
Moetia masih duduk bersama dengan Reno hingga matahari mulai terasa terik,
"Apa kamu lapar Moetia?" tanya Reno melihat Moetia.
Moetia menoleh ke arah Reno dan menganggukkan kepalanya,
"Apa kakak ku ini akan mentraktir aku makan siang?" tanya Moetia.
Reno segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada Moetia,
"Tentu saja!" jawab Reno sambil tersenyum.
Moetia meraih tangan Reno dan menjadikannya pegangan untuk berduri.
"Baiklah, aku tidak akan melewatkan kesempatan langka ini!" sahut Moetia.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, Reno bahkan membukakan pintu untuk Moetia.
"Terimakasih!" seru Moetia.
Sebelum menutup pintu Reno mengelus kepala Moetia dengan lembut, membuat Moetia tersenyum padanya.
Reno bahkan tidak memeriksa ponselnya, dan segera melajukan mobilnya.
"Kita akan mampir ke Stasiun bahan bakar dulu, tadi pagi aku belum sempat mengisi bahan bakar mobil ini!" ucap Reno pada Moetia.
"Oke!" jawab Moetia dengan cepat.
"Lalu kami mau makan siang apa? masakan Cina, atau masakan India, disini banyak sekali restoran India." seru Reno.
Moetia memperhatikan Reno dengan seksama, baru kali ini dia lihat Reno begitu banyak bicara dan berekspresi dengan all out.
"Kalau kak Reno suka makanan apa? aku ikut saja. Aku juga tidak pilih-pilih makanan kok, semua bisa beradaptasi dengan baik di lambungku!" kekeh Moetia.
Reno ikut terkekeh, rasanya menyenangkan sekali mengobrol dengan Moetia, meskipun Reno sudah menceritakan tentang masa lalunya, Moetia tidak bersikap berbeda padanya.
"Baiklah aku akan mengajakmu ke restoran India yang sangat terkenal di sini!" seru Reno.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Stasiun pengisian bahan bakar, Reno keluar dari dalam mobil.
Moetia mendengar suara ponsel bergetar dia melihat ke arah dashboard dan melihat Bagas sedang menghubungi Reno.
Moetia menghela nafas nya panjang, terlihat setelah getaran berhenti, layar menunjukkan pemberitahuan 99 kali panggilan tak terjawab dari Bagas.
Moetia bersandar malas ke kursinya, setelah selesai Reno kembali ke kursi kemudi. Dia melihat Moetia yang hanya menunduk diam.
"Ada apa Moetia? apa kamu berubah pikiran dan ingin menu makan siang yang lain?" tanya Reno lalu melajukan mobilnya meninggalkan Stasiun pengisian bahan bakar itu.
Moetia mengangkat kepalanya,
"Ponsel mu tadi bergetar kak, Bagas sudah 99 kali menghubungi mu! aku melihatnya sekilas dilayar ponselmu!" jelas Moetia.
Reno segera menepikan kendaraan nya, dia segera meraih ponselnya dan menghubungi Bagas.
"Astaga Reno! kenapa dengan mu? kenapa tidak menjawab telepon ku? mau ku pecat hah!" teriak Bagas diujung telpon hingga walaupun Reno tidak menyalakan speaker, Moetia bisa mendengar suara Bagas.
"Maaf bos, tadi ponsel nya aku pasang kabel headset dan aku lupa melepasnya, jadi aku tidak tahu kamu menelpon!" jelas Reno.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan? lama sekali? aku sudah menunggu dua jam di depan hotel!" kesal Bagas.
"Bagas, pelan kan suara mu. Moetia ada di sampingku!" seru Reno pelan.
Bagas malah terdiam, sepertinya dia berusaha menahan emosinya.
"Darimana saja kalian, baiklah! cepat kembali ke hotel. Dan apakah Moetia sudah tenang?" tanya Bagas cemas.
"Iya Moetia dalam keadaan baik sekarang, tapi kami akan makan siang dulu!" jelas Reno lagi.
"Baiklah, tapi Drivetru saja. Dan bawakan juga untukku!" seru Bagas.
Reno menyimpan kembali ponselnya,
"Sepertinya kita hanya bisa membeli makanannya dan memakannya di hotel!" seru Reno.
Moetia hanya mengangguk pelan tanpa bicara sepatah kata pun.
Mereka sampai di Shakuntala resto, Reno memesan Empat kotak chicken biryani dan empat porsi samosa.
Setelah itu, Reno kembali mengemudikan mobil menuju hotel.
