Dilema

Dilema
Manda Merasa Diacuhkan


__ADS_3

Happy reading ❤️❤️❤️


_*_*_


Ketika ambulance yang membawa Reno sampai di depan rumah sakit.


Chairul, Belinda bahkan Manda sudah ada disana.


Benjamin turun terlebih dahulu dan membantu para perawat menurunkan Reno.


Reno dinaikkan diatas kursi roda dan Benjamin mendorongnya ke hadapan Chairul dan belinda.


"Bagaimana perjalanan mu nak?" tanya Belinda lembut sambil mengusap kepala Reno.


"Nyaman Tante, terimakasih!" jawab Reno.


Belinda tersenyum lalu mengambil alih untuk mendorong kursi roda Reno.


"Biar aku saja!" ucap Belinda.


Benjamin pun segera menyingkir ke sebelahnya.


"Ibu, jangan membuat masalah. Kamu tidak akan kuat mendorongnya!" seru Chairul.


Belinda segera melepaskan pegangannya pada kursi roda yang di duduki Reno.


"Ya sudah lah! Ben, kamu saja!" seru Belinda malas berdebat dengan Chairul.


Mereka lalu menuju ke ruangan rawat Reno. Para perawat menyiapkan semuanya. Ketika perawat akan memasang selang infus untuk Reno, dia menolaknya.


"Tidak usah sus, aku tidak mau di infus lagi!" seru Reno.


"Tapi anda masih memerlukan ini, di dalam cairan infus kami memasukkan obat untuk luka dalam anda!" sela sang perawat.


"Menurut lah Ren!" seru Chairul.


Reno mengalah dan menuruti perintah Chairul.


Setelah selesai memasang infus, perawat dan dokter yang baru saja memeriksa Reno pun keluar.


Belinda mendekati Reno dan duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Reno.


"Cepat lah, pulih nak. Tante punya sesuatu yang ingin Tante sampaikan padamu!" kata Belinda.


"Sudah lah, Bu. Biarkan Reno pulih dulu!" sela Chairul.


Tak lama kemudian, masuklah ke dalam ruangan itu Moetia dan Bagas.


Manda sangat senang melihat Bagas, tapi bahkan Bagas sama sekali tidak melirik kearahnya.


Moetia sangat senang melihat Manda, dia tersenyum dan melangkah maju ingin memeluk Manda.


Tapi tidak sesuai keinginannya, Manda malah melewatinya dan menghampiri Bagas.


Moetia sedikit kecewa, dia lalu menghampiri Belinda dan Chairul.


Moetia menyalami Chairul dan Belinda. Belinda memeluk Moetia sangat senang.


"Halo sayang, bagaimana perjalanan kalian?" tanya Belinda.

__ADS_1


"Sangat lancar Tante, Tante apa kabar?" tanya Moetia ramah.


"Tante baik sayang." jawab Belinda sambil tersenyum.


Chairul hanya diam sambil memperhatikan Moetia dan Belinda.


Sementara Manda yang mencoba menyapa Bagas, malah harus kecewa karena Bagas tidak menanggapinya.


"Hai Bagas, akhirnya kamu kembali. Aku sangat..."


Manda tidak melanjutkan perkataannya karena Bagas melewatinya begitu saja dan menghampiri Reno.


"Austin dan Theo kembali ke apartemen Theo. Mereka sedang sibuk menyiapkan pesta perayaan ulang tahun perusahaan Theo. Mereka akan kemari nanti malam!" ucap Bagas pada Reno.


"Tidak apa-apa, kalian juga kembalilah ke rumah dan istirahat. Disini ada perawat juga anak buah Benjamin yang akan mengurus ku!" sahut Reno.


"Bicara apa kamu, ada Tante kan!" sela Belinda.


Belinda lalu menoleh ke Moetia,


"Juga ada Moetia!" tambahnya.


Chairul hanya berdecak kesal saat Belinda mengatakan itu. Dia sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Belinda.


"Moetia harus bekerja Bu, sekarang dia adalah sekertaris pribadi ku!" seru Bagas.


Semua mata tertuju pada Bagas, bahkan Moetia juga melihatnya dengan ekspresi terkejut.


Chairul tidak ingin semua salah paham.


"Iya, ayah yang meminta pada Austin agar Moetia menjadi sekertaris pribadi Bagas. Reno sedang sakit, tidak ada yang membantu Bagas. Dan menurut pengalaman kerja Moetia bahkan keberhasilan nya saat merencanakan acara launching produk baru perusahaan waktu itu. Ayah berfikir bahwa tidak ada yang lebih baik berada di sisi Bagas selain Moetia!" jelas Chairul.


