Dilema

Dilema
Rencana Kejam Manda.


__ADS_3

Moetia menghampiri Belinda dan memeluknya perlahan, sangat hati-hati. Moetia tidak ingin menyakiti Belinda.


"Anak baik!" ucap Belinda yang masih terbata.


Keharuan menyelimuti ruangan itu, kebahagiaan sungguh sedang dirasakan oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


Chairul menggenggam tangan Belinda lagi.


"Apa yang anak nakal itu katakan hingga kamu mau mendengarkannya?" tanya Chairul pada Belinda yang sejak siuman tadi terus melukis senyuman di wajah nya.


"Dia bilang padaku, kita akan segera memiliki cucu!" seru Belinda lemah.


Sontak saja wajah Moetia memerah, Soraya dan Aries ikut tersenyum. Roni yang tidak mengerti malah bengong dan membuka mulutnya.


Bagas menekan dagu Roni ke atas agar dia menutup mulutnya.


"Awas, kadal bisa masuk ke mulut mu!" seru Bagas.


"Kakak ipar sedang hamil?" tanya Roni polos.


Moetia bener-bener jadi salah tingkah. Dia melirik Bagas sekilas. Tapi Belinda meraih tangannya.


"Ibu bercanda, Bagas berkata ibu harus cepat sadar, agar Bagas dan Moetia bisa pulang dan segera memberikan kita cucu, yah!" ralat Belinda yang tidak ingin menantunya itu jadi merasa tidak nyaman.


Canda-canda kecil keluar dari mulut Chairul dan Roni. Aries dan Soraya juga ikut bersuara. Suasana benar-benar menyejukkan mata dan hati.


Tanpa mereka sadari, di luar ruangan itu seseorang sedang sangat kesal dan marah. Manda berdiri di luar ruangan itu sejak beberapa menit yang lalu.


Dia mendengarkan semua percakapan mereka, air mata kesedihan nya sudah berubah jadi air mata penuh amarah.


Hati Manda sudah menjadi sekeras batu. Dia sudah kehilangan satu-satunya dukungan untuk mendapatkan Bagas. Dukungan dari Belinda sudah hilang.


Manda berfikir jika dia mengungkit masalah hutang budi itu pun pasti akan percuma, karena kakek Bagas pun sudah tidak ada lagi.


Manda di selimuti awan hitam kebencian, dia memutuskan untuk menabuh genderang perang dengan Moetia dan keluarganya.


Manda melangkahkan kaki menjauh dari ruangan itu menuju ke lorong sepi di rumah sakit.


Manda menghubungi temannya yang bernama Berty.


"Halo Berty!" panggil Manda pada Berty.


"Hai sayangku, kamu dimana? aku dan Olivia sedang menonton balapan liar. Seru lho, aku share alamatnya padamu ya!"


"Iya, aku juga sudah muak disini!" cetus Manda.


"Kenapa lagi sih beb, pasti masalah tunangan pengkhianat mu itu lagi ya! sudahlah Manda. Kamu cantik dan karir mu bagus, lupakan tunangan mu yang matanya sudah buta tidak bisa membedakan mana batu dan permata itu. Cepat kemari, ini sudah mau dimulai!" seru Berty santai.


Setelah kondisi Belinda membaik, Aries dan Soraya memutuskan untuk kembali pulang.


Chairul dan Bagas sedang menemui dokter.


Belinda meminta Moetia duduk di sebelahnya.


"Tante membutuhkan sesuatu?" tanya Moetia sopan.

__ADS_1


Belinda tersenyum.


"Kenapa masih panggil Tante?" tanya Belinda.


"Maaf Bu.." ucap Moetia agak kikuk.


Belinda menepuk punggung tangan Moetia pelan.


"Bagas punya masa lalu yang sangat menyedihkan, ibu selalu mendekatkannya pada Manda karena ibu tahu Manda sangat mencintainya." ucap Belinda berubah menjadi sedih.


Moetia juga merasa sedih, dia masih memikirkan Manda. Saat ini pasti dia sangat kecewa pada semua orang.


Belinda menatap Moetia yang masih tertunduk sedih.


"Saat pertama kali kita bertemu di rumah sakit itu, apa kalian sudah berhubungan?" tanya Belinda.


Moetia mengangkat kepalanya dan menatap Belinda. Moetia menganggukkan kepalanya perlahan.


Belinda jadi sedih lagi. Belinda menyentuh lengan Moetia dengan lembut.


"Sayang, maafkan ibu ya. Saat itu kamu pasti sangat terluka." sesal Belinda.


Moetia tersenyum tipis.


"Tidak Bu, semua terjadi begitu saja. Aku bahkan baru mendengar nama Bagas dari tante Malika hati itu." jelas Moetia.


