Dilema

Dilema
Reno in Action


__ADS_3

Matahari sudah kembali ke peraduan nya, Bagas dan Reno masih setia menunggui Moetia sambil mengompresnya dengan handuk kering hangat.


Suhu tubuh Moetia, sudah hampir normal. Untung saja Moetia tidak terkena hipotermia parah.


Biasanya orang yang mengalami hipotermia parah akan mendapatkan pertolongan medis yang cukup ekstrim.


Istilah awam nya adalah cuci darah.


Tangan dan kakinya sudah mulai hangat, Reno yang duduk di sofa hanya bisa terus memandanginya dari jauh.


Karena jika Reno menyentuh Moetia Bagas akan membelalakkan matanya sangat sangat lebar.


Kelelahan di wajah tampan Bagas terlihat jelas, Bagas bahkan tertidur disisi Kakan moetia dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya dekat dengan lengan Moetia.


Reno tersenyum melihat semua itu, tapi ada rasa tidak senang dalam hatinya melihat keadaan Moetia dan Bagas.


Reno berfikir, dia juga adalah orang yang bisa sukses karena bantuan keluarga Bagas. Bukankah hal itu juga yang dialami dan dirasakan Manda.


Tapi Reno bahkan bersedia dan rela mengorbankan nyawanya demi keluarga Bagas, apalagi demi Roni dan Bagas.


Tapi yang tidak habis dia pikirkan adalah, kenapa Manda bahkan tidak mengerti hal itu.


Reno bangkit dari duduknya, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


Manda sudah selesai diperiksa oleh dokter, Soraya mengajak Malika untuk pulang dulu dan meminta Bi Irah menjaga Manda di rumah sakit.


Hampir setengah jam kemudian, Reno tiba di rumah sakit.


Dia bukan berniat menjenguk Belinda, karena Belinda sudah keluar dari rumah sakit satu jam yang lalu.


Benjamin yang memberitahu kan pada Reno kabar itu.


Reno bertanya dimana ruang rawat Manda.


Setelah menemukannya dia segera membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Mata Manda terbuka lebar melihat kedatangan Reno, dia segera bangun dan berusaha untuk duduk.


Bi Irah pun membantunya.


"Non, jangan duduk dulu. Nanti pusing lagi!" seru Bi Irah mengingatkan sesuai dengan apa yang tadi dikatakan oleh dokter.


"Sudah diam bi, bantu saja aku untuk duduk. Dan cepat rapikan rambutku! " seru Manda pelan.

__ADS_1


Reno menyunggingkan senyum tidak sukanya pada Manda.


"Apa yang ada di pikiran mu? apa kamu mengira aku datang bersama Bagas?" tanya Reno yang langsung berdiri di dekat Manda sambil memasukkan satu tangannya di saku celananya.


Manda menoleh ke arah belakang Reno, dugaan Reno benar. Manda mengira Reno datang bersama Bagas.


Bi Irah merasa sungkan jika terus berada di dalam ruangan itu.


"Non, apa bibi harus keluar?" tanya bi Irah sopan.


Baru saja Manda akan membuka mulutnya, Reno sudah lebih dulu mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa bi Irah tidak perlu keluar dari ruangan itu.


"Tidak perlu bi, bibi bisa tetap disini menemani nona Manda mu ini!" sindir Reno.


Manda memandang Reno dengan tatapan tidak senang.


"Ada urusan apa kamu dengan ku?" tanya Manda jutek.


"Sebenarnya aku tidak punya urusan dengan mu, hanya saja wanita yang sangat aku hormati dan sayangi sedang dalam keadaan tidak baik karena ulah mu!" jawab Reno santai.


Manda makin bingung, setahunya selama ini Reno tidak punya kekasih, juga tidak punya orang tua. Lalu siapa wanita yang Reno maksudkan? itulah pertanyaan yang sedang Manda pikirkan.


"Tidak usah berbelit-belit, maksud mu apa?" tanya Manda kesal.


"Bibi, asisten rumah tangganya Moetia kan?" tanya Reno sopan.


Bi Irah segera menganggukkan kepalanya.


"Iya tuan!" jawab nya cepat.


"Apa bibi menyayangi Moetia?" tanya Reno.


