
Bagas masih mengikuti Gio, hingga tiba di rumah singgah milik Sisilia.
Gio memarkirkan motornya, melepas helm dan segera bergegas masuk ke dalam rumah singgah.
"Kak Sisil!" panggil Gio ketika melihat Sisilia berada di ruang baca sedang membereskan buku-buku disana.
Sisilia segera menoleh, melihat Gio, Sisilia tersenyum senang.
"Gio," sahut Sisilia lalu menghampiri Gio.
"Tumben kamu kemari, ada apa?" tanya Sisilia.
"Apa Moetia kemari?" tanya Gio.
Sisilia kemudian mengajak Gio untuk duduk terlebih dahulu.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Sisilia lembut.
"Jadi dia memang kesini?" tanya Gio lagi.
Sisilia mengangguk.
"Iya, seperti nya Moetia sangat sedih. Dia bilang tidak ingin pulang karena tidak ingin mama dan papanya cemas. Apa masalah nya ada hubungannya dengan mu? jika iya, aku sarankan untuk tidak menemuinya dulu. Dia pasti akan bertambah sedih!" jelas Sisilia.
"Tidak kak, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya, sudah satu Minggu lebih aku tidak bertemu dengan Moetia." jawab Gio.
Sisilia melihat Gio jujur, dia mengenal Gio dengan baik. Gio juga sering menghibur anak-anak di rumah singgah ini.
Sisilia meminta Gio menunggu sebentar di ruang baca. Sisilia akan menanyakan apakah Moetia mau bertemu dengan Gio atau tidak.
Jika Moetia tidak ingin bertemu dengan Gio, Sisilia memintanya untuk tidak menerobos masuk.
Gio setuju, Sisilia pun segera pergi ke rumahnya yang berada tidak jauh dari rumah singgah.
Sejak tadi Bagas sebenarnya sedang mengawasi gio dan Sisilia dari dalam mobilnya dengan jarak yang lumayan dekat dari rumah singgah.
Bagas menjadi sedikit lega, meskipun belum bertemu dengan Moetia setidaknya dia tahu Moetia disini.
Sisilia masuk ke kamar tamu, dan melihat Moetia yang sedang duduk melamun memangku bantal dan melihat keluar jendela.
Sisilia merangkul Moetia dan memeluknya.
"Hei, sudah mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sisilia lembut.
Moetia tersenyum kecut.
"Terimakasih sudah menampungku disini kak, aku hanya kepikiran tempat ini." jawab Moetia memeluk Sisilia.
"Apa kamu punya masalah dengan Gio?" tanya Sisilia.
Moetia menggeleng kan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, kenapa kakak bertanya tentang gio?" tanya Moetia lagi.
"Dia ada di rumah singgah!" seru Sisilia.
Moetia terkejut dia meletakkan bantal yang dia pangku lalu turun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Dia disini?" tanya Moetia.
"Iya, dia bertanya apakah kamu kemari. Dia ingin menemui mu!" jelas Sisilia.
Moetia segera keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ke rumah singgah. Bagas melihat Moetia berlari menuju ke rumah singgah. Bagas pun keluar dari dalam mobilnya dan berniat mengejar Moetia.
Tapi langkah Bagas terhenti karena melihat Moetia menyeka tangisnya dan memanggil nama Gio yang memang sudah berdiri di depan pintu utama rumah singgah.
"Gio!" teriak Moetia memanggil sahabat yang sangat pengertian itu.
Gio merentangkan kedua tangannya dan Moetia berlari memeluknya.
"Aku senang melihat mu!" lirih Gio.
Moetia menarik dirinya lalu menyeka tangisnya.
"Aku juga!" sahut Moetia.
"Hei, kenapa menangis?" tanya Gio sambil ikut menyeka sisa air mata yang masih ada di pipi Moetia.
Melihat istrinya dipeluk seperti itu di depan matanya, dada Bagas bergemuruh. Bagas dengan cepat mendekat ke arah Moetia dan Gio.
Bagas menarik Gio dan melayangkan sebuah bogem mentah kearah wajahnya.
Bugh!
Gio tidak sempat menghindar atau menangkis serangan Bagas karena serangan tiba-tiba itu.
"Gio!" teriak Moetia.
Bagas bertambah kesal karena yang disebut oleh Moetia justru nama pria lain.
Moetia mendekati Gio dan membantunya untuk bangun.
"Gio, apakah sakit? ayo bangun! aku akan mengobati mu di dalam!" seru Moetia cemas.
Bagas tidak terima Moetia mengacuhkannya, dia kembali menarik jaket Gio dan ketika Bagas akan memukulnya lagi, Moetia berdiri di depan Bagas.
