Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Rencana Hyerin dan Rai


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Dengan polosnya Hyerin bertanya.


"Apa anak kecil itu sangat berbahaya?"


"Sudah ku katakan tadi, bisa saja dia adalah iblis atau orang-orang dari sekte yang melakukan pengadilan padamu waktu itu, mereka bisa saja mengincar mu alasannya sudah jelas. Kau masih hidup kan meskipun sudah melewati pengadilan dari mereka." Rai mulai menjelaskannya dengan pembicaraan yang sederhana.


"Orang-orang itu, sebenarnya apa yang mereka lakukan? Aku hanya melihat seorang roh dulu diperlakukan kejam hingga tiada." Hyerin masih melanjutkan bicara.


"Mereka mengatasnamakan kebenaran, membasmi iblis di dunia manusia ini. Namun langkahnya mulai salah, mereka juga mengincar orang-orang seperti mu meskipun sudah jelas kau bukan iblis."


"Alasannya?" Hyerin langsung bertanya saat dia mulai mengerti.


"Iblis itu musuh semuanya, melakukan tipu daya, bisa membahayakan keberadaan roh dan juga dewa kematian. Jadi sebaiknya kau tak berurusan dengan mereka saja, aku berpikir semuanya salah selama ada hidup seseorang yang direnggut dengan cara seperti itu." Terang Rai, pikirannya kembali membayangkan ketika seorang perempuan diseret atas nama kebenaran hingga dia tidak pernah kembali lagi.


"Apa kau berpikir jika keberadaan ku bukan sesuatu yang salah?" Hyerin penasaran, siapakah dirinya di mata orang-orang seperti Rai.


"Kau tetaplah roh, bukan iblis. Kau melakukan perjanjian itu, tapi kau hanya roh." Dengan santai Rai berbicara. Sekarang Hyerin paham mengapa ada begitu banyak orang-orang sepertinya yang menjadi teman Rai, mungkin mereka juga saling mendukung untuk mempertahankan kehidupan mereka juga.


"Tapi kau di mata orang-orang tetaplah iblis, mereka anti iblis dan bisa saja langsung melenyapkan mu di tempat." Merindingnya Rai berbicara seperti itu. Seakan memang keberadaan Hyerin adalah sesuatu yang salah.


"Jadi aku harus membunuh anak itu kan?" Hyerin mulai serius dengan perkataan Rai.


"Sebaiknya jangan."


Mendengarkan pernyataan itu Hyerin terperangah bingung, tidak ada yang salah kan? Dia hanya kembali mengulangi kata-kata Rai untuk membunuh anak itu.


"Aku tidak ingin ada yang saling membunuh, saling memburu, semuanya berhak hidup selama mereka ingin menghargai kehidupan orang lain."

__ADS_1


"Tapi jika dia adalah orang-orang itu, apa kau akan membiarkannya juga?" Hyerin langsung membantah.


"Kau cari tahu sendiri, siapa anak itu, pantas mati atau tidak? Lagian sekarang kau adalah manusia, kau bisa apa dengan tubuh itu? Kau lemah, kau bisa mati kapan saja." Hyerin tertegun mendengarkan Rai. Pantas saja Rai begitu khawatir ketika dia dan dirinya berubah menjadi seorang manusia.


"Maaf kan aku." Ucap Hyerin menundukkan wajah.


"Kau seperti itu juga karena aku kan? Padahal mati pun aku tak apa-apa, tapi mengapa sekarang malah menyeret orang lain dalam masalah yang sama." Hyerin benar-benar menyesal sekarang.


"Memangnya aku seperti ini karena ulah mu juga? Kau sudah yakin?" Rai membingungkan Hyerin dengan perkataannya.


Benar saja Hyerin tidak tahu alasannya mengapa dia menjadi manusia dan Rai juga mengalami hal yang sama, satu-satunya jalan dia harus mencari tahu melalui anak kecil itu.


"Kita harus merencanakan sesuatu." Ucap Hyerin.


"Sudah ku pikirkan, sekarang pikirkan sendiri rencana mu."


Hyerin langsung memandangi Rai. "Yasudah jika sudah bisa melakukannya sendirian, ngapain nyuruh orang berpikir? Bereskan saja sendiri." Hyerin sedikit tersinggung.


