
"Yerin ayo bicara!" Bisik Rere. Hyerin terlihat bingung, maksudnya apa? Apakah dia harus bicara di depan semua orang?
"Terimakasih untuk yang tetap tinggal di gedung ini." Seorang pria tiba-tiba berdiri di depan semua dan dengan suara lantang membuka pembicaraan di antara semua yang datang.
Spontan semua pasang mata memperhatikan ke arahnya. Yang aneh adalah tatapan mata Rere yang terus melihatnya terheran. Rere berbalik dan menatap Hyerin yang duduk tepat di sebelahnya, dia menggelengkan kepala seperti sebuah isyarat ada sesuatu yang salah.
"Siapa dia?" Ucap Rere berbisik pada telinga Hyerin. Spontan pernyataan Rere langsung membuat hati Hyerin terhenyak kaget, masalahnya mengapa Rere tidak mengenal pria yang berbicara di depan, Hyerin menyangka jika orang itu termasuk dalam kelompok nya.
"Beruntung sudah banyak orang di tempat ini, setidaknya bisa meminimalisir segala macam kegaduhan di luar sana. Kalian pasti sedang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan perubahan langit, berbagai macam fenomena, dan kenyataannya satu persatu orang di luar sana bisa hilang sekejap mata." Pria itu nyaris membuat jantung setiap orang yang menyaksikan langsung berhenti. Kebanyakan orang tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar termasuk maksud dari pernyataan terakhir pria yang membuat semua bibir berbisik menimbulkan diskusi kecil di antara perkumpulan itu.
"Dia tahu semuanya Re!" Komentar Hyerin setelah mendengar penjelasan singkat di depan mata d egan antusias.
"Siapa sih?" Gumam Rere tak memperhatikan Hyerin yang berbisik padanya.
"Aku tidak akan memaksa siapa untuk percaya, tapi tolong jangan keluar dari tempat ini. Lihat sekarang di luar sana! Kabut tebal sudah hampir memenuhi setiap sudut tempat di dunia kecil ini, pada dimensi yang kalian semua tidak tahu di balik kabut itu satu persatu roh hilang dengan sendirinya. Aku yakin kalian tidak ingin mati sia-siakan?" Lanjutnya lagi masih terus mengutarakan sesuatu yang membuat semua orang tercengang. Termasuk Rere tak pernah tahu bagian terakhir itu. Tapi jika kembali diingat tentang kejadian saat di gedung pertama, Rere di tepat sana pingsan dan Ken juga, hanya Hyerin yang sadar. Lantas kenapa?
Peringatan yang bagaikan seperti kabar kematian bagi siapa saja yang langsung percaya dengan penuturan pria itu. Tapi jika dilihat di dalam ruangan, dominasi orang-orang diam memasang wajah kalut, hingga keadaan menjadi tegang. Tidka terkecuali satupun hang bisa berpikir baik setelah mendengar sebuah pernyataan tak diundang itu.
__ADS_1
"Aku harap kalian semua tetap di sini. Jangan pernah berpikir untuk satu langkah maju dengan alasan penasaran. Silahkan amati di luar sendiri di balik jendela dalam waktu singkat setelah ini." Lanjutnya lagi seperti benar-benar sedang memberitahu sebuah kabar yang harus didengar oleh semua pasang mata.
Setelah mendengar pernyataan itu wajar saja semua orang berlari memburu jendela yang tingginya setinggi kepala. Dan semua berekspresi sama saat melihat kabut tebal mulai membatasi atmosfer antara bumi dan langit, tidak ada tersisa ruang di sana yang pasti setiap incinya dipenuhi kabut menghitam hingga pemandangan hampir terlihat seperti malam.
Pernyataan pria itu benar, kabut memang sedang berjaga di luar seperti enggan melewatkan satu inci pun ruang. Anehnya hanya dalam batas atap gedung kabut itu seolah tidak bisa menyentuhnya, di ruangan itu semua orang saling membalaskan pandangan heran.
