Dilema

Dilema
Di Interogasi Calon Mertua.


__ADS_3

Saat Theo akan masuk ke dalam kamar Moetia, ternyata Chairul tidak sengaja melihatnya.


Akhirnya Chairul melangkahkan kakinya menghampiri Theo.


Theo sudah merasa ada yang mengikutinya, dia melirik sekilas, dia berdecak kecil ketika menyadari bahwa yang mengikutinya itu adalah Chairul.


"Ekhem." Chairul berdehem.


Theo sebenarnya ragu untuk berbalik, dia takut Chairul salah paham padanya karena akan memasuki kamar moetia. Tapi kemudian Theo segera berbalik dan tersenyum kikuk menyapa Chairul.


"Eh, om Chairul. Apa kabar Om?" tanya Theo sambil mengulurkan tangannya.


Chairul menjabat tangan Theo dan meliriknya dengan tajam.


"Ini kamar Moetia kan?" tanya Chairul.


Theo menganggukkan kepalanya dengan cepat,


"Iya Om." jawab Theo gugup.


"Lalu apa yang kamu lakukan malam-malam begini di depan kamar Moetia?" tanya Chairul menyelidik.


Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Itu om, itu, sebenarnya..."


Chairul memiringkan kepalanya, dia curiga bahwa ada yang disembunyikan Theo darinya.


"Bagas ada di dalam?" tanya Chairul.


Pertanyaan Chairul sebenarnya mengagetkan Theo, tapi daripada Chairul salah paham padanya lebih baik dia mengatakan saja yang sebenarnya.


Theo mengangguk dengan cepat lagi,


"Iya Om, Bagas memang ada di dalam tadi dia sedang menunggu Moetia berganti pakaian.."


"Apa?" tanya Chairul terkejut menyela ucapan Theo.


Theo menyadari bahwa mulutnya memang sudah terlalu bocor. Theo jadi makin gugup,


"Om, sebenarnya..."


"Ketuk pintunya!" seru Chairul lagi-lagi menyela Theo.


Theo mencoba tersenyum lalu segera berbalik lalu mengetuk pintu kamar Moetia.


Tok! tok! tok!


Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.


"Theo!" ucap Moetia.


Theo berbalik dan bergeser, hingga Moetia bisa melihat Chairul yang sedang menatap penuh selidik padanya.


Moetia mencoba untuk bersikap sewajarnya, dan tersenyum.


"Om Chairul!" sapa Moetia ramah.


"Bagas ada di dalam?" tanya Chairul.


Chairul sengaja menanyakan itu pada Moetia, dia ingin tahu Moetia akan jujur atau tidak padanya.


Moetia mengangguk perlahan,


"Iya om, Bagas ada di dalam." jawab Moetia gugup.


Chairul masuk ke dalam kamar Moetia di ikuti Theo dan Moetia.


Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak menyadari siapa yang datang.


"Sayang, siapa yang mengetuk pin..."

__ADS_1


Bagas menghentikan pertanyaan nya, dia menelan saliva nya dengan sudah payah ketika melihat Chairul sudah melihatnya dengan tangan berkacak pinggang.


"Ayah!" ucap nya pelan.


Chairul duduk di sofa dan mengangkat kaki kanannya di atas kaki kirinya.


"Siapa yang kamu panggil sayang?" tanya Chairul dengan wajah datar.


Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia ikut duduk di sofa sebelah Chairul.


Sementara pandangan mata Chairul beralih ke Theo dan bertanya padanya.


"Kamu sudah tahu tentang hubungan mereka?" tanya Chairul.


Theo membulatkan matanya, dia terkejut. Kenapa malah Theo yang ditanya?.


Theo mengangguk dengan cepat.


Bagas terlihat tersenyum senang karena akhirnya dia tidak perlu menyembunyikan hubungannya lagi dengan Moetia. Setidaknya Chairul tahu.


Chairul menatap tajam Bagas.


"Kenapa tersenyum?" tanya Chairul tegas.


Bagas segera merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


"Ekm, bukankah aku sudah pernah mengatakan nya pada ayah! ada seseorang yang sangat ku cintai dan gadis itu adalah Moetia!" seru Bagas.


Theo sampai tersedak angin, mendengar Bagas begitu terus terang pada Chairul.


"Uhuk..uhuk!"


Theo melihat ke arah Bagas,


"Jadi om Chairul sudah tahu?" tanya Theo.


Moetia membulatkan matanya, dia bingung dan terkejut.


'Oh, tuhan. Apakah semua yang aku pikirkan itu akan terjadi? Om Chairul pasti salah paham padaku, pasti dia mengira aku adalah perusak hubungan putra nya dengan tunangannya? apakah setelah ini benar-benar akan ada adegan pelemparan cek kosong ke hadapan ku?' Moetia terus bertanya-tanya dalam hati.


