunia ini?


Duduk melamun memandang celah tembok yang nampak cahaya terang dari luar. Hyerin tidak tahu harus pergi kemana lagi, mungkin kali kedua ini dia dan Ken merasa bingung untuk pergi.


"Apa kamu pernah berharap agar semuanya cepat berakhir?" Tanya Hyerin disela-sela lamunannya.


Ken sampai memutar bola matanya heran menatap Hyerin.

__ADS_1


"Aku pernah dengar seseorang bertanya tentang akhir dari dunia ini, sesudah dari tempat ini kita akan kemana?" Hyerin masih berbicara meskipun hanya sepihak, karena Ken diam saja mendengarkan.


"Sebelum bertanya akan hal itu, kadang kita sendiri juga tidak tahu pasti mengapa harus datang ke dunia ini, kan!" Timpal Ken.


Hyerin hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Mendengar Ken berbicara seolah tidak asing lagi, dia juga mendengar hal yang sama dari orang yang berbeda. Ternyata memang tidak ada kebetulan, tepatnya semua yang tinggal di dunia ini sempat memikirkan hal yang sama juga termasuk dia sendiri.


"Kamu ingin tetap di sini?" Tanya Ken terdengar seperti sedang memastikan.


"Sampai waktu berhenti untukku, aku percaya semua orang memiliki tujuan. Termasuk semua roh yang ada di dunia ini." Celoteh Hyerin entah mendapat inspirasi dan kata-kata mutiara dari mana tapi dia mengatakannya seolah itu adalah alasannya sendiri.


Ken tertawa mendengarnya. "Bahkan setelah orang lain tiada kau mau tetap di sini jika itu takdir?" Gurau Ken sebetulnya itu hanya kata-kata yang spontan muncul di pikirannya saja.


"Maksudmu?" Tanya Hyerin serius.


"Tidak ada maksud apapun." Balas Ken tersenyum lebar saat Hyerin menatapnya serius.


Hyerin kembali memalingkan wajah ke sisi lain, dia cukup geram dengan lelucon yang sesaat berhasil menyinggung hatinya, bagaimana tidak? Sekarang dia bukan lagi roh biasa seperti Ken, dia tahu bahwa perjanjian itu sudah dilakukannya. Dan andai saja semua tahu jika perjanjian itu hal terlarang dan hina mungkin dia harus merasa tidak pantas untuk hidup di sudut manapun di dunia ini.


"Kau sudah melakukan perjanjian itu!" Celoteh Ken seolah dia sedang menginterogasi Hyerin.


Pernyataan Ken berhasil kembali membuat gemetar dan sesak lagi di dadanya. Bukan hanya orang lain dirinya juga sangat malu dan tidak ingin jika disebut sebagai dewa kematian pengganti.

__ADS_1


.


__ADS_2