
Hembusan angin yang menerobos masuk melalui celah gedung langsung menyambut dingin tubuh Rai yang terbaring di tempat Hyerin. Tempat yang dulunya adalah milik Hyerin dan selalu menjadi miliknya. Hyerin dan dirinya dulu adalah manusia biasa yang hidup dalam satu takdir yang mereka buat karena perjanjian, hidup bersama dan selamanya akan terlahir bersama. Dalam satu reinkarnasi Rai kembali menjadi pasangan Hyerin yang bahagia dan hidup dengan banyak cerita yang menyenangkan. Tapi takdir tidak memberinya akhir yang pantas, Rai selalu pergi dulu meninggalkan Hyerin atau sebaliknya. Kisah tak berujung itu selalu menjadikan mereka satu yang tidak memiliki akhirnya. Hingga Rai menjadi roh yang tinggal lebih dulu di dunia persimpangan, tujuannya hanya satu... yaitu ingin menunggu dan bersama dengan Hyerin. Hal tersebut dia lakukan hingga tak terasa setelah berpuluh kali reinkarnasi kisah keduanya tak pernah berujung, tidak pernah bersama. Rai mengenal semua kisah kuno dan perjanjian leluhur. Dia tahu tentang iblis dan sisi baiknya. Dikisahkan jika roh bisa menjadi seorang dewa kematian yang hidup abadi di dunia persimpangan semua roh. Syaratnya hanya harus bisa membunuh dewa kematiannya dengan melakukan perjanjian bersama iblis, iblis berjanji akan menjadikannya dewa kematian, dan sebagai gantinya iblis bisa hidup di tempatnya, entah itu di dunia manusia atau di dunia roh. Perjanjian itu terdengar sangat menggiurkan dan menjanjikan, godaan Iblis yang kuat dengan semua tipu dayanya menjadikan Rai yang sekarang.
"Rai kau bermimpi!" Ucap seseorang yang langsung membuat Rai terperanjat saat itu juga.
Rai segera bangun dan melihat seorang wanita yang sama tersenyum padanya lagi. Seharusnya wanita yang berada di hadapannya cukup kapok untuk kembali mengunjungi gedung setelah insiden terjadi dengan iblis itu. Namun cukup mengherankan. Rai juga merasa aneh dan tidak mengerti mengapa dia bisa seberani dan senekat itu datang lagi.
"Tidak ada iblis kan? Jadi aman deh." Ucapnya langsung menghampiri Rai dan duduk di sampingnya.
Rai tidak menjawab, dia tetap dingin seperti biasanya.
"Oh ya, kau sudah menemui Gisya di tempat itu, apa yang dia katakan?" Tanyanya.
Rai mulai menarik penglihatan ke arahnya, memastikan apakah dia cukup serius bertanya hal seperti itu? Dan terdengar cukup khawatir dengan perkataan Gisya.
Rai hanya menyeringai membalas pertanyaannya. Dia tidak menjawab sengaja membuat wanita itu penasaran.
"Tidak penting!" Ucapnya singkat.
"Hyerin belum kesini lagi?" Tanyanya lagi yang selalu membuat perhatian Rai teralihkan.
Rai menatapnya tajam saat dia menyinggung Hyerin.
"Semua orang sudah tahu ko kalau Hyerin hidup lagi kan?" Senyumnya lagi sambil menatap Rai.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" Ucap Rai langsung kesal. Lagi-lagi nalurinya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu.
"Mau aku bantu?" Tanyanya lagi.
Secara kenyataannya Rai tidak bisa menghindari rasa penasaran setiap kali wanita itu mengatakan apapun.
Rai selalu menatapnya setiap kali wanita itu bicara atau bertanya.
"Pasti mau kan kalau semuanya tentang Hyerin!" Godanya yang langsung pergi.
Rai hanya bisa membulatkan mata tidak percaya dengan tingkah seseorang terhadapnya. Baru pertama kali ini dia menghadapi wanita seperti itu, sudah berani mempermainkannya.
