
Manda meminta Moetia mengantarkan nya ke lokasi syuting untuk fitting pakaian.
Di ruang make up, Manda terlihat sibuk memilih gaun yang akan dia pakai.
"Menurut mu aku harus pakai yang mana?" tanya Manda pada Moetia sambil mengepaskan beberapa gaun di tubuh nya.
Moetia yang sudah lelah ditanya belasan kali dari tadi hanya menjawab dengan jawaban yang sama.
"Pakailah warna yang berbeda dari warna mobil nya!" jawab Moetia malas
"Jawaban macam apa itu Moetia?" protes Manda
Moetia berdiri dari kursinya
"Itu jawaban yang sama dari sebelas pertanyaan yang sama. Manda pakai saja yang kuning, warna mobilnya kan biru, jadi kamu akan terlihat seperti pisang yang bersandar di mobil itu," kekeh Moetia
Manda melemparkan sebuah gaun ke arah Moetia
"Dasar menyebalkan, aku akan pakai warna merah saja!" seru Manda lalu membawa gaun berwarna merah ke dalam kamar pas.
Moetia mengambil gaun yang dilempar Manda dan meletakkan nya di gantungan baju.
"Manda, aku haus. aku pergi cari minum dulu ya! kamu mau tidak?" seru Moetia
"Iya, tolong belikan aku jus alpukat, jangan pakai es!" sahut Manda dari dalam kamar pas.
"Apa enaknya jus tanpa es!" sahut Moetia
"Sudahlah Moetia, jangan menggoyahkan komitmen ku untuk tidak menyentuh benda dingin itu!" protes Manda.
"Baiklah, aku pergi dulu!" ucap Moetia sambil keluar dari ruang make up.
Moetia berjalan menuju ke sebuah cafe yang ada di hotel itu.
Moetia memesan jus pesanan Manda, dan es kopi untuk dirinya.
Sambil menunggu, Moetia duduk di sebuah sofa dan mengambil sebuah buku yang ada di rak disamping dia duduk. Moetia memilih dan membaca sebuah buku novel yang ada di cafe itu.
Tiba-tiba saja seseorang duduk dihadapannya. Moetia menutup novelnya dan meletakkan kembali.
Moetia berdiri lalu melangkahkan kakinya hendak mengambil pesanan minumannya di meja kasir.
"Moetia kan?" sapa orang itu.
Moetia yang baru berjalan dua langkah pun berhenti dan berbalik.
"Anda mengenal saya?" tanya Moetia sopan
Pria blasteran itu Indonesia Rusia itu tersenyum, dia berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Moetia.
"Theo, Theodore Denisovich. Aku pemilik perusahaan iklan yang bekerja sama dengan Wiguna grup dan sahabatmu Manda." terang Theo.
Moetia menyambut uluran tangan Theo.
"Aku Moetia," sahutnya lalu menarik tangannya kembali.
Theo tersenyum,
"Aku tahu, duduklah dulu Moetia. Pesanan mu juga belum selesai kan?" pinta Theo sambil mempersilahkan Moetia
Moetia kembali di duduk di tempatnya tadi,
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, maksudku bagaimana anda tahu namaku?" tanya Moetia hati-hati.
__ADS_1
Theo lagi-lagi menunjukkan senyuman yang membuat lesung pipi nya terlihat sangat manis.
"Jangan terlalu formal seperti itu padaku Moetia, aku teman Bagas. Itu artinya kamu juga temanku." jawab Theo santai.
Setelah menyebutkan nama Bagas, Moetia jadi mengerti bagaimana Theo bisa mengenalnya.
"Tapi pikiran mu salah!" seru Theo
Moetia membulatkan matanya,
"Bagaimana kamu bisa tahu apa yang kupikirkan?" tanya Moetia spontan
Theo terkekeh,
"Isi pikiranmu tergambar jelas di wajahmu," jawab Theo
Blush!
Wajah Moetia memerah, Moetia ingin segera pergi dari hadapan Theo.
Ucapan Theo barusan membuat Moetia khawatir, Theo benar-benar bisa membaca pikiran orang.
"Tenang saja Moetia, aku tidak benar-benar punya kekuatan ajaib yang bisa membaca pikiran orang lain," seru Theo lagi.
'Apanya yang tidak bisa, itu buktinya tebakan mu benar lagi.' batin Moetia
"Kebetulan aku melihatmu tadi, dan aku merasa pernah melihatmu sebelumnya, ternyata benar. Kamu kekasih rahasianya Bagas kan?" seru Theo
Ucapan Theo, membuat Moetia makin salah tingkah.
