Dilema

Dilema
Kesalahan Fatal


__ADS_3

Manda terus memikirkan apa yang sudah Sisilia katakan saat keluar dari pintu rumah singgah.


Tadi dia masih sempat membantah, jika Sisilia bahagia melepaskan orang yang dia sayangi kenapa sampai sekarang dia masih sendiri.


Dan jawabannya membuat Manda terdiam.


"Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini Manda!" teriak Sisilia kesal.


"Jangan sampai kamu menyesalinya seumur hidup mu seperti aku Manda. Aku kehilangan orang yang aku sayangi juga keluargaku! kamu masih lebih beruntung, keluargamu bahkan keluarga Moetia masih bersamamu. Percayalah apapun yang kamu lakukan, asal kamu datang dan meminta maaf dengan tulus pada mereka, pintu dan tangan mereka akan terbuka lebar untukmu! Jangan sampai menyesali keputusan sesaat mu, dan akan kamu tanggung itu seumur hidup!" tegas Sisilia.


Manda berjalan dengan langkah kaki tak bertenaga menuju mobil Owen.


Dia masuk dan meminta Owen kembali ke jalan tadi.


Sisilia yang melihat kepergian Manda, ingin kembali mengajar anak-anak. Tapi dia melihat kacamata Manda tertinggal di meja ruangan itu.


Sisilia meraih kaca mata itu, dia melihatnya.


'Ini pasti mahal, aku akan mengembalikannya!' batin Sisilia


Dia pun segera mengambil motor nya dan mengikuti arah pergi mobil Manda.


Di persimpangan jalan, Manda melihat mobil Moetia sudah berhenti di tepi.


Manda bicara pada Owen.


" Dengar, targetnya adalah pemilik mobil itu. Segera tabrak dia, dan segera pergi. Aku akan pergi sendiri dan akan ku hubungi lagi nanti!" seru Manda memberikan instruksi pada Owen.


Owen mengangguk paham. Manda segera keluar dan menghampiri mobil Moetia.


Dia berdiri di depan mobil. Tapi dia justru terkejut ketika yang keluar dari dalam mobil bukan Moetia tapi Reno.


"Kamu!" seru Manda tidak senang.


"Iya.. kamu kaget?" tanya Reno dengan nada mengejek.


Manda panik, dia tidak ingin Owen melakukan kesalahan. Dia menoleh kebelakang melihat ke arah Owen.


Owen mengira Manda memberinya isyarat untuk segera menabrak orang itu.


Manda melihat mobil yang di kendarai Owen melaju sangat kencang, Manda bermaksud memintanya untuk berhenti.


Karena itu jalanan menurun, tiba-tiba rem nya blong dan Owen tidak dapat mengendalikan laju mobilnya.


Mata Manda terbelalak ketika melihat mobil yang di kemudikan Owen justru menuju kearahnya.

__ADS_1


"Aaaakh...!" teriak Manda putus asa sambil menutup wajahnya dengan kedua lengannya.


Manda sudah pasrah, tapi tiba-tiba dia merasa ada yang mendorongnya. Manda terjatuh ke tepi aspal. Lutut dan sukunya berdarah.


"Apa! aku masih hidup!" gumam Manda menepuk wajahnya.


Brakkk!


Suara kencang dari tabrakan mobil Owen yang menabrak pohon besar di tepi jalan.


Mata Manda tertuju kepada seseorang yang sudah bersimbah darah di tengah jalan.


"Reno!!!" teriak Manda yang segera berdiri dan mendekati Reno.


Ternyata Reno yang sudah menyelamatkan Manda dari kejadian tragis yang akan menimpanya.


Manda memangku kepala Reno di pangkuannya, tangannya sudah bersimbah darah Reno. Manda spontan menangis, dia gemetaran. Jika saja Reno tidak mendorongnya maka dia yang akan berada di posisi Reno saat ini.


"Kenapa Reno? kenapa masih menolongku?" ucap Manda yang sudah terisak.


"Manda!!" teriak Sisilia yang menghentikan motornya lalu mendekati Reno.


Sisilia menutup mulutnya dengan tangan nya yang juga gemetar melihat keadaan Reno.