"Benar juga. Tapi ingat ya Bagas, jangan galak-galak pada Moetia, dan jangan bertingkah yang aneh-aneh lagi!" serunya.


Moetia hanya mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Reno yang dari tadi malah tersenyum senang mendengar bahwa Moetia akan menjadi sekertaris pribadi Bagas.


Manda terlihat sangat tidak suka karena dari tadi Bagas sama sekali tidak melihat ke arahnya.


"Tante, Manda pulang dulu ya!" ijinnya pada Belinda.


"Manda!" panggil Moetia.


Manda menoleh ke Moetia.


"Kita pulang bersama ya!" ajak Moetia.


"Tante, om kak Reno Moetia pulang dulu. Nanti Moetia kesini lagi!" ucap Moetia.


Belinda tersenyum dan menyentuh lengan Moetia.


"Iya sayang, beristirahat lah dulu kamu pasti lelah. Tenang saja, ada Tante yang menjaga kak Reno mu!" ucap Belinda bermaksud menggoda Moetia dan Reno.


Moetia tersenyum kikuk, sementara Manda masih terlihat sangat tidak senang.


Mereka berdua keluar dari ruangan rawat Reno. Mereka berjalan bersama menuju keluar rumah sakit.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Moetia sambil tersenyum.


Manda malah menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Kamu lihat kan tadi itu, dia masih saja dingin padaku!" keluh Manda.


Moetia terdiam, ternyata Manda masih saja memikirkan kejadian di dalam ruangan tadi. Tapi Manda juga tidak menyadari bahwa tadi dia juga sudah mengacuhkan Moetia begitu saja.


Moetia hanya menoleh sekilas ke arah Manda.


"Aku lihat, lalu apa kamu masih tidak mau menyerah?" tanya Moetia.


Manda menghentikan langkahnya, Moetia juga ikut berhenti.


"Apa yang kurang dariku Moetia? lihat aku, apa yang tidak menarik dariku?" tanya Manda dengan suara sedikit meninggi.


Moetia hanya tersenyum kikuk dan melihat sekeliling, orang-orang yang ada disana terlihat mulai memperhatikan Manda.


"Kita pulang dulu ya, kita bicarakan lagi di rumah!" ajak Moetia sambil menggandeng lengan Manda.


Manda tidak menuruti Moetia, bahkan dia memegang kedua lengan Moetia.


"Aku hanya ingin dia mengingatku, selama si Singapura dia bahkan tidak sekali pun menelepon ku, aku bahkan ratusan kali menghubunginya tapi tidak pernah sekalipun dia menjawab panggilan ku! aku kirimkan ribuan pesan, bahkan tidak ada notifikasi bahwa dia sudah membacanya. Kenapa dia begitu kejam padaku Moetia!" seru Manda mulai emosional.


Moetia menghela nafas nya panjang,


"Dengarkan aku, kita bicara di rumah saja ya. Lihatlah semua orang memperhatikan kita, jika Bagas tahu hal ini. Mungkin dia akan marah pada kita!" jelas Moetia.


Manda yang tadinya sangat emosi pun terdiam sejenak. Dia memikirkan apa yang dikatakan Moetia.


Moetia menggandeng lengan Manda dan mengajaknya untuk keluar dari rumah sakit.


Mereka menghentikan sebuah taksi yang lewat. Dan mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju ke rumah.


Moetia yang sejak tadi merasa pernah mengenal supir taksi itu pun menegurnya.


"Maaf pak supir, apa kita saling mengenal?" tanya Moetia.


"Ada apa Moetia?" tanya Manda heran.


"Sepertinya aku pernah bertemu supir taksi ini, tapi aku lupa dimana?" bisik Moetia pada Manda.


Supir itu tersenyum ramah.


"Tidak nona, mungkin hanya mirip!" jawabnya ramah.


Moetia masih terus berfikir dan mengingat lagi,


"Sudahlah Moetia, mungkin hanya perasaan mu saja!" bisik Manda pada Moetia.


Moetia mengangguk paham, tapi dia merasa wajah supir taksi itu sangat familiar.


Sementara itu di luar ruangan Reno, Bagas dan Chairul sedang berbicara.


Sejak tadi Bagas mencemaskan Moetia, dia ingin mengantarkan Moetia. Tapi Chairul melarangnya.


Ucapannya saja yang mengatakan bahwa Moetia sudah menjadi sekertaris pribadinya sudah mengejutkan banyak orang.


"Tenang saja, anak buah Benjamin yang paling bisa diandalkan sudah menyamar jadi supir taksi dan mengantarkan Moetia kerumahnya!" seru Chairul.


...❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Think u ❤️❤️❤️...


__ADS_2