Diasingkan Waktu.

Diasingkan Waktu.
Perjalanan ke kota


__ADS_3

Sayup angin seperti memberitahu sesuatu, mengantarkan kabar usang yang membawa semua alasan Rai untuk kembali pulang ke tempat hatinya yang masih tertinggal di sana. Sebuah desa kecil di pedalaman kota. Dulu dia pernah hidup dan mengukir semua cerita dengan Hyerin. Hingga dalam beberapa reinkarnasi dia tidak terlahir kembali karena sebab dari keegoisannya sendiri. Rai memilih menjadi dewa kematian yang menunggu Hyerin dengan semua rencana yang sangat membahagiakan baginya.


Sekarang ini dan waktu yang berbeda, Rai berdiri di atas jembatan sebagai roh tak terlihat oleh manusia manapun. Dia berdiri penuh penantian dan hatinya yang rapih karena ditentang banyak perdebatan yang membuat Rai merasakan frustrasi.


Rai tidak memiliki pilihan lagi, jika dia berakhir sekarang maka waktunya akan berakhir juga, dia tidak bisa lahir kembali dan bereinkarnasi karena sebuah kesalahan yang sudah lama dia lakukan. Dan penyesalannya sangat terasa saat ini, dimana sesuatu yang sudah direncanakannya ternyata tidak berjalan dan berakhir sebanding ekspektasi dari pikirannya. Semua di luar rencananya. Penantiannya dan takdir yang tidak selalu menghadirkan Hyerin sebagai awal dan akhir dari kisahnya. Sekarang, dia hanya memiliki satu keinginan saja yang tidak akan pernah lagi dia harapkan. Dia ingin memiliki kesempatan dan membuat ceritanya berakhir selesai.


Tak terasa hari semakin cerah dan memantulkan sinar dari dasar air sungai. Rai membuang napas, dia langsung pergi seperti bayangan yang menghilang.


Tanpa dia sadari Hyerin sudah sangat dekat dengannya.


Hyerin mematung melihat sosok Rai lenyap lagi dari pandangannya. Dia mencari ke kiri dan ke kanan dan ke semua arah. Namun tidak ada lagi Rai.


"Yerin! Ayo berangkat!" Suara seseorang menghalau perhatian Hyerin.


Hyerin segera menoleh dan melihat kedua sahabatnya yang sudah berdiri di halaman rumah sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Hyerin berjalan ke arah rumahnya lagi dengan ragu. Padahal tadi dia sangat jelas melihat Rai yang berdiri di jembatan. Tapi satu detik berlalu Rai langsung lenyap dari penglihatannya. Dia bingung apa yang salah menurut hatinya? Dia bingung apakah tadi benar-benar dia sudah melihat Rai atau itu hanya bayangan yang muncul dari dalam pikirannya sendiri?


"CEPAT!!" Teriak Yora.


Hyerin segera mempercepat langkahnya setelah mendengar Yora berteriak.

__ADS_1


"Kenapa malah pergi ke sana? Bukankah kita pergi ke halte Bus?" Tanya Yora merasa heran karena tadi Hyerin terus saja berjalan ke arah jembatan.


Hyerin menggelengkan kepala dengan ragu-ragu. Dari sikapnya jelas terlihat ada sesuatu yang disembunyikan, entah apa. Yora tidak bisa asal menebaknya.


"Ayo berangkat kita!" Rey memperingatkan kembali.


Hyerin dan Yora langsung mengangkat sebuah tas mereka masing-masing. Pergi ke arah sekolah menuju halte Bus. Di sana mereka menunggu Bus datang dan keberangkatan menuju kota yang diinginkan Hyerin.


"Kenapa sih Yerin ini mau pergi ke kota itu? Padahal di perjalanan ini. Apa kamu tidak sedikit merasa trauma?" Tanya Yora di tengah-tengah perjalanan.


"Hanya sedikit liburan saja, kalau harus trauma terus mau kapan bisa liburannya kan?" Jawab Hyerin terdengar meyakinkan.


Spontan Rey mengalihkan perhatian ke arah mereka berdua.


"Berat nih!" Protes Rey karena ternyata dia sebagai lelaki jadi harus terbebani dengan barang Yora dan Hyerin.


Hyerin hanya membalasnya dengan tertawa begitupun yang dilakukan Yora.


