Dilema

Dilema
Theo dan Manda


__ADS_3

Moetia memilih untuk keluar dari ruangan make up Manda, daripada harus menjadi bulan-bulanan Theo yang terus menyindir nya.


Lagipula dia juga ingin membiarkan Manda bersama Theo. Karena Theo bisa membuat Manda terus tertawa, dan Moetia menyukai itu.


"Kenapa Bagas dan Austin bisa punya teman pria narsis seperti Theo!" gumam Moetia sambil berjalan berkeliling di hotel itu.


Pandangannya mengarah ke kolam renang indoor yang sedang dihias sangat megah dan romantis.


Moetia pun melangkah ke arah tempat itu, Moetia hanya melihat dari pintu kaca yang kebetulan memang di buka agar para pekerja lebih mudah keluar masuk tempat itu.


"Wah, cantik sekali" ucap Moetia tanpa sadar karena begitu terkesima dengan semua hiasan yang ada di sana.


Mendengar Moetia, seorang pelayan wanita menghampiri nya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pelayan wanita itu.


Moetia tersenyum kikuk


"Maaf, aku hanya kebetulan lewat. Dan aku berhenti karena melihat begitu indah dan cantiknya ruangan ini? sepertinya seseorang akan memberi kejutan pada istri atau kekasihnya ya?" tanya Moetia


Pelayan wanita itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Anda benar nona, anak pak gubernur akan memberikan kejutan untuk kekasihnya!" seru pelayan wanita itu.


"Anak gubernur?" tanya Moetia mengulang perkataan pelayanan wanita itu.


'Bukankah Manda bilang mantan pacar Bagas itu menikah dengan anak gubernur?' batin Moetia bertanya-tanya.


"Apakah anak gubernur yang kamu maksud itu, bernama Marshal?" tanya Moetia memastikan.


"Iya nona, tuan Marshal Yudhistira. Lihat dia memajang potret kekasihnya yang sangat besar disana." kata pelayan wanita itu sambil menunjuk ke arah potret seorang wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun.


'Tapi wanita itu bukan Calista,' batin Manda lagi.


Moetia melihat potret itu dengan seksama,


"Tapi bukankah tuan Marshal itu sudah punya istri? dan sepertinya itu bukan potret istrinya kan?" tanya Moetia penasaran.


Moetia benar-benar dibuat penasaran, karena setahu Moetia, istri anak gubernur itu adalah Calista, mantan kekasih Bagas.


Pelayan itu diam sebentar lalu menjawab pertanyaan Moetia,


"Apa anda tidak tahu nona, mantan istri tuan Marshal kan sekarang cacat, kabarnya dia kecelakaan dan sekarang dia itu lumpuh dan tidak bisa berjalan. Alhasil tuan Marshal menceraikan nya dan malam ini dia akan melamar seorang model terkenal bernama Shannon." terang pelayan wanita yang sepertinya memang tukang gosip.


"Padahal ya, mereka baru bercerai belum ada sebulan. Kasihan sekali mantan istrinya itu," sambung pelayan wanita itu sambil bergeleng beberapa kali.


Moetia merasa ikut kasihan pada Calista, dia terdiam sebentar menghela nafasnya dan,


"Kamu benar, kasihan sekali mantan istrinya itu." sahut Moetia.


"Tapi nona, dengar-dengar ini semua karena si mantan istrinya tuan Marshal itu terkena karma!" seru pelayan itu dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat sedikit horor.


Moetia terkejut,


"Karma?" seru Moetia.

__ADS_1


"Iya nona, aku dengar dari klub entertainment yang aku ikuti. Dulu mantan istrinya itu meninggalkan kekasihnya yang juga seorang pengusaha terkenal demi menikahi tuan Marshal, sekarang gantian dia ditinggalkan setelah dirinya tak berdaya." seru pelayan wanita itu dengan tegas.


Moetia jadi bingung harus bagaimana merespon kata-kata pelayan itu.


"Oh ya nona, nanti malam akan ada penampilan dari penyanyi pendatang baru yang sangat tampan lho!" seru pelayan yang sepertinya cepat akrab pada siapapun itu.


Moetia tersenyum,


"Benarkah? Siapa?" tanya Moetia juga antusias.


"Gio, Gio si charming mellow itu. Aku bahkan penggemar beratnya nona!" kata pelayan itu


Moetia tersenyum senang,


"Benarkah? si charming mellow, kamu memberikan julukan sempurna untuk nya. Lalu apa acara ini akan di liput oleh media?" tanya Moetia


"Tidak nona, hanya kalangan terbatas saja. Dan untuk julukan si charming mellow itu, adalah julukan dari klub ku, mereka semua adalah penggemar berat Gio!" jawabnya


Moetia tersenyum sangat senang mendengar Gio punya banyak penggemar.


