
Moetia dan kedua orang tuanya tiba di hotel, mereka menyewa kamar di sebelah kamar Moetia, dan orang tua Bagas menyewa kamar di sebelah kamar Bagas.
"Ayah, bagaimana dengan ku?" tanya Roni.
"Tidurlah dengan kakakmu, dan awasi dia!" jawab Chairul.
Moetia dan Bagas hanya saling pandang sekilas saat Chairul mengatakan itu. Sementara Aries yang melihat Bagas memandang Moetia, segera menggandeng Moetia dan mengajaknya ke kamar mereka.
Moetia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Soraya dan Aries juga masuk ke kamar mereka.
Setelah semua masuk ke kamar masing-masing, Bagas diam-diam keluar menuju kamar Moetia.
Dia masuk ke kamar Moetia lalu mengunci pintunya.
Saat itu Moetia baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya memakai bathrobe.
"Akh.." pekik Moetia melihat Bagas berada di dalam kamarnya sedang membuka pintu.
Dengan cepat Bagas mendekati Moetia dan memintanya untuk diam dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir nya sendiri.
"Sst, Moetia diam. Atau papa mu yang semakin galak itu akan menghabisi ku!" seru Bagas.
Moetia menjauh dari Bagas dan membenarkan bathrobe nya.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa masuk kesini?" tanya Moetia.
"Aku merindukan mu!" jawab Bagas manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Moetia.
Moetia menjauh, membuat Bagas hampir terjatuh.
"Biasanya kamu pakai baju di kamar mandi?" tanya Bagas.
"Aku mau ambil krim ini, untuk luka-luka ku!" jawab Moetia sambil mengambil sebuah krim yang tadi di belinya di rumah sakit untuk menghilangkan memar dan bekas luka.
Mata Bagas langsung berbinar,
"Aku bantu oleskan ya!" serunya penuh semangat.
Moetia mengangkat alisnya,
"Tidak!" jawabnya tegas lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Bagas dengan cepat mengikuti langkah Moetia dan menahan pintu kamar mandi saat Moetia akan menutupnya.
Moetia membulatkan matanya dan berdecak kesal.
"Tunggu lah diluar jika ingin bicara!" seru Moetia.
Bagas malah menunjukkan ekspresi wajah memelas,
"Aku mohon, ijinkan aku mengoleskan krim itu padamu!" pinta Bagas memohon dengan mata seimut tatapan matanya Keanu anaknya Baim wong.
Moetia kembali berdecak kesal,
"Bagas, aku tidak berpakaian. Aku mohon mengerti lah!" bujuk Moetia.
Bagas tetap tidak bergeming,
"Apa kamu sudah tidak sayang lagi padaku, aku tahu sayang mu pasti sudah berpindah ke Reno. Hingga kamu tidak mengijinkan aku lagi menyentuh mu!" seru Bagas berpura-pura sedih.
__ADS_1
Moetia menghela nafas nya panjang, dan melepaskan tangan nya dari handle pintu.
Merasa Moetia tidak menolaknya lagi, Bagas pun masuk mengikuti langkah Moetia.
Moetia duduk di atas closed duduk kamar mandi hotel dan memberikan krim yang dia pegang kepada Bagas.
Bagas duduk berjongkok di depan Moetia, tapi sepertinya posisi itu sangat tidak nyaman bagi Moetia.
Moetia segera menyerong kan duduknya sedikit ke arah kiri.
"Ulurkan tanganmu!" seru Bagas.
Moetia pun mengulurkan tangan kanannya, Bagas memegang tangan Moetia dan mengusapnya lembut.
Moetia segera menarik tangannya lagi.
"Jangan macam-macam, katamu hanya akan mengoleskan krim itu!" protes Moetia.
Bagas malah tersenyum,
"Maafkan aku, aku selalu tidak bisa mengendalikan diriku di hadapan mu!" jawab Bagas lalu kembali meraih tangan kanan Moetia.
Bagas memperhatikan setiap luka yang ada di lengan Moetia.
Perlahan Bagas mengecup memar biru di lengan Moetia itu.
Moetia memejamkan matanya saat bibir Bagas menyentuh lengannya.
Ada rasa tidak nyaman yang membuatnya menahan nafasnya sendiri.
Bagas mengangkat kepalanya melihat Moetia memejamkan mata. Spontan dia melakukan nya lagi dia menyentuh lengan Moetia makin keatas lalu kembali mengecupnya lembut.
Dengan cepat Moetia membuka matanya lalu menekan pundak Bagas agar menjauh dan menghentikan apa yang sedang dia lakukan.
