
"Ada yang salah?" Tanya Rai kembali memandangi Hyerin dengan serius.
"Bukankah semua orang selalu ingin bahagia? Lantas jika aku tertawa apakah itu salah?"
Hyerin hanya membalas Rai dengan tatapannya, dia diam dengan banyak tanya yang terus dipendamnya.
"Coba katakan, apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Rai khawatir melihat ekspresi Hyerin yang sedih.
Hyerin masih terdiam, dia sendiri tidak mungkin mengatakan keinginannya untuk bertemu dengan wanita itu dan mencari semua kebenaran yang akan menyinggung Rai.
"Baiklah jika tidak ada yang ingin dikatakan, aku hanya memastikan keselamatanmu di tempat ini."
"Apakah yang dikatakan wanita itu benar?" Tanya Hyerin menghentikan Rai saat itu juga.
Rai terdiam beberapa saat dan memandangi Hyerin yang sedang berharap sebuah jawaban darinya.
Sekuat hati Rai berusaha untuk tidak mengatakan apapun, membohongi Hyerin dan membuat rencananya tidak sia-sia. Tapi hatinya yang mulai goyah terus memaksa Rai untuk mengatakan semuanya.
Merasa bimbang dengan pendirian hatinya sendiri, Rai tidak mengatakan apapun. Dia memilih pergi dari hadapan Hyerin dengan perasaan bersalah yang terus terngiang di ingatannya.
Melihat sikap Rai tidak membuat Hyerin kecewa, sebelumnya dia sudah menebak jika Rai akan bersikap seperti itu jika saja apa yang dikatakan wanita itu memang benar.
__ADS_1
Hatinya seperti tertampar keras seketika, membuat Hyerin larut dalam lamunan yang semakin lama menambah sesak di dadanya. Dia tidak bisa tenang. Dia juga tidak bisa hanya berdiam diri saja menunggu setiap kejadian yang akan menimpanya lagi. Hyerin tergesa duduk dan berpikir mulai untuk mengumpulkan niat dengan rencana yang langsung memenuhi isi otaknya. Terakhir dia butuh keberanian untuk mengambil semua resiko dan menentang Rai. Meskipun bimbang Hyerin akhirnya susah memutuskan untuk menuruti kata hatinya sendiri, yang menjadi motivasi nya dia tidak ingin menyesal karena hanya berdiam diri saja.
Langkahnya semakin cepat melewati setiap ruangan yang sudah memberinya kisah yang sangat banyak. Karena sepenuhnya ingatan Hyerin belum kembali dia hanya bisa membayangkan sekilas saja semua yang masuk ke dalam pikirannya. Dan ada wajah yang tidak asing menjadi tiba-tiba jelas. Hyerin hanya membulatkan mata mengingat wajah Akemi yang kembali muncul. Hatinya sangat tertekan jika memikirkan Akemi yang tak kunjung muncul dengan semua ingatan yang belum menyadarkannya.
Setelah berhenti sesaat Hyerin kembali melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar. Dia harus fokus untuk menyelesaikan semuanya sendirian, karena Raj tidak mendukung tindakannya itu. Jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk menunggu bantuan Rai menemukan wanita yang ingin ditemuinya entah dimana. Seketika semua perasaan ragu dan takut akan gagal hilang dalam otaknya, dia tidak sedikitpun memikirkannya, ambisinya sudah memenuhi semangat Hyerin untuk menyelesaikan semuanya sendirian dan membuktikan bahwa dirinya sangat mampu.
Tanpa sadar Hyerin sudah berjalan melewati Rai yang berdiri tidak jauh dari pintu dengan melewatinya tak peduli. Tangannya sudah membuka pintu hingga dengan semangat yang masih menggebu Hyerin melangkahkan kaki pertamanya keluar dari pintu itu yang sudah memenjarakannya secara tidak adil.
Jauh melewati jalanan yang sudah membawanya lebih jauh lagi dari tempat awal dia pergi, gedung rumah sakit yang tidak pernah didatangi orang-orang dan dianggap sebagai salah satu tempat paling terlarang untuk didatangi oleh siapapun selain dirinya dan Rai. Tidak tahu alasannya tapi dari sudut pandangnya dia bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya tentang gedung rumah sakit itu.