Tiba-tiba seseorang memanggil pelayan wanita itu.


"Maya," teriak seseorang dari jauh.


"Nona, aku harus pergi. Jangan katakan yang aku ceritakan padamu tadi pada orang lain ya, itu rahasia!" serunya sambil berlalu dan melambaikan tangan nya pada Moetia.


Moetia juga ikut tersenyum dan melambaikan tangan nya.


Belum Moetia berbalik, seseorang memeluknya dari belakang.


Moetia yang tadinya terkejut, menghela nafasnya lega.


Moetia memukul tangan Bagas yang memeluk perutnya.


Plak!


"Kamu mengejutkan ku!" protes Moetia


Bagas menghadapkan Moetia ke hadapannya.


"Aku sangat merindukanmu, sudah tiga jam lima puluh menit aku tidak mendengar suaramu!" ucap Bagas ber manja pada Moetia dan mencium punggung tangan Moetia.


"Siapa suruh tidak mengembalikan ponsel ku!" balas Moetia.


"Sayang aku membelikan ponsel baru untukmu, ada di mobil. Ikutlah dengan ku!" ajak Bagas sambil menggandeng tangan Moetia.


Bagas mengajak Moetia ke mobilnya, Bagas membukakan pintu mobil agar Moetia masuk ke dalam.


Setelah Moetia masuk ke dalam mobil, Bagas juga ikut masuk.


"Darimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Moetia.


"Dari Theo, dia bilang kamu ada di lantai tiga hotel ini, dan dia juga bilang jangan masuk ke ruang make up! dia bilang dia sedang bersama senorita nya!" jelas Bagas sambil memberikan ponsel baru untuk Moetia.


Moetia membulat kan matanya,

__ADS_1


"Pria narsis itu?" seru Moetia sambil meraih ponsel pemberian Bagas.


Bagas terkekeh,


"Kamu benar, bukan hanya kamu saja bilang dia itu narsis. Tapi aku harus mengatakan hal ini padamu. Dulu dia pernah menyatakan perasaannya pada sahabat mu itu, tapi sayang sekali sahabat mu itu menolaknya." cerita Bagas.


"Itu kan karena Manda menyukaimu! sepertinya sekarang pun dia masih menyukai Manda, dia selalu berkata manis memuji Manda!" ucap Moetia senang.


"Aku tidak tahu, tapi kurasa tidak. Dia sudah punya tunangan! dan wanita itu adalah adik Austin, namanya Audrey. Dia yang merancang kalung mu itu." jelas Bagas


Moetia memandangi kalungnya,


"Begitu ya!" sahut Moetia


"Apa kamu kecewa?" tanya Bagas.


"Kenapa aku harus kecewa?" tanya Moetia


Bagas memegang tangan Moetia,


"Tentu saja karena jika Manda bisa bersama dengan Theo, bukankah aku akan jadi milikmu seutuhnya." goda Bagas mengedipkan sebelah matanya pada Moetia.


Moetia malah diam dan terlihat berfikir, sebenarnya dia ragu apakah harus mengatakan cerita tentang Calista tadi pada Bagas atau tidak.


Bagas yang melihat Moetia terdiam, membelai lembut kepalanya.


"Ada apa? walaupun dia mencintai ku, aku tetap hanya milikmu seorang!" seru Bagas membelai lembut wajah Moetia.


Moetia tersenyum, lalu meraih tangan Bagas dan menggenggamnya.


"Aku tahu," jawab Moetia menggenggam tangan Bagas.


"Sayang, temani aku makan malam ya, Austin ingin merayakan kedatangan Theo dari Singapura, jadi dia mengajakku makan malam di Lux, kamu mau kan temani aku?" tanya Bagas


Moetia berfikir sejenak,


"Mungkin tidak, jika Theo mengajak Manda?" tanya Moetia


"Tidak mungkin sayang, Austin akan mendeportasi Theo ke Rusia, jika dia mengajak Manda makan malam bersama." jawab Bagas terkekeh.


Moetia mengangguk paham,


"Baiklah, dan terimakasih untuk ponselnya!" seru Moetia.


Bagas tersenyum dan mengecup kening Moetia dengan lembut dan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, apapun untukmu!" seru Bagas lalu meraih Moetia ke pelukannya.


...💕💕💕💕💕💕💕...


Terimakasih untuk para readers yang baik hati, dan juga para sahabat author yang selalu saling mendukung.


Love u all ❤️❤️❤️


Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2