
Bagas merasakan perasaan nya tidak tenang, sejak tadi dia terlihat gelisah dan tidak fokus dengan pertemuan penting nya dengan klien dari negara ini.
Reno terlihat cemas, semalam mereka baru saja tanda tangan kontrak. Jika klien melihat Bagas tidak serius dalam pekerjaan nya maka bisa saja klien itu membatalkan kontrak dengan Wiguna grup.
Reno berusaha mengajak bicara klien itu dengan baik. Sekitar pukul sebelas lebih tiga puluh menit pertemuan itu akhirnya selesai.
Reno mengantarkan para tamu sampai ke luar restoran.
Bagas terlihat sibuk dengan ponselnya,
"Ada apa?" tanya Reno yang sudah kembali dan mendatangi Bagas.
"Entahlah, aku merasa tidak tenang saja. Kuharap Moetia baik-baik saja!" jawab Bagas.
Reno juga menghela nafas nya panjang, sebenarnya dari tadi dia juga merasa tidak nyaman, tapi dia pikir itu hanya perasaan gugup saat bertemu dengan klien penting.
Reno juga tidak ingin membuat Bagas bertambah cemas.
"Theo, si berandalan itu. Apa dia belum bangun? dia tidak mengangkat telepon ku!" kesal Bagas.
Reno menepuk bahu Bagas,
"Sudah lah, lebih baik kita kembali saja ke hotel. Dan lihat apakah bos Theo sudah bangun atau belum?" seru Reno.
"Ren, berhentilah memanggilnya begitu! aku bos mu, bukan dia!" protes Bagas.
Reno hanya menganggukkan kepalanya, mereka berdua kembali ke hotel.
Sementara itu setelah membuat keributan dengan si manager yang bernama Agustinus itu, Theo berhasil masuk ke ruang CCTV hotel.
Dia melihat monitor satu persatu, Hampir setengah jam tapi dia belum berhasil menemukan rekaman Moetia, hingga si manager melihat rekaman yang menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit di depan pintu lift.
"Tuan Theo, apa dia wanita yang anda cari?" tanya si manager.
Theo segera melihat ke arah monitor yang di tunjuk Agustinus,
"Iya, itu Moetia. Dengan siapa dia?" tanya Theo.
Agustinus dan dua orang staf lain hanya saling pandang.
Theo memperhatikan rekaman itu dengan seksama, dan akhirnya dia menghela nafas lega.
"Syukurlah, aku kira hidup ku akan berakhir!" seru Theo.
"Kelihatan nya dia sedang mengantarkan wanita tua itu ke rumah sakit, tuan!" seru Agustinus.
"Sepertinya iya, baguslah. Aku akan menunggunya kembali. Terimakasih ya pak manager!" seru Theo melenggang begitu saja dari ruang CCTV.
Agustinus dan dua staf teknisi hotel hanya saling pandang dan menghela nafas mereka lega. Theo sungguh sangat merepotkan mereka tadi.
Theo kembali ke kamar Moetia, dia berniat menunggu Moetia kembali.
Tapi dia terkejut ketika masuk ke dalam kamar, dia di sambut oleh Bagas yang sedang berdiri si depannya sambil berkacak pinggang dan memelototi nya.
Theo tersenyum kaku,
__ADS_1
"Kalian sudah kembali?" tanya Theo melihat ke arah Reno yang sedang duduk di sofa sambil memijit pelipisnya sendiri.
"Darimana kamu? dimana Moetia?" tanya Bagas dengan nada suara meninggi.
"Aku dari ruang CCTV." jawab Theo lalu duduk di samping Reno.
Bagas mendekatinya,
"Dimana Moetia?" tanya Bagas lagi.
"Tadi itu..." Theo terlihat bingung harus menjelaskannya dari mana dulu.
Reno menepuk bahu Theo,
"Katakan kenapa kamu pergi ke ruang CCTV?" tanya Reno mempermudah Theo.
"Saat aku bangun, aku ke kamar Moetia. Dan Moetia tidak ada..."
"Apa?" teriak Bagas.
Theo menghadang Bagas dengan kedua tangannya,
"Dengarkan aku dulu!" seru Theo.
Reno menarik tangan Bagas agar dia duduk.
"Aku mencari Moetia kemana-mana, tapi dia tidak ada. Aku menunggunya tapi dia tidak kembali juga.."
Mata Bagas sudah merah karena kesal,
Bagas berdiri dari duduknya,
"Jam berapa dia pergi?" tanya Bagas.