"Bagas hentikan, atau aku akan keluar!" gertak Moetia.
Bagas menatap Moetia yang matanya sudah berkaca-kaca.
Sebenarnya sangat sulit untuk Bagas menghentikan apa yang sudah dia mulai, karena api asmara sudah mulai membakar tubuhnya.
Tapi jika Bagas tidak menghentikan nya sekarang, Moetia pasti akan marah padanya.
Dengan perasaan yang masih tak karuan, Bagas membuka tutup krim itu, mengambilnya sedikit lalu meletakkannya di lantai.
Bagas meraih lengan Moetia dan mengoleskannya perlahan.
"Pasti sangat sakit saat kamu mendapat luka-luka ini? aku sungguh menyesal Moetia!" lirih Bagas.
Moetia kembali tak bisa berkata-kata, dia hanya mampu menatap Bagas yang dengan sangat seksama mengoles krim pada lukanya satu persatu sangat teliti.
Bagas memperhatikan setiap inci kedua lengan Moetia, setelah selesai dengan kedua tangan moetia.
Bagas meraih kaki kanan Moetia. Moetia terkejut.
"Bagas!" pekiknya kaget.
"Kakimu juga ada yang luka, lihat ini!" seru Bagas menunjuk luka lebam di pergelangan kaki Moetia.
Moetia kembali mengalah dan membiarkan Bagas mengoleskan krim ke kakinya juga.
Bagas memperhatikan dengan sangat teliti, dia tidak ingin ada satupun luka yang terlewat.
__ADS_1
Tapi Moetia makin terharu saat melihat mata Bagas memerah.
Moetia menunduk untuk melihat wajah Bagas dengan jelas, tapi Bagas malah memalingkan wajahnya dari Moetia.
"Bagas!" panggil Moetia pelan.
Bagas merasa sangat marah pada dirinya sendiri, setelah melihat banyaknya luka di lengan dan kaki Moetia.
Bagas merasa dia sudah sangat gagal menjaga wanita nya itu.
Moetia menangkup wajah Bagas dan mengarahkan wajah Bagas agar menatapnya.
"Bagas, hei! ada apa?" tanya Moetia.
Bagas tidak menjawab dia segera bangkit dan memeluk Moetia dengan erat.
"Maafkan aku, seharusnya aku menjagamu lebih baik lagi, hingga kamu tidak perlu terluka seperti ini!" ucap Bagas meluapkan penyesalan nya.
Moetia menepuk-nepuk punggung Bagas.
"Semua ini bukan salahmu, jangan salahkan dirimu lagi ya, aku mohon!" pinta Moetia.
Bagas menarik tubuhnya agak menjauh agar bisa melihat wajah Moetia, dia meletakkan tangan nya di bahu Moetia.
"Augh!" pekik Moetia lalu menyentuh bahunya.
"Kenapa sayang?" tanya Bagas panik.
Moetia terlihat kesakitan sambil memegang bahunya.
Bagas membuka sedikit bathrobe yang menutupi bahu Moetia untuk memeriksanya.
Betapa emosinya Bagas melihat lebam biru juga ada di bahu Moetia.
Bagas kesal dan melayangkan tinjunya ke dinding kamar mandi.
"Sial, jika aku bertemu dengan si berandalan Marvin itu, aku pasti akan menghabisinya!" kesal Bagas.
Moetia tahu Bagas sangat, tapi dia juga tidak tega melihat tangan Bagas terluka karena kekesalannya itu.
Moetia meraih tangan Bagas yang dia gunakan untuk meninju dinding kamar mandi.
Moetia mengusap tangan Bagas dengan lembut, setelah itu dia meletakkan tangan Bagas itu di pipinya.
"Berjanjilah, saat kamu kesal atau marah, jangan lagi menyakiti dirimu sendiri! berjanjilah padaku!" ucap Moetia lembut sambil menatap mata Bagas.
Mata Bagas masih merah dan nafasnya masih memburu karena amarah. Bagas juga tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Moetia tahu bagaimana membujuk Bagas agar amarahnya mereda.
Moetia mengambil krim yang ada di lantai, lalu menyibakkan rambutnya ke samping kanan.
Dia membuka sedikit bathrobe yang menutupi bahunya, lalu berdiri di depan Bagas.
"Bisa tolong oleskan disini juga!" pinta Moetia dengan lembut.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Terimakasih atas Like, Komentar, Hadiah, Vote dan Favorit kalian semua ya para pembaca dilema yang sangat baik dan murah hati....
...Love u all ❤️...
__ADS_1