Memang beruntung jika gedung sekolah ini terlindungi, tapi bagaimana nasib semua yang tinggal di luar gedung? Apa artinya? Apakah mereka aman di sana?
Dalam pertanyaan yang terus mengutuk pikiran, membuat semuanya menjadi samar seolah tak menemukan nilai kebenarannya.
Tapi dibalik semua pemikiran yang tak kenal batas, wajar saja jika prasangka buruk sebagai sesuatu yang pertama langsung menyadarkan pikiran. Pasti yang dikatakan pria itu berarti jika di dalam gedung semua aman dan di luar gedung seperti yang dia sampaikan tadi, roh bisa hilang di balik kabut itu.
Hyerin berlari seperti yang mereka lakukan, pergi keluar gedung. Dan dari arah pintu dia langsung berdiri tercengang, matanya terbelalak melihat pemandangan yang terjadi.
Ada orang yang terlihat kaget sepertinya, berdua saling berpegangan tangan di teras gedung. Mata Hyerin bergerak memastikan orang-orang yang banyak di luar gedung dalam keadaan pingsan.
Semua orang yang begitu banyak jika di luar gedung akan bernasib sama. Pikirannya kembali memutar tentang kejadian yang menimpa Rere dan Ken. Apa memang karena pengaruh kabut hitam ini yang membuat semua roh pingsan? Hyerin masih menatap lekat orang-orang tak berdaya pingsan di sana, hatinya sangat ketir dia tidak bisa mengatakan satu katapun untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat itu.
__ADS_1
Tanpa sadar perlahan langkah kedua kakinya bergerak maju menghampiri kabut tebal yang membuat semua atmosfir menjadi gelap seperti malam, bahkan retina matanya tidak bisa menembus satupun pemandangan ke depan yang berjarak meteran saja. Ajaibnya kabut ini beruntung tak bisa menembus ke dalam gedung, apakah memang ada pengaruh penting di tempat ini?
Kedua pasang mata Hyerin membulat, dia melihat ke arah belakang yang tak nampak apapun. Tepat di ujung kakinya hanya terlihat orang tergeletak di sana. Hyerin langsung bisa menyimpulkan saat ini dia sudah menembus jalan hingga keluar dari batas gedung dan memasuki kabut, buktinya di sepanjang dia melihat hanya samar kabut yang membalut.
Hatinya kembali terguncang hebat dengan banyak pertanyaan yang menerobos masuk langsung ke dalam pikiran terdalamnya. Dia bisa berdiri normal, menghirup udara yang tersisa di ruang atmosfir, dan tidak merasakan gejala pusing yang bisa saja menyebabkan pingsan seperti orang-orang. Apa yang membuatnya beda? Hyerin terus menerka lagi dalam pikirannya, dia tidak berniat beranjak pergi sebelum mendapatkan jawabannya. Lamanya Hyerin mematung dalam kabut yang masih tebal dan jika dilihat lagi tidak akan mudah hilang dari tempat itu.
"Yerin!"
"Hyerin!"
Seseorang terdengar memanggil namanya beberapa kali, dari warna suara yang dia tahu Hyerin jelas mendengar suara Rere, dia menebaknya jika Rere masih berdiri di batas gedung. Hyerin hanya perlu mundur ke arah belakang untuk kembali ke gedung.
Dari arah kabut yang masih menebak muncul siluet seorang perempuan keluar dari arah itu. Rere cukup bingung melihat Hyerin yang masih berdiri dan tahan dari penyebab utama yang membuat orang-orang pingsan.
"Kau tidak apa-apa?" Cetus Rere spontan dia bertanya, matanya masih melihat Hyerin dengan heran.
"Seperti yang kau lihat." Balas Hyerin singkat. Dia sekarang sudah berdiri sejajar dengan Rere.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan dengan orang-orang di sana?" Lanjutnya lagi.
Rere langsung menarik kesadarannya dan berniat menjawab pertanyaan Hyerin yang berhasil didengarnya sekilas. Tapi sepertinya Rere tidak bisa menjawab, dia masih tercengang dan tidak bisa percaya karena banyak orang terdampar pingsan di depan matanya.