"Ngapain lihat-lihat?" Tak mau kalah Hyerin juga berusaha mencari cara agar Rai jengkel padanya.


"Yasudah cepet mikirnya? Pintar sedikit dong!" Rai lebih darinya, meskipun lawan bicaranya adalah Perempuan Rai tetap saja tak mau kalah.


#####


Hyerin masih penasaran, sekarang sedikit demi sedikit dia lebih paham lagi perasaan Rai. Benar katanya, jika semua orang memang ingin hidup, kematian tetaplah menakutkan.


Jika yang dikatakan Rai benar, keberadaannya di tempat ini juga masih diburu beberapa pihak. Setelah dulu Hyerin pernah mengalami hal yang sama. Rasanya dia masih tetap berjalan di tempat dengan kisah hidupnya yang masih sama.

__ADS_1


Dulu saja Hyerin banyak ditanyakan karena keberadaannya karena kelahirannya dari gedung itu, dan setelah dunia itu berakhir Hyerin juga masih terperangkap dengan jalan yang sama di dunia ini.


Apa yang membuatnya diasingkan di setiap waktu? Apa yang membuatnya berbeda di mata orang lain? Dan mengapa dia selalu dianggap ada di pihak yang salah. Padahal Hyerin tak pernah memilih dia hanya menjalaninya saja bagaikan air yang mengalir.


"Kau sudah tidur?" Ucap Rai yang masih duduk melamun. Hyerin tertidur di atas kasur, selama itu dia tidak bisa menutup matanya dan menyambut pergantian waktu.


"Waktu terus saja merangkak maju, aku masih takut besok kita masih hidup atau sudah selesai?" Ungkap Rai. Benar dengan perkataannya, Hyerin merasa harusnya dirinya saja yang menanggung segala beban ini, dia saja yang menanggung resikonya.


"Jika besok kita masih hidup, kau mau apa?" Tanya Hyerin.


"Bersyukur saja itu sudah untung, kita masih tidak tahu sampai kapan akan tertahan di tubuh ini." Perkataan Rai benar-benar pasrah.


"Jika besok aku masih hidup, aku harus melakukan banyak hal yang tidak terlewatkan, meskipun tak tahu alasannya, akan aku lakukan. Aku tak ingin menyesal karena pernah melewatkan beberapa hal ketika masih hidup." Penuh semangat Hyerin mengatakannya.


"Kau masih saja merasa baik-baik saja. Beruntung sekali." Ucap Rai mengomentari sikap Hyerin.


Hyerin terdiam sebenarnya apa yang salah? Dia hanya ingin menikmati hidup ini kan? Karena terlalu banyak yang tidak dia lakukan ketika masih hidup, sehingga ketika sudah mati dan menjadi roh banyak sekali penyesalan yang tidak bisa ditawar lagi.


"Rai, ayo kita keluar!" Seru Hyerin sudah berdiri.


Rai menatap heran. "Kau mau kemana??"


"Kita keluar, aku sudah lama tidak pernah merasakan angin malam. Tunggu apa lagi?" Hyerin benar-benar ingin merubah suasana. Tanpa persetujuan darinya Hyerin langsung saja menyeret tangan Rai hingga kini dia sudah benar-benar ada di luar rumah.


"Harusnya memang menyenangkan seperti ini, semuanya bingar bingar lampu di sepanjang jalan, kendaraan yang banyak di setiap sudut jalan, mau apa lagi? Rai cepat!" Hyerin masih memaksa Rai agar bisa menikmati kesenangannya ini.


Mau tidak mau harus bagaimana lagi, Rai berjalan mengikuti langkah Hyerin dari arah belakang. Matanya tidak bisa diam mengabsen setiap sudut suasana kota di malam hari. Dia tidak bisa bohong pada hatinya sendiri jika sekarang adalah waktu uang paling berharga setelah sekian lama dia menjadi roh.

__ADS_1


Benar-benar angin dingin yang menyentuh kulit, bau hiruk pikuk kebisingan kendaraan di malam hari. Kejadian langka ini.


Rai terus memuji sesuatu yang menyenangkan baginya.


__ADS_2