
Soraya sudah membangunkan Moetia untuk sarapan setengah jam yang lalu. Tapi Moetia tak juga keluar dari kamarnya.
Hingga dia melihat Belinda dan Bagas datang. Soraya menemui Belinda di kamar Manda. Ketika Soraya masuk, Manda sedang menangis di pelukan Belinda.
"Mbak belinda," sapa Soraya.
Belinda melepas pelukan Manda dan berdiri menghampiri Soraya lalu memeluknya.
Belinda menepuk bahu Soraya pelan.
"Maafkan aku baru bisa datang, aku sudah mendengar semuanya dari ayahnya Bagas. Bagaimana keadaan Moetia?" tanya Belinda simpati.
Soraya tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Aku hanya bisa berharap Moetia bisa melupakan peristiwa itu mbak!" jawab Soraya lemah.
Belinda menepuk punggung tangan Soraya yang sudah di pegang nya.
"Moetia adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati ini. Kita harus selalu mendukung nya!" ucap Belinda tulus.
Mata Manda terpejam sekilas, dia benar-benar merasa semua orang begitu memperdulikan Moetia.
Bahkan tadi Belinda mengatakan datang bersama Bagas. Tapi dia tak juga menemui Manda.
"Tante, Tante tadi bilang datang bersama Bagas kan?" tanya Manda lemah.
Belinda dan Soraya menoleh kearah Manda. Belinda kembali mendekati Manda dan mengusap lembut kepalanya.
"Iya, tapi dia menunggu di luar, maaf kan Bagas ya Manda, akhir-akhir nini mood nya juga sedang tidak bagus. Tante juga bingung kenapa Bagas begitu emosional beberapa hari ini!" jelas Belinda.
Manda hanya tersenyum simpul, sementara di dalam hatinya ada perasaan yang begitu amat sangat mengganggu. Dia juga ingin Bagas memperhatikannya, selama ini dia menyadari cintanya memang bertepuk sebelah tangan.
Tapi harapannya adalah seiring waktu Bagas bisa merubah sikap pada dirinya.
"Mbak, ikut sarapan bersama ya. Malika tolong ajak mbak Belinda dan Bagas ke ruang makan ya," pinta Soraya ramah pada Malika.
Malika mengangguk dan tersenyum, begitu juga Belinda.
Soraya kemudian keluar dari kamar Manda, dia menuju ke kamar Moetia.
Soraya mengetuk pintu kamar Moetia.
"Moetia sayang, mama masuk ya!" panggil Soraya lalu memegang handle pintu.
Saat Soraya memutar handle pintu, pintunya masih tidak bisa terbuka.
"Moetia, kamu menguncinya sayang. Moetia!" panggil Soraya mulai cemas.
Karena saat Soraya membangunkan Moetia tadi, Moetia masuk ke dalam kamar mandi lalu Soraya keluar dan tidak mengunci pintu kamar Moetia.
__ADS_1
Pikiran yang aneh-aneh sudah muncul silih berganti di kepala Soraya. Bahkan terlintas sebuah scene di film ketika seorang gadis bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri setelah di lecehkan.
Soraya benar-benar panik, dia menggedor-gedor kuat pintu kamar Moetia.
Brak! Brak Brak!
"Sayang, jangan aneh-aneh ya! sayang ingat mama dan papa nak!" teriak Soraya sambil menangis.
Dan setelah Moetia membersihkan dirinya, dia kembali memakai bathrobe dan membuka kunci pintu kamarnya.
Ceklek!
Soraya langsung memeluk Moetia dengan erat ketika melihat Moetia membuka pintu.
"Sayang, ada mama ada papa. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak ya!" ucap Soraya sambil terisak.
Moetia pun berkaca-kaca melihat kesedihan Soraya. Dia kini menyadari sikapnya yang begitu rapuh kemarin sudah membuat semua orang yang menyayangi nya ikut terluka.
"Ma, Moetia cuma mandi!" jawab Moetia pelan.
Soraya memperhatikan Moetia dari atas ke bawah, mata Soraya mengarah ke leher Moetia yang merah kebiruan.
Soraya menyentuh lembut ke arah leher Moetia yang terluka itu.
"Kamu menggosoknya sampai seperti ini sayang!" sedih Soraya.
Soraya menggenggam erat tangan Moetia.
