
Hyerin masih bingung dengan apa yang dilakukan Rai sekarang. Dia ragu melihat keduanya sudah kelelahan, tapi teman yang dikatakan Rai masih belum ketemu.
Saat sudah putus asa, matanya beredar ke semua sisi melihat situasi ke sekelilingnya. Jika diingat-ingat lagi bagi Hyerin ini adalah tempat yang tidak asing, dia sudah lama hidup menjadi roh bahkan mempunyai teman manusia di sini. Badannya berbalik ke arah lain dan wajah Hyerin langsung menatap ke atas tangga, dia tersenyum simpul mengerti sekali dengan situasinya. Hyerin tidak akan pernah lupa jika ia tinggal lama di tempat nenek, persisnya di sini.
Tak lama melihat ke arah tangga, dia melihat lagi ke seberang jalan, banyak sekali bayangan yang muncul tiba-tiba, di sepanjang jalanan sepi itu Hyerin menghabiskan waktu bersama nenek, hingga akhirnya dalam dua tahun dia sudah selesai menemani nenek karena nenek sudah waktunya pergi.
Tanpa bertanya pada Rai yang tampak dari matanya cukup kelelahan, Hyerin berjalan-jalan sendiri dia berjalan ke tengah keramaian kota itu, sekarang tubuhnya bisa merasakan panas dari matahari, hidungnya mampu menghirup udara lagi. Entahlah sedikit perasaannya senang jika keajaiban ini adalah sebuah kesempatan hidup yang baik.
Tanpa berpikir panjang karena terlena dengan kehidupan yang baru dia dapatkan Hyerin terus berjalan dan melupakan Rai yang sudah dia tinggal. Di jalanan yang ramai dengan orang-orang, tanpa bosan Hyerin menatap mereka satu persatu seolah sedang menunjukkan jika dia sekarang sudah hidup kembali. Dan dia duduk di kursi kota, mengamati semua yang berjalan mengikuti waktu dengan bersantai bukankah itu hal baik juga.
Lamanya duduk Hyerin merasa sekarang ada orang lain yang duduk di samping kursinya, tidak masalah kan dia harus terbiasa hidup dengan manusia lagi.
"Kau sudah jadi teman ku kan?" Tiba-tiba telinganya menangkap jelas sebuah pertanyaan dengan nada dan warna suara yang tidak asing akhir-akhir ini.
Hyerin berbalik dan melihat seorang anak kecil lelaki yang berusia sekitar 12 tahunan. Matanya langsung terbelalak sesaat ingatannya memutar kembali dimana saat itu Hyerin menemui anak yang ada di hadapannya.
"Kau sudah berjanji dan sekarang kau harus menjadi teman ku!" Ucapnya senang.
Hyerin diam seribu bahasa, apakah dunia sempit sekali? Dia bertemu lagi dengan anak lelaki yang sama dan dengan ajaibnya anak itu masih mengenalinya, yang lebih mengejutkan kata-kata yang dilontarkan anak itu.
Tak lama seorang wanita dewasa muncul menghampiri. "Kau sedang mengobrol di sini rupanya." Ujarnya seperti baru saja dia berhasil menemukan anak itu lagi. "Ken jangan pergi seenaknya lagi!" Peringatannya yang hanya dibalas dengan senyuman manis. "Kita akan pulang sekarang!" Ucapnya membuat Hyerin bernapas lega, akhirnya sekarang dia terbebas lagi dari anak itu.
__ADS_1
"Aku mau teman ku, Bu. Dia sudah menunggu ku lama di sini. Bisa kau izinkan sebentar agar aku bicara dengannya!" Pintanya pada seorang wanita yang diduga adalah Ibunya.
Hyerin hanya bisa menghela napas, dia tidak mampu mengutarakan kebohongan anak itu dan hanya bisa diam Saja.
"Baiklah hanya sebentar, aku akan menunggumu di sini!" Jawabnya sebagai pilihan untuk Ken.
"Pergilah ke mobil kau tunggu aku di sana!" Tapi anak itu bersikeras hanya ingin berdua saja dengan Hyerin.
