
"Apa kamu senang punya banyak lelaki?", kata orang itu tepat di telinga gue. Gue spontan mendorong pak Arkan. Gue ngerasa gue dorong pak Arkan cukup kuat deh, tapi nyata nya tenaga pak Arkan cukup kuat. Pak Arkan mundur beberapa langkah, dan saat itulah gue bisa sedikit bernafas.
"Bapak kenapa bisa disini?", tanya gue setelah merasa gue sedikit lebih baik. " Kenapa, kamu nggak suka saya disini? Kamu merasa terganggu sama kehadiran saya? Kamu takut cowok kamu itu ngira saya pacar kamu? iyaa? jawab saya dong Alexa!", tanya nya bertubi tubi. Gue menatap wajah pak Arkan. Rahangnya mengeras menunjukkan bahwa dia sedang kesal.
Tunggu tunggu, dia kesal? Kesal kenapa? Apa dia cemburu? Nggak nggak nggak, lo mikir apa sih Alexa kepedean banget.
"Kenapa diam aja?", tanya pak Arkan dingin menyadarkan gue dari lamunan. "Bapak cemburu ya?", tanya gue dengan lancang. Setelah menyadari pertanyaan gue, gue langsung mengatupkan bibir gue dan langsung menunduk. "Saya? Cemburu? untuk apa? Saya bukan siapa siapa kamu", katanya datar. Jika dia menyadari dia bukan siapa siapa gue, kenapa dia marah marah sedari tadi?. " Saya lapar. Ayo ikut kerumah saya kamu harus masak buat saya", katanya dengan nada memerintah. Gue pun cuma bisa nurut sama kata kata pak Arkan.
*****
Selama di dalam mobil, pak Arkan hanya diam dengan wajah datarnya. Gue ngerasa aura di dalam mobil ini lebih horor daripada aura di rumah hantu.
"Tadi itu mantan saya pak", kata gue membuka obrolan. Gue juga bingung sama diri gue kenapa bisa ngomong gitu, tapi gue cuma ngerasa pak Arkan harus tau. Gue melihat wajah pak Arkan, datar tapi gue tahu jiwa jiwa kepo nya sedang meronta ronta sekarang. "Kita putus sekitar setahun yang lalu karna dia selingkuh sama mantannya dia. Beberapa hari ini, aku sering ngeliat dia di beberapa tempat. Sampai malam itu, waktu dia nunggu saya di depan kantor." kata gue memberi penjelasan.
"Kenapa harus nunggu kamu di kantor? Kenapa nggak hubungin kamu aja, kuno banget nggak tahu gunanya media sosial itu apa", kata pak Arkan sewot. Nggak tahu kenapa, tapi gue cukup senang akhirnya pak Arkan ngerespon gue.
"Saya sengaja nggak balas semua chat dari dia, dan saya mengganti nomor telepon saya demi menghindari dia", kata gue menjawab kekepoan pak Arkan.
"Terus ngapain dia nemuin kamu di kantor sama sekarang? Mau ngajak balikan?", tanya Pak Arkan lagi. Gue nggak nyangka ya pak Arkan ternyata se kepo ini. " Ternyata di balik wajah datar dan sikap dingin bapak, bapak itu orang nya kepoan ya", kata gue sedikit menggoda pak Arkan. Gue melihat pak Arkan memalingkan wajahnya, tapi sebelum dia memalingkan wajahnya gue ngeliat kalo wajahnya memerah. Oh ya ampun, apa dia malu?
__ADS_1
"Malam itu saya nggak tau tujuan dia nemuin saya itu apa, karna kan bapak langsung datang dan ngajak saya gitu aja. Akhirnya dia bilang bakal nge chat saya, dan saya janji bakal balas chat dia supaya dia ngizinin saya pulang dan ikut bapak", kata gue menjelaskan lagi. Pak Arkan sepertinya mulai tertarik lagi sama cerita gue, meski pun wajahnya dibuat seolah olah nggak peduli.
"Lalu hari ini, ngapain kalian ketemuan?", tanya pak Arkan lagi. Kenapa gue ngerasa situasinya gue lagi di introgasi pacar setelah habis kegep jalan bareng teman cowoknya ya? Gue pun menggelengkan kepala gue pelan, singkirkan semua pikiran kotor lo Alexa.
