Dilema

Dilema
Part 47 Andre ke sekolah


__ADS_3

Aku masuk rumah dengan tergesa dan membuka pintu, aku frustasi, kemana Nadia, handphone tak pernah diangkat saat aku me nelpon, Ini semua gara-gara Ibu..


Aaaargh!


Nadia!


Kamu dimana!!! Jangan tinggalkan aku seperti ini!!


"Ada ap Andre ".Seru Ibu di depan rumah .


"Bu Nadia kemana Bu, aku frustasi telpon ku tak pernah di jawab"


"Sudah! Lupakan Nadia! Kamu sudah menikahi Rita, untuk apa lagi mencari Nadia itu!" Ibu berteriak lantang.


Tidak bu, aku masih mencintai Nadia".Ucapku tak kalah tegas.


Ku tendang semua kursi dan perabot rumah aku kalap.


"Amplop apa itu".Ibu kemudian mengambil amplop diatas meja tempat Nadia berjualan cemilan dan aneka minuman.


Ibu membuka dan membacanya.


Tak sabar ku rebut surat itu dan ku baca.


"Apa! Nadia!!Aku tak mau bercerai dari kamu!Tidak!".


"Sudah Andre! Terima saja".


"Memang Itu yang harus terjadi dan lupakan Nadia"


Aku terduduk lemas dan tak berkata apapun.


"Bu aku menikah dengan Rita; tapi aku tak ingin bercerai dengan Nadia, aku mencintainya Bu" ucapku lirih.


"Sudah! Aku tak mau mendengar kau menyebut nama Nadia.titik!".


Ibu berlalu,dan segera kuambil kunci motor , aku tak bisa menghubungi Nadia dan tak tau dia dimana sekarang, ku putuskan pergi ke sekolah dia pasti disana.


Faira tak berada di sekolahnya , aku tau pasti Nadia memindahkan sekolah anakku itu .


*


Nadia! Nadia!


Suara gaduh dari pintu gerbang membuat aku ingin melihat siapa yang datang


Astagfirullah ..Andre..


Terburu aku ke depan pintu gerbang.


"Nadia aku tak mau pisah!" ucap Andre.


"Jangan lakukan ini padaku"


Aku hanya menatapnya.


"Terus saat kau selingkuh apa kau masih ingat denganku".Aku berkata dingin dan datar.


"Nadia jangan seperti ini" berkata Andre.


"Aku masih mencintaimu" katanya lagi.


"Cinta apa itu, penghianat!".Aku berkata dengan penuh emosi.


"Nadia, maafkan aku" ucapnya.


"Aku sudah memaafkanya". Sahutku.


"Kembali lah padaku". Ujarnya lagi.


"Maaf aku tak bisa". Sahutku.


"Nadia ku mohon"


Andre menarik tanganku, sekuat tenaga aku melepaskan pegangannya.


"Lepaskan aku, aku tidak mau" aku panik dan berusaha melepaskan tanganku.


"Tidak Nadia, kau isteriku".


"Lepas" aku berkata sedikit berteriak.


kemudian tanganku ada yang memegang.


"Lepaskan dia, jangan menyakitinya"

__ADS_1


"Siapa kamu, apa urusanmu"


Bugh! Bugh!


Pak Riki memukul wajah Andre.


Aku tertegun dan bingung, saat Andre mau membalas pukulan pak Riki aku segera berteriak dan menghalangi Andre.


"Nadia! Apa yang kamu lakukan kenapa menghalangiku"


"Pergi kamu jangan bikin gaduh disini" Usir ku pada Andre.


"Kamu isteriku Nadia" kata Andre tak terima.


"Pergi kataku" aku berucap pada Andre yang keras kepala.


"Nadia!" Andre kembali menarik tanganku, seketika Pak Riki menyeret Andre keluar pintu pagar, di tariknya kerah baju Andre.


"Jangan pernah menggangu Bu Nadia lagi camkan itu! kalau tidak bisa membuatnya bahagia jangan menyakitinya, atau kau akan berurusan denganku! dan bersiaplah mendekam di penjara!. Ucap Pak Riki penuh emosi.


"Saya minta dengan hormat pergi anda dari sini, dan jangan mengganggu Nadia lagi" kata Pak Riki lagi.


"Anda siapa berani-beraninya!, saya suaminya!" Ucap Andre penuh amarah.


"Sebentar lagi tidak, saya pastikan anda sudah menerima surat cerai itu bukan" sahut Pak Riki.


"Tidak saya tidak akan menceraikan Nadia, saya mencintainya" Ucap Andre lagi.


"Cinta tapi menyakiti!"


Bugh!


"Pergi sekarang!! sebelum kesabaran saya habis!" Ucap Pak Riki garang.


"Tidak Nadia isteri saya dan kamu tak berhak melarang saya".


"Saya berhak, setelah masa idah selesai saya akan menikahinya!puas!".


"Tak akan saya biarkan seorangpun menyakiti Nadia termasuk kamu".


"Pak segera gembok pagar ini. Jangan biarkan dia masuk"


Aku menangis dan menatap ke depan aku malu dengan kejadian ini.


Para guru semua menyaksikan ini, untung saja siswa ada di dalam kelas masing-masing, memang ada yang beberapa siswa menyaksikan.


Aku ambil tas dan segera pergi.


"Bu Nadia!" teriak Bu Sri


Aku abai dan tetap berjalan.


Sebuah tangan mencekal lengan ini saat aku menoleh.


"Ibu mau pergi keman bu" Pak Riki memegang tangan ini.


Aku hanya menangis.


Kemudian membawaku duduk di kursiku.


Para teman melarangku tampak bu sri berteriak Lagi.


"Bu Nadia jangn kemana-mana".semua teman melihatku.


"Ibu di sini saja. Pak Riki!" Ibu Sri berkata dan berteriak kembali.


"Ibu saya akan menjemput Faira"


"Tenang Bu, semua akan baik2 saja"


"Saya akan membawa Faira ke rumah saya.kalau Bu Nadia sudah tenang silahkan jemput Faira di rumah saya" Bu Sri berkata panjang lebar.


"Bapak ibu saya pamit pulang" Ucapnya lagi


"Iya bu hati-hati" Jawab teman- teman di kantor.


Mereka kebetulan melihat kejadian tadi dan tidak dalam ruang kelas dan tidak mengajar.


Bu dewi mengambil minum dan di serahkannya padaku.


Bu dona menutup pintu kantor


Sementara Pak Riku duduk di hadapan mejaku.


Bu warsih hanya berdebat dengan bu Dona yang menutup pintu.

__ADS_1


"Lah pintu gerbang ditutup"


"Kok kantor di kunci"


"Ada ada saja"


"Buat berjaga-jaga Bu"


"Waspada"


"Nanti datang pengacau"


"Habis saya"


*


Aku masih menangis, lebay memang, tapi aku masih malu.


"Bu, sudah tak apa-apa"


Aku diam saja.


"Bu jangan seperti ini, Bu".


Aku diam tak bergeming.


"Bu, tanganku di raih"


Akupun tersentak.


Dan kutarik tanganku tapi dengan erat di pegang Pak Riki.


"Jangan menangis lagi Bu, tolong saya tidak tahan melihatnya"


Aku masih terisak.


"Bu sudah.., kalau ibu masih menangis, saya akan menyakiti diri saya, saya tidak suka melihat ibu menangis.berhentilah.."


Ku usap air mata, tapi air mata keluar lagi.


"saya mohon berhenti Bu"


"Bapak ini bagaimana, hati saya sakit masa di suruh berhenti menangis , air matanya keluar sendiri ini" Aku berucap dengan sebal.


"Iya, tapi ibu berhenti. .Jangan menangis lagi".


'Kalau gitu saya akan menangis juga ini"


Seketika aku tersenyum tapi mata ini masih mengeluarkan air mata.


"Mana ada, mau nangis bilang-bilang, aneh" Ucapku


"Ada, saya bisa melakukannya"


"Coba"


Kemudian Pak Riki duduk di lantai dan kakinya di hentakkan seperti anak kecil.


Sontak aku tertawa melihatnya.


Melihat ku tertawa dia semakin bertingkah.


"Aduh pa sudah! Iya saya berhenti"


Pak Riki berdiri kemudian duduk kembali di hadapanku dengan terhalang meja kerjaku.


Lalu di berdiri kemudian dan mengambil tisu di meja bu sri dan menyerahkannya padaku.


"Hapus, kalau tak di hapus saya yang menghapusnya" Ucapnya lagi kemudian dia tersenyum.


Aku pun menurut.


"Nanti saya antar pulang"


"Tidak pak saya sendiri saja"


"Saya antar pulang"


Pa Riki duduk lagi di bawah dan..


"Iya" ucapku cepat.


"Nanti saya membuntuti dari belakang Bu".


Akupun hanya mengangguk.

__ADS_1


ku putuskan kerumah Bu Sri saja, dan menunggu situasi aman aku baru pulang ke kontrakkan , pasti Andre mencari tau dimana aku tinggal.


__ADS_2