"Kak, sudah berapa lama kamu bekerja di kantor Bagas?" tanya Moetia tiba-tiba.
Reno menoleh sekilas,
"Tadi sudah ku cerita kan padamu kan, sejak aku lulus kuliah!" jawab Reno.
"Begitu ya!" jawab Moetia lemah.
Moetia malah menghela nafasnya,
"Apa dulu Bagas sangat bahagia saat bersama Calista?" tanya Moetia.
Reno terdiam sebentar,
"Tidak sebahagia saat dia bersama mu!" jawab Reno yakin.
"Menurut mu, jika Calista datang pada Bagas dan meminta Bagas kembali padanya, apa yang akan Bagas lakukan?" tanya Moetia lagi.
"Itu tidak akan terjadi, wanita kejam itu meninggalkan Bagas untuk memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik, mana mungkin dia kembali pada Bagas. Apa kamu tahu siapa suaminya? dia adalah seorang anak gubernur!" terang Reno.
"Itu mantan suaminya!" seru Moetia.
Reno terkejut dan mengerem mobilnya,
"Apa?" tanya Reno sangat terkejut.
Moetia menatap Reno dengan tatapan sedih,
"Calista sudah berpisah dari suaminya, saat ini dia sedang menjalani terapi di rumah sakit karena kedua kakinya lumpuh akibat sebuah kecelakaan!" jelas Moetia.
Reno terlihat memukul setir kemudi, dia sendiri tidak yakin apakah Bagas akan kembali pada Calista jika Calista memintanya.
Reno kembali teringat saat Bagas selama satu setengah tahun tidak bisa melupakan wanita itu dan terus berharap dia kembali.
Bahkan Bagas pernah hampir mengakhiri hidupnya karena depresi.
__ADS_1
Moetia mengerti reaksi yang ditunjukkan Reno, dia tahu walaupun katanya Bagas mencinta dirinya tapi kebersamaan nya dengan Calista lebih dari dua tahun itu tidak akan terhapus begitu saja.
Moetia semakin sesak, saat ingat dia pernah melihat masih ada foto Calista di dalam ruangan kerja Bagas.
"Kak, apakah benar foto Calista sudah Bagas bakar?" tanya Moetia ragu.
Reno melihat keraguan di mata Moetia,
"Apa kamu meragukan Bagas?" tanya Reno.
Moetia berpaling dari Reno,
"Sebaiknya kita kembali ke hotel kak, makanan kita keburu dingin!" seru Moetia.
Reno pun menuruti keinginan Moetia dan kembali ke hotel.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di hotel, ternyata Bagas sudah menunggu di pintu masuk.
Moetia terlihat ragu untuk berjalan masuk, tapi Reno mengajaknya masuk bersama.
"Ayo, kamu bisa berjalan disisi sebelah sini!" ucap Reno sambil mengarahkan Moetia ke sisi lain dari tempat Bagas berdiri.
Saat Bagas akan mendekati Moetia, Reno menghalanginya dan memberikan sebungkus makanan pesanan nya.
"Ini bos, makanlah selagi hangat!" seru Reno sambil menahan Bagas.
Moetia sengaja melewati Reno dan Bagas, lalu dengan cepat masuk ke dalam lift.
Bagas memukul lengan Reno,
"Hei, apa kamu sengaja? berani-beraninya kamu?" kesal Bagas.
"Bersabarlah bos, dia baru saja ingin makan. Jika kamu mencari ribut dengannya lagi, dia akan kehilangan selera makannya!" jelas Reno.
"Sungguh perhatian sekali kamu tuan Reno! apa sekarang kamu dan Moetia sudah berteman? kemana saja kalian selama dua jam lebih?" tanya Bagas menatap tajam Reno.
"Aku menemaninya ke pantai!" jawab Reno jujur.
"Ke pantai?" tanya Bagas mengulangi kata Reno.
"Iya, saat dia turun dari bukit tadi. Dia sangat sedih dan bertanya padaku, apakah aku tahu tempat dimana dia bisa berteriak tanpa mengganggu orang lain..."
Bagas terlihat sangat menyesal, sebelum Reno menyelesaikan ucapannya, Bagas sudah berlari dan mengejar Moetia.
Bagas terus menekan tombol lift, agar cepat terbuka.
"Ayolah, Moetia. Kamu pasti salah paham!" gerutu Bagas.
Setelah pintu lift terbuka dia segera masuk dan menekan tombol lantai kamar Moetia.
...❤️❤️❤️🌹🌹🌹❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Vote nya juga boleh ❤️❤️❤️...
...Think u all 😘😘😘...
__ADS_1