"Malam itu dia nge chat saya dan ngajak ketemu. Saya ingin menolak, pasti mengingat bagaimana dia selingkuh dari saya dulu. Tapi setelah saya pikir pikir lagi, saya masih merasa janggal dengan cara nya memutuskan hubungan dengan saya dulu. Saya butuh ucapan permintaan maaf dari dia. Saya butuh dia menyesal dan saya juga ingin dia merasakan rasa sakit yang saya rasakan dulu.", kata gue dengan suara sedikit serak dan gue berusaha menahan air mata gue agar tidak jatuh. Diluar dugaan gue, pak Arkan justru menyodorkan sapu tangan nya ke gue. Gue menatap pak Arkan, dan dia tersenyum tipis lalu kembali fokus menyetir. Gue mengambil sapu tangan tersebut dan menyeka air mata gue.
"Kamu masih cinta sama dia?", tanya pak Arkan. Pertanyaan itu sedikit mengejutkan buat gue. Gue berdehem, "Awalnya saya kira saya masih mencintai nya, karna itu saya nerima tawaran untuk bertemu. Namun setelah bertemu saya sadar, bahwa dia hanyalah seorang masa lalu yang pernah berselingkuh dari saya. Saya sadar, lelaki yang pernah berselingkuh itu tidak akan pernah berubah", kata gue memberi jeda. Gue merasa pak Arkan menatap gue sebentar lalu memalingkan wajahnya kembali, memfokuskan diri menyetir.
"Saya sadar perasaan saya telah hilang tepat saat dia memutuskan hubungan nya dengan saya. Dan sekarang saya sedang menyukai seseorang", jujur gue. Gue nggak pernah seterbuka ini sama orang, tapi ke pak Arkan gue ngerasa gue bisa nyeritain apapun dengan nyaman. Gue meneliti wajah pak Arkan, dia sedikit terkejut dan gue tahu dia terkejut karna kalimat gue yang mana.
"Sama laki laki yang kemarin bonceng kamu ke kantor?" tanya pak Arkan. Tunggu tunggu, apa dia ngeliat gue sama pak Adam kemarin? Tapi gimana? Bukannya dia udah jalan lebih dulu ya?
Pak Arkan sedikit tersenyum dengan jawaban gue, dan itu cukup membingungkan.
***
ARKAN POV
"Bukan pak", jawabnya dengan cepat. Gue cukup terkejut dengan pernyataan nya yang secara spontan itu. Tapi anehnya jawaban nya tersebut mampu membuat gue bahagia. gue tersenyum tipis, gue harap Alexa tidak melihat nya.
__ADS_1
Keterbukaan Alexa dalam menceritakan masa lalunya membuat gue cukup bahagia. Gue ngerasa gue bisa jadi tempat pulang untuk Alexa. Melihatnya menangis membuat gue marah, namun melihat bagaimana dia tersenyun saat menerima sapu tangan gue membuat hati gue sedikit berdebar. Apa gue mulai jatuh cinta?
"Kita nggak jadi kerumah", jelas gue ke Alexa.
"Loh kita kemana pak?", tanya nya penasaran.
"Saya mau menebus kesalahan saya karna ngerusak hari santai kamu", kata gue kaku. Entah mengapa gue selalu kaku saat berhadapan dengan Alexa, gue selalu ingin tampil keren saat di depan nya namun yang gue tampilkan justru malah sebaliknya. Gue melihat sekilah ke Alexa, dia terlihat kebingungan tapi memutuskan untuk diam saja.
Gue memutuskan untuk fokus menyetir dan tidak ada lagi perbincangan diantara kita.
25 menit perjalanan, gue akhirnya menghentikan mobil gue di sebuah pantai.
"Turun, kita udah sampai", perintah gue. Alexa yang kebingungan tetap menuruti perintah gue. Gue menarik tangan Alexa ketempat yang udah gue pesan secara diam diam.
Alexa terkejut tapi tetap mengikuti gue. Sampai akhirnya kita sampai di pinggir pantai yang disana telah tersedia meja dan bangku.
Gue menatap ke arah matahari yang sebentar lagi akan terbenam, namun tiba tiba sepasang tangan memeluk gue dari samping.
" Makasih banyak pak", katanya seraya menguatkan pelukannya.
__ADS_1