
Moetia mendorong Marvin dengan kesal dan berlari mendekati Manda. Tapi sayangnya tangannya lebih dulu di tarik oleh Marvin.
"Lepaskan! berhenti!" teriak Moetia pada pengawal yang akan meletakkan ular kedua di dekat Manda.
"Argh....!" teriak Manda yang sudah sangat ketakutan.
Moetia masih terus memberontak dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Marvin.
"Jangan sekejam ini Marvin, Manda tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa!" seru Moetia.
"Apa yang kamu tunggu! cepat letakkan lebih banyak lagi di dekatnya!" seru Marvin pada pengawalnya.
"Tidak!!!! Moetia tolong aku!!!" jerit Manda sambil terisak.
Moetia pun sudah berderaian dengan tangis, dia dapat merasakan ketakutan yang saat ini Manda rasakan.
Karena rasa takut yang teramat sangat Manda pun akhirnya pingsan.
"Marvin, tolong lepaskan aku! Manda sudah pingsan dia pasti sangat ketakutan! aku mohon biarkan aku menolongnya!" pinta Moetia sambil menyeka tangisnya.
"Pergi denganku, maka aku akan mengirimkan wanita itu pulang ke rumahmu, jika kamu menolak maka aku akan lemparkan dia ke danau!" gertak Marvin.
Moetia menggeleng kan kepalanya berkali-kali.
"Kamu tidak akan sekejam itu kan?" tanya Moetia penuh harap.
Marvin menatap Moetia dengan tatapan tegas dan serius.
'Apa yang harus aku lakukan?' tanya Moetia dalam hati.
Moetia melihat ke arah Manda yang tergolek lemah dan di kelilingi dua ekor ular.
Moetia berhenti memberontak, Marvin pun melonggarkan genggamannya.
"Aku ikut dengan mu! tapi pastikan Manda pulang ke rumah dengan selamat!" lirih Moetia sambil menatap nanar pada Manda.
Marvin tersenyum penuh kemenangan. Dia meminta dua orang pengawalnya melepaskan ikatan Manda dan mengantarkannya pulang.
"Saat dia sampai di pintu gerbang rumah Moetia, pastikan kalian mengambil gambarnya. Mengerti!" perintah Marvin pada ke dua pengawal itu.
Sementara Manda di antarkan kerumah Moetia, Marvin membawa Moetia menuju mobilnya.
"Masuklah!" seru Marvin.
"Mau kemana?" tanya Moetia yang masih ragu untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk, atau aku akan berubah pikiran dan melemparkan sahabat mu itu ke danau!" gertak Marvin lagi.
__ADS_1
Moetia memandang Marvin dengan kesal dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kuat. Marvin hanya tersenyum menyeringai dan kembali membuka pintu yang tadi sudah di tutup oleh Moetia.
Marvin memaksa Moetia untuk bergeser, Moetia malah menjauh dari Marvin dan duduk dekat sekali dengan pintu.
"Pakai sabuk pengaman mu! perjalanan kita cukup lama dan panjang!" seru Marvin.
Moetia menoleh, tak percaya dia sudah kembali menjadi tawanan Marvin untuk ke dua kalinya.
'Astaga, bagaimana ini? mungkinkah Bagas bisa menemukan ku?' tanya Moetia dalam hati.
Sepanjang perjalanan Moetia hanya melihat keluar jendela. Sudah sekitar tiga puluh menit, Moetia tahu ini arah ke luar kota. Tiba-tiba ponsel Marvin berdering, dan Marvin tersenyum saat melihat Video call dari anak buahnya.
"Lihat! teman mu sudah sampai di depan gerbang rumahmu!" seru Marvin memperlihatkan video call itu pada Moetia.
Moetia melihat Manda sedang diturunkan dari mobil dan diletakkan begitu saja di depan gerbang, lalu dua orang pengawal itu segera pergi dengan cepat.
Moetia menghela nafas lega dan kembali memalingkan pandangannya keluar jendela
Marvin mematikan ponselnya dan meraih tangan Moetia.
Moetia dengan cepat menepis tangan Marvin.
"Jangan sentuh aku!" tegas Moetia.
Marvin malah mencengkram kuat kedua lengan Moetia.
Moetia sudah tidak perduli lagi pada gertakan Marvin. Manda sudah lolos, dia tidak perlu takut lagi Marvin menyakiti Manda.
