
Tidak bisa tidur, hal itu yang dirasakan Hyerin. Meski waktu semakin larut dia hanya menghitung jari menunggu waktu cepat berganti. Terlampau sangat lama Hyerin masih belum bisa sekejap pun tertidur. Dia malah terjaga sepanjang waktu yang terasa lama.
Pikirannya melayang membayangkan Akemi yang tiba-tiba muncul diingatan nya. Walau belum sempat bertanya langsung sebenarnya dia tidak bisa berhenti memikirkan antara Akemi maupun Rai. Hyerin merasa bingung dengan untaian kejadian yang tidak bisa dibayangkannya. Sebenarnya mengapa bisa terjadi pembunuhan pada setiap orang yang dekat dengannya. Atau hal itu hanya kebetulan saja? Pikir Hyerin menimbang dugaannya. Tapi orang sering menyebutkan kejadian masalalu yang terulang. Memangnya tragedi seperti apa di masalalu itu?
Pikirannya yang penuh tanya semakin membuat Hyerin terjaga. Dia melihat ke arah lantai, Akemi di sana sudah sangat terlelap. Padahal sedari tadi dia ingin bertanya pada Akemi mengenai kejadian di masalalu yang sering disebut-sebut orang. Pada akhirnya Hyerin hanya membuang napas tanda kecewa.
Dia kembali menarik pikirannya dalam-dalam agar tidak terlalu banyak bertanya lagi. Dengan kesal Hyerin merasa dirinya sudah serba salah. Tidur terlentang, tidur menyamping, tidur tengkurap, tidak ada bedanya.
Alih-alih bisa tidur Hyerin membuka pintu ruangan dengan pelan. Dia mengendap keluar dengan hati-hati tanpa bisa mengganggu Akemi hingga terbangun, meski sebenarnya Hyerin mengharapkan Akemi menemani waktunya saat itu.
Di luar ruangan dia tidak melihat satu orang pun di sana. Padahal tempat ini kan bisa di masuki oleh siapapun. Tapi sepertinya orang-orang tidak pernah datang ke tempat ini. Matanya menyelidik di sepanjang ruangan. Pintu-pintu yang terbuka sebagian dan dekorasi ruangan yang hancur menambah kengerian saja. Dari sudut matanya Hyerin merasa seperti ada seseorang yang sudah lewat. Dia memastikan dengan membalikkan tubuh mengikuti bayangan yang baru saja melintas.
"Rai." Sebutnya setengah berteriak.
__ADS_1
Rai tidak merespon, tubuhnya masih mematung tidak bergerak sama sekali.
"Rai kau di sini?" Tanya Hyerin yang mulai ketakutan melihat Rai masih mematung tidak meresponnya. Hyerin tidak lagi melihat Rai seperti biasa. Dia tidak memperlihatkan tatapan yang dingin dan sikap yang cuek. Seperti melihat sosok yang lain, begitulah yang dirasakan Hyerin dalam tanya nya.
Tanpa sadar kedua kakinya melangkah mundur dengan ragu-ragu. Rai yang tidak merespon dan masih mematung membuat Hyerin ketakutan. Dia tidak melihat Rai tapi seperti melihat orang lain di hadapannya. Rasa takut dan cemas berbaur menjadi satu hingga keberaniannya menyusut. Hyerin terus menjauhi Rai dengan hati-hati. Keringat dingin seperti cepat keluar dari tubuhnya, tangan gemetar dan tekanan pada mentalnya sudah cukup mendeskripsikan keadaan yang pernah dia rasakan di waktu itu.
Tanpa mengambil aba-aba Hyerin berlari namun tanpa diketahui olehnya tangan Rai menghentikan Hyerin dengan cepat. Hyerin sudah sangat ketakutan, dia merasakan tangan Rai yang semakin mencengkram nya kuat. Dia tidak tahu lagi apa maksud sebenarnya dengan tindakan Rai. Matanya melihat ke semua sisi dan rasanya percuma jika berteriak sekalipun tidak ada orang yang akan mendengarkan, terkecuali Akemi.
