Dilema

Dilema
Reno Mengerjai Theo


__ADS_3

Moetia ingin menjawab pertanyaan Chairul, tapi mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara.


"Dimana Bagas?" tanya Chairul.


Moetia berusaha untuk tenang.


"Tadi dokter memanggilnya menemui dokter kepala, Om!" jawab Moetia gugup.


"Moetia sayang, kemari lah!" seru Belinda.


Moetia melihat ke arah Reno, dan Reno mengangguk pelan memberi isyarat pada Moetia bahwa tidak apa-apa untuk menghampiri Belinda.


Belinda mengajak nya untuk duduk di sofa, Moetia memilih duduk di sebelah mama dan papanya.


"Coba ceritakan apa yang terjadi?" tanya Belinda lembut.


Sebelum Moetia menjawab, Bagas yang baru saja masuk ruangan bersama Roni menyela Belinda.


"Ibu!" panggil Bagas.


Bagas melihat ke arah Reno yang sudah duduk bersandar di di kasurnya dan tersenyum melihat Bagas datang.


Bagas segera menghampiri Reno,


"Reno kamu sudah sadar?" tanya Bagas senang lalu segera memeluk Reno.


"Bagaimana perasaan mu, lihatlah berapa angka di tangan ku?" tanya Bagas mengacungkan kelima jarinya.


Reno malah terkekeh pelan, tapi kekehan nya itu membuat dadanya sedikit sakit dan terbatuk-batuk.


"uhuk.." Reno terbatuk-batuk kecil.


Bagas segera mengelus punggung Reno.


"Kenapa? mau minum?" tanya Bagas.


Reno menggelengkan kepalanya,


"Tidak, ayah dan ibu mu datang. Kamu sambutlah mereka dulu!" seru Reno pelan.


Bagas pun mendekati ke dua orang tuanya, tapi saat Bagas melihat ke arah Aries.


Aries segera memalingkan wajahnya ke arah lain, meskipun sempat tersentuh karena melihat perhatian Bagas pada Reno.


Sebenarnya Aries masih sangat kesal pada Bagas atas insiden terakhir yang terjadi.


Bagas menyalami ibunya lalu ayahnya, dia juga menyalami Soraya. Ketika dia ingin menyalami Aries, Aries terlihat ragu untuk menjabat tangan Bagas.


Tapi Moetia menyenggol lengan papanya,


"Pa, itu Bagas mau salaman!" bisik Moetia.


Dengan terpaksa akhirnya Aries menjabat tangan Bagas.


"Apa kabar Om?" tanya Bagas.


"Baik!" jawab Aries cuek dan langsung menarik tangannya dengan cepat.


Moetia tersenyum pada Bagas, dan Bagas pun membalas senyum nya.


Belinda sedikit terkejut, sejak kapan putra sulung nya itu murah senyum seperti itu.


Chairul terlihat memeriksa kondisi Reno, dan Belinda kembali bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah ada yang bisa menjelaskan padaku, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Belinda lagi.


Bagas lalu duduk di sebelah Belinda dan merangkul bahunya.


"Kalian pasti lelah, sebaiknya beristirahat saja dulu. Reno juga sudah membaik. Akan Bagas ceritakan di hotel nanti ya Bu!" jawab Bagas.

__ADS_1


Soraya terus memeluk putri tunggalnya, dan tak sengaja dia melihat luka lebam di sekitar leher dan lengan Moetia.


"Sayang, ini kenapa?" tanya Soraya panik sambil melihat lebam dan memar di tubuh Moetia.


Aries tak kalah terkejut, dia bahkan sangat emosi melihat putri satu-satunya mengalami luka-luka itu.


"Siapa yang bertanggung jawab untuk ini Moetia, papa tidak akan membiarkannya!" tegas Aries.


Bagas dan Reno sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Moetia.


Chairul menatap tajam putra sulungnya,


"Kenapa Moetia bisa terluka?" tanya Chairul.


Moetia bertambah gugup saat Chairul sepertinya juga marah pada Bagas. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Moetia menjawab Chairul.


"Om, aku terluka semua itu bukan salah Bagas!" jawab nya gugup.


"Saat Marvin menculik ku, sepertinya dia ingin membawaku ke tempat lain. Dan aku juga tidak tahu jelas apa yang terjadi, karena saat itu aku pingsan. Dan saat aku sadar aku sudah berada di dasar jurang bersama Marvin yang masih pingsan, dan luka-luka ini mungkin aku dapatkan akibat benturan saat jatuh ke jurang!" jelas Moetia.


Soraya langsung memeluk putri satu-satunya itu. Sementara Aries terlihat makin tidak senang pada Bagas.


"Lalu kenapa Reno bisa tertembak?" tanya Belinda.


Moetia melihat ke arah Bagas dan Reno bergantian.


"Saat Marvin membawaku ke rumah sakit, Bagas dan Reno menemukan aku. Saat kudengar mereka ada di area parkir. Aku segera melarikan diri dan berlari menemui Bagas dan Reno, tapi saat itu Marvin menodongkan senjatanya dan untuk melindungi aku dan Bagas, kak Reno menghadang peluru itu!" terang Moetia dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


Chairul menghela nafasnya lega, dia menepuk bahu Reno pelan.


