
"Harusnya iblis tetap ada meskipun sekarang adalah waktunya di dimensi manusia. Aku harus menemukan apapun sebagai petunjuk." Batin Rere. Kakinya sudah masuk ke dalam gedung rumah sakit, jika saja dalam waktu yang berbeda dia tidak akan pernah berani harus datang sendirian ke dalam gedung.
Rere mengamati satu persatu ruangan, yang dia tahu jika hawa iblis itu berbeda dan auranya bisa dia rasakan seperti yang dikatakan Hyerin dalam perkumpulan.
"Masih belum. Kemana lagi ya?" Gumam Rere dalam hatinya, dia terlihat sedikit kesal dan bosan dengan aktivitas yang dilakukannya sendirian. Apalagi harus memasuki satu persatu ruangan di rumah sakit yang sangat besar seperti ini.
"Apa mungkin ada di ruangan Hyerin?" Pikirnya lagi. Rere sedikit ragu tapi apa salahnya mencoba. Dia berbalik dan kembali ke salah satu lorong yang akan membawanya ke ruangan Hyerin.
"Hyerin saja gak berani datang ke sini, terpaksa ya aku harus nekat. Pasti bisa!" Rere menyemangati dirinya sendiri.
Rere harus melupakan perasaan ragu, dia harus melupakan keselamatan nya juga. Tapi harus bagaimana lagi karena tidak mungkin ada orang yang mau melakukannya selain dirinya sendiri. Seperti itu kan pilihan yang dia pilih?
Langkahnya mulai melambat saat jarak antara kamar Hyerin dan tempatnya berdiri sudah sangat dekat. Di sana di depan matanya dia akan tahu apapun.
Mata Rere tak mengedip sekejap pun, dia harus fokus terutama selalu waspada dengan banyak kemungkinan yang bisa terjadi tiba-tiba. Bisa saja iblis itu lebih dulu menyadari kedatangannya, apa yang akan terjadi?
Rere tidak bisa mengatur irama nadinya yang berbaur dengan perasaan was-was dan takut, tapi satu persatu kaki dia langkahkan hingga sampai ke dalam kamar itu.
Rere membuka pintu karena dia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan titik sensitif dari perasaannya.
"Astaga! Iblis itu?" Hatinya terhentak kaget, aliran darah mengalir panas sampai ke dalam otaknya. Kedua matanya terbelalak rak menyangka, bahkan Rere tidak bisa melangkah mundur sedikitpun karena lemas pada kakinya.
__ADS_1
"Iblis. dan dia?" Matanya semakin melotot melihat orang tak asing bagi Rere, roh yang tak lain adalah Yora seorang teman hang baru saja dia temui dan dia kenal dari Hyerin, dan Yora adalah sahabat Hyerin.
Sekilas terlihat saat Yora mematung tertidur di atas kasur sedangkan iblis dengan lahapnya menyantap satu persatu dari perut Yora dan detik demi detik berlalu tubuh Yora keluar asap. Yora menoleh tak berdaya di kedua matanya mengucur darah dan wajahnya sudah sangat pucat. "P-E-R-G-I" Ejaan dari gerakan mulut Yora bisa dibaca Rere dengan mudah.
Rere masih mematung diam dia bingung harus melakukan apa. Hingga sesuatu terjadi padanya, sudut mata iblis menoleh ke arah Rere berdiri. Wajah iblis yang Rere lihat adalah wajah Rai yang tak asing baginya. Tiba-tiba hanya satu kali menghela napas iblis sudah tepat di depan mata Rere membuat napasnya berasa langsung berhenti di tenggorokan.
Iblis itu masih melihat Rere bisa dikatakan masih lengah, hingga sedikit kekuatan Rere satu detik saja dia lengah mungkin iblis sudah melahapnya saja. Karena sisa tenaga yang banyak Rere hanya mampu pergi sampai ke luar gedung. Irama napasnya naik turun, Rere belum bisa mengatur perasaan takutnya yang masih tersisa bahkan dia melihat iblis itu diambang pintu, tapi tidak sampai berani keluar mengejar ke arahnya. Rere hanya terus melihat, dia semakin kesal dan emosi.
Tak menunggu waktu Rere cepat pergi dari tempat yang dia pikir akan mendapatkan sesuatu untuk bisa menyenangkan Hyerin, tapi apa yang didapatnya? Jika saja dari awal dia tidak memilih Yora sebagai partner mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Sekarang apa yang bisa dia katakan pada Hyerin?