"Mau pukul, pukul saja!" teriak Moetia menghalangi Gio yang akan dipukul oleh Bagas.
"Moetia, kamu..."
"Diam! pergi kamu dari sini!" teriak Moetia pada Bagas.
Bagas tidak terkejut Moetia bersikap seperti itu padanya, semua ini memang salahnya.
Moetia memapah Gio menuju ke dalam rumah Sisilia.
"Moetia, kita harus bicara. Aku ingin menjelaskan..."
"Pergi! aku tidak ingin bicara dengan mu!" teriak Moetia memalingkan wajahnya.
Sisilia yang baru saja keluar dari rumahnya terkejut melihat Moetia memapah Gio. Dia ikut berlari menghampiri Moetia dan Gio.
"Apa yang terjadi?" tanya Sisilia lalu membantu Moetia memapah Gio masuk ke dalam rumahnya.
Bagas memukul kan tangannya ke udara. Sepertinya dia semakin membuat Moetia kesal padanya.
__ADS_1
Bagas kembali ke mobilnya, dan masuk ke dalam mobilnya karena hujan mulai turun.
Di dalam rumah, Moetia sedang mengompres luka lebam di bawah pelipis dan pipi Gio sebelah kiri.
Sesekali Gio menahan tangan Moetia yang menekan kompres nya terlalu kuat.
"Sebenarnya ada apa sih ini? kakak mulai khawatir? dan siapa orang yang memukul Gio itu?" tanya Sisilia sambil meletakkan secangkir teh hangat untuk Gio.
Gio dan Moetia saling pandang.
"Dia kekasih Moetia kak!" jawab Gio dengan suara pelan.
"Apa!" pekik Sisilia yang begitu terkejut.
"Sejak kapan? Kemarin Tante Belinda baru saja meneleponku untuk mengenalkan mu pada seorang dokter yang juga menjadi donatur dan relawan di rumah singgah ini!" jelas Sisilia.
"Benarkah?" tanya Gio.
Sisilia menganggukkan kepalanya yakin. Gio terlihat sangat kecewa. Ternyata orang tua Moetia memang tidak suka padanya.
"Aku belum mengatakannya pada mama dan papa kak!" sahut Moetia.
Sisilia menyerahkan salep pada Moetia dan memintanya mengoleskan pada luka Gio.
"Dengarkan aku, sebaiknya kamu ceritakan pada Om dan Tante, jika tidak mereka akan menjodohkan mu dengan orang lain!" seru Sisilia.
"Dia itu juga tunangannya Manda!" ceplos Gio lagi.
"Apa??" pekik Sisilia lagi.
Sisilia memijit pelipisnya sendiri, kepalanya mendadak sakit mendengar masalah yang sudah dibuat oleh sepupu nya itu.
"Moetia, ada apa denganmu? memangnya sudah tidak ada pria lain lagi apa di dunia ini? aku tidak tahu harus berkata apa lagi!" ucap Sisilia sangat sedih sekaligus kecewa.
"Aku mengenalnya tanpa tahu dia adalah orang yang dicintai Manda, aku juga berhubungan dengannya sebelum aku tahu dia lah prince Manda itu!" jelas Moetia.
Sisilia masih terus menekan pangkal hidungnya dan memejamkan matanya.
"Kamu sudah bermain api Moetia, aku harap hubungan mu dengan pria itu belum terlalu jauh! akhiri saja sebelum semuanya terlambat!" tegas Sisilia.
"Kak.." sela Gio.
Sisilia mengangkat tangan nya, mengisyaratkan agar Gio diam.
"Cukup Gio, sebagai sahabat seharusnya kamu mengingatkan Moetia jika dia melakukan kesalahan. Tidak ada jalan lain lagi, untuk mengakhiri semua masalah ini kamu juga harus mengakhiri hubungan mu dengan pria itu! ingat Moetia sebelum semuanya terlambat!" seru Sisilia.
"Semua sudah terlambat!" teriak Bagas di ujung pintu.
Moetia, Gio dan Sisilia menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Moetia melihat Bagas yang sudah basah kuyup berdiri disana.
"Apa maksudmu?" tanya Sisilia.
"Semua sudah terlambat, aku dan Moetia sudah menikah!" seru Bagas mendekat.
Moetia berdiri seketika, dia tidak menyangka Bagas akan mengatakan semua itu di depan gio dan Sisilia.
"Apa!!" seru Sisilia yang makin kecewa pada Moetia.
__ADS_1
Sementara Gio hanya menundukkan wajahnya, menahan segala kesedihan nya karena sudah benar-benar kehilangan Moetia.