
Marvin mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapan Manda.
"Jadi kamu adalah tunangan Bagas Chairul Wiguna?" tanya Marvin datar.
"Siapa kamu? jika kamu tahu aku adalah tunangan dari Bagas Chairul Wiguna, kenapa kamu masih berani menculik ku! Bagas akan membuat perhitungan dengan mu, dia tidak akan melepaskan mu!" gertak Manda.
Marvin malah terkekeh.
"Terlalu percaya diri sekali kamu? apa kamu tahu Bagas tunangan mu itu sudah memiliki wanita lain yang lebih dia cintai daripada kamu!" seru Marvin.
Seketika Manda terdiam, hatinya terasa sangat sakit. Tidak di pungkiri olehnya, bahwa yang di katakan Marvin itu benar, Bagas memang tidak mencintai nya.
Melihat reaksi Manda, Marvin jadi kesal sendiri. Ternyata wanita di depannya itu sudah tahu dia di khianati.
Marvin berdecak kesal lalu keluar dari ruangan itu. Awalnya dia ingin menghancurkan hubungan Bagas dan Moetia menggunakan Manda. Tapi sepertinya semua tidak berjalan sesuai rencananya.
Marvin menghampiri Syarif yang sedang memberikan instruksi pada para penjaga.
"Pak Syarif!" panggil Marvin sambil menepuk bahu Syarif.
"Wanita itu tahu kalo dia di khianati! kurasa dia memang bodoh! dia sudah cinta mati pada si Bagas itu, hingga diam saja dan bertahan setelah tahu tunangannya mencintai orang lain!" seru Marvin.
"Tapi apakah tuan sudah memastikan bahwa wanita itu tahu kekasih Bagas adalah sahabatnya sendiri?" tanya Syarif.
Marvin diam dan memandang Syarif.
"Benar juga, kita bisa pakai cara itu agar Moetia datang bukan?" tanya Marvin.
"Benar tuan, dia akan datang sendiri kemari!" sahut Syarif.
'Maafkan aku tuan besar, tapi aku juga menginginkan tuan muda bahagia.' batin Syarif.
Sebenarnya Eduardo sudah meminta agar Syarif mengikuti Marvin untuk menjaganya dan mencegahnya berbuat bodoh. Tapi melihat keinginan Marvin yang sangat kuat untuk mendapatkan Moetia, membuat Syarif lebih berpihak pada Marvin.
Sementara itu di lokasi syuting, asisten Theo sudah menunggu Manda selama dua jam lebih dan belum datang di hubungi juga tidak bisa.
Alhasil dia memutuskan untuk mengabari Theo tentang hal ini.
Theo juga terkejut, karena Manda biasanya selalu ontime, dan jika tidak bisa datang pun dia atau ibunya akan mengabari.
Theo pun meminta asistennya menghubungi Malika
Di rumah Moetia, Malika sedang menyiapkan beberapa buah potong di atas meja bersama Moetia dan Soraya.
Tiba-tiba ponselnya berdering,
"Halo," sapa Malika.
__ADS_1
"Halo ibu Malika, ini Dona. Asistennya pak Theo. Apa Manda sedang ada keperluan penting? kenapa hari ini tidak datang ke lokasi pemotretan?" tanya Dona.
Malika terkejut.
"Apa? Manda tidak datang. Dua jam yang lalu dia sudah berangkat. Bahkan dia memakai gaun yang akan si pakai syuting itu, aku melihatnya sendiri dia naik taksi dan keluar dari gerbang. Ya Tuhan apa yang terjadi..." seru Malika panik.
Melihat Malika panik, Soraya dan Moetia menghampirinya.
"Tante, ada apa?" tanya Moetia.
Malika menjatuhkan ponselnya, tapi dengan cepat dia meraihnya lagi dan mencoba menghubungi Manda.
"Nomer yang anda tuju, tidak dapat di hubungi!"
Begitulah, suara yang terdengar ketika nomer Manda di hubungi. Malika sudah panik, dia mulai menangis.
"Manda, tadi sudah pergi naik taksi, dua jam yang lalu. Tapi mereka bilang Manda belum sampai, ya Tuhan... " lirih Malika.
"Moetia, cepat hubungi papa mu, minta dia mencari Manda!" seru Belinda.
Moetia mengangguk dan segera menghubungi Aries. Moetia juga terus berfikir kira-kira Manda pergi kemana.