Sepanjang bernapas dan melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu, setiap detiknya bayangan iblis dan Yora masih jelas tergambar dalam memorinya, Rere tak sanggup hingga tubuhnya roboh ke tanah dan tanpa tenaga lagi dia menangis mengungkapkan semua rasa sesal yang menjadi sesak di dadanya kini.
Bagaimana bisa Rere berani datang ke hadapan Hyerin? Dia tidak bisa melakukannya, bahkan dia tidak bisa melupakan kejadian itu. Bagaimana caranya? Sekarang dia tidak mendapatkan apapun, melainkan kabar duka yang dia bawa. Apa yang akan dikatakannya nanti pada Hyerin dan semua rekan hang menumbuk harapan pada tindakannya yang gegabah seperti ini. Apa yang bisa dilakukannya?
"Mengapa harus seperti ini jadinya?" Isak tangis Rere merenggut kewarasannya saat itu, dia tidak peduli jika terlihat aneh oleh tatapan lain dari para roh yang melihat ke arahnya. Dia tidak peduli apapun lagi.
"Udah pergi ke sana? Jangan bercanda Rere, cepat berdiri!" Sebuah teriakkan terngiang terdengar oleh indera pendengarannya saat itu. Samar terdengar tapi Rere yakin suara lelaki tak asing itu adalah Ken.
Rere tak ingin menoleh, dia tidak berniat memperlihatkan kesengsaraan nya ini.
"Cepat berdiri! Kau udah nyerah! Kau kalah dari Iblis!" Hardik Ken yang entah berarti untuk apa melontarkan kata-kata itu terdengar sengaja padanya.
__ADS_1
"Apa sih? Ini yang mau kamu lihat?" Bentak Rere memperlihatkan matanya yang bengkak karena terus-menerus menangis.
"Ngapain nangis? Emangnya kita bisa menang kalau nangis?" Ucap Ken bahkan tatapannya tidak memperdulikan sedikitpun apa yang dia lihat dari Rere saat itu.
Rere diam lagi meski Isak tangis itu belum bisa dia kendalikan. "Benar juga. Iblis itu harus mati sepenuhnya dia harus bisa menghilangkan semua iblis di dunia ini!" Tekad Rere yang bercampur dengan emosi menggebu-gebu di dadanya.
"Udah aku mau pergi, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini sebentar lagi paling waktu juga akan berganti." Ken memperingatkan dengan dingin.
"Berhenti!" Teriak Rere.
Mendengarnya Ken langsung berhenti dan mengangkat sebelah alisnya, dia heran apa uang ingin dikatakan Rere?
"Apalagi?" Tanya Ken dingin. Meskipun tadinya dia ingin pergi tapi Ken tidak bisa begitu saja meninggalkan Rere di tempat yang seharusnya tidak dia datangi dari awal.
"Kami sekarang harus ikut!" Pintanya.
Ken langsung tertawa. "Lucu sekali, kalian kan gak butuh lagi orang, ngapain nambah beban." Cetus Ken seperti sengaja menghindari permintaan Rere.
"Hyerin. Hyerin tidak bisa pulih dengan cepat, sekarang dia kehilangan untuk kedua kalinya." Jelas Rere, dia terlihat menarik napas mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan apa yang dipikirkannya saat itu, meskipun awalnya dalam keadaan biasa dia tidak mungkin memohon dan meminta orang lain harus mengerti padanya, sekarang baru pertama kali ini dia meminta orang lain.
Ken tidak menjawab, dia memalingkan wajah membelakangi lagi Rere. "Aku titip Hyerin!" Ucap Ken. Bagaimanapun juga Ken tidak mungkin melupakan perasaannya. Bahkan sekarang, setelah mendengar kabar itu baginya seperti mendengar sebuah kabar buruk untuk dirinya sendiri, tapi membayangkan Hyerin yang tidak peduli dan bersikap angkuh hati Ken sakit dia tidak ingin melihat Hyerin yang menolaknya lagi.
__ADS_1
"Aku akan selalu menjaganya! Kau belum tahu apa-apa semoga kau tak menyesal." Ucap Rere dalam hitungan detik dia juga langsung menghilang.
Ken membalikan wajah, terlihat raut wajah kecewa. Dia mungkin akan mengubah keputusannya tapi Rere lebih dulu pergi. Tapi itu tidak memberinya sebuah batasan, Ken akan tetap mengawasi mereka terutama Hyerin dari tempat yang tak terlihat.