"Bawa kerumah sakit, cepat Manda!!" seru Sisilia yang ikut panik.


Reno bahkan tidak membuka matanya sama sekali.


Secepatnya Manda melajukan mobilnya, hingga tiba di rumah sakit terdekat.


Manda turun dari mobil dan segera berlari masuk ke dalam dan memanggil suster dan dokter yang ada disana.


Reno segera di masukkan ke dalam ruangan ICU. Manda yang tangannya dan bajunya masih berlumuran darah Reno.


Masih terisak menangis terduduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit.


Sisilia yang mengurus administrasi nya, begitu Sisilia kembali dia melihat Manda sudah kacau. Si nona perfeksionis itu terlihat sangat lusuh dengan banyak noda darah di pakaian nya. Bahkan rambutnya sudah acak-acakan tidak karuan.


Air matanya sudah mengalir deras, entah itu air mata takut atau penyesalan. Hanya Manda dan Tuhan yang tahu.


Sisilia meminjam ponsel Manda dan menghubungi Moetia.


Moetia dan Bagas yang mendengar kabar itu segera mencari tahu siapa yang sudah menyebabkan kecelakaan yang terjadi pada Reno.


Moetia dan Bagas pergi ke rumah sakit. Sudah hampir dua jam Reno berada di ruangan Operasi. Perawat juga sudah bolak balik membawa kantung darah dan berbagai peralatan medis guna menunjang operasi itu.

__ADS_1


Manda masih terduduk di lantai dan masih sesekali menangis.


Sisilia melihat Moetia dan Bagas datang, mata Bagas sudah sangat merah menahan amarah. Dia sudah tahu ulah siapa kejadian ini.


Bagas melewati Sisilia dan menghampiri Manda. Sementara Moetia memeluk Sisilia karena sangat sedih atas kecelakaan yang terjadi pada Reno.


Bagas menarik lengan Manda dengan paksa agar dia berdiri.


Bagas melayangkan sebuah tamparan di wajah Manda yang sudah sangat sayu.


Plakkk!


Mata Moetia dan Sisilia segera tertuju ke arah suara tamparan yang cukup kencang itu. Saat Sisilia ingin menghampiri mereka, Moetia menahannya.


Manda memegang pipi yang tadi mendapatkan tamparan dari Bagas. Air matanya kembali mengalir. Rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.


"Dasar perempuan Jahat!!!!" teriak Bagas penuh penekanan.


Bagas sudah tidak memandang lagi bahwa Manda adalah seorang perempuan. Bagas menarik kerah baju Manda.


"Jika sesuatu terjadi pada Reno! dengan tangan ku sendiri aku akan menghabisi mu!!!" seru Bagas dengan suara semakin meninggi.


Sisilia masih bingung kenapa Bagas begitu marah pada Manda.


"Moetia, Manda hampir di tabrak dan Reno menyelamatkan nya!" jelas Sisilia yang hanya mengatakan apa yang sudah dia lihat tadi.


Moetia terdiam, air matanya bahkan sudah menetes sejak tadi. Moetia menghela nafas dalam.


"Apa kakak tahu, siapa orang di balik kejadian ini? Orang sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal?" tanya Moetia dengan raut wajah sedih.


Moetia menelan saliva nya dengan susah payah, dia menoleh ke arah Manda yang masih tertunduk lemah di depan Bagas sambil terus terisak.


Moetia menunjuk tangannya ke arah Manda.


"Wanita itu yang telah menyuruh orang mencelakai aku!" seru Moetia lemah hingga terduduk di lantai.


Sisilia sangat syok, dia tidak menyangka Manda akan se nekat itu. Sisilia bersimpuh di depan Moetia dan memeluknya.


"Jika saja Bagas tidak meminta kak Reno menggantikan kak Reno menemui Manda, maka..." Moetia tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya.


Sisilia memandang penuh kesedihan ke arah Manda. Sementara Manda kembali jatuh terduduk di lantai sambil menangis dan memegangi pipinya setelah Bagas melepaskan kerahnya lalu memeluk Moetia.


...🍎🍎🍎...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Favoritnya ya ❤️...

__ADS_1


...Terimakasih ❤️...


__ADS_2