Mengagetkannya tidak ada yang keberatan dengan permintaannya hingga akhirnya dia berhasil hanya berdua saja dengan Hyerin.
Keadaannya membuat Hyerin canggung, dia tidak tahu siapa anak kecil itu tapi wajarnya dan harusnya anak itu takut padanya, jika dia adalah anak normal biasa seperti yang lain. Tapi kali ini yang terjadi adalah sebaliknya, Hyerin tak mengerti tapi dia tidak mampu untuk bertanya.
"Aku tinggal cukup jauh dari sini, kau bisa menjadi teman ku itu artinya kita akan bertemu lagi. Aku tahu kau pergi kemana saja dan apa yang kau lakukan. Ku harap kau tetap menjadi teman ku." Ungkapnya, sebuah pernyataan yang malah membuat Hyerin bengong tak mengerti. Benar saja, mata Hyerin sedikit menatapnya takut karena baginya anak itu bukanlah anak biasa, caranya berbicara bagaikan seorang anak yang sudah dewasa atau seumuran dengannya. Setiap perkataannya seolah menjadi keharusan.
Andai saja Hyerin tahu siapa anak manusia itu, jika dia menatap matanya dia merasa seseorang yang pernah ditemuinya tapi entahlah dimana.
Pikiran Hyerin tak lama mempersoalkan tentang seorang anak yang baru saja datang dan pergi seenaknya. Dari kejauhan dalam jangkauan penglihatannya Hyerin mendapatkan bayangan Rai yang sangat kelelahan, mengatur napas dan memandanginya nanar.
Sebentar lagi Rai pasti akan memakinya, saat Hyerin ingin beranjak pergi tapi kakaknya tertahan lagi. Dia sadar sekarang dirinya hanya manusia biasa dan dia akan rentan akan semua hal termasuk kematian. Lebih baik mempunyai teman yang tahu tentang nya dibandingkan berjalan sendirian kemana saja tanpa tujuan.
"Wanita gila! Aku mengejar mu setengah mati, mencari kesana kemari dan kau! Malah bersantai menikmati hidup di sini." Gerutu Rai yang langsung merobohkan tubuhnya di kursi. Rai memang sangat kelelahan berdosa sekali dia telah membuat Rai kesulitan.
__ADS_1
Hyerin masih diam saja, dia tak peduli lagi tentang Rai. Lebih baik menerimanya sebagai teman dulu demi menguntungkan dirinya.
"Kita tidak boleh mati, kita harus tetap bersama, sampai masalahnya selesai!" Ucap Rai dengan susah payah karena napas dari rasa capek menguasai rongga dadanya yang naik turun.
"Bagaimana, sudah kau temukan teman mu?" Tanya Hyerin dia memilih membahas hal yang penting saja dari pada banyak basa-basi.
"Bagaimana bisa aku menemukannya. Kau ada cara yang mudah?" Rai berbalik bertanya dibanding menjawab jika dia tidak berhasil menemukannya.
Hyerin diam sejenak, sebagai manusia pertama yang harus dia miliki adalah rumah, Hyerin harus menemukan rumah untuk berlindung dan untuk tidur.
"Kita harus makan, kita harus tidur, dan sekarang kita akan mencari rumah." Ucap Rai masih bersusah payah.
Hyerin hanya diam saja, sebelum Rai mengatakannya dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Jika tidak ada rumah Hyerin harus bisa menjaga diri tinggal di tempat yang aman. Tapi itu dimana?
"Ayo kita jalan lagi!" Ajak Rai yang tampak tak ingin mengulur waktu, tapi dari tatapan Hyerin memperlihatkan jika dia tidak setuju.
"Aku sudah ada rumah." Ucap Hyerin menghentikan usaha Rai yang akan sia-sia.
Rai berbalik dan menatap Hyerin ragu. Bahkan sebelum dirinya berusaha mencari rumah tapi Hyerin sudah berteriak jika dia mempunyai rumah. Seperti sesuatu yang gila saja.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun dan tanpa mengajak Rai, Hyerin berbalik badan dan sudah berjalan ke arah lain.