"Menurut rekaman itu, sekitar jam sepuluh tiga puluh dia keluar dari area hotel ini!" jelas Theo.
"Apa kamu tidak waras Theo, dia pergi pukul sepuluh tiga puluh dan sampai pukul dua belas tiga puluh belum kembali, kamu bisa tenang seperti ini. Kamu sungguh tidak bisa diandalkan Theo, Reno cepat ajak si bodoh ini, ikut aku ke ke ruang CCTV!" perintah Bagas.
Reno pun menarik tangan Theo yang masih syock, dia tidak menyadari bahwa Moetia sudah pergi selama dua jam.
Sepanjang jalan menuju ruang CCTV Bagas terlihat sangat kesal.
"Apa aku akan berakhir disini Ren?" tanya Theo cemas.
Reno menggeleng dengan cepat, dia sendiri juga sedang mencemaskan Moetia.
Agustinus terkejut ketika Theo kembali dengan dua orang pria dengan wajah lebih tidak bersahabat daripada Theo tadi.
Sementara jauh di daerah barat Singapura, mobil yang membawa Moetia tiba di sebuah villa yang cukup mewah.
Daerah itu jauh dari keramaian, hanya ada sebuah villa di tengah hamparan Padang rumput hijau dan danau yang berwarna senada.
Moetia belum sadarkan diri ketika Seruni dan supirnya yang juga anak buahnya yang bernama Haiden itu membawanya masuk ke dalam villa.
Haiden membopong Moetia dan membawanya ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh tuan mereka. Dengan empat orang penjaga berjaga di depan pintu dan di luar jendela kamar Moetia.
__ADS_1
Setelah itu Seruni dan Haiden menghadap ke tuannya.
"Selamat siang tuan!" sapa seruni menundukkan kepalanya.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berkulit putih sangat tampan berbalik dan menghadap ke arah mereka.
Dia adalah Marvin Payage. Saingan bisnis Bagas yang merupakan orang Indonesia juga tapi dia juga keturunan Seseorang yang sangat berpengaruh di Filipina.
"Kerja bagus Seruni, Haiden. Kalian bisa beristirahat! Apakah wanita itu sudah sadar? " tanya Marvin.
"Belum tuan, mungkin satu jam lagi!" jawab Seruni.
Marvin hanya mengangguk paham, Seruni dan Haiden pun meninggalkan ruangan itu.
Marvin lalu mendatangi Moetia di kamarnya. Dia melihat Moetia dari jauh dan memperhatikannya.
"Apa yang menarik dari wanita ini. Sepertinya selera tuan muda Wiguna itu sungguh.." Marvin tidak melanjutkan perkataannya dan hanya menggelengkan kepalanya saja.
Sementara itu di hotel, Bagas sedang membuat semua orang di dalam ruangan itu panik. Bagas meminta agar operator CCTV itu memperjelas wajah si perempuan tua yang Moetia tolong.
Tapi karena wajah wanita itu selalu membelakangi CCTV sangat sulit bagi operator untuk memperjelas nya.
"Lakukan pekerjaan mu dengan benar!" seru Bagas.
"Bagaimana dengan plat mobil nya? apa bisa di perjelas?" tanya Reno.
Operator itu pun berusaha mengambil gambar yang bisa di perjelas, tapi sepertinya mereka sudah merencanakan ini semua dengan matang.
Plat mobilnya ditutupi cat, lalu wanita dan supirnya seperti sudah tahu dimana arah kamera CCTV dan selalu berdiri membelakangi nya.
Bagas memukul lengannya ke udara,
"Sial, seharusnya aku tidak membawa Moetia kesini! bagaimana jika terjadi sesuatu padanya!" sesal Bagas.
Theo mendekati Bagas,
"Tenang dulu Bagas!" ucap Theo gugup.
"Kamu bilang apa? tenang? Moetia diculik Theo! dan kamu menyuruhku tenang?" kesal Bagas.
"Aku sudah menghubungi anak buah ayahmu, mereka akan kemari sekitar delapan jam lagi." sambung Reno.
"Bagaimana kalau lapor polisi saja?" tanya Theo.
"Laporan orang hilang akan diterima jika sudah hilang selama dua puluh empat jam!" jelas Agustinus.
Bagas keluar dari ruangan itu, dia duduk bersandar di dinding.
"Moetia..." lirih nya.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Terimakasih untuk Like dan Komentar nya 😘😘😘...
...Juga untuk Vote dan hadiah nya 🙏🙏🙏...
__ADS_1
...Love u all ❤️❤️❤️...