Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Awal pertemuan


__ADS_3

Hyerin masih berdiri mematung tidak percaya dengan penglihatannya saat itu. Bukan kebetulan jika sudah dua kali dia melihat pemandangan yang sama anehnya.


"Simpan di situ saja biar Ibu yang cuci ya!" Beruntung suara Ibunya cepat menyadarkan Hyerin.


Saat berbalik ke arah meja makan lagi-lagi semua terlihat lain. Hampir disepanjang penglihatannya dia melihat samar banyak roh dan dunianya. Bagaimana bisa kali ini dia hidup normal dengan tantangan seperti ini?


"Ke kamar mu ya." Hyerin langsung mencari sumber suara yang jelas Yora ada di hadapannya.


"Apa sih Yerin ini, kenapa masih disitu saja." Protes Yora.


Hyerin segera menundukkan wajahnya, menyembunyikan kegelisahannya saat itu.


Karena penglihatannya terganggu oleh kemunculan dunia lain yang saking terlihat nyata membuat Hyerin bingung dan tidak bisa membedakannya. Dia sampai bingung mencari Yora yang jelas ada di hadapannya sendiri, bagaimana sekarang? Mengapa dia kehilangan hidup normalnya?


"Yora cerewet banget. Yerin masih berdiri tuh." Timpal Rei.


Hyerin masih berdiri dan menundukkan wajahnya, dia tidak siap dengan semua penglihatannya kini dan dia juga bingung bagaimana caranya agar bisa terbiasa di hadapan semua orang.


"Yerin sakit ya?" Terdengar suara Ibunya menghampiri. Sebuah tangan langsung memegang lengannya. Hyerin menarik wajahnya dan melihat ke arah Ibunya. Tapi dia harus kembali lebih terkejut lagi, sosok Ibunya sudah berubah, wujud dan tubuhnya tidak seperti manusia.


"Yerin sakit? Ayo cepat kita ke kamar!"


Hyerin hanya berdiam diri tidak merespon. Padahal kedua matanya terbuka di sampingnya ada Ibu dan temannya. Tapi bagi dirinya dia tidak melihat mereka.


Dalam ketidaksadaran yang menyeret Hyerin untuk bungkam. Nalurinya tidak bisa menolak sesuatu yang berbahaya sedang berdekatan dengannya. Dia memang tidak bisa mengontrol tubuhnya begitupun dalam penglihatan Ibu dan teman-teman Hyerin.


Tanpa sadar di saat yang sama Rai datang dengan cemas melihat kondisi Hyerin yang semakin tidak dimengerti nya. Dia tidak bisa melihat rohnya ada di mana, tapi dia tahu jika di dalam tubuhnya adalah bukan dirinya. Saat melihat Hyerin Rai langsung kembali ke tempatnya mencari siapapun yang bisa menjelaskan kondisi Hyerin saat itu.

__ADS_1


Rasa putus asa semakin di depan mata, Rai cemas dan tidak menghentikan kecemasan yang membuat beban di hati dan pikirannya saat itu. Siapa lagi yang bisa dia andalkan? Tidak ada satupun orang. Rai teringat dengan sekelompok orang yang pernah terlihat bersama Hyerin. Apakah mereka masih ada? Apakah sesuatu ada harapan untuknya? Dia juga tidak yakin. Tapi apa salahnya untuk pergi ke tempatnya saat itu.


Karena saat itu adalah waktu bagi roh gedung yang dicarinya tidak begitu sulit. Rai sudah melihat sebuah gedung yang dulu pernah diamatinya tanpa sepengetahuan Hyerin. Menurutnya ini adalah satu-satunya jalan, tidak ada pilihan lain selain mencoba.


Rai ragu memasuki gedung yang tampak kosong dari luar, saat kakinya melangkah perlahan dia memasuki gedung dan menyusuri semua ruang. Seperti yang dikatakan batinnya, gedung kosong tanpa penghuni satupun. Garis kecewa dari wajahnya sudah terlihat, hal ini sangat membuatnya frustrasi, kenapa selalu tidak ada jalan untuknya? Rai putus asa dan berniat untuk mencari roh lain siapapun, dia tidak peduli karena yang dipikirkannya hanya Hyerin.


Tepat kakinya melangkah pada ambang pintu Rai langsung menghentikannya. Sesuatu yang membuatnya tertarik mulai dirasakannya. Rai segera membalikan tubuh dan melihat satu orang wanita yang sangat ketakutan berdiri diantara dinding rapuh di dalam gedung itu. Rai mulai bertanya-tanya karena wanita itupun bungkam, tapi hatinya mengatakan jika wanita itu perlu sesuatu darinya.


