
"Udah balik? Ken gimana ada?" Hyerin langsung disambut dengan pertanyaan Rere. Orang-orang diam di dalam gedung, jika dilihat lagi semuanya sudah sadar.
"Orang-orang sudah sadar Re?" Balas Hyerin yang malah balik bertanya. "Kalau lelaki tadi udah ketemu lagi?" Lanjutnya. Dari topik pembicaraan Hyerin tidak sedikitpun menyinggung lagi tentang Ken.
"Em. Aku masih tidak melihatnya di tempat ini, sepertinya dia sudah pergi ke suatu tempat." Jawab Rere menjelaskan apa adanya.
"Dia bukan roh biasa Re sama seperti ku." Terang Hyerin. Mendengarnya Rere melotot membulatkan mata, karena dari tadi dia tidak pernah berpikiran sampai ke arah itu. "Di luar tidak ada tempat yang terlewatkan oleh kabut itu. Kamu tahu kan artinya." Ucap Hyerin.
"Kamu yakin?" Rere tidak bisa langsung menerima perkataan Hyerin, dia tidak mungkin bisa percaya mendengarnya sekilas hanya seperti sedang bermimpi baginya.
"Memang seperti itu." Hyerin menjawab malas, dia diam lagi. Pergi berjalan di hadapan Rere tanpa mengatakan apapun.
Rere melihatnya bungkam, dia yakin pasti sudah terjadi suatu masalah dan itu ada kaitannya dengan Ken. Tapi dia bisa apa, pergi dari gedung ini saja tidak mungkin.
"Re, sekarang sudah semua yang sadar. Beruntung tidak berlangsung lama." Seseorang berbicara pada Rere, sedangkan mata Rere fokus memperhatikan Hyerin dari tadi. "Kamu sedang lihat dia lagi?" Tukasnya dengan nada bicara uang berbeda.
Senyuman mendarat di sudut bibir Rere seperti sudah cukup membalas pertanyaan temannya itu. "Kita akan lihat lagi selanjutnya." Gumam Rere hampir tak terdengar.
"Jadi gimana sekarang? Kita tidak boleh pergi dari tempat ini seterusnya?" Seseorang berbicara lantang. Bicaranya seolah sedang memancing seseorang yang seharusnya dari tadi menjelaskan semua.
"Udahlah jangan memperkeruh suasana, kalau masih sanggup silahkan saja pergi keluar." Seseorang terdengar meredam sebuah provokasi yang sedang dilakukan lelaki itu.
__ADS_1
"Kalau saja tempat ini masih aman da senyaman sebelumnya, sekarang kalian tahu apa yang menyebabkan semua ini?" Pancingnya lagi membuat bola mata Hyerin sedikit bergerak memperhatikan ke arahnya.
"Iblis dan pengikutnya." Sambungnya lagi terdengar mengarang cerita hingga terdengar desas desus dari bagian orang-orang yang sudah berkumpul.
"Sembarangan, emangnya ada yang mau jadi pengikut iblis? Ngarang saja!" Balas yang lainnya masih berusaha membuat lelaki itu diam.
"Tentu saja, kalian ingat dengan isu yang menyebar dan sampai ke telinga kita?" Ingatnya. Tentu saja maksud dari perkataannya adalah tentang Rai yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis itu dan juga Hyerin. Sekilas mendengarnya bagi Hyerin dia sudah bisa langsung tahu, apalagi Rere dan temannya itu.
Tak disangka beberapa pasang mata memperhatikan ke arah Hyerin yang sedang sendirian duduk di kursi seorang diri berbaur di tengah orang-orang.
"Udah punya buktinya? Ngomong sampe dana kok berani banget ya, siapa sih? Mau cari musuh di tempat ini?" Bela Rere terlihat sudah emosi.
Pemandangan yang terjadi sekarang hanya perseteruan Rere dan seorang lelaki yang masih berdiri di hadapan semuanya. Rere tak terlalu mempermasalahkan jika dia menjadi tontonan beberapa pasang mata, atau menjadi bahan pembicaraan dari mulut ke mulut. Dia hanya tahu jika lelaki itu sedang memprovokasi orang-orang dan membuat semuanya menjadi seperti yang dia inginkan.
