Dilema

Dilema
Part 24 Baby cumi


__ADS_3

Di sore hari,saat aku melipat baju di kamar, sementara anakku bermain di ruang tengah dengan mainannya.


Suamiku mengaduh dan terlihat kesal, kemudian ia memasuki kamar untuk mengambil minyak kayu putih, aku melihatnya dan diam saja.


Aku tetap lanjut membereskan baju dan celana yang baru saja kuangkat dari jemuran di belakang rumah, lumayan banyak cucianku hari ini, pagi tadi aku menjemurnya


Kemudian berangkat ke sekolah bersama anakku, jam sebelas aku jemput anakku ke sekolahnya dan ku bawa kembali anakku ke kantor, tempat ku bekerja sebagai tenaga pengajar,dan kami pulang bersama.


Sampai rumah kami beberes,ku siapkan makan siang, ku ajak suamiku dan anakku makan siang bersama, lalu ku tidurkan anakku untuk istirahat siang.


"Ah...! Ada apa sih ini, kok perutku sakit sekali" ucap nya sambil mengaduh dan memegang perutnya.


"Kenapa ya..?" ucapnya lagi


Diapun berbaring dan mengoleskan minyak kayu putih yang baru diambilnya di rak diatas lemari pendek selutut di kamar.


"Aku salah makan apa ya?" dia melihat padaku dan bertanya.


Akupun melihat kearahnya.


"ga ada apa2 kok kayanya Mas" jawabku


"Iya, perasaan makanan ga ada yang aneh- aneh deh.." sahutnya.


"Iya" jawabku lagi, sambil mengerenyitkan keningku.


Aku berpikir makan apa ya dia, rasanya tak ada yang salah.


Dia juga diam sepertinya sedang mengingat-ingat apa yang di makan.


Tak berapa lama..


"Semakin sakit ini, ah.."Kemudian dia bangkit dari kasur dan bergegas ke belakang.

__ADS_1


akupun membereskan kembali baju dan celana, selanjutnya ku susun di dalam lemari.


Langkah besar memasuki kamar kembali dan dengan cepat mengambil minyak kayu putih dan cepat mengoleskan minyak kayu putih itu ke perutnya, dan kembali lagi bergegas menuju dapur.


"Mas.."


Tak ada jawaban suamiku hanya berlalu.


kulanjutkan menyapu dan menyiram bunga di teras, bunga di teras tampak indah di dalam pot-pot warna biru miliku, ya aku sengaja membeli pot dengan warna biru terang, terasa segar mata ini melihatnya.


Lumayan banyak aku memiliki bungga dalam pot, tapi didominasi dengan jenis bunga mawar dan beberapa bunga asoka, dan jenis bunga yang lainnya.


Bunga mawarku belum tinggi hanya seukuran lutut dan selalu ku pangkas dengan gunting agar tak jembar, dan kuletakkan paling ujung teras agar tak berbahaya ketika ada Faira bila bermain.


Bunga asoka pun masih pendek baru satu jengkal saja, aku baru saja menanamnya di dalam pot jadi terlihat masih mungil dan cantik.


kemudian aku menuju dapur, melewati kamar, tampak suamiku sudah duduk di ujung ranjang, dia sudah dengan hpnya.


Ku hentikan langkah dan bertanya di depan pintu kamar.


"Udah baikkan, Mas" aku berkata penuh tanya.


"Iya udah mending ini, mungkin tadi pas di kantor makan camilan yang di bawa Budi" jawabnya


"Ya" sahutku.


Akupun berlalu menuju dapur ingin mencuci piring bekas tadi makan siang yang ku taruh di wastafel dan belum ku cuci, saat menyabuni piring aku teringat sesuatu...


"Astagfirullahaladzim" Aku nerucao dalam hati.


Ya aku membeli baby cumi, ya karena baby cumi Ayah Faira menjadi mules.


Aku membelinya secara online dari bu Sri, kata bu sri temannya menjual baby cumi yang sudah siap matang, temannya itu menjual masakannya dan menyebarkan d status wa,3 hari yang lalu.

__ADS_1


"Temanku ini mau open order baby cumi matang pedas, siapa mau pesan?"


Bu Sri berkata saat jam istirahat dan semua guru berada di kantor.


Ibu-ibu ada beberapa pesan dan aku juga ikut memesannya, dia membagikan foto baby cumi itu di group wa sekolah.


Terlihat mengiurkan foto yang dikirimkan Bu sri, menggugah selera,pedas dan pastinya enak, akupun tertarik dan memesannya,dan hari ini dia membawakannya ke sekolah


Masing- masing di masukkan ke dalam wadah plastik yang tertutup rapat, diatasnya bertuliskan nama pemesan,dia pun membagikannya seperti mengabsen kami di kelas.


Setiap nama yang dipanggil mendatangi mejanya, kami semua tertawa saat Bu sri membagikan baby cumi itu sambil mengambi ke mejanya.


"Waduh kita lagi antri sembako ini" kata Bu Dewi


"Iya" hehee..


"Ayo..., antri-antri.."


Jadilah suasana rame di kantor.


Aku lupa kalau suamiku tak bisa makan cumi, dia akan sakit perut apabila makan cumi, ku pikir tidak apa-apa karena cuminya masih bayi jadi tak akan membuat sakit perut, kecuali cuminya sudah dewasa atau remaja.


Tadi siang aku taruh di piring,bersama lauk dan sayur serta sambal, dia juga tak bertanya apa itu dia pikir sambal mungkin, jadi dimakan saja, aku juga tak bilang padanya itu cumi, lagi pula suamiku itu pecinta pedas, dikira sambal mungkin.


Maaf Ayah Faira, aku tak sengaja, kalau aku tahu tak akan aku membuatmu sakit perut.Aku tak mau bilang padanya.


Nanti dia akan marah padaku, biar saja anggap saja memang lupa, tak usah di beri tahu bisa jadi dia akan mengomel, aku malas mendengar omelannya, atau memang cara semesta untuk sedikit mengerjai suamiku itu.


Biarlah dia juga tak ambil pusing, dan sepertinya tak kenapa-kenapa.


Masih mending cuma sakit perut, coba saja kalau alergi bisa gawat, aneh memang sama makanan seafood yang lain dia tak apa-apa, udang misalnya.


Suamiku tak akan kenapa-kenapa,apalagi ku bikinkan bakwan dengan udang di tengahnya, bisa habis satu piring penuh dimakannya, dia memang sangat suka dengan bakwan apalagi di tambah udang.

__ADS_1


__ADS_2