Saat wajahnya berpapasan dengan orang-orang yang selalu memandanginya dengan angkuh dan tidak sedikit yang menunjukkan rasa bencinya terhadap Hyerin, namun kali ini dengan tegas dia mengabaikan semua yang menurutnya sangat mengganggu. Dia akan melakukan apapun, berjalan dengan bebas, dan tidak lagi memikirkan orang yang juga tidak pernah memikirkan perasaannya itu. Beruntung ketika satu kali melihat ke arah lain matanya langsung menangkap sosok orang yang terus ingin ditemuinya itu. Hyerin segera berlari tidak ingin membuang sebuah kesempatan yang menurutnya sangat ajaib.
"Hey bisa kau sebutkan siapa namamu?" Teriak Hyerin dari kejauhan hingga diulanginya beberapa kali sampai wanita itu tersadar dengan suaranya.
Pupil matanya melebar melihat Hyerin yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Dia langsung merasa senang dan berlari menghampiri Hyerin saat itu juga. Kesenangan yang didapatkan karena Hyerin bisa percaya dengan apa yang dikatakannya, dia yakin itulah alasan Hyerin sibuk mencarinya hingga menemuinya lagi. Sangat beruntung.
"Kau percaya kan? Aku tidak berbohong. Kamu sudah melihatnya kan?" Tanya wanita itu menyelidik.
"Sudahlah jangan langsung banyak bertanya dan lain-lain. Yang terpenting aku ingin bercerita banyak." Timpal Hyeri dengan senang.
"Dan aku akan menjadi pendengar setianya." Jawabnya lagi langsung akrab.
__ADS_1
Tak menyangka keduanya langsung akrab dan seperti menunjukkan kepercayaan satu sama lainnya.
Terutama Hyerin yang senang karena bisa menemukan orang yang satu pemikiran dengannya dan dia tidak lagi merasa tidak mempunyai teman. Wanita ini bisa menjadi temannya.
"Aku Tania." Ucapnya sembari menjulurkan tangannya.
Hyerin langsung menyambut hangat perkenalan Tania yang bisa dikatakan terlambat.
"Tania aku akan menjadi temanmu kan?" Ucap Hyerin yang saat itu juga Tania langsung merangkulnya lagi, menenangkan Hyerin dan meyakinkannya bahwa semuanya akan cepat berakhir, semua akan selesai dan Hyerin bisa kembali dengan bahagia.
"Eh tunggu, kenapa tidak ada Rai?" Tania bertanya penasaran.
"Oh Rai. Dia mungkin tidak mengikuti sampai ke sini." Hyerin berulangkali membuang wajahnya. "Eh sebaiknya kita kemana sekarang?" Dia juga mengalihkan perhatian tentang Rai seperti sedang menghindar.
Sikapnya langsung bisa ditebak dengan satu kali melihatnya. Tania sadar ada yang sedikit mengganggu pikirannya hingga hubungan mereka renggang. Namun bagaimana caranya Hyerin menghindar itu tidak akan berhasil, Hyerin tidak bisa jauh dari Rai karena pada kenyataannya keselamatan hidup Hyerin tergantung Rai.
"Kita pergi ke tempat terdekat saja." Tania tidak langsung merespon karena pikirannya terganggu dengan sikap Hyerin yang banyak berubah.
"Bagaimana dengan alun-alun kota? Kita akan pergi ke sana dan menunggu di tempat itu sampai waktu berganti. Suasananya sangat padat dan dipenuhi orang-orang biasanya.
Tania tidak menjawab dia hanya membalasnya dengan senyuman tanda menyetujui.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Hyerin terlihat sangat antusias dan memiliki kepercayaan diri yang besar hingga dia menemukan sebuah keajaiban yang tanpa disengaja. Rencananya juga berjalan dengan mulus. Dia sudah bertemu dengan seorang wanita yang menjadi incarannya itu. Kali inilah Hyerin bahkan menjadi teman seseorang, dan baru pertama kali nya dia bisa merasa sangat senang.