Dilema

Dilema
Perjanjian Damai


__ADS_3

Keesokan harinya, Chairul, Belinda dan Bagas sudah tiba di kantor pengacara Bram and Partner. Dia juga membawa pengacara keluarga nya.


Chairul disambut sangat baik oleh Bram dan staf nya.


"Selamat datang tuan Chairul dan nyonya. Silahkan duduk!" sapa Bram sangat sopan.


Chairul dan yang lain duduk,


"Dimana Aries dan Moetia?" tanya Chairul.


"Maaf tuan Chairul, sepertinya ada sedikit hambatan. Mereka akan tiba sebentar lagi!" jelas Bram.


Sementara itu di rumah Moetia, Manda sedang menangis memohon pada Aries agar membatalkan tuntutan pada Bagas.


"Om, manda mohon jangan tuntut Bagas. Bukankah mereka sudah meminta maaf! tolong om!" pinta Manda pada Aries.


"Malika tolong nasehati Manda, semua orang harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka!" seru Aries.


Malika berusaha mengajak putrinya menjauh dari Aries, tapi Manda tetap bersi keras tak mau.


Moetia bahkan sudah ikut menangis melihat Manda seperti itu.


Tapi Soraya melarangnya untuk ikut campur.


"Manda!" teriak seseorang dari pintu masuk


Semua orang menoleh ke arah suara itu, dan disana berdiri Ahmad, ayah Manda.


Ahmad bergegas menarik putrinya dan menasihatinya.


"Berhenti menangis, berhenti merajuk. Kamu tidak seharusnya lebih mementingkan orang lain daripada keluarga Moetia." kesal Ahmad.


Ahmad masih memegang tangan Manda, lalu menoleh pada Aries.


"Aries pergilah, aku akan mengurus putriku disini!" serunya


Aries mengangguk paham lalu mengajak Soraya dan Moetia pergi.


"Moetia, jangan tuntut Bagas!" teriak Manda


Moetia masih menengok ke belakang melihat Manda yang begitu tak berdaya, tapi Soraya menggenggam tangan nya dengan lembut.


"Ayo sayang, om Bram sudah menunggu!" seru Soraya.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi.


"Ayah lepaskan, aku harus menyusul Moetia. Bagas tidak boleh di penjara!" teriak Manda pada Ahmad.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Manda dan membuat rengekkannya berhenti.


Dia memegang pipinya dan melihat Ahmad, Manda tak percaya ayahnya menamparnya.


"Ayah," lirih Manda


"Sadarlah nak, kamu sudah mengecewakan om dan Tante mu itu. Mereka sedang berjuang untuk harga diri putri mereka. Dan kamu bukannya mendukung mereka malah melakukan hal sebaliknya!" kesal Ahmad.

__ADS_1


"Ayah, tapi Bagas.."


"Jangan terus memikirkan Bagas, apa dia memikirkan mu sebelum dia melakukan hal tidak senonoh itu pada Moetia. Dia bahkan melakukan nya dihadapan mu! sadarlah nak. Ayah bahkan ragu dia tulus menerima mu!" tegas Ahmad.


Malika hanya menyaksikan perdebatan ayah dan anak itu sambil menangis.


Manda terduduk lemas di lantai,


"Tapi Bagas sudah minta maaf ayah, bahkan Theo sudah memberikan Moetia ganti rugi. Apa dayaku ayah! aku sangat mencintai Bagas! bagaimana mungkin aku membiarkannya di penjara!" lirih Manda


Malika mendekati Manda dan memeluknya,


"Sudah yah," pinta Malika.


"Kita harus menjelaskan dan membuka pikiran anak ini Bu, keluarga Moetia lah yang selama ini jadi penyokong hidup kita. Bahkan Aries memberikan apapun yang Manda inginkan. Soraya mengurusnya seperti putrinya sendiri. Inikah balasan kita pada mereka?" tanya Ahmad yang membuat Malika menundukkan kepalanya.


Manda masih terus menangis di pelukan Malika, sementara Ahmad masih terus berdiri di depan pintu agar Manda tidak menyusul Moetia.


Beberapa menit kemudian, Aries, Soraya dan Moetia sampai di kantor Bram.


Mereka masuk ke dalam, Chairul dan yang lain berdiri ketika Aries memberi salam dan masuk ke ruangan itu.