"Terimakasih nak!" ucap Chairul tulus.


Aries juga mendekati Reno, dia melakukan hal yang sama seperti Chairul.


Dia menepuk bahu Reno pelan.


Moetia tersenyum ketika Aries memanggil Reno dengan sebutan nak.


Tapi senyuman Moetia itu ternyata disalah artikan oleh Belinda.


Belinda menggenggam tangan Moetia,


"Maafkan anak-anak Tante yang tidak bisa menjagamu dengan baik ya!" ucap Belinda.


Moetia menjadi makin tidak enak hati.


Belinda berdiri dan merangkul lengan suaminya,


"Lain kali jika mereka berpergian jauh dari pengawasan kita begini, ayah harus siapkan lebih banyak penjaga!" seru Belinda.


Chairul mengangguk paham.


"Yah, apa kamu memperhatikan. Sepertinya Reno dan Moetia saling menyukai..." bisik Belinda pelan di telinga Chairul.


Tapi belum selesai dengan ucapan istrinya itu Chairul menjauh dari Belinda.


"Jangan mulai lagi Bu, sekarang sebaiknya kita ke hotel untuk makan malam dan istirahat. Bagas, Roni kalian juga ikut kami. Biarkan Benjamin yang menjaga Reno!" perintah Chairul.


"Ma, pa bolehkah Moetia tetap disini?" tanya Moetia pada papa dan mamanya.


Belinda tersenyum sangat senang,


"Tentu saja boleh, nanti Tante akan bawakan makan malam untuk mu kemari!" sahut Belinda.


"Sayang, kamu harus istirahat dulu!" seru Aries.


"Benar kata papa mu, kamu kembali dulu ke hotel bersama kami. Tenang saja ada Benjamin dan anak buahnya yang akan menjaga Reno!" saran Chairul.


Moetia melihat ke arah Reno, dan Reno kembali mengangguk kan kepalanya, tanda jika dia setuju dengan Chairul.

__ADS_1


"Baiklah!" jawab Moetia.


Mereka semua pun kembali ke hotel, Reno ditemani oleh Benjamin.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Benjamin.


"Tidak ada Ben, kami beristirahat lah. Aku sudah merasa sangat baik!" ucap Reno.


"Oh ya, dimana Theo. Dari tadi aku belum melihatnya?" tanya Reno.


"Dia masih tidur di ruang istirahat!" jawab Benjamin cuek.


Reno tersenyum kecil, dia tahu Theo pasti sangat lelah. Orang seperti Theo yang biasanya hanya menghabiskan uang dan bersenang-senang, sudah pasti sangat lelah setelah berbuat banyak hal untuk membantu kedua temannya itu.


"Apa kamu mau bertemu dengannya? perlukah aku bangunkan dia?" tanya Benjamin.


Reno segera melambaikan tangannya,


"Tidak, biarkan saja dia tidur. Dia pasti sangat lelah!" sahut Reno.


Sementara itu di ruang istirahat, Theo mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan segera bangun dari tidurnya.


Theo mulai merenggangkan otot tangan dan kakinya, disusul kemudian dia membuka matanya perlahan.


"Aih, sepi sekali! kemana semua orang?" gumamnya.


Theo kemudian berjalan keluar dari ruang istirahat dan melihat dua orang penjaga sedang tertidur sambil duduk di depan ruangan.


"Kasian sekali, kalian pasti lelah!" gumam Theo lalu berjalan melewati mereka menuju meja informasi.


Setelah bertanya tentang Reno, Theo kemudian bergegas ke kamar Reno.


"Reno, astaga! syukurlah kamu sudah sadar!" serunya lalu mendekati Reno.


"Bagaimana perasaan mu?" tanya Theo.


Reno memiringkan kepalanya sedikit dan bertanya pada Theo.


"Siapa kamu? apa aku mengenal mu?" tanya Reno.


Theo memegang kepalanya, dia terkejut.


"Apa apaan ini, kamu tidak mengenalku?" tanya Theo.


Dan Reno dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Benjamin yang menyaksikan kejadian itu malah hanya senyum-senyum di belakang mereka.


Theo segera menghampiri Benjamin,


"Ben, apa yang terjadi padanya? seingat ku yang tertembak bagian dada bukan kepalanya?" tanya Theo pada Benjamin.


Benjamin dengan wajah datar menjawab,


"Aku tidak tahu, tugasku hanya menjaganya!" jawab Benjamin.


Theo makin frustasi, dia mengacak rambutnya sendiri.


"Astaga, Reno kamu benar-benar amnesia?" tanya Theo menghampiri Reno lagi.


"Amnesia, apa itu?" tanya Reno berpura-pura.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Yuk, biar aunty makin semangat up kisah BAMOeT buat kalian semua, readers ku yang tercinta, terlove yang baik hati semuanya 😘...


...Jangan lupa terus Like, Komentar dan Favoritin Dilema ya 🌹🌹🌹...


...Love u all dan terimakasih ❤️...

__ADS_1


__ADS_2