Chairul meminta agar Bagas dan Chairul menunggu di balkon kamar Moetia.


"Tapi yah," sela Bagas.


"Kalian cepat keluar ke balkon itu dan tutup pintunya, jangan menguping!" seru Chairul.


Moetia sangat takut, dia meremas kedua tangannya yang saling bertautan.


Bagas menyadari kecemasan Moetia, dia ingin menenangkan Moetia. Tapi ketika Bagas ingin mendekati Moetia, Chairul melarangnya.


"Bagas, pergi!" seru Chairul.


Theo menarik tangan Bagas agar mengikutinya ke arah balkon.


Mata Moetia terus menatap Bagas yang juga sedang menatap ke arahnya.


Setelah keluar, Theo menggeser pintu kaca dan menutupnya dengan rapat.


Bagas masih terus memperhatikan Moetia dari kejauhan.


Chairul menatap Moetia, melihat tatapan Chairul padanya Moetia menjadi semakin gugup lalu menundukkan kepalanya.


"Duduklah Moetia!" seru Chairul.


Moetia dengan cepat duduk di sofa yang paling jauh dari Chairul.


"Apa hubungan mu dengan Bagas?" tanya Chairul.


Moetia mengangkat kepalanya,


"Aku... aku dan Bagas..." Moetia sangat gugup. Sulit sekali kata-kata keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Melihat Moetia yang kesulitan menjawab membuat Chairul hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Apa kamu mencintai Bagas?" tanya Chairul lagi.


Moetia mengangguk dengan cepat.


"Iya Om, aku sangat mencintai Bagas!" jawab Moetia gugup.


Chairul mengulas senyuman mendengar jawaban dari Moetia.


"Lalu bagaimana dengan Reno?" tanya Chairul.


Moetia melihat Chairul, Moetia bingung kenapa Chairul menanyakan tentang Reno.


"Maksud Om?" tanya Moetia takut.


"Apa kamu juga mencintai nya?" tanya Chairul lagi.


"Tidak Om" Moetia melambaikan tangan nya berulang kali di depannya.


"Tapi kenapa kamu sangat perhatian padanya, bahkan saat kami tiba di rumah sakit kamu sedang memeluknya?" tanya Chairul serius.


"Moetia, mereka berdua adalah putraku. Jangan membuat perselisihan antara mereka!" seru Chairul memperingatkan Moetia.


"Om, om sudah salah paham. Hubungan ku dan kak Reno tidak seperti itu. Aku dan kak Reno memang saling menyayangi..."


"Apa?" tanya Chairul menyela Moetia dan wajahnya sangat marah.


"Bukan seperti itu om!" ucap Moetia dengan cepat.


Dia takut Chairul benar-benar salah paham.


Moetia bangkit dan duduk lebih dekat pada Chairul.


"Aku hanya mencintai Bagas, aku dan kak Reno hubungan kami hanya seperti adik dan kakak!" jelas Moetia dengan cepat agar Chairul tak lekas salah paham.


Chairul mengerutkan keningnya,


"Adik kakak?" tanya Chairul penasaran.


"Iya om, aku sudah menganggap kak Reno seperti kakakku sendiri, dia juga sangat menyayangi aku seperti adiknya sendiri. Saat dirumah sakit, aku hanya berterimakasih pada kak Reno karena telah menghalau peluru yang akan mengenai Bagas!" jelas Moetia.


"Benarkah?" tanya Chairul memastikan lagi.


Moetia mengangguk dengan cepat dan matanya berbinar-binar.


"Lalu bagaimana jika kami tidak menyetujui hubungan mu dengan Bagas?" tanya Chairul.


Moetia menundukkan wajahnya, dia sudah tahu ini pasti terjadi.


'Apakah adegan selanjutnya adalah, aku di usir dari sini?' batin Moetia bertanya-tanya.


"Jawablah Moetia, bagaimana jika kami tidak menyetujui kalian bersama?" tanya Chairul.


Moetia sudah meneteskan air matanya, dia berusaha menyeka tangisnya yang mengalir begitu saja.


Dari balkon Bagas melihat Moetia menangis, dia ingin membuka pintu tapi Theo melarangnya.


"Bagas hentikan!" seru Theo melarang Bagas.


"Moetia menangis Theo, mungkin ayah ku sedang memarahinya!" seru Bagas memberontak genggaman Theo.


"Jangan lakukan itu, jangan membuat keributan. Biarkan Moetia menjelaskan segala nya pada ayah mu! kamu kenal ayah mu kan? dia pasti tidak akan melakukan kesalahan!" seru Theo.


Bagas berdecak kesal karena apa yang di katakan Theo itu benar.


Tapi dia sangat mencemaskan Moetia, kenapa Moetia menangis di dalam?.


...💖💖💖💖💖...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2