Moetia menghentakkan tangan nya dengan kuat.
"Aku bilang jangan sentuh aku! aku membencimu Marvin, aku sangat membencimu!" seru Moetia.
Marvin terlihat sangat emosi, wajah dan matanya memerah. Dengan kuat dia mendorong dia menekan tubuh Moetia hingga terpepet di kursinya.
Wajah mereka yang begitu dekat membuat Moetia merasa sangat tidak nyaman. Moetia berusaha mendorong Marvin menjauh tapi sepertinya percuma saja.
Marvin meraih dagu Moetia dan menekan rahang Moetia dengan kuat.
Moetia kembali meneteskan air mata di sudut matanya, bukan karena rasa sakit di rahang atau tangganya tapi takut jika Marvin menyentuhnya.
"Lepaskan!" ucap Moetia susah payah.
Jika biasanya Marvin tidak perduli pada air mata dan permintaan seorang wanita yang sudah berada di genggamannya tapi melihat Moetia menangis dan marah membuatnya tak berdaya.
Marvin melepaskan Moetia dan menggeser duduknya menjauh dari Moetia.
Moetia menghela nafas lega karena Marvin melepaskan nya.
__ADS_1
Mang Kus, penjaga kebun Moetia baru saja akan keluar untuk membuang sampah. Mang Kus sampai membanting plastik sampahnya melihat Manda tergeletak di depan gerbang.
"Non Manda, astaghfirullah... Mang Nurman, Bi Irah tolong... Ini kumaha atuh, Non Manda bangun non!" teriak mang Kus memanggil bantuan sambil mencoba membangunkan Manda dengan menggoyangkan tangan dan menepuk-nepuk pipi Manda.
Mendengar teriakan mang Kus, pak Nurman satpam rumah Moetia juga ikut keluar. Dia membantu mang Kus mengangkat Manda ke dalam rumah.
Soraya yang melihat Manda di gotong oleh mang Kus dan pak Nurman segera mendekatinya.
"Manda, astaga! apa yang terjadi. Mang bawa ke kamarnya!" seru Soraya.
Soraya mengikuti mereka ke kamar Manda. Soraya juga menelpon dokter keluarga mereka.
"Mang Kus, kenapa Manda bisa begini?" tanya Soraya.
"Itu Nya, tadi mamang teh mau buang sampah keluar, tiba-tiba mamang lihat non Manda tergeletak gitu aja di depan gerbang!" jelas mang Kus.
Soraya mengusap lembut kepala Manda sambil menunggu bi Irah mencarikan minyak kayu putih.
"Ini Nya!" seru bi Irah menyerahkan minyak kayu putih pada Soraya.
Soraya mengoleskan minyak itu di sekitar pelipis dan leher Manda.
"Sayang, kenapa bisa jadi begini?" tanya Soraya cemas.
"Cepat panggil Moetia bi!" seru Soraya.
"Maaf Nya, tapi sepertinya non Moetia keluar terburu-buru tadi dia bilang mau ke pergudangan xxx!" sela mang Kus.
Soraya spontan berdiri karena terkejut.
"Ke pergudangan? mau apa dia kesana. Jangan-jangan..."
Soraya segera keluar dari kamarnya dan menghubungi Aries. Aries meminta pihak kepolisian bersama pengacaranya memeriksa area pergudangan itu. Benar saja di sana mereka menemukan beberapa petunjuk dan barang bukti bahwa baru saja terjadi penyekapan di area gudang itu.
Aries yang ikut serta ke tempat itu melihat sebuah benda yang tidak asing lagi baginya. Sebuah gelang milik Moetia terjatuh disana.
"Moetia!" lirih Aries menggenggam erat gelang itu.
Setelah mencari selama satu jam, mereka tak juga menemukan petunjuk lain. Hingga Aries harus pulang dan menunggu kabar selanjutnya.
Soraya segera berlari menghampiri Aries ketika melihatku masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana pa? apa ada petunjuk? Moetia benar-benar pergi kesana?" tanya Soraya.
Aries menunjukkan gelang milik Moetia pada Soraya. Soraya terduduk lemas di kursi sambil memeluk gelang milik Moetia.
"Moetia!" lirih Soraya.
__ADS_1