Hyerin membulatkan mata dan merasa mendapat satu rencana. Namun dia meringis menahan lengan tangannya yang sangat sakit dan terasa terbakar. Hyerin meringis hingga tanpa disadari air matanya keluar.
Matanya sekilas melihat ke arah Rai. Hyerin semakin terkejut melihat seringai senyum di wajah Rai. Dia merasa itu bukanlah Rai, tapi semua wajah dan badannya adalah Rai. Lantas siapa?
Pergerakan Rai sangat sigap dan cepat, seperti hanya satu kedipan mata Rai sudah ada di samping Hyerin. Dengan tersenyum menakuti Rai kembali menarik tangan Hyerin kebelakang hingga membuat Hyerin berteriak kesakitan. Tanpa ampun dan tidak memperdulikannya. Rai yang sebelumnya tidak seperti ini tapi dia sudah berubah dalam satu waktu. Hyerin merasa sangat sakit dan tidak mengharapkan kesakitan yang lebih lagi. Dia sangat pasrah dan berharap Rai cepat menyudahinya.
__ADS_1
"Hey. Sial!!" Suara tegas seseorang menghalau kesakitan Hyerin.
Rai berhenti saat mendengar suara seperti yang tidak asing baginya. Namun secepat kilat Rai langsung hilang dari pengawasan. Akemi segera menghampiri. Segaris cemas, khawatir, dan sangat sedih langsung terlukis diwajahnya saat mendapati Hyerin yang sudah babak belur. Akemi segera menangkap tubuh Hyerin yang berusaha dia posisikan untuk berdiri dan berjalan. Namun berulangkali Hyerin hanya menangis tak tahan. Melihatnya kesakitan Akemi segera mengangkat tubuh Hyerin dengan ke dua tangannya. Sedikit kesusahan namun dia sangat berusaha membawa Hyerin ke tempat lain.
Saat beberapa langkah hingga Hyerin dan Akemi keduanya langsung terjatuh dan kembali terpental jauh.
Hyerin tidak sadarkan diri, tubuhnya ambruk setelah menabrak tembok. Akemi yang masih menyisakan sedikit kesadarannya berusaha menarik penglihatan ke arah orang yang sudah menjatuhkannya dengan Hyerin. Pupil matanya melebar melihat orang yang selalu bisa menyulut emosinya itu. Di depannya adalah Rai dengan ekspresi lain dari yang dilihat Hyerin tadi. Rai sedikit menyesal, tapi nyatanya dia juga terlihat sangat serba salah dan seperti sedang di bawah tekanan orang lain. Akemi tersenyum seolah mengerti.
"Hey. Kau lemah. Ini perjanjiannya kan? Aku menjaga dia, dan kau menusuk ku dari belakang dengan berniat membunuhku seperti yang dia perintahkan?" Ucap Akemi membuka suara sambil berusaha berdiri. Namun dia menyadari kakinya yang kaku tidak bisa menahan tubuhnya lagi.
"Jawab hah!!" Bentak Akemi.
Tapi suara terakhirnya tidak terdengar lagi. Rai yang sudah cepat mendekat hanya memegang kepala Akemi dengan tangannya. Namun ekspresi tidak tega, merasa bersalah selaku terlihat di wajahnya hingga di detik-detik dia kembali membuat Akemi menjadi abu yang lalu berterbangan disapu angin malam.
__ADS_1
Seketika suasana menjadi mencekam, yang terdengar hanya suara angin yang membuat pintu rusak bolak balik terbuka dan tertutup. Raj mematung tidak jauh dari tubuh Hyerin di depan matanya. Kemudian dia menangis sejadinya seolah sangat tersiksa, merasa sangat bersalah, dan sangat tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya itu.
Sekali lagi dalam bungkam dan tanpa kesaksian siapapun sebuah tragedi yang melibatkan ke tiga orang terjadi tanpa ada yabg menyadarinya. Rai adalah seorang dewa kematian dan Akemi adalah roh yang hidupnya bisa disudahi oleh siapapun... oleh dewa kematian manapun, selain dewa kematiannya sendiri.