Dilema

Dilema
Menemukan Moetia


__ADS_3

Lewat tengah malam, Bagas bersama Reno dan beberapa anak buah Benjamin tiba di sebuah pondok yang cukup besar.


Bagas turun dari mobil dan langsung berlari menuju pintu pondok itu.


Reno hanya memperhatikan pondok itu dari luar.


"Lampunya tidak menyala, tidak ada mobil atau kendaraan lainnya. Pasti Marvin tidak membawa Moetia kesini!" gumam Reno.


Bagas yang sudah berhasil mendobrak pintu pun akhirnya memeriksa pondok itu dengan seksama, tapi hasilnya nihil.


Bagas pun keluar dengan lemah,


"Tidak ada tanda-tanda kehidupan! Moetia pasti tidak dibawa kemari!" ucap Bagas sedih.


Reno segera menghubungi Benjamin,


"Halo, Ben!" sapa Reno.


"Ren, hasilnya nihil, sepertinya tuan muda Payage itu tidak membawa Moetia kemari, villa ini kosong!" jelas Benjamin.


Reno pun mematikan ponselnya lagi. Dia mendekati Bagas.


"Kita cari ke tempat lainnya!" ajak Reno.


Bagas menghela nafas nya berat,


"Ayo!" sahutnya.


Di tempat lain, Diana terlihat sibuk memasukkan nomer Theo ke ponsel Gio. Tadi Diana menghubungi asistennya Theo, dan kebetulan asisten nya itu sangat baik hati hingga mau mengangkat telepon dari Diana di tengah malam.


Gio segera menghubungi Theo.


Di tempat lain Theo yang baru saja keluar dari villa bersama Benjamin merasa sangat kesal kenapa dari tadi ponselnya terus berdering.


"Angkat saja, siapa tahu penting!" seru Benjamin.


Theo mengangkat teleponnya,


"Halo!" ucap Theo ketus.


"Pak Theo, ini Gio!" jawab Gio.


"Hei ada apa? kamu tidak tidur, ini sudah malam. Kamu adalah ambasador perusahaan ku, jangan sampai ada kantung mata di bawah mata mu!" seru Theo.


"Begini pak Theo..."


"Panggil aku Theo, aku bukan bapak mu!" sela Theo.


"Iya, Theo. Kudengar kamu ada Singapura, bisa kah aku minta nomer telepon Bagas?" tanya Gio gugup.


"Ada apa?" tanya Theo.


"Ku dengar Moetia dan Bagas sedang ada urusan bisnis, tapi tadi aku melihat Moetia ada di rumah sakit!" jelas Theo.


Theo membulatkan matanya, dia memanggil Benjamin dengan melambaikan tangan nya.


"Di rumah sakit? apa kamu yakin? di rumah sakit mana? bagaimana kamu bisa melihat Moetia disana?" tanya Theo bertubi-tubi.


"Aku sedang melihat postingan temanku yang sedang berlibur ke Singapura, postingan secara live. Dan aku dengan jelas melihat Moetia sedang di periksa dokter di belakang teman ku itu!" jelas Gio cemas.


"Gio, setelah aku kembali ke Indonesia. Aku akan naikkan nilai kontrak mu! sekarang kirimkan video itu ke ponsel ku, cepat ya!" seru Theo lalu memutuskan panggilan teleponnya.


Beberapa detik kemudian, ada pesan video yang masuk ke dalam ponsel Theo.


Theo segera menunjukkan video itu pada Benjamin.

__ADS_1


"Selidiki, rumah sakit mana ini!" perintah Theo.


Benjamin segera menyerahkan video itu pada anak buahnya yang ahli dalam bidang itu.


"Ini ada label pada pintu ruangannya, rumah sakit ini di dekat wilayah perbukitan bagian barat!" jawab anak buah Benjamin.


Theo terlihat bersemangat,


"Baguslah, Bagas dan Reno sedang ada di sana!" ucap nya.


Theo segera menelpon Bagas,


"Katakan!" seru Bagas lelah.


"Hei bersemangat lah, aku sudah temukan dimana wanita mu!" seru Theo bangga.


"Dia ada di villa, apa kamu sudah menyelamatkan nya?" tanya Bagas antusias.


"Tidak!" jawab Theo cepat.


"Hentikan tingkah konyol mu itu!" seru Bagas kesal.


"Hei, cepat ke rumah sakit dekat area perbukitan, Moetia ada disana! cepat Bagas, sebelum mereka meninggalkan rumah sakit itu!" seru Theo.


Bagas meletakkan ponselnya dan menepuk bahu Reno.


