Dilema

Dilema
Theo, Mode Huru-hara On


__ADS_3

Keesokan harinya, Moetia membuka matanya dengan malas. Tidurnya sangat nyenyak, selain kasurnya yang sangat nyaman. Kemarin dia juga sangat lelah.


Ditambah lagi tidak ada gangguan dari Bagas. Moetia merenggangkan otot-otot nya dan menghirup udara pagi yang penuh kedamaian dan ketenangan.


Moetia bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah berganti pakaian dan berias, Moetia meraih ponselnya dan menghidupkannya.


Dia segera menghubungi Soraya,


"Halo ma," sapa Moetia.


"Halo sayang, bagaimana perjalanan mu! lancar?" tanya Soraya.


"Iya ma, mama sedang apa?" tanya Moetia.


"Em, mama bahkan belum turun dari tempat tidur sayang. Kamu harus jaga diri baik-baik disana ya sayang. Jangan telat makan, ingat asam lambung mu!" seru Soraya.


"Iya mama ku sayang, aku tutup dulu ya. Da mama!" seru Moetia.


"Da sayang" jawab Soraya.


Moetia ingin keluar dan mencari sarapan di restoran di lantai bawah hotel ini, tapi ketika dia membuka pintu.


"Kejutan!" seru Theo sambil merangkul Reno.


Moetia membulatkan matanya,


"Kamu!" seru Moetia tidak senang.


Sebelum Moetia mempersilahkan mereka masuk, Theo dengan seenaknya masuk dan melewati Moetia.


Moetia menatap penuh tanya pada Reno, tapi Reno malah hanya mengangkat bahu nya sekilas.


"Bukan salahku Moetia, aku sama sekali tidak memberitahu kan padanya bahwa kita disini!" jelas Reno.


"Bagas sudah tahu?" tanya Moetia.


Reno menggelengkan kepalanya,


"Aku rasa sudah, dari pagi tadi bos Theo sudah menggedor-gedor kamar bos Bagas!" jawab Reno.


Moetia menghela nafas nya panjang,


"Sudahlah, masuklah Reno. Aku akan pesan sarapan dulu di bawah." seru Moetia.


Reno mengikuti perkataan Moetia, dan masuk ke kamar nya. Sementara Moetia pergi ke restoran yang ada di lantai satu untuk membeli makanan.


Setelah membeli beberapa sandwich dan minuman Moetia segera naik ke atas menuju ke kamarnya. Di hotel memang menyediakan sarapan tapi itu tidak akan cukup karena kedatangan tamu tak diundang itu.


Saat Moetia masuk ke dalam kamarnya, ternyata Bagas sudah ada disana.


Dengan cepat Bagas meraih semua bawaan Moetia dan meletakkan di atas meja.


"Apa yang kukatakan tentang jangan membuka pintu untuk orang lain?" tanya Bagas pada Moetia.


Moetia berdecak kesal,


"Dia Theo, bukan orang lain!" jawab Moetia santai.


Theo yang mendengar jawaban Moetia jadi besar kepala. Tadinya Bagas baru saja mengomelinya karena sudah mengganggunya pagi-pagi buta.


Theo merasa Moetia berada di pihaknya, dia berdiri dan mendekati Moetia dan Bagas.


"Sudahlah, ayo kita sarapan!" seru Theo tanpa dosa.

__ADS_1


Bagas menyenggol Theo menggunakan bahunya dengan keras lalu menarik tangan Moetia masuk ke kamar Bagas.


Moetia tersentak, ketika Bagas menarik nya masuk lalu mengunci pintu.


"Bagas, apa sebenarnya masalahnya. Itu hanya Theo, dan ada Reno juga disana!" bantah Moetia.


"Aku sudah bilang, banyak yang lebih buas dari penghuni hutan Moetia!" seru Bagas.


Moetia sampai menggeleng kan kepalanya karena kesal,


"Ck, baiklah. Maafkan aku, tapi sekarang aku sangat lapar. Bisakah kita ke kamarku dan sarapan!" ucap Moetia.


"Kenapa harus kembali kesana? kita bisa sarapan disini!" tegas Bagas.


"Aku membeli banyak makanan, oh baiklah! cepat hubungi layanan kamar, aku sangat lapar!" Moetia memilih untuk mengalah saja daripada memperpanjang urusan ini.


Moetia duduk santai di sofa, sedangkan Bagas menghubungi layanan kamar dan memesan sarapan.


Setelah itu Bagas duduk di samping Moetia, karena yang Moetia duduki itu sofa single, dia mengeluh ketika Bagas memaksa duduk bersama dengannya.


"Bagas, kursi itu masih kosong. Kamu pikir kamu langsing?" kesal Moetia.


