
Sudah menjelang siang, Moetia mengajak Bagas mencari Reno dan Theo yang sejak tadi tidak terlihat olehnya.
"Biarkan saja sayang, mereka sudah dewasa. Tidak mungkin mereka tersesat" ucap Bagas malas mencari ke dua temannya itu.
"Kemana mereka pergi? aku bahkan tidak menyadari kapan mereka pergi?" gumam Moetia.
Bagas merangkul Moetia,
"Baguslah mereka tidak ada. Kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak berduaan saja!" seru Bagas.
Moetia menepis tangan Bagas,
"Telpon saja Reno, dan tanyakan dimana mereka. Ini sudah jam makan siang!" seru Moetia.
Bagas berdecak kesal tapi tetap melakukan apa yang Moetia katakan.
Bagas menghubungi Reno,
"Ya bos!" jawab Reno
"Kalian dimana? reservasi restoran dekat sini untuk makan siang kita berempat, lalu kirimkan lokasinya padaku!" perintah Bagas.
"Siap bos." jawab Reno
Bagas menyimpan kembali ponselnya dan mendekati Moetia.
"Sudah kulakukan semua yang kamu perintahkan tuan putri!" seru Bagas sambil membungkukkan badannya dan meletakkan tangannya di depan dadanya di depan Moetia.
Moetia terkekeh pelan,
"Terimakasih banyak!" jawab Moetia.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Moetia sambil berjalan bersama Bagas menuju pintu keluar.
Bagas mengangguk kan kepalanya,
"Tanyakan saja!" sahut Bagas.
"Tentang Reno, dia kan teman kalian. Tapi kenapa dia selalu memanggil kalian bertiga bos?" tanya Moetia penasaran.
Bagas menghela nafas nya panjang,
"Apa kamu simpati padanya?" tanya Bagas menghentikan langkahnya.
Moetia membulatkan matanya dan ikut berhenti,
"Bukan, jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu saja!" jelas Moetia takut Bagas salah paham.
Bagas malah terkekeh,
"Aku bukan sedang cemburu Moetia, aku tanyakan itu karena hal itulah yang tujuh belas tahun lalu ibu ku rasakan juga saat pertama kali melihat Reno!" jelas Bagas.
__ADS_1
Moetia sedikit bingung, Bagas menggandengnya dan mengajaknya berjalan lagi,
"Iya Moetia, sebelum aku dan keluargaku tinggal di Jakarta, kami pernah tinggal di Surabaya. Disana lah kami bertemu dengan Reno, Reno kecil berusia sepuluh tahun yang berdiri sendirian di depan sebuah panti asuhan. Saat itu ibu ku sedang membagikan hadiah pada para penghuni panti karena dia sangat sedang setelah sebelas tahun dia bisa hamil lagi, hamil Roni!" cerita Bagas sambil melangkah bersama Moetia.
"Reno yatim piatu?" tanya Moetia.
Bagas menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat,
"Tidak, dia ditinggalkan oleh ayah dan ibunya karena mereka bercerai, ayahnya menikah lagi dan ibunya bekerja keluar negeri." terang Bagas.
Moetia terlihat sedih mendengarkan kisah Reno,
"Kenapa Reno tidak tinggal bersama ayah dan ibu tirinya?" tanya Moetia.
"Reno pernah ikut kesana, tapi karena dirinya Ayah dan ibu tirinya sering bertengkar. Ibu tirinya tidak menyukai Reno. Dan Reno pun di asuh oleh adik ibu kandungnya, beberapa bulan Reno tinggal bersama mereka, paman dan Tante nya mengalami kecelakaan." jelas Bagas.
Moetia menghentikan langkahnya, hatinya begitu terenyuh. Dia tidak menyangka Reno kecil yang berumur sepuluh tahun sudah mengalami banyak kejadian menyedihkan dan pilu dalam di hidupnya.
Bagas menyentuh wajah Moetia,
"Tidak usah dilanjutkan, aku tahu siapapun yang mendengar kisah Reno pasti akan simpati padanya. Tapi aku sarankan jangan tunjukkan simpati itu di hadapannya, dia bukannya akan terharu, dia justru akan marah!" ucap Bagas memberi saran pada Moetia.
Moetia kembali heran, tapi sesaat kemudian dia mengangguk paham.
"Aku tahu, dia tidak ingin terlihat lemah oleh orang lain, dan dia tidak ingin orang lain mengasihani nya!" sahut Moetia.
"Benar Moetia, karena itu aku dan keluargaku juga tidak pernah memperlakukannya berbeda." seru Bagas.
Bagas menaikkan alisnya,
"Lalu apa?" tanya Bagas.
"Cerita tentang Reno kecil," jawab Moetia.