"Coba semuanya tolong perhatikan, jika ada yang keberatan tinggal di sini silahkan keluar sekarang! Kalau mau mati bagus jadi pengikut dia. Saya gak pernah berharap ada permusuhan di sini di tempat yang terbatas oleh ruang." Hyerin tiba-tiba berbicara menengahi perdebatan antara Rere dan lelaki itu.
"Sekarang saya tanya, kamu tahu bagaimana situasinya di luar?" Tanya Hyerin terlihat masih emosi.
Terlihat lemah lelaki itu menggelengkan kepala.
"Sekarang coba buktikan, kalau kamu menyebut dirimu benar sekarang kamu pergi keluar dan cari semua informasi sendirian. sekarang!" Tukas Hyerin yang tidak sedikitpun menurunkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Diam terus. Gak bisa kan?" Tekan Hyerin.
"Kalau masih butuh orang, stop diskriminasi. Mau dia siapa selagi bisa peduli dengan hidup orang sepertimu yang gak berarti udah jangan jadi orang so benar. Mau kaya gini terus?" Hyerin masih memperdengarkan suaranya yang lantang. Bagi siapapun yang mengenal Hyerin pasti tidak akan pernah bisa percaya, karena Hyerin cenderung pendiam bukan orang yang gampang ikut campur dalam urusan umum.
Hyerin masih berusaha meredam emosinya uang naik turun, dia tidak bisa diam saja jika orang yang sedang berniat membuat kemarahan tidak penting di tengah orang-orang yang sedang bingung dengan hidup matinya.
"Sekarang tolong dengarkan. Kita semua di sini tidak ada satupun yang tahu tentang masa depan, mau seperti apa itu dengan cara bagaimana, tolong saya tidak mau ada permusuhan yang akan mendorong kita semua untuk mati lebih cepat. Jangan bodoh! Jangan dibodohi!" Jelas Hyerin, matanya yang tidak sedetikpun lolos melewatkan wajah lelaki yang sudah berani membicarakan sesuatu hal yang salah.
Hyerin tak berharap setelah dia berani bicara akan ada orang yang mau mendengarkan pendapat pribadinya, dia tidak butuh itu. Mau hidup atau mati, tentang keduanya percuma karena di tempat yang penuh teka-teki seperti ini hanya akan terus menyiksa secara perlahan.
Tak lama saat Hyerin diam, terdengar sorak suara menyusul tentu saja mereka sedang merendahkan lelaki yang sudah berani berbicara tadi. Hyerin tak melihatnya dan tak berniat untuk mempermasalahkannya lagi, biarkan saja karena ada saatnya orang belajar dari orang lain.
"Yerin!" Panggil Rere berlari ke arahnya.
"Kamu hebat!" Puji Rere yang tampak senang. Hyerin hanya mampu sedikit tersenyum padanya meski tanpa mengatakan satu katapun. Karena yang paling membuat perhatiannya mendominasi hanya perasaan dirinya sendiri. Hyerin tidak tahu dimana Ken sampai sekarang, kenyataan itu sudah mengalihkan separuh dunianya.
Memiliki tubuhnya yang sekarang memang memberinya banyak keuntungan, sebab karena itu Hyerin tidak mengalami banyak situasi sulit untuk tinggal di dunia ini. Tapi sisi buruknya dia tidak tahu bagaimana akhir dari hidupnya ini, apakah dengan keadaannya sekarang sudah cukup?
Tapi untuk apa, karena akhirnya orang-orang pergi dari sisi hidupnya.
Semua yang sudah dilakukannya menang tidak pasti diselimuti keraguan yang masih membekas hingga kini. Dia sendiri sudah melakukan sesuatu yang salah, hidup dengan melakukan perjanjian bersama iblis seolah langsung menjadi sekutunya. Sangat menjijikan.
__ADS_1
Di pelataran teras gedung kini tampak kosong, tidak ada roh yang berani pergi keluar sampai batas ini, kecuali hanya dirinya sendiri.
Mata Hyerin menatap jauh-jauh ke dalam kabut yang sangat membingungkan itu, semua masih penuh misteri hingga akhirnya tetap menjadi pertanyaan. Tempat ini kini menjadi neraka bagi roh yang ingin hidup lebih lama tanpa harus was-was dan dikejar oleh ketakutan akan kematiannya sendiri.