Moetia mencoba menghubungi Audrey, dia takut kalau Manda membuat ulah lagi dengan Audrey dan teman-temannya.
"Halo Audrey," sapa Moetia.
"Apakah Manda menemui mu atau salah satu teman mu beberapa jam ini?" tanya Moetia pelan.
"Oh ayolah, wanita itu lagi. Aku bahkan berharap tidak pernah bertemu dengan wanita arogan itu lagi." jawab Audrey jujur.
"Apa teman mu ada yang mengatakan jika Manda menemui nya?" tanya Moetia lagi.
"Tidak ada Moetia, ada apa sebenarnya?" tanya Audrey.
"Dia sudah pergi selama dua jam, seharusnya dia ada di lokasi pemotretan Theo, tapi dia tidak datang kesana. Dan ponselnya tidak bisa dihubungi!" jelas Moetia cemas.
"Baiklah, meskipun aku tidak menyukainya. Jika aku mengetahui sesuatu tentang nya aku akan menghubungimu!" seru Audrey.
"Terimakasih Audrey," ucap Moetia tulus.
"Jangan seperti itu Moetia, aku melakukan semua ini karena mu, lagi pula belum tentu aku bisa membantumu!" sahut Audrey lagi.
"Setidaknya aku merasa sedikit tenang, kamu mau membantu ku!" jawab Moetia.
Moetia kembali meletakkan ponselnya, dia masih terus berfikir kira-kira kemana Manda pergi.
Dia pun menghubungi Bagas.
__ADS_1
"Halo sayang! apa kamu merindukan aku?" tanya Bagas menggoda Moetia.
"Halo, Bagas. Apakah kamu masih di apartemen?" tanya Moetia.
"Memangnya aku mau kemana lagi, ini rumah kita!" jawab Bagas masih berusaha menggoda Moetia.
"Bagas, Manda menghilang! bisa tolong aku untuk mencarinya!" pinta Moetia lembut pada Bagas.
"Sayang, dia sudah besar. Mungkin saja dia sedang berjalan-jalan ke suatu tempat, sedang belanja mungkin!" seru Bagas.
"Ponsel nya tidak bisa di hubungi, mau berjalan-jalan kemana dia dengan gaun dan riasan yang sudah di pakainya dari rumah untuk pemotretan?" tanya Moetia dengan suara semakin meninggi.
"Sayang, baiklah. Aku akan bantu mencarinya. Bisakah jangan berteriak seperti itu? aku takut!" ucap Bagas sambil terkekeh kecil.
"Bagas!" kesal Moetia.
"Baiklah nyonya Bagas Chairul Wiguna, sesuai keinginan mu, aku akan mencari dimana sahabat mu yang menyebalkan itu. Tapi jika aku menemukannya kamu apa kompensasi untukku?" tanya Bagas.
Moetia jadi makin kesal.
"Temukan dia dulu, baru ku beri kamu kompensasi!" sahut Moetia.
"Siap nyonya, keinginan mu adalah perintah bagi ku!" seru Bagas yakin.
Moetia kembali ke Soraya dan Malika yang berada di ruang tengah. Soraya sedang menenangkan Malika yang menangis tersedu-sedu.
"Kemana dia? Manda... " lirih Malika.
"Sabar, ya Malika. Papanya Moetia juga sedang mencari tahu tentang taksi yang membawa Manda pergi!" seru Soraya sambil mengelus pelan punggung Malika.
Moetia duduk di sebelah mereka, dia kembali berfikir jika Manda ingin pergi syuting, bahkan sudah memakai gaun dan riasannya. Yang pasti adalah Manda tidak hilang karena kemauannya sendiri.
"Apakah mungkin Manda di culik!" celetuk Moetia begitu saja.
Malika dan Soraya menoleh ke Moetia.
"Sayang, jangan bicara begitu!" sahut Soraya.
"Soraya, mungkin saja. Mungkin apa yang dikatakan Moetia itu benar. Bukankah kemarin Moetia juga di culik karena dia ikut menangani proyek Bagas. Mungkin orang yang sama juga menculik Manda karena masalah bisnis mereka. Manda memang sedikit kasar, tapi dia tidak punya musuh sampai ada yang bisa menculiknya!" seru Malika yang sudah sangat panik.
Moetia masih mencerna ucapan Soraya.
'Orang yang sama, orang yang menculik ku. Astaga, mungkinkah...' batin Moetia.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Vote serta Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️...