Bagas kembali menggandeng Moetia dan mengajaknya keluar dari Gardent by the bay menuju lokasi restoran yang lokasinya sudah dikirimkan Reno.
"Reno kemudian di kirim ke panti asuhan oleh tetangga tantenya itu karena ibu kandung nya juga tidak ada kabar selama setahun. Pernah ada yang mengadopsi dirinya. Pasangan paruh baya yang sudah lama tidak di karuniai keturunan. Tapi kejadian buruk kembali terjadi, keluarga itu malah berpisah. Dan mengembalikannya ke panti asuhan." jelas Bagas.
"Oh tuhan," lirih Moetia.
"Setelah bertemu Reno, ibu ku sangat simpatik padanya, saat itu ayah dan ibu ingin sekali mengadopsi nya, tapi dia malah menolaknya. Anak umur sepuluh tahun itu berteriak agar jangan mendekatinya atau kesialan dan nasib buruk akan menimpa kami. Ibu menangis sangat sedih kala itu, dan ayah memutuskan untuk tetap membiarkan Reno di panti asuhan, tapi ayah akan membiayai semua keperluan dan segala yang dia butuhkan. Setelah lulus kuliah, ayah memintanya ikut kami ke Bandung dan bekerja di perusahaan. Hingga saat ini." cerita Bagas.
Moetia terdiam sekilas,
"Aku tahu dia tidak ingin di kasihani, tapi bisakah kamu jangan selalu memukulnya saat dia melakukan kesalahan?" tanya Moetia.
Bagas mengelus lembut kepala Moetia,
"Apa kamu ingin menjadikannya adik mu?" tanya Bagas.
"Bukankah dia lebih tua dariku, kalau begitu aku akan menjadikan dia kakak ku. Aku kan tidak punya kakak. Karena dia sekarang kakak ku bukankah sekarang dia juga kakak ipar mu, ingat ya! kamu tidak boleh menindasnya lagi!" seru Moetia.
__ADS_1
Bagas menghela nafasnya panjang,
"Sepertinya aku sedikit menyesal menceritakan masa lalu Reno padamu!" gerutu Bagas.
Moetia malah tersenyum senang mendengar Bagas menggerutu sepanjang jalan.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di restoran yang sudah Reno pesan.
Bagas terlihat kesal karena tidak puas pada restoran yang dipilih Reno, saat masuk dan melihat Theo melambaikan tangannya Bagas berjalan dengan cepat dan menghampiri kedua temannya itu.
"Apa ini? yang benar saja jauh-jauh datang kemari kita malah makan makanan cepat saji?" protes Bagas.
Moetia hanya diam dan duduk di depan Reno sedangkan Bagas masih berdiri di samping Theo.
"Jangan salahkan aku, Reno yang pilih tempat ini!" ucap Theo membela dirinya sendiri.
Moetia menarik tangan Bagas agar duduk di sebelahnya,
"Sudahlah, duduk dulu dan dengarkan penjelasan kakak ipar mu!" bisik Moetia pada Bagas.
Theo dan Reno terlihat sangat penasaran dengan apa yang dibisikkan Moetia hingga amarah Bagas jadi mereda.
Bagas menghela nafas nya, kata kakak ipar membuatnya tidak bisa marah pada Reno di depan Moetia.
"Baiklah, kenapa kita makan disini?" tanya Bagas.
Reno sedikit terkejut, tapi dia berusaha menjelaskan,
"Begini bos, di jam ini hanya restoran ini yang sudah buka dan bisa makan disini, yang lain hanya boleh take away, dan sisanya belum buka!" jelas Reno.
"Sudah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita makan sekarang?" tanya Moetia merangkul lengan Bagas sambil tersenyum.
Bagas menjadi luluh, dia benar-benar tidak bisa berkutik di hadapan senyuman kekasihnya itu.
Theo benar-benar tidak habis pikir, dia juga mencintai Audrey tapi tidak se bucin Bagas yang menyanjung Moetia bak seorang ratu.
Sementara Reno sedikit heran, biasanya Bagas akan sangat marah jika Reno mengerjakan tugasnya tidak sesuai keinginan nya. Apalagi masalah makanan. Terkadang Bagas malah suka melemparkan makanan itu begitu saja.
Sesekali Moetia melirik pada Reno yang sedang makan dengan lahap.
'Ternyata aku jauh, jauh lebih beruntung. Aku sangat beruntung. Dari kecil orang tuaku selalu ada dan saling menyayangi. Hidupku sungguh sempurna, hingga aku tidak tahu ternyata ada kehidupan yang sangat sulit seperti kehidupan mu Reno!' batin Moetia sambil makan dengan santai.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Author sampai berkaca-kaca waktu nulis bab ini...
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya 🌹🌹🌹
Biar author happy lagi...
Think u ❤️❤️❤️
__ADS_1