"Bagas pernah mengatakan pada ibu, bahwa dia menyukai wanita lain. Ibu bersyukur wanita itu adalah kamu. Ibu tidak akan khawatir lagi tentang Bagas karena dia sudah bersama dengan wanita baik dan mencintainya seperti kamu. Ibu mendoakan agar kalian bisa hidup bahagia dan selalu saling menyayangi hingga hanya maut yang bisa memisahkan." ucap Belinda tulus.


Moetia terharu mendengar kata-kata Belinda. Moetia juga ingin seperti papa dan mamanya yang saling menyayangi sampai saat ini, juga seperti ayah dan ibu Bagas yang tetap sale jg menghargai dan menjaga meski ada perbedaan pendapat diantara mereka.


Chairul dan Bagas juga sangat terharu melihat kedekatan antara Moetia dan Belinda.


Manda sudah berada di area balapan liar yang dikatakan oleh Berty. Kerumunan orang dan dentuman keras speaker musik membuat suasana di tempat itu sangat ramai.


Manda melihat sekeliling mencari keberadaan Berty dan Olivia. Setelah beberapa lama mencari, seseorang memanggil nama Manda dari arah belakang.


"Manda!" teriak Berty


Manda menoleh, dia melihat Olivia dan Berty melambaikan tangan padanya.


Di sebelah mereka ada dua pria tampan yang berperawakan tinggi sedang tersenyum padanya.


Manda menghampiri Berty. Dan Berty segera menarik tangan Manda dan mengenalkannya pada Owen.


"Manda, ini Owen. Temanku yang akan ikutan balapan hari ini!" ucap Berty.


Owen mengulurkan tangannya pada Manda dan Manda menyambutnya.


Setelah berkenalan dan mengobrol sebentar. Balapan akan segera dimulai. Owen sudah bersiap di posisinya. Dia mengendarai mobil Berty yang memang sudah di rancang khusus untuk bisa ikut balapan.


"Dia pakai mobilmu?" tanya Manda pada Berty.


Berty mengangguk.


"Tentu saja, dia yang balapan aku yang meminjamkan mobilku. Hadiahnya kami bagi dua!" jawab Berty.

__ADS_1


Olivia yang bertugas sebagai gadis yang menjatuhkan bendera sudah berada di tengah.


Setelah dia menjatuhkan benderanya dan berteriak "go" semua pembalap pun memulai aksi mereka.


Setelah melakukan tugasnya Olivia kembali menghampiri Berty dan Manda.


"Bagaimana Manda, seru kan?" tanya Olivia.


Manda mengangguk cepat.


"Jadi Owen melakukan balapan ini demi uang?" tanya Manda pada kedua temannya.


"Tentu saja, dia itu kuat dan pemberani. Sayang nya dia terlahir di keluarga yang tidak mampu, dan saat ini adiknya sedang berada di rumah sakit dan harus segera di operasi." jelas Olivia.


'Pemberani dan butuh uang!' batin Manda yang sudah dirasuki pikiran sangat jahat.


Beberapa menit kemudian balapan selesai, dan sayang sekali Owen kalah. Owen menghampiri Berty dan memberikan kunci mobilnya.


Owen terlihat kecewa.


"Sudahlah, masih ada lain kali. Kita pulang sekarang yuk!" ajak Berty pada Olivia dan Manda.


Manda menolak dan mengatakan ada perlu lain, hingga Berty dan Olivia meninggalkannya.


Setelah Berty dan Olivia pergi, Manda mengejar Owen yang sudah menyalakan mesin motornya.


"Hei tunggu, aku dengar kamu butuh uang?" tanya Manda.


"Iya, adikku harus operasi secepatnya!" jawab Owen datar.


"Aku akan membantu membiayai seluruh operasi adikmu sampai sembuh!" tegas Manda.


"Benarkah?" tanya Owen antusias.


"Iya, aku akan berikan 300 juta, tapi kamu harus melakukan sesuatu untukku!" seru Manda.


"Katakan!" sahut Owen mantap.


"Aku ingin kamu menabrak seseorang!" ucap Manda tanpa ragu.


Owen terkejut.


"Itu kriminal!" bantah Owen.


"Jangan sampai ketahuan, aku akan siapkan mobilnya. Aku jamin akan membawa target itu ketempat sepi hingga tidak ada yang akan tahu kejadian itu. Bagaimana? demi adikmu?" bujuk Manda.


Hati Manda sudah benar-benar tertutup oleh obsesi dan kebencian.


"Setuju" jawab Owen mengulurkan tangannya yang langsung disambut senyuman sinis oleh Manda.


...❤️❤️❤️...


...Tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya please.......


...Think u ❤️...

__ADS_1


__ADS_2