Meski itu sebuah lelucon tapi bagi Rai dan nalurinya selalu mengatakan jika ada yang tidak beres. Semua mengusik hatinya, entah itu adalah Ken dan pernyataannya yang belum dia sadari, Gisya yang tidak berpendirian, dan wanita itu yang entah siapa dia tidak menyebutkan namanya.
Tidak mungkin Ken asal bicara, meski dia pernah merasa dendam karena kesalahannya tapi Rai cukup yakin jika Ken bukan tife lelaki yang memihak kesalahan, dia selalu ingin berbuat benar dan jika berbuat salah sekalipun itu, Ken akan langsung memperbaikinya.
Semua pikiran itu terus melayang diingatan. Membuat Rai tidak bisa tenang karena ternyata untuk mengambil satu langkah menyelematkan Hyerin dan menyelesaikan masalah tidak semudah itu, ada hal lain yang ikut hadir, seperti masalah.
Rai berjalan dan keluar dari ruangan yang kini terasa sesak baginya.
Dia tidak membuang semua perasaan bimbang yang menyelimuti hati dan pikiran. Rai sadar jika dia melakukan lagi perjanjian itu mungkin di satu sisi umurnya akan bertambah lagi tapi di sisi lain apakah hal itu merupakan pilihan yang adil?
"Mau berjanji lagi!" Terdengar suara yang tidak asing.
__ADS_1
Rai langsung mengawasi sekeliling dan tidak melihat sosok yang ada di pikirannya.
Seharusnya iblis itu terlihat ada tapi kenyataannya tidak ada dan sekarang Rai tidak bisa merasakan kehadirannya juga. Apakah ada yang salah dengan pikirannya? Apakah suara itu hanya halusinasinya saja? Pikir Rai yang masih bingung mencari ke semua arah.
Sekilas penglihatannya kembali tertarik saat sosok bayangan melintas di sudut matanya.
Rai segera berlari ke luar ruangan dan terus mengikuti bayangan yang terlihat oleh matanya.
Hingga Rai sudah sampai di luar gedung. Saat itu dia tidak melihat apapun lagi. Tapi di ujung matanya Rai melihat seorang roh yang berjalan sendiri. Hatinya penasaran dan segera menghampiri roh yang tidak biasa ada di sekitar gedung itu.
Rai terperanjat lagi mendapati sesuatu yang menurutnya sangat aneh. Jelas tadi dia melihat roh itu berjalan di sekitar jalanan yang saat ini dia berdiri. Tapi setelah mendekat lagi roh itu sudah hilang.
Rai langsung pergi tidak menghiraukan sesuatu yang sudah terjadi dengan dirinya.
Sesekali dia hanya menyalahkan diri mungkin karena terlalu banyak pikiran dia sampai tidak bisa berpikir dan melihat dengan waras ke sekelilingnya.
Rai memang tampak linglung dan tidak bertenaga. Raut wajahnya muram setelah hilang semangat. Rai juga sesekali melampiaskan kekesalannya pada apapun yang dia lihat di jalan. Entah mengapa perasaannya tidak setenang dulu.
Rai langsung teringat dengan Hyerin, tanpa menunggu waktu dan membiarkan lebih lama dia langsung pergi kembali ke tempat dimana Hyerin berada kini dengan Ibunya. Tempatnya memang jauh jika diukur dari kenyataannya.
Rai melihat dengan sangat ragu dari kejauhan. Di rumah sederhana itu ada Hyerin dia tinggal memberanikan diri untuk datang dan menghampirinya. Tapi lagi-lagi perasaan itu datang. Rai merasa dirinya belum pantas untuk menemui Hyerin padahal kenyataannya dia sangat ingin.
Rai menatap lagi rumah yang ada di seberang sekolah sambil berjalan dengan sangat perlahan. Langkahnya yang pelan tak terasa juga mengantarkan dia sampai ke depan pintu masuk rumah itu. Dia bingung akan mengatakan apa atau berbuat apa setelah melihat Hyerin.
__ADS_1
Perasaan ragu yang dirasakan Rai tidak berlangsung lama. Keberanian tiba-tiba datang saat Rai curiga ada roh lain yang berada di dalam rumah. Dia langsung khawatir dan segera masuk ke dalam rumah.