Setibanya di halte.


"Berat banget! Cewe barangnya banyak!" Protes lagi Rey yang terlihat kelelahan.

__ADS_1


Yerin hanya asik dengan Hp nya, tidak mendengarkan apa yang dikatakan Rey. Begitupun Yora asik mengambil foto.


Rey hanya melihatnya lagi tanpa berkomentar, karena sepertinya percuma saja. Dia duduk di halte dan melihat jam di tangannya. Hanya 5 menit lagi biasanya Bus sudah ada yang lewat.


"Itu Bus nya sudah datang, cepat!" Yora langsung memperingatkan. Ke tiganya melambaikan tangan dan menunggu Bus semakin dekat.


Yora maju lebih dulu kemudian disusul dengan Yerin dan terakhir Rey.


Ada perasaan senang yang bercampur dengan bingung. Yerin harus melibatkan lagi ke dua sahabatnya dalam tujuan yang seharusnya mereka tidak harus terlibat lebih jauh.


Di sepanjang jalan yang akan menghabiskan waktu panjang. Yerin tak henti-hentinya mendengarkan cerita Yora yang terus bercerita tentang sekolah dan selama dirinya koma. Yerin hanya diam mendengarkan. Sesekali tatapannya bergerak ke arah Rey yang juga diam dan terlihat menatapnya. Rey sedikit berbeda, dia gugup saat membalas tatapan Yerin. Tidak seperti dulu.


Hyerin mengalihkan lagi perhatiannya ke arah lain. Satu persatu matanya mengabsen setiap penumpang yang ada di dalam Bus itu, semuanya terlihat diam saja dan suasananya sangat sunyi. Hyerin kemudian melihat Yora yang sudah diam dan seperti nya Yora tertidur. Kemudian Rey, Rey tidak tidur tapi dia fokus menjaga pandangannya ke arah lain. Apa yang dilihatnya? Sedikit Hyerin merasa aneh.


Seharusnya Hyerin bisa tidur juga seperti yang dilakukan Yora, tapi rasa mengantuk itu belum juga mengundangnya. Yang dia lakukan hanya diam saja dan sesekali melihat lagi ke arah penumpang yang lain.


Saat meneliti satu persatu penumpang yang ada di dalam Bus Hyerin mulai merasa ada sesuatu yang aneh terjadi. Sekali lagi Hyerin meneliti dengan detail setiap penumpang yang hanya diam saja. Matanya langsung terbelalak saat itu juga, Hyerin melihat jika yang mengisi bus itu bukanlah manusia melainkan seorang roh, Hyerin langsung memastikan ke arah lain lagi dan dia langsung melihat pemandangan yang berbeda. Apakah waktu roh sudah datang lagi? Ada apa dengan dirinya? Mengapa Hyerin melihat lagi semua yang tidak semestinya dia lihat. Hyerin berusaha berteriak kepada Rey yang ternyata tidak mendengarkannya, dia sangat berusaha karena tiba-tiba tubuhnya juga sulit digerakkan. Pikirannya langsung panik Hyerin membayangkan keadaan yang sama pernah dilaluinya ini. Apa yang harus dilakukannya? Saat ini rohnya tak sengaja keluar dari tubuhnya sendiri, namun tidak semuanya dia sendiri terjebak dan rohnya tidak bisa lepas. Sampai kapan hal ini bisa terjadi? Pikir Hyerin mulai panik karena dia tidak bisa memperkirakan waktu yang akan berlangsung dan membuatnya terjebak seperti sekarang.


Hyerin duduk lagi mencoba tenang. Dia tidak perlu membuat sebuah keributan dan memancing roh lain untuk memperhatikan ke arahnya. Dia hanya perlu diam sampai semuanya cepat berlalu dan waktu kembali lagi.


Bus terasa terus berjalan dalam keadaan nyata, tapi Hyerin tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan kedua sahabatnya atau keadaan yang sedang berlangsung di kehidupan nyata. Hyerin tidak bisa melihat dunianya jika dia dalam keadaan roh seperti ini. Keadaan semakin sulit karena dia sendiri tidak bisa lepas dari raganya. Apa yang akan terjadi sebenarnya jika seorang roh tahu dengan kondisinya itu.

__ADS_1


__ADS_2