"Theo, apa kamu selalu bicara frontal begini?" protes Moetia
"Tenang saja Moetia, yang tahu hal ini kan cuma aku, Austin dan Reno. Bagas tidak bisa menyembunyikan apapun dari kami. Dan aku mendukung kalian berdua, aku senang kamu sudah membuat Bagas kembali jadi Bagas yang tidak seperti Thanos." seru Theo dengan enteng nya lagi.
Moetia menyentuh lehernya karena makin merasa tidak nyaman.
"Apakah aku menyinggung mu?" tanya Theo
'Astaga, apa pria ini sama sekali tidak peka?' batin Moetia
"Tidak," jawab Moetia sambil berdiri.
"Aku harus segera menemui seseorang!" sambung Moetia.
Theo ikut berdiri
"Seseorang yang kamu maksud itu Manda kan? dimana dia? aku juga ingin bertemu dengannya. Apa kamu tahu kami dulu teman satu kampus!" seru Theo.
Moetia jadi bingung sendiri bagaimana lagi bicara dengan pria yang blak-blakan ini.
"Begitu ya, baiklah silahkan!" seru Moetia.
Moetia mengambil minuman pesanannya lalu pergi bersama Theo ke ruang make up untuk menemui Manda.
Ketika Manda melihat Theo, dia segera berdiri dan memeluknya.
"Theo," seru Manda senang
"Hai, senorita ku!" ucap Theo membalas pelukan Manda.
"Kamu apa kabar? senang melihatmu!" kata Manda.
Moetia hanya melihat interaksi Manda dan Theo sambil duduk dan meminum es kopinya.
__ADS_1
( Author : "Berasa nonton pertunjukan reality show gitu ya, Moetia?"
Moetia : "Bukan thor, berasa nonton wayang golek!"
Author : 🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️)
Manda terlihat sangat senang bertemu dengan Theo, begitu pun sebaliknya.
"Kamu terlihat makin cantik, Manda!" seru Theo memuji Manda
"Dasar tukang gombal, aku sudah menolak mu. Jangan mencoba lagi, lihatlah!" Manda menunjukan cincin pertunangannya dengan Bagas.
"Wah akhirnya, kamu mendapatkan pangeran pujaan mu? tapi apa kamu yakin kamu juga mendapatkan hatinya?" tanya Theo melirik Moetia sekilas.
Moetia sampai tersedak karena ucapan Theo dan lirikannya pada Moetia.
Uhuk! uhuk!
Manda langsung menoleh ke Moetia, dan mendekatinya,
"Pelan-pelan Moetia," ucap nya mengelus lembut punggung Moetia.
Moetia mengambil tissue dari tas nya lalu mengelap bibirnya.
"Apakah ada yang mengejutkan mu Moetia?" tanya Theo
Moetia menginjak sepatu Theo sekilas.
"Aduh!" pekik Theo
"Ada apa Theo?" tanya Manda.
Theo tersenyum kaku,
"Tidak ada, hanya nyamuk!" alasan Theo.
Manda mengangguk paham,
"Oh ya, kalian sudah saling kenal?" tanya Manda melihat Moetia dan Theo bergantian.
"Tidak" seru Moetia
"Sudah!" seru Theo.
Manda menghela nafasnya karena mendengar jawaban Moetia dan Theo yang berlawanan ketika mereka menjawab dalam waktu yang sama.
Manda berkacak pinggang dan menatap Moetia,
"Moetia, kamu tahu kan kalau kamu itu tidak pandai berbohong?" seru Manda
"Benarkah?" tanya Theo menyela
Moetia kesal sekali pada Theo,
"Aku baru ketemu pria aneh ini saat memesan minuman tadi," jawab Moetia.
"Benarkah? kamu tahu tidak dia ini teman ku waktu di kampus," seru Manda senang sambil terus memandang Theo.
"Salah, aku adalah penggemar berat mu cantik!" ucap Theo mengedipkan sebelah matanya pada Manda.
"Astaga, kamu masih Theo yang sama rupanya! Manis sekali!" seru Manda menepuk lengan Theo
"Kamu juga masih Manda yang sama, cantik dan senyuman itu masih sangat menawan!" balas Theo memuji Manda.
__ADS_1
Moetia hanya memutar bola matanya melihat mereka berdua.
'Sekarang aku tahu, seperti apa rasanya menjadi obat nyamuk' batin Moetia.