Mata Bagas langsung tertuju pada wanita berkemeja cream dan celana jeans hitam yang mengurai rambut panjangnya begitu saja tanpa jepit atau pita.


Bahkan riasan tipis dengan lipstik merah muda itu mampu membuat Bagas terus memandanginya tanpa berkedip.


Saat semua duduk, bahkan Bagas tidak menyadarinya, dan dia masih berdiri.


Belinda menarik tangannya agar duduk,


"Bagas," panggil Belinda pelan.


Pandangan mereka bertemu, hati Moetia merasa terenyuh. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Baiklah, selamat pagi semuanya. Saya selaku pengacara keluarga Aries mengucapkan terimakasih atas niat baik dari tuan Chairul."


Dan Bram pun menyampaikan poin-poin penting pertemuan dan masalah tuntutan yang disampaikan.


Setelah Bram selesai, pengacara Chairul juga menyampaikan poin-poin yang ingin mereka sampaikan. Intinya keluarga Chairul menawarkan perdamaian dan bersedia memenuhi apapun persyaratan yang diajukan oleh keluarga Aries agar masalah ini tidak sampai di pengadilan.


"Semudah itu?" tanya Aries kesal


"Begini tuan Aries, kami akan menyetujui semua persyaratan yang kalian inginkan!" jelas pengacara Chairul yang bernama Felix.


Aries terlihat kesal, dia berdiskusi dengan Bram.


Sementara itu Belinda juga berusaha membujuk Soraya.


Chairul lalu menoleh pada Moetia yang hanya diam menundukkan kepalanya,


"Moetia," panggil Chairul


Semua orang menoleh ke Chairul saat dia memanggil Moetia.


Moetia juga menoleh dan memperhatikan Chairul,


"Om sungguh minta maaf atas apa yang sudah Bagas lakukan. Apapun alasannya om tahu itu tidak benar. Tapi bisakah kamu memberikan Bagas kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya ini?" tanya Chairul lembut tapi tetap tegas.

__ADS_1


Moetia memandang ke arah papa dan mamanya bergantian.


Belinda juga memandang dengan tatapan memohon pada Moetia.


Hati Moetia tersentuh melihat ketulusan dari Chairul dan Belinda.


"Bagaimana jika kita membiarkan Bagas dan Moetia bicara, mungkin Bagas ingin menyampaikan permintaan maaf secara pribadi pada Moetia!" seru Felix


Aries terlihat tidak senang,


"Tidak, bagaimana jika..."


"Benar, saya yang menjamin Bagas tidak akan menyakiti Moetia lagi!" seru Chairul.


"Bagaimana Moetia?" tanya Bram.


Moetia masih bingung, dia melihat ke arah papa dan mamanya lagi.


Dia melihat Soraya mengangguk dan Moetia pun mengerti.


Moetia lalu mengangguk pelan pada Bram.


Kemudian sekertaris Bram, menunjukan sebuah ruangan berdinding kaca kedap suara.


Disana memang biasa dipakai untuk berdiskusi dan juga mediasi seperti ini.


Moetia dan Bagas masuk keruangan itu, dan yang lain melihatnya dari luar.


Bagas menarik kursi untuk Moetia, Moetia memilih duduk di kursi yang lain tanpa menoleh pada Bagas.


Bagas menghela nafas panjang dan duduk di kursi yang tadi dia tarik.


Belum ada pembicaraan di antara mereka. Bagas hanya memandang Moetia, sedangkan Moetia masih mengacuhkannya dan melihat ke arah lain.


Diluar ruangan itu, Belinda sangat gemas melihat Bagas belum bicara juga.


"Astaga, Bagas apa yang kamu lakukan. Kenapa dari tadi malah diam saja!" kesal Belinda.


"Ssstt," Chairul mengisyaratkan Belinda agar diam.


Bagas masih terus memandang Moetia yang mulai jengah,


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini!" ucap Bagas lembut.


Moetia membuang nafasnya, dia menggelengkan kepalanya sekilas.


"Moetia, apakah kamu benar-benar akan mengirim ku ke penjara?" tanya Bagas lembut


Dari luar Belinda terlihat senang, Bagas sudah mulai terlihat berbicara.


"Akhirnya, dia bicara juga. Kenapa tidak dari tadi saja!" ucap Belinda antusias.


Chairul lagi-lagi harus meletakkan jari telunjuknya di bibir Belinda agar dia diam.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...

__ADS_1


...Think u ❤️...


__ADS_2