"Sudah ya sayang, jangan cemas. Kamu sekarang sudah di rumah, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyentuh anak mama!" ucap Soraya sambil kembali menangis.
"Mama!" lirih Moetia lalu memeluk mamanya.
"Sebentar ya, ganti baju lah. Mama akan ambilkan plester dan salep!" ucap Soraya lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Moetia pun masuk ke dalam dan berganti pakaian.
Soraya kembali membawa beberapa plester dan salep. Soraya menuntun Moetia ke meja rias. Soraya meminta Moetia untuk duduk dan Moetia pun patuh.
"Ma, Moetia bisa sendiri!" sela Moetia.
Mata Soraya melirik ke arah tempat tidur Moetia, selimut dan bantalnya berantakan.
'Aduh, apa aku memang sudah pikun ya? tadi aku yakin aku tidak mengunci pintu tapi pintunya tiba-tiba terkunci. Dan tempat tidur Moetia, tadi aku yakin sebelum keluar kamar sudah merapikannya, kenapa acak-acakan lagi!' batin Soraya sambil melamun.
"Mama!" panggil Moetia sambil menyentuh tangan Soraya.
"Iya sayang!" jawab Soraya cepat.
"Mama kenapa?" tanya Moetia cemas.
__ADS_1
Soraya tersenyum dan menyangkal semua dugaannya itu.
'Pasti aku yang lupa!' batin Soraya.
Soraya menutupi bekas luka di leher Moetia dengan plester. Tapi matanya kembali tertuju ke tanda merah kebiruan lain di sisi lain leher Moetia.
"Sayang, ini..." tanya Soraya sambil menunjuk ke bagian yang dimaksud.
Moetia membulat kan matanya, dia menutupi nya dengan tangannya. Itu adalah tanda yang baru saja Bagas tinggalkan.
"Laki-laki itu benar-benar kejam! mama jadi sangat kesal padanya!" kesal Soraya.
Moetia mengambil plester lagi dan menutupinya. Soraya memeluk Moetia dan kembali menangis.
"Maafkan mama, mama tidak bisa memberikan keadilan padamu nak!" sesal Soraya.
Moetia kembali sedih mendengar ucapan mamanya. Soraya menyadari Moetia tiba-tiba melamun. Dengan cepat dia menepuk paha Moetia.
"Sayang, ada Tante Belinda dan Bagas. Kita sarapan bersama mereka yuk!" ajak Soraya.
Di meja makan, Manda sengaja duduk di sebelah Bagas dan menyajikan makanan untuk Bagas.
"Ini teh mu!" ucap Manda lembut sambil menyajikan teh di depan Bagas.
Bagas tidak menjawab dan tidak pula menunjukkan ekspresi apapun. Matanya beralih ke arah wanita yang baru saja hadir di ruang makan dengan celana jeans dan blouse coklat yang datang bersama Soraya.
Manda memperhatikan arah pandangan Bagas. Dia benar-benar mulai merasakan ada sesuatu antara lelaki yang sangat dicintai nya itu dengan wanita yang sudah selama dua puluh lima tahun menjadi sahabat karibnya itu.
Moetia hanya menundukkan wajahnya, Belinda segera berdiri ketika melihat Moetia datang. Dia menghampiri Moetia dan memeluknya.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Belinda ramah.
Moetia hanya tersenyum pada Belinda. Kemudian Belinda mengajaknya untuk duduk disebelah nya. Belinda bahkan mengambilkan gelas dan menuangkan jus jeruk untuk Moetia.
"Sayang, minumlah! kamu harus semangat ya! kami semua ada bersama mu!" ucap Belinda terlontar begitu saja.
Moetia berkaca-kaca, dia tidak menyangka Belinda akan bersikap begitu perduli padanya.
Mereka melanjutkan sarapan. Setelah sarapan Belinda dan Bagas pamit pulang. Moetia kembali ke dalam kamarnya.
Dia mengambil sebuah novel dari rak bukunya dan membacanya sambil bersandar dan meluruskan kakinya di atas tempat tidurnya.
"Apa hubungan Kalian?" seru Manda bertanya pada Moetia.
Moetia terkejut, Manda masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Manda!" lirih Moetia.
"Jawab aku Moetia, apa hubungan kalian?" tanyanya lagi dengan nada suara meninggi.
__ADS_1