Dilema

Dilema
Belinda, Mak Comblang mode On


__ADS_3

Manda lagi-lagi harus kecewa karena keinginan nya untuk makin dekat dengan bagas harus kembali pupus.


Bagaimana tidak, dia harus pulang diantarkan oleh supir Belinda karena Bagas beralasan ingin menemani Theo dan Austin juga Audrey yang baru saja datang dari Singapura.


Manda sampai menangis ketika perjalanan pulang, dia sangat kesal pada Audrey yang membuatnya di acuhkan sepanjang makan malam. Ditambah lagi perkataan Audrey yang menunjukkan jelas bahwa dia tidak menyukai Manda.


"Sudah sampai nona!" ucap supir Belinda ketika tiba di depan gerbang rumah Moetia.


Tanpa bicara atau berterima kasih pada supir itu, Manda langsung keluar dari mobil dan memanggil satpam agar membuka pintu gerbang.


Manda bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada satpam rumah Moetia, dia hanya terus berjalan dengan cepat dan kesal menuju ke pintu utama.


Malika yang memang sengaja menunggu Manda pulang segera membuka pintu ketika terdengar suara bel.


"Sayang, kamu sudah pulang. Bagaimana makan malamnya?" tanya Malika lembut.


Manda langsung masuk dan membanting tas tangan yang dia pegang ke atas sofa.


Dia lalu duduk di atas sofa ruang tamu dan memijit pelipisnya sendiri.


Malika mendekati Manda dan mengelus punggung nya.


"Ada apa sayang, apa semuanya berjalan baik?" tanya Malika mulai cemas.


"Wanita itu Bu, adik Austin. Aku sudah tahu dari awal mereka memang tidak menyukai ku. Dasar sombong!" kesal Manda.


"Maksudnya bagaimana? kamu kan makan malam di rumah Bagas? apa hubungannya dengan Austin, Austin bosnya Moetia kan?" tanya Malika.


"Siapa lagi Bu, aku heran kenapa Moetia bisa bertahan dengan bos angkuh seperti dia. Ibu tahu tidak, waktu aku bertunangan dengan Bagas Austin bahkan tidak mau mengucapkan selamat padaku, dan sekarang adiknya! dia bahkan lebih mengerikan dari kakaknya itu!" omel Manda.


"Mereka ada di rumah Bagas juga?" tanya Malika yang mulai paham.


"Iya, Tante Belinda yang mengundang Austin dan adiknya makan malam, bahkan makan malam itu untuk menyambut kedatangan Audrey. Wanita sombong itu memamerkan hadiah khusus untuk Tante Belinda, memangnya kenapa kalau dia designer terkenal, aku juga model terkenal kan!" Manda makin kesal hingga ucapannya makin melantur kemana-mana.


Mendengar nada suara Manda yang makin meninggi, Malika memintanya untuk tenang.


"Sayang, pelan kan suaramu! Tante Soraya, om Aries dan Moetia sudah tidur. Sebaiknya kamu juga istirahat ya. Kembalilah ke kamarmu!" seru Malika.


Manda segera berdiri dan meraih tasnya. Dia memasuki kamarnya.


Malika merebahkan dirinya di sofa. Sebenarnya dia sudah sangat lelah dengan segala keinginan Manda yang makin menjadi.


Sebenarnya dia juga merindukan putri bungsu nya Najwa yang masih sekolah di bangku SMP yang kini dijaga Ahmad di Jakarta.


Malika sempat ingin pulang ke Jakarta, tapi Manda bersikeras tidak mau karena Bagas berdomisili di Bandung.


Keesokan harinya, Moetia sedang bersiap-siap untuk kembali bekerja.


Tapi sebelum itu dia menyempatkan untuk membantu Soraya dan Malika membuatkan sarapan.


"Manda dimana Tante?" tanya Moetia.


"Belum keluar dari kamarnya!" jawab Malika lembut.


"Memangnya dia pulang jam berapa?" tanya Soraya.


"Cukup malam juga, tapi aku tidak melihat jam waktu dia pulang!" jawab Malika jujur.


Moetia sudah meminum susunya dan memakan sandwich nya.

__ADS_1


"Ma, pa, Tante Moetia berangkat kerja dulu ya!" ucapnya sambil menyalami papa, mama dan tantenya itu.


"Nak, ingat untuk selalu mengaktifkan ponselmu ya!" seru Aries.


Moetia menganggukkan kepalanya sambil berjalan keluar.


"Apakah dia tidur nyenyak semalam?" tanya Aries pada Soraya.


"Ada apa?" tanya Malika.


"Semalam, sewaktu Moetia tidur dia mengigau karena mimpi buruk. Dia bahkan berteriak meminta seseorang untuk pergi!" jawab Soraya sedih.


"Kalau begitu kenapa membiarkannya pergi bekerja, sepertinya dia masih trauma!" sahut Malika.