Dengan perlahan Rai mendekat sambil memahami situasi di depan matanya. Semakin dekat jarak antara Rai dan wanita itu, semakin terlihat jelas kaki wanita itu yang gemetar, bulir keringat terlihat datu persatu bermunculan dan menetes dari arah wajahnya. Rai kembali memahami situasinya, dia tidak mengerti dengan reaksi yang berlebihan dari wanita itu.


Rai kembali melanjutkan kakinya untuk melangkah, hingga akhirnya tidak tersisa jarak antara keduanya yang hanya ada satu langkah kaki. Rai dibuatnya bingung dan ragu, tapi kemudian tangannya berusaha meraih pundak wanita itu.


Ketika Rai akan menepuk pundak wanita itu, tiba-tiba spontan wanita itu langsung menengadahkan wajahnya dan memperlihatkan dengan jelas rasa takut yang sudah ditahannya. Begitupun dengan matanya yang tidak memperhatikan Rai sama sekali.


"Aku tadi ingin bertanya, ada urusan apa ke tempat ini?" Ucapnya terbata-bata.


Rai meneliti ke setiap sudut ruangan sekali lagi, hasilnya sama. Dia tidak melihat ada orang selain dirinya dan wanita itu. Rai tiba-tiba terperanjat saat kesadarannya kembali mengingatkan orang lain yang ada di hadapannya saat itu.


Rai kembali terheran karena dia sudah kehilangan wanita tadi dalam beberapa detik terlewatkan. Membuatnya bingung. Dia kembali mengitari seisi ruangan bahkan mendatangi ke semua tempat di ruangan itu. Bisa ditebak bagaimana hasilnya, Rai hanya mendapatkan rasa lelah dan hasil yang nihil.


Satu kesimpulan yang didapatkan, dia merasa percaya jika saja diberi kesempatan satu kali lagi untuk bertemu Rai akan meminta sebuah kerjasama yang menjanjikan. Saat ini dia butuh orang, mungkin wanita tadi dan teman yang lainnya membutuhkan sesuatu darinya juga.


Rai menyandarkan tubuhnya ke dinding gedung yang hampir runtuh, beberapa detik dia menarik napas mengatur rasa lelahnya setelah berlari ke sembarang tempat untuk mencari sesuatu yang tidak membuahkan hasil. Sekarang mau apa lagi? Dia akan menunggu di tempat ini berharap akan ada lagi orang lain yang menemuinya. Tidak jadi masalah jika harus sedikit menunggu.


"TOLONG PERGI CEPAT!" Sebuah teriakkan yang nyaris membuat Rai harus terkejut lagi.


Rai segera menoleh dan melihat wanita tadi yang sama.

__ADS_1


"Jangan ada di sini. Aku. Mereka. Kita tidak ingin punya masalah." Ucapnya terburu-buru. Dengan mata yang tertutup dan rasa takut yang tidak bisa disembunyikannya wanita itu berusaha merangkaikan kata dan memberanikan diri meneriaki Rai. Padahal kakinya sudah gemetar seperti itu, tapi wanita ini cukup nekat.


Rai berjalan mendekat.


"Bukan aku!" Ucapnya lagi berteriak disusul dengan rengekan tangisannya.


Rai semakin terheran dan bingung, apa yang sudah dilakukannya? Dia tidak melakukan apapun kan?


Rai kembali melangkah.


"Mereka!" Teriak wanita itu sambil menunjukkan sebuah arah dengan telunjuk tangannya.


Rai mengikuti arah wanita itu, tapi dia tidak melihat sesuatu yang aneh dan tidak ada siapapun. Rai terperanjat seperti langsung teringat sesuatu. Saat kembali menoleh Rai tidak melihat wanita itu lagi. Dia sudah tertipu dan hal itu membuatnya sedikit kesal. Padahal hanya dengan sebuah trik sederhana tapi dia sampai tertipu.


Rai kesal dia tidak bisa menahan wanita itu, setidaknya memaksanya untuk bekerjasama.


Dia kembali duduk di tempat tadi, menyandarkan dirinya untuk beberapa lama.


Hingga waktu terus berlalu.


Rasa bosan mulai mengganggu.


Sudah berulangkali Rai memastikan sesuatu di sekelilingnya, tapi dia tidak menemui hal yang sama. Masih tidak ada siapapun.


Saat kembali bersandar pikirannya tidak berhenti terus berpikir. Dia kemudian teringat dengan yang dilakukan oleh wanita tadi. Wanita itu menunjukkan sebuah arah di satu tempat, tidak ada salahnya kan jika dia memastikan.


Rai langsung berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjuk wanita itu. Dia hanya memikirkan mungkin ada sesuatu yang akan didapatkannya di sana.

__ADS_1


__ADS_2