"Tentu saja tuan!" jawab Irah bersemangat sambil tersenyum.


Reno ikut tersenyum.


"Kenapa bibi menyayangi Moetia?" tanya Reno lagi.


"Non Moetia sangat baik tuan, bibi sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja di rumah non Moetia, nona, tuan dan nyonya tidak pernah memperlakukan bibi seperti asisten rumah tangga mereka, mereka selalu mengucapkan kata tolong jika memerintah kami para asisten rumah tangga nya. Non Moetia juga tidak sungkan berbagi makanannya pada kami, dia sudah seperti anak bibi sendiri!" jelas bi Irah dengan mata berkaca-kaca karena rasa haru.


Reno menghela nafas nya panjang.


"Jika Moetia mengalami kesulitan, apa bibi mau berkorban demi dia?" tanya Reno lagi.

__ADS_1


Tanpa ragu, bi Irah mengangguk dengan cepat.


"Tentu saja tuan, anak dan cucu bibi bisa sekolah bisa punya rumah dan hidup dengan layak karena kebaikan tuan Aries dan keluarganya, tentu saja bibi rela berkorban demi non Moetia!" tegas bi Irah sangat antusias.


Reno tersenyum puas mendengar jawaban bi Irah. Ternyata memang bukan dia saja yang mampu merasakan kebaikan hati Moetia.


Reno menoleh ke Manda yang terlihat mengepalkan tangannya kesal.


"Sudah dengar?" tanya Reno pada Manda.


"Apa maksudmu? jangan membuat teka-teki seperti ini. Aku tidak ada waktu meladeni mu!" seru Manda.


'Astaga, wanita ini masih saja arogan dan sombong!' batin Reno mulai kesal.


"Benarkah? kamu pikir kamu sampai pada kesuksesan mu saat ini karena siapa? kamu bisa sekolah, bisa kuliah karena siapa?" tanya Reno mulai kesal.


"Bukan urusan mu!" bantah Manda.


"Jangan tidak tahu malu Muthia Amanda, semua milikmu saat ini adalah pemberian keluarga Moetia.."


"Dia juga berhutang nyawa pada ibuku.." sela Manda.


"Lalu jika keluarga Moetia tidak membantumu dan keluarga mu apa kamu pikir adikmu yang sakit-sakit an itu juga masih akan hidup sampai hari ini? siapa yang berhutang pada siapa aku saja yang orang luar bisa menilainya! jangan lewati batasan mu!" kesal Reno.


Manda terdiam, dia sangat kesal. Kedua tangannya mengepal.


"Kamu sendiri juga jangan lewati batasan mu! kamu pikir kamu siapa? kamu hanya anak angkat keluarga Bagas, makanan, pakaian dan pekerjaan mu juga kamu dapat dari mereka, lalu apa bedanya kamu dan aku. Kenapa kamu menghakimi aku?" tanya Manda kesal sampai matanya basah.


"Kamu benar-benar di buta kan oleh obsesi mu Manda, kamu sendiri sudah menyadari nya kan? tapi perbedaan antara aku dan kamu adalah. Aku rela mengorbankan nyawaku demi Bagas dan Roni, demi anak-anak orang yang sudah menyokong kehidupanku selama sepuluh tahun lebih. Sedangkan kamu, dua puluh lima tahun..."


"Diam!!!" teriak Manda sambil menutup kedua telinganya.


"Diam! jangan bicara lagi. Kamu tidak tahu apa-apa, kamu tidak mengerti apa-apa!" bantah Manda.


Bi Irah mulai panik, dia mendekati Manda dan menyentuh lengannya bermaksud menenangkannya.


"Jangan sentuh aku! pergi kalian semua..." teriak Manda mendorong bi Irah menjauh.


"Tuan, bibi mohon pergilah!" pinta bi Irah pada Reno.


Reno hanya menggeleng kan kepalanya berkali-kali.


"Aku akan pergi, tapi dengarkan satu hal lagi Manda. Kamu tidak akan pernah mendapat kan apa yang memang tidak di takdir kan menjadi milikmu! Jangan menyakiti dirimu sendiri juga orang lain demi ego mu!!!" tegas Reno lalu keluar dari kamar Manda.

__ADS_1


__ADS_2