"Kita ke rumah sakit yang kita lewati tadi, Moetia ada disana. Cepat Reno!" seru Bagas.


Reno segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit. Sebenarnya tadi Bagas dan Reno sudah melewati rumah sakit itu.


Sementara Moetia baru saja selesai makan malam, mungkin lebih tepatnya makan tengah malam.


"Terimakasih !" ucap Moetia setelah selesai makan pada Marvin.


"Dengan senang hati Moetia !" jawab Marvin.


"Hei, bagaimana kamu tahu namaku?" tanya Moetia dengan ekspresi tidak suka pada Marvin.


"Aku sudah bilang padamu! aku selalu mendapatkan apa yang aku mau!" sahut Marvin bangga.


Moetia menggeleng,


"Astaga, kurasa orang tuamu terlalu memanjakan mu!" balas Moetia.


"Akan ku katakan itu pada mereka, atau kamu ingin mengatakan nya sendiri pada mereka?" tanya Marvin menggoda Moetia.


"Hentikan, dengar kan aku! aku punya pekerjaan, dan jika kamu terus menahan ku di sisi mu seperti ini, kamu sungguh sangat menyulitkan aku! apa gunanya juga aku disini. Kamu bahkan harus kehilangan banyak uang untuk memberiku pakaian dan makanan!" ucap Moetia.


"Aku tidak akan jatuh miskin hanya membelikan mu pakaian dan makanan!" sahut Marvin santai.


Moetia sudah jengah, dia memalingkan wajahnya. Saat ini dia sangat rindu pada papa dan mamanya.


Mungkin inilah alasan papanya dulu melarang Moetia bergaul dengan teman pria.


Dan selalu menjaga Moetia selama dua puluh empat jam.


Bahkan kuliah pun, Aries masih sering mengantar dan menjemput Moetia.


Melihat Moetia sedih, Marvin bertanya padanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Marvin.


Moetia menoleh sekilas,


'Sebenarnya apa yang dia mau, dia tadinya sangat kasar, kenapa sekarang jadi peduli begini? atau jangan-jangan dia sedang bersandiwara?' tanya Moetia dalam hati.

__ADS_1


"Katakan saja, apapun akan ku berikan padamu!" ucap Marvin sombong.


"Benarkah?" tanya Moetia.


Marvin mengangguk dan tersenyum. Melihat itu Moetia malah bergidik ngeri.


"Aku mau pulang!" sahut Moetia gugup.


"Kecuali itu, kamu bisa minta apapun!" sahut Marvin dengan tegas.


Moetia kembali menghela nafas nya panjang,


"Sudahlah!" serunya kesal.


Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu yang keras.


"Masuk!" teriak Marvin kesal karena ada yang mengganggu nya dan Moetia.


Seorang anak buahnya masuk dengan tergesa-gesa.


"Tuan, Bagas dan anak buahnya datang ke rumah sakit ini. Pak Syarif dan yang lain sedang menghadapi mereka di area parkir!" jelas anak buah Marvin itu.


Moetia yang mendengar itu tak ingin melewatkan kesempatan nya untuk kabur, dia segera berlari ke arah pintu yang terbuka dan menuju ke area parkir rumah sakit.


Marvin sangat kesal karena fokus mendengarkan anak buahnya dia tidak mengawasi Moetia.


Marvin lalu mengejar Moetia, meski agak pelan karena kakinya masih terluka.


Ketika anak buahnya mencoba membantu Marvin, dia malah mendorong anak buahnya itu.


"Kejar dia, dasar bodoh! awas kalau sampai aku kehilangan Moetia!" teriak Marvin.


Dengan cepat anak buahnya itu berusaha untuk mengejar Moetia.


Moetia sudah sampai di area parkir, dia melihat beberapa orang sedang berkelahi.


Matanya langsung tertuju pada pria berkemeja biru tua yang sedang melawan beberapa orang anak buah Marvin.


"Bagas!" teriak Moetia.


Pandangan Bagas langsung tertuju ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Moetia!" ucap Bagas senang.


Karena Bagas menoleh ke Moetia, anak buah Marvin berhasil memukul perutnya hingga Bagas terjatuh.


"Bagas!" Moetia kembali berteriak dan berlari ingin menghampiri Bagas.


Tapi saat dia berlari, seseorang berhasil menghentikan nya dan menarik tangannya.


"Kamu tidak bisa pergi, Moetia!" ucap orang itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Readers: makan tengah malam ya Thor?🤔


Author: Yoi😉


Readers: Kenapa gak bilang aja Sahur gitu!!


Author: 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Janganlah lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Vote dan hadiahnya juga boleh 😘😘😘...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2