"Benar, tapi untuk memulihkan traumanya itu berbaur dengan teman-teman dan menyibukkan diri dengan pekerjaan adalah cara yang paling mudah untuk membuat pikiran nya teralihkan!" jelas Aries.


"Kasihan sekali Moetia, semalam dia memelukku sangat erat. Dia pasti sangat takut!" ucap Soraya yang sudah menangis.


Malika segera bangkit dari kursinya dan merangkul Soraya.


"Bersabarlah, kita akan selalu bersamanya dan lebih menjaganya mulai sekarang!" ucap Malika.


Di rumah sakit, tempat Reno di rawat. Reno kedatangan beberapa karyawan yang menjenguknya sebelum berangkat ke kantor.


Mereka membawakan beberapa bingkisan buah-buahan dan Vivian juga datang membawakan bubur ayam untuk Reno.


"Selamat pagi pak!" sapa Vivian.


"Selamat pagi pak Reno!" sapa karyawan yang lain.


Dan begitulah satu demi satu dari sekitar tujuh orang karyawan itu menyapa dan menyalami Reno satu persatu.


Sesekali mereka tertawa mendengar guyonan dari seorang karyawan yang melambai.


Lalu Vivian memberikan bubur ayam yang dia letakkan di atas meja di samping tempat tidur Reno.


"Pak Reno, sudah sarapan belum?" tanya Vivian.


"Cie, Vivian. Kalau belum mau disuapi tuh pak!" goda Mastum karyawan yang melambai itu.


Reno tentu saja masih terus memasang wajah datar tanpa ekspresi nya.


"Letakkan saja disitu, nanti aku makan. Terimakasih ya!" sahut Reno.


"Baik pak!" jawab Vivian lembut.


Beberapa saat kemudian Belinda datang membawa sarapan untuk Reno. Tapi dia terkejut melihat ruangan Reno ramai sekali.


"Selamat pagi!" sapa Belinda.


Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Belinda. Dua orang karyawan yang duduk segera berdiri ketika menyadari kedatangan Belinda.


"Selamat pagi Bu bos" jawab mereka.


"Selamat pagi Bu Belinda!" sapa Vivian lembut.


Belinda tersenyum senang melihat Vivian, Belinda menghampiri nya dan memeluknya.


Vivian sedikit terkejut dengan tindakan Belinda itu.

__ADS_1


"Kamu Vivian kan! ya ampun, kamu cantik sekali." puji Belinda.


Wajah Vivian yang memang sangat putih karena dia juga ada keturunan Tionghoa terlihat bersemu merah karena malu di puji oleh Belinda.


Melihat suasana canggung, para karyawan pun berpamitan pada Reno dan Belinda.


"Kami permisi dulu Bu Belinda!" ucap Vivian mewakili karyawan yang lain.


"Sayang, jangan pergi dulu. Aku akan menelpon bagian HRD dan mengatakan kamu akan sedikit terlambat masuk kantor!" seru Belinda membuat Reno dan yang lain terkejut.


"Kalian bisa pergi sekarang!" seru Belinda pada karyawan yang lain.


Dan merekapun mematuhi perintah dari Belinda.


Setelah para karyawan pergi, Belinda mengambil bubur yang ada di atas meja.


"Ini pasti kamu yang bawakan untuk Reno kan?" tanya Belinda.


"Tante, Vivian harus bekerja!" protes Reno.


"Sudah diam!" sela Belinda.


Belinda memberikan semangkuk bubur ayam itu pada Vivian dan memintanya menyuapi Reno.


"Suapi dia ya! anak ini jika tidak disuapi maka dia kan makan sarapannya saat makan siang!" seru Belinda.


"Tante!" protes Reno.


"Diam!" sela Belinda lagi.


"Ayo Vivian, suapi Reno. Aku akan mengawasinya!" serunya.


Vivian dengan gugup melaksanakan perintah Belinda. Sedangkan Reno juga terpaksa harus menuruti Belinda agar tidak membuatnya sedih.


Beberapa menit kemudian, bubur ayam itu tinggal separuh dan Reno sudah tidak sanggup lagi memakannya.


"Sudah cukup!" seru Reno.


"Hei, baru separuh!" protes Belinda.


"Sudah tidak mau lagi Tante!" bantah Reno.


"Hais, baiklah. Vivian sekarang beri obatnya pada Reno dan kamu ambilkan air minumnya!" seru Belinda lagi.


Vivian menurut, dia mengambilkan air minum ke dalam gelas lalu memberikannya pada Reno.


Setelah Reno meminum obatnya, Belinda meminta Vivian menemaninya sebentar karena Belinda akan belanja.


"Tante, biarkan Vivian bekerja. Aku hanya istirahat tidak perlu ditemani!" protes Reno.


"Awas saja kalau Tante kembali Vivian sudah tidak ada. Tante akan marah padamu!" gertak Belinda.


Reno hanya bisa menghela nafasnya panjang. Sepertinya Belinda sedang merencanakan sesuatu padanya.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2