Dilema

Dilema
Cemas


__ADS_3

Moetia sudah keluar dari lift dan berjalan ke kamarnya. Dia membuka kunci lalu masuk kedalam, tapi sebelum Moetia menutup pintu tangan seseorang menahan pintu kamar Moetia.


"Theo!" seru Moetia kesal.


Theo mendorong pintu kamar Moetia agar terbuka, karena kalah kuat dalam adu dorong pintu itu. Moetia mengalah saja dan membiarkan pintunya terbuka dan Theo pun masuk ke dalam.


Moetia meletakkan makanannya diatas meja dan mengambil air minum dari dalam lemari pendingin.


"Aku mau minta maaf padamu, Moetia!" seru Theo mendekati Moetia.


"Kenapa minta maaf, apa salah mu padaku?" tanya Moetia cuek.


"Aku tahu kamu marah karena aku hampir saja menyebutkan nama Calista..."


"Uhuk... uhuk!" Moetia tersedak saat Theo mengucapkan nama Calista.


Melihat reaksi Moetia, Theo tidak melanjutkan ucapannya.


"Moetia, aku tidak sengaja mengatakan itu!" sesal Theo.


"Aku tahu!" sahut Moetia dengan cepat sambil mengambil tissue dan membersihkan wajahnya.


Moetia duduk di meja makan dan membuka kotak chicken biryani miliknya,


"Moetia aku sedang bicara serius!" protes Theo karena dari tadi Moetia tidak melihat ke arahnya.


Moetia berdiri dan menghampiri Theo, dia menyedekap kan tangannya di depan dada.


"Aku tahu kamu tidak sengaja melakukan itu, tapi untuk sesaat tadi aku merasa sangat terganggu dengan kalimat mu! dan memang benar, aku sempat sangat kesal pada Bagas kenapa dia membawaku kesana, kenapa tidak ke tempat lain. Tapi sekarang aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi, kalian punya kenangan bersama Calista dan pasti akan sangat sulit melupakannya. Bahkan jika aku memaksa Bagas melupakannya itu juga tidak akan mudah, tapi jujur saja aku tidak ingin melakukan itu. Karena aku pernah mendengar seseorang berkata padaku, semakin kuat kita menggenggam pasir di tangan kita, maka semakin dia ingin keluar! apa aku terlalu banyak bicara?" tanya Moetia yang melihat Theo memasang wajah yang begitu serius.


Theo berdecak kesal,


"Terkadang ucapan mu sangat tepat Moetia!" kesal Theo.


"Jadi, apa kamu sudah memaafkan aku?" tanya Theo.


"Apa maaf dariku begitu penting?" tanya Moetia balik sambil berjalan kembali ke arah meja makan.


"Tentu saja Moetia, tuan besar pemilik lima puluh lima persen saham di perusahaan ku itu tidak akan memaafkan aku jika kamu belum memaafkan aku!" jelas Theo.


Moetia duduk di kursi lalu mengambil sendok dan mencicipi makanan India yang di belikan oleh Reno tadi.


"Begitu kah? lalu apa yang terjadi jika Bagas tidak memaafkan mu?" tanya Moetia dengan santainya.


Theo mulai gusar, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Moetia,


"Jangan begitu Moetia, jika dia menarik sahamnya dari perusahaan ku, maka ayah ku akan mengirim ku kembali ke Rusia!" jelas Theo dengan ekspresi cemas.


Moetia melihat Theo dengan seksama,


"Baiklah, kalau begitu aku akan berbaik hati padamu!" seru Moetia.


Theo sudah senang,


"Benarkah?" tanya Theo.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan berbaik hati membiarkan kamu di deportasi agar bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tuamu di Rusia!" kekeh Moetia.


Theo sebenarnya kesal dengan apa yang dikatakan Moetia, tapi disisi lain dia senang Moetia sudah tidak sedih lagi bahkan sekarang sudah bisa mentertawakan nya.


"Kamu sungguh kejam Moetia!" seru Theo.


Moetia malah terkekeh lagi,


"Ha ha ha, aku kejam. Berkaca lah Theo! siapa yang selalu membuat kerusuhan!" balas Moetia.


Theo berdecak kesal,


"Apa kamu hanya beli satu kotak makanan itu?" tanya Theo.


"Kamu mau? tadi Reno sudah membelikannya juga untuk mu! telepon saja dia, dan minta dia kemari!" seru Moetia sambil mengunyah makanannya.


"Ponsel ku dikamar! pakai ponselmu saja!" seru Theo.


"Ponsel ku di ambil Bagas! entahlah kenapa dia selalu menyita ponselku saat kami berada jauh dari rumah begini!" seru Moetia santai.


"Dia posesif sekali padamu? apa yang dia khawatir kan?" seru Theo.


"Tidak tahu, pergilah. Jangan menggangguku. Makanan ini sangat lezat, aku ingin santai memakannya!" seru Moetia.


Theo hanya bisa berdecak kesal dan meninggalkan kamar Moetia.


Dari tadi sebenarnya Bagas sudah ada di depan pintu, saat Moetia mengatakan kenapa Bagas tidak membawa Moetia ke tempat lain saja.


Bagas memilih menunggu di luar dan mendengar kan sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Moetia.


Saat Theo keluar, dia melihat Bagas. Tapi ketika Theo akan bersuara, Bagas menutup mulut Theo.


"Diam, pergilah ke kamar Reno. Makanan mu ada padanya!" bisik Bagas pada Theo.


Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan kamar Moetia.


Sementara itu di apartemen Gio, Diana kembali dibuat pusing karena sikap Gio aneh sekali.


Dia dari tadi sibuk mencari fhoto-fhoto orang yang sedang berlibur ke Singapura.


Diana pun duduk di sebelah Gio yang sibuk dengan laptop dan ponselnya,


"Apa kamu mau ganti profesi Gio?" tanya Diana.


"Maksud kakak?" tanya Gio tidak mengerti.


"Iya, apa kamu mau ganti profesi jadi Stalker?" tanya Diana.


"Tentu saja tidak!" jawab Gio cepat.


"Lalu untuk apa semua ini? sudah empat jam kita hanya melihat postingan orang-orang yang sedang berlibur! Atau jangan-jangan kamu ingin mengajak ku liburan ya?" tanya Diana.


Gio malah tertawa,


"Apa kamu lupa kita tidak bisa kemana-mana selama tiga bulan karena kontrak dengan Theodore advertise kak!" ucap Gio mengingatkan Diana.

__ADS_1


"Lalu untuk apa semua ini?" tanya Diana kesal.


"Aku sedang mencari Moetia!" jawab Gio pelan.


"Astaga Gio!" seru Diana sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi Gio! Kamu sungguh tidak praktis!" kesal Diana lagi.


Diana mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Moetia.


Gio melirik sekilas apa yang dilakukan Diana,


"Kalau bisa di telpon! aku tidak akan mencarinya lewat sosial media seperti ini, kakak ku yang cantik!" seru Gio.


Diana jadi keki sendiri, dia kembali menyimpan ponselnya lalu kembali duduk di sebelah Gio.


"Tapi apa kamu tidak memperhatikan? kenapa setiap Moetia pergi jauh dia selalu tidak bisa di hubungi?" tanya Diana penasaran.


Gio terdiam dan menoleh ke Diana, menurut nya apa yang Diana katakan itu benar.


Setiap Moetia pergi dengan Bagas, ponselnya selalu tidak bisa di hubungi.


"Mungkin tidak ada signal!" seru Gio yang sebenarnya menghibur dirinya sendiri.


Diana hanya menganggukkan kepalanya setuju,


"Mungkin saja!" sahut Diana.


Di tempat lain, Belinda sedang sibuk berbelanja bersama Manda. Belinda mendengar Manda baru saja keluar dari klinik, dia cemas jika hal itu berhubungan dengan Bagas.


"Sayang, ambil saja apapun yang kamu suka!" seru Belinda pada Manda.


Manda tersenyum sangat senang,


"Terimakasih Tante, tapi Tante apakah Manda boleh menanyakan sesuatu?" tanya Manda dengan wajah sedih.


Belinda sudah tahu sebenarnya apa yang ingin Manda tanyakan, pasti tentang Bagas.


"Apa itu sayang?" tanya Belinda ramah.


"Apa Bagas sudah memberi kabar? sudah tiga hari dia pergi tapi tidak ada kabar darinya! apakah dia baik-baik saja Tante?" tanya Manda lembut.


Belinda pun tersenyum kaku,


"Begini sayang, sebenarnya saat mereka sampai. Bagas sudah mengabari tante, tapi sejak saat itu sampai sekarang dia belum menelpon lagi, ayahnya Bagas bilang. Perjanjian bisnis dengan klien di Singapura itu sangat penting, jadi ayahnya Bagas melarang Tante menghubungi Bagas jika tidak mendesak!" jelas Belinda apa adanya pada Manda.


"Begitu ya Tante!" sahut Manda sambil tersenyum.


Padahal dalam hati Manda sangat cemas. Bukankah banyak kenangan Bagas dan Calista di Singapura. Manda cemas jika Bagas kembali mengingat wanita itu.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Jangan lupa tinggalkan Like Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹


Vote dan hadiahnya juga boleh 😄😄😄

__ADS_1


Terimakasih ❤️❤️❤️


__ADS_2