Bagas berdiri dan tertawa,


"Ha ha ha, bagaimana mungkin aku langsing moetia, aku pria. Lihat otot-otot ku!" seru Bagas sambil menarik lengan kaos yang dia pakai ke atas dan menunjukkan otot-otot lengannya yang kekar.


"Iya, iya kamu sangat berotot!" sahut Moetia.


Bagas menunduk dan memegang kedua pegangan sofa yang Moetia duduki.


Deg! deg! deg!


Jantung Moetia kembali berdetak dengan kencang,


Moetia tersipu dan dengan cepat mendorong Bagas.


"Diam, ini masih pagi. Dan otakmu sudah mesum." keluh Moetia.


Bagas malah tertawa mendengar Omelan Moetia.


Tak lama kemudian makanan mereka datang, Bagas dan Moetia menghabiskan sarapan mereka lalu keluar dari kamar.


Ternyata Reno dan Theo sedang menunggu mereka,


"Mau jalan-jalan kemana kita sekarang?" tanya Theo.


Moetia menoleh ke Bagas, dan Bagas merangkulnya dan menariknya ke pelukannya.


"Baiklah, aku akan mengajak kekasihku ke Gardent by the bay." seru Bagas.


"Membosankan!" sahut Theo.


"Ren, kita jalan-jalan ke pantai saja, kita bisa lihat bule bule cantik berjemur di tepi pantai" seru Theo merangkul Reno.


Moetia gemas sekali mendengar ucapan Theo, dengan kuat dia menginjak kaki Theo.


"Aukh!" pekik Theo.


"Moetia sakit! apa yang kamu makan? Tenaga mu kuat sekali!" tanya Theo.


"Rasakan! menyebalkan!" seru Moetia.


"Hei, kamu belum tahu saja. Dulu setiap berlibur kemari Bagas selalu mengajak..."

__ADS_1


Reno dengan cepat membungkam mulut Theo dengan tangannya, Reno sudah bisa menduga apa yang akan di katakan Theo.


Mereka bertiga memang sering liburan ke Singapura mengajak Calista dan tempat favorit Calista adalah pantai.


Moetia menatap Bagas dengan tatapan curiga,


"Sayang, jangan dengarkan dia. Memang otaknya sedikit bermasalah!" seru Bagas menggandeng tangan Moetia menjauh dari Theo dan Reno.


Theo menatap kesal pada Reno,


"Hei, sejak kapan kamu berani melakukan hal tidak sopan begitu pada ku? akan ku pecat kamu!" seru Theo.


Reno malah terkekeh,


"Terserah, bos ku kan Bagas! bukan kamu!" ucapan Reno memukul telak Theo.


Theo mengepalkan tangannya dan ingin memukul Reno, tapi Reno lebih dulu pergi meninggalkannya.


"Sial, bos dan asisten nya itu sungguh menyebalkan!" gerutu Theo mengikuti langkah Reno yang menyusul Bagas dan Moetia.


Mereka menaiki mobil perusahaan yang biasa dipakai Bagas atau Reno jika di Singapura.


Sepanjang jalan Moetia melihat keluar jendela, Bagas jadi merasa kesal sendiri karena merasa Moetia mengacuhkannya.


"Apa pemandangan di luar lebih menarik dari ku, Moetia?" tanya Bagas kesal.


Mendengar Bagas mengatakan hal itu, Theo tertawa puas.


"Ha ha ha, pesona mu sudah hilang bos!" ejek Theo yang duduk di kursi depan. Sedangkan Reno yang menyetir.


Bagas kesal dan memukul lengan Theo,


"Diam, kamu sendiri kenapa datang kemari? bukankah Audrey akan pulang ke Indonesia?" tanya Bagas.


"Tadinya aku memang kemari untuk menemui tunangan ku, tapi sayang nya ternyata dia sedang ada pameran di Swiss. Dia baru menghubungiku semalam." terang Theo.


"Lalu darimana kamu tahu, aku, Reno dan Moetia berada di sini?" tanya Bagas lagi.


"Tentu saja karena Reno!" jawab Theo santai.


Reno yang terkejut namanya disebut, sontak saja mengerem mendadak.


Cittttt!


Membuat yang lainya ikut terkejut, bahkan dahi Moetia terhantuk ke kursi depan.


Moetia memegang dahinya, Bagas yang melihat itu langsung panik dan memeriksa dahi Moetia,


"Apa kamu terluka?" tanya Bagas.


Moetia menggelengkan kepalanya. Bagas memukul kepala Reno,


"Kalau sudah bosan hidup, bilang!!!" teriak Bagas.


Reno mengelus kepalanya,


"Bos, aku tidak sengaja. Aku hanya terkejut karena bos Theo menyalahkan aku!" ucap Reno memberi alasan.


Theo gantian menciut, karena tatapan Bagas sudah seperti naga yang akan menyemburkan api padanya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Para readers ku tersayang, jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...

__ADS_1